Sudah tahu itu hal bodoh, kenapa masih saja dilakukan?


Suatu malam di hari Kamis, saya dan istri tengah menghabiskan waktu di sebuah mall, disana kami mengunjungi gerai kosmetik, istri saya memang tengah mencari alas bedak dan saya ingin mencari parfum, sekitar pukul delapan malam kala itu. Mall begitu berisik sekali, suara suara cemprenk dari megafon yang meneriakkan diskon, ditambah lagu tembang kenangan dari speaker ruangan plus hiruk pikuk orang orang yang berbelanja, senggol sana, senggol sini. Maklum, mall yang kami kunjungi ini bukan sebuah mall kelas atas yang eksklusif, tapi mall kelas dua tempat orang berburu barang branded yang sering dijual diskon disini. Saya memperhatikan wajah wajah lelah tetap berusaha tersenyum dibalik stand penjualan, entah lelah karena apa? Lelah melayani, lelah menunggu jam tutup mall, lelh tersenyum atau barangkali lelah bawaan dari persoalan dirumah. Beberapa stand yang tidak menggelar diskon tampak sepi, para penjaganya-pun sampai bisa duduk sambil menunggu beberapa orang yang hanya sekedar melihat lihat atau bertanya ini itu soal produk yang pastinya tidak akan mereka beli karena sedang tidak diskon.

Beberapa hari kemudian, ditengah perjalanan menuju tengah kota dengan naik sepeda motor, saya melihat seorang perempuan dengan dandanan dan pakaian seperti akan berangkat kerja didalam mobil angkutan umum, kebetulan jalan tengah macet macetnya pada saat itu, di jam jam orang berangkat kekantor, motor saja harus menunggu giliran, berebut celah untuk bisa merambat satu meter demi satu meter hingga di perempatan besar. Kala itu angkot sedang sepi, hanya ada 3 penumpang lain selalin dirinya dalam bangku panjang, tapi dia tampak begitu kesal, sambil sesekali menengok ke arloji yang Ia kenakan. Kami yang diluar angkot juga ikutan kesal, menekan klakson dengan nada panjang berulang-ulang lantaran angkot yang ia tumpangi inilah salah satu biang kemacetan pagi ini, sudah tahu arus lalu lintas padat, semua orang berburu untuk bisa lebih cepat, dia malah jalan lambat di jalan padat dua arah yang sempit.

Sorenya, disaat saya menuliskan tulisan ini, saya baru bisa mengira-ngira apa yang membuat wajah Penjaga stand kosmetik itu terlihat kesal,   perempuan didalam angkot itu kesal, para pengemudi sepeda motor putus asa yang menekan klakson dalam dalam.

Ternyata mereka, termasuk saya yang ada dalam situasi itu kesal karena “sudah tahu ini hal bodoh, kenapa masih saja dilakukan. Parahnya lagi, hal ini berulang-ulang tiap hari, hampir di jam jam yang sama sepanjang tahun selama kita tidak bisa keluar dari ritme itu”.

Berangkat pagi – pulang malam, besok nya demikian, selama satu bulan, dan terulang dua belas kali berturut-turut dalam satu tahun, kecuali di hari besar dan libur kantor, dan libur nasional.

Hal ini sama bodohnya dengan Upacara Bendera yang wajib diikuti tiap senin pagi di jaman sekolah, juga khutbah jumat membosankan dengan topic yang tidak “move ON” yang mau tidak mau harus didengar setiap sholat jumat.

Tapi semua itu masih lebih baik daripada kebiasaan merokok saya  yang sudah saya ketahui lebih banyak sisi buruknya ketimbang sisi positif yang didapat, tetapi masih terus saya lakukan hingga saat menuliskan ini.

Yah, semuanya memang tidak bisa berubah dengan sendirinya.

Sangat parah.

Aturan mainnya adalah, tetap mengikuti permainan dengan terus menerus mengutuki kebodohan kita, atau keberanian untuk keluar sekarang juga dari semua kebodohan budaya yang konvensional ini.

(#selfnote) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s