Obrolan Warung Kopi : Operator Digital Printing


Pukul empat sore, ada kiranya waktu satu jam untuk melipir ngopi sebelum menunaikan kewajiban fardlu ain saya tiap senin sampai jumat. Saya termasuk orang yang selektif parah dalam memilih tempat nongkrong. Ada banyak alasan dibalik ke selktifan saya, tapi satu yang paling saya pertimbangkan adalah suasana warung kopi itu sendiri. Warung kopi di Surabaya, Gresik dan sekitarnya tak ubah seperti template kosakata undangan pernikahan. Hanya begitu begitu saja, adapun peebedaan dari kebanyakan hanyalah warna dindingnya. Tetap berbentuk meja bar panjang ber-siku dengan kursi kayu dan serentengan jajanan syarat angin bergelantungan persis diatas meja. 500 meter sejak aku punya hajatan untuk ngopi sore-sore belum juga kutemukan tempat yang pas, pas untuk suasana sore ini maksudnya, warung yang kulewati rata-rata sempit, memanfaatkan bilik 2×4 dengan “one gate” rolling door yang sewanya murah, lalu disulap menjadi lebih mirip bilik sauna ketimbang disebut bilik kopi, bayangkan saja, mulai dari aktivitas merebus air, menyeduh minuman, menyimpan es batu dan cuci piring terjadi disana, dan aku pasti berkeringat parah disana.
Tiba tiba saja aku berhenti dibawah sebuah pohon sono yang rindang, dengan warung kopi dibawahnya, sederhana, tapi tidak sempit sempit amat, setidaknya ada lahan untuk memanjakan mata kita agar tidak selalu tersiku oleh batas ruang. Kopi hitam pait, seperti biasa, dalam cangkir kecil. Kubiarkan semuanya lepas, aku merasakannya, kafein perlahan lahan melepaskan semua penat, satu per satu, dari sisa macetnya kota sore itu. Ditambah sebatang rokok, lengkap sudah yang disebut relaksasi bagiku.
“Monggoh mas….” sapa pemuda yang duduk disampingku seblum dia masukkan suapan pertama nasi bungkus ke mulutnya. “Oh, inggih mas….” balasku. Obrolan kami pun berjalan. Ternyata dia adalah pegawai dari salah satu digital printing ternama di Surabaya yang buka 24 jam. Dia bercerita akan suka duka lulusan diploma tiga Desainer Grafis yang harus mengisi kolom debet bulanannya dengan bekerja sebagai operator di sebuah percetakan digital printing. Komplain klien yang tidak puas, bunyi telefon berdering terus menerus sepanjang hari tanpa ada yang berani mengangkat gagangnya lantaran tahu yang menelepon jelas akan marah marah atau minimal menegaskan kapan ordernya bisa diambil diantara tumpukan list ordernya yang menumpuk dan maju mundurnya gerak penyemprot tinta mesin harus bergantian menyelesaikan satu pesanan ke pesanan lainya. Kalau terlalu panas, lalu “overheat”, mesin bisa ngadat dan tak bisa beroperasi beberapa saat. Tapi hanya untuk mesin, dikenal kata ngadat dan mogok kerja, untuk kita para operator dan desainer, berani mogok atau komplain, berarti harus siap akhir bulan diberhentikan, antrian jumlah pelamar pekerjaan disana menumpuk, sama banyaknya dengan nota dan kuitannsi order yang nenunggu giliran di proses. Komplain hanya hak dari klien, dan perlu digaris bawahi terutama untuk klien yang nilai ordernya tinggi. Klien dengan order eceran atau nominal yang rendah, komplainnya hanya akan berakhir di saluran telfon yang sampai capek berdering-pun tak akan pernah diangkat gagangnya. Begitulah bisnis ditempatku berjalan, ceritanya.
“Mas…..kopi hitam satu lagi, pesannya pada si penjaga warung yang tidak tahu takaran manis dan pahit. Begitu aku bilang kopi pahit, yang tersaji malah kopi tanpa gula.
Kami terdiam beberapa saat, tampak asyik dengan gadget masing masing, beberapa saat hingga suara lepek yang beradu dengan permukaan meja berdenting, cairan hitam khas pinggiran jalan kota surabaya disajikan.
“Apa ini jam istirahat mas?.. tanyaku.
Yapp…lebih tepatnya, giliranku istirahat. Sebab, operator seperti kami, tidak bisa meninggalkan shift kerja semuanya sekaligus, satu per satu orang dapat jatah 30 menit diantara jam ke-3 hingga jam ke-5 shift kerja.
“Sampean kerja apa mas? Dia balik bertanya.
Serabutan mas, apapun yang bisa jadi uang asalkan halal untuk makan aku dan istriku, bisa kuanggap pekerjaan. Jawabku. Waaah…enak mas, bebas pasti hidup sampean.
Hahahaa….. gak juga mas. Jawabku. Kerja seperti ini, waktu seakan tak bisa di-prediksi, kalau seperti sampean kan enak, waktu sudah diatur oleh atasan dalam sebuah shift kerja bulanan. Kalau saya, waktu saya atur sendiri, ketika malas bekerja, yah. Saya punya waktu luang, dan semakin banyak waktu luang saya berarti semakin sedikit uang yang saya dapatkan dalam satu bulan.
Satu bulan bisa sampai dapat berapa mas?
Sampean kerjaannya dibidang apa? Dia bertanya memburu.
Saya kerja sebagai makelar cetak, kantor sampean adalah salah satu vendor saya. Jawabku, yaah… appaun mas, cetakan massal undangan, voucher, souvenir sticker, poster saya kerjakan, upahnya per project mas. Ketika order itu rumit yah saya hargai mahal untuk jasa desain saya, tapi kalau itu hanya sekedar layout, yah saya ambil upah untuk komisi cetaknya. Yaaah… kalau menurut sampean kerjaan saya ini adalah kerjaan yang bebas, lantas layak-kah sebuah kebebasan dipatok dengan batas nominal. Banyak sedikitnya uang yang akan saya dapatkan untuk tiap bulannya, yah tergantung seberapa kuat saya mengerem ego saya untuk menjual waktu saya pada pekerjaan.
Waaah…. mantab mas. Jawabnya sambil terkekeh, sebenarnya seperti itu desainer mas. Bukan seperti saya yang duduk manis dibalik meja operator selama shift tiap harinya. Bagus atau jeleknya karyaku hanya akan dihargai dua puluh lima ribu per kostumer. Kalau memang itu harga mutlak, saya buat bagus atau jelek asalkan klien tersenyum, selesai urusan saya. Kepuasan nomor kesekian, apalagi berbicara karya, itu bukan karya bagi desainer, tapi itu kerjaan bagi saya. Salut sama sampean, yang masih bisa bebas dalam memilih milih pekerjaan…
Aku seruput kopiku yang mungkin bisa alu seruput sampai habis saat itu, tapi aku memilih menyisahkan sedikit. Lalu aku jawab, apapun namanya mas, mau desainer, mau seniman, mau kontraktor, ataupun narator. Itu bagi saya cuma nama panggung saja, ujung ujungnya kita harus kembali pada pekerjaan sebagai kewajiban dan kebutuhan kita. Dimanapun tempatnya, namanya bekerja tidak ada yang enak, sekalipun ada yang bilang pekerjaannya enak, mungkin saat itu adalah tanggal muda. Ketika bulan pertengahan menjelang tanggal tua, semua akan berkata, kerjaannya seperti neraka. Padahal, asas bekerja untuk yang memahami adalah ibadah, sama saja kita beribadah di neraka donk. Hahahaha…..
“Hahahaaa…dia membalas dengan tawa, sampean bisa bisa aja mas. Oke mas, lain kesempatan kita sambung, jam istirahatku sudah hampir habis.” Sekaligus dia berpamit.

Sebelum dia bergeser dari bangkunya, kuseruput kopi terakhirku dalam cangkir..
Oh iya, satu lagi yang perlu kita tambahkan dalam wawasan kita masing mas, dinikmati saja, apa yang sudah kita pilih, baik dan buruk konsekuensinya, tentu sudah kita pikirkan secara dewasa, hal yang mungkin membuat kita kurang bisa menikmati pekerjaan kita saat ini adalah, mungkin kita telah mengambil porsi terlalu banyak dari apa yang seharusnya kita butuhkan. Pundi pundi yang bertambah tebal mungkin yang kita cari, tapi tidak untuk semua orang, karena semakin menebalnya pundi pundi, juga turut menyisakan limbah di benak kita, sisa ampas pikiran dari pekerjaan, itu yang mebuat kita yang muda akan menua.
Sluurp…. cangkir sore ini habis, dan saya juga meninggalkan bangku warung kopi ke kantor iatri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s