Menjadi Produktif demi tetap Konsumtif


Doktrin masa kanak – kanak kebanyakan orang di Indonesia di tahun kelahiran 80’an adalah Sekolah yang tinggi, biar bisa dapat kerjaan enak. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, lulusan lulusan sarjana S1 dari anak anak kelahiran tahun 80’an masih saja ada yang mengeluh susah bersaing dalam mendapatkan pekerjaan yang “enak”. Yang orang tuanya masih punya banyak uang, memilih menyingkirkan kegundaan itu dengan kembali melanjutkan jenjang pendidikan ke tahap S2, kalau perlu S3 sekalian biar nanti kerjaannya makin enak. Dan nyatanya kerjaan yang enak itu tidak akan pernah ada, dengan kata lain “imposibble”. Apapun posisinya, yang namanya bekerja tetap saja sama dengan melacur, mendayagunakan semua potensi fisik dan batinuntuk memuaskan orang lain, entah itu lalu kita sebut dengan Boss, atasan atau klien.

Lantas untuk apa kita terus bekerja? Berangkat pagi-pulang malam, dilanjut dengan lembur dirumah, dan tugas luar kota di akhir pekan. Kalau sudah tahu realitas bahwa tidak ada pekerjaan yang enak. Untuk apa kita memproduksi barang barang abru tiap harinya, memasarkan produk produk masal milik pabrikan jepang, menyusuri jalanan macet kota dan berebut celah sempit demi bisa memajukan kendaraan yang kita naiki satu meter demi satu meter kedepan.

Semua buku motivasi berkarir yang diterbitkan memang tujuannya demi menghibur diri, bagi para pekerja pekerja di lini bawah, selebihnya dirujuk oleh atasan atau klien dengan tujuan agar kita semua bisa melayani mereka dan mengerjakan apa yang mereka perintahkan dengan lebih memuaskan. Sungguh menyedihkan, dan lebih menyedihkan lagi apabila kita turut membeli, dan beberapa tahun kemudian ikut-ikutan menulis buku serupa, buku yang lima tahun kemudian selalu masuk dalam kelas buku diskon separuh harga.

Akui saja, bahwa kita semua tengah kecanduan dengan semua yang membuat kita nyaman. Mabuk hingga lepas kendali oleh sebuah candu yang semula diberikan Cuma Cuma oleh orang tua kita sedari bayi hingga remaja, sesuatu yang sering kita agung-agungkan sebagai gaya hidup. Yang pada akhirnya, ketika giliran waktu kita tiba, kita harus membelinya sendiri, dan berjuang mati-matian untuk mencukupinya. Apapun itu dilakukan, mulai dari bekerja, berjualan, berkeliling sampai mencuri sekalipun, termasuk dalam konteks bekerja bagi mereka yang membenarkan atas nama kebutuhan.

Apapun keadaannya, kapanpun tanggalnya, konsumsi tetap jalan.

Saya jadi teringat keluhan canda teman-teman ketika nongkrong malam disebuah kedai kopi, “duuuh…duuuh, pendapatan tidak pasti, pengeluaran pasti”. Saya salaut pada teman saya yang satu ini, dia begitu jujur, naïf dan percaya diri, dia mengejah nya terus menerus, selama ada masalah yang bisa mendatangkan kesempatan untuknya megucapkan itu lagi, hingga ejaan itu menjadi semacam lafal wajib kami ketika mengeluh akan kebutuhan masing masing.

Mari kita berhenti sejenak, diam menutup kedua mata dan berhenti bernafas untuk beberapa saat sekuat diri kita menahan entah berapa lama kuat untuk tidak bernafas, rasakan ketenangannya, rasakan kedamaiannya, rasakan heningnya, dan disitulah, saat saat dimana saya menemukan diri saya bisa berhenti sejenak dari meng-konsmsi, baik itu udara, makanan, dan penglihatan yang mengundang hasrat untuk membeli, dan membawanya pulang untuk dipajang di rak buffet. Dan saya hanya bisa bertahan sekitar 15 detik saja, sebelum saya kembali mengkonsumsi udara  dengan lebih cepat dari ritme nafas normal saya, bahkan bisa dua kali lipat.

Dan itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir untuk berhemat.

Berhemat tidak menyelesaikan masalah dalam konteks saya, berhemat hanya perkara sesaat sebelum nafsu alami manusia bangun untuk kembali menagih akan segala sesuatu yang biasanya dibutuhkan atau sesuatu yang sesaaat tiba-tiba tampak berkilau kalau kita pakai.

Dan itulah, hidup yang “ordinary”, yap…konsumtif.

Dalam keadaan berhenti bernafas sejenak saja, kita baru bisa dibilang berhenti untuk konsumtif secara seutuhnya.

Lalu apa kita mau berhenti bernafas untuk selamanya terhitung dari sekarang?

Celakanya, teori pemasaran paling terakhir sudah membaca dan mendapati realita itu, realita bahwa, manusia hanya akan berhenti berbuat konsumtif ketika mereka berhenti bernafas, jadi selama manusia masih bernafas, akan selalu ada celah pasar bagi mereka.

Tengok saja disekitar, ada berapa ribu kendaraan bermotor terjual tiap harinya, berapa banyak minuman kaleng dibeli tiap jamnya dan sudah ada berapa unit alfamart dan Indomaret dilingkungan sekitar anda. Bisa bersebrangan dalam satu blok, malah ada yang bersebelahan. Kupon kupon diskon dicetak dan dibagikan, program belanja hemat disosialisasikan sampai promosi setengah harga digelar. Semuanya memang sengaja di setting demikian, untuk membangunkan kembali hasrat alami anda dalam ber-konsumsi dan pola konsumsi berlipat ganda untuk mereka yang sudah berhemat untuk beberapa saat. Bahkan lebih halus lagi, “paket belanja hemat” kembali mengendus bulu kuduk anda untuk berbelanja meskipun disaat anda tengah menyeratkan ikat pinggang pengeluaran, da nisi paketannya begitu menggiurkan, bagai setangkup pancake yang dilumuri oleh siraman selai aneka berry.

Sudah pasti, Ibu ibu rumah tangga yang barang kali salah seorangnya adalah istri kita tiba tiba pulang dengan membawa sekantung “paket belanja hemat” dari sisa gaji bulanan yang belum dipotong pembayaran tagihan rekening ini-itu.

 

 

Tidak ada kerjaan enak, sekalipun ada yang bilang enak, itu hanya untuk tujuan menghibur diri dan memotivasi sekitarnya.

Dan memang kita harus tetap bekerja, meskipun tahu itu tidak enak, karena kita sudah kecanduaan berat akan semua yang membuat kita nyaman, apa itu gadget, pulsa, menu delivery service, kendaraan, perawatan dan obat keantikan, rumah, dan hiburan.

Kita harus tetap produktif, agar tetap bisa ber-konsumtif, sebab berhenti mengkonsumsi berarti sama dengan tidak bernafas bagi manusia.

Begitu seterusnya, harus ada yang meluruskan doktrin masa kecil kecil tahun 80’an itu, sebelum pola ini terus berulang dan berulang untuk generasi berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s