Berpikirlah Inovatif dengan teknologi komunikasi, ada banyak hal yang bisa dihemat


Perubahan terjadi begitu cepat, dalam hitungan detik,dalam setiap hembusan nafas, peristiwa demi peristiwa terjadi, personal demi personal yang kita kenal berubah, ada yang berbenah, ada yang makin terpuruk. Tapi percayalah, mereka yang tampak terpuruk itu sebenarnya juga sedang ingin berbenah, sayangnya nasib baik tidak bersama mereka. Sekejap saja,  gedung gedung bertingkat berdiri, Jalan jalan protokol selalu macet di jam pagi dan sore hari, lalu sudut sudut kota sudah dipenuhi oleh proyek proyek perumahan. Bisa dibayangkan seperti apa kompleksnya kehidupan dikota.

Dan bisa kah kau temukan dirimu disana?

Ditengah arus lalu lintas data yang tinggal sekali klik, semuanya diciptakan untuk menjawab tuntutan umat yang selalu meng-orasikan kata “modernitas”. Jutaan produk teknologi diluncurkan tiap minggunya, habis, lalu di-produksi lagi, lalu habis lagi dan di-produksi lagi. Ini sudah bukan lagi barang tersier, tetapi kepemilikannya untuk per-kapita sudah menjadi semacam kebutuhan pokok yang harus disandingkan dengan beras dan mie instant.

Dan, adakah dirimu disana?

Setiap personal bisa menjadi lima sampai enam profil berbeda dalam social media, keberadaan tidaklah penting, karena eksistensi update sudah bisa menggantikan itu semua. Jarak bisa diatasi, karena satu dan lainnya kini saling terkoneksi dalam ruang maya yang ak berdimensi, byte demi byte lah, dirimu sekarang.

Bukan begitu?

Tapi semua itu ada harganya, dan kamu akan menikmatinya ketika kamu bisa membelinya, sama seperti beras kualitas nomor satu di tahun 1990’an, hanya yang mampu membeli yang bisa menikmati, lalu bagaimana dengan nasib mereka yang tidak bisa membelinya?

***

Muncul sebuah kelas social baru, diperuntukkan bagi mereka yang ketinggalan teknologi, entah Karena perkara tidak bisa membelinya, atau sudah malas mengejar ketertinggalan yang jauh sekali, bisa juga karena perangkap mindset personal yang menganggap teknologi hanya untuk yang muda saja, dan teknologi itu tidak ber-etika. Kelas ini abstrak, tidak bisa dipetakan oleh standard pendapatan, usia, tempat tinggal, dan kasta pendidikan.

Kelas ini mayoritas orang – orang yang menjunjung tinggi hegemoni formalitas, sebuah kelas yang masih mau dipermainkan jarak dan waktu sementara yang lainnya sudah menemukan jalan pintas untuk memotong jarak menjadi begitu dekatnya, masih menuntut keberadaan dan intensitas pertemuan, sementara yang lainnya sudah pandai menyampaikan kesan dan emosi lewat animasi.

Tulisan saya kali ini, ingin menyoroti kelas “Gagap Teknologi” atau yang lebih singkat biasa disebut “Gaptek” dalam realita sehari hari.

***

 

Pukul 06.00, dirinya sudah menyiapkan semuanya,menu sarapan pagi buatan istri harus di-skip dulu, sebab ada jarak yang harus ditempuh, sebelum pukul 07.00 dia harus berada di point yang berjarak 32 kilometer dari posisinya saat ini. Dia harus berangkat paling lambat lima menit dari sekarang, kalau ingin sampai sebelum pukul 07.00, dan anak anak yang masih tertidur, tentu harus di-skip juga.

Sepagi apapun dia berangkat, tetap saja kondisi jalanan kota sudah agak padat, karena ada banyak sekali orang seperti dia yang punya kepentingan di jam jam segitu. Dia jadi punya pikiran, bagaimana kalau kita memutar lewat tol, dengan membayar beberapa ribu rupiah tidak masalah, yang penting lancar sampai tujuan. Yaap, waktu berhasil dipotong dengan beberapa ribu rupiah, tapi jarak tidak, malah bertambah jauh, karena site jalan layang yang dia lewati pada intinya harus memutar tidak melewati areal padat penduduk. Kini dia berada ditempat dia punya urusan, menghabiskan 8-9 jam ditempat kerja, duduk di kursi kerja, berhadapan dengan lima tumpuk dokumen yang harus dibaca dengan teliti sebelum semuanya ditanda tangani dan diserahkan, di selingi sesekali ke kamar mandi untuk menyeka raut muka.

Saatnya pulang, eh, belum, sebab masih ada pertemuan yang harus dihadiri selepas jam kantor di posisi yang jaraknya terpaut 20 km dari lokasi kerja dan 40 km dari rumah. Dengan jarak segitu, di jam semua orang keluar dari ruang kerja dan ingin cepat cepat sampai rumah, normalnya jarak dua puluh kilometer bisa ditempuh dalam waktu satu jam.

Dan hari sudah gelap, raungan klakason kendaraan makin menambah penat kemacetan, dia harus mengendurkan setelan dasinya dan membuka satu kancing kemeja paling atas. Ternyata diluar estimasi, kendaraan begitu padat, dan kelihatannya dia agak telat 30 menit.

Larut malam sekali dia baru sampai rumah, baru membaca Koran hari ini yang hampir kadaluarsa validasi beritanya, mandi air hangat lalu pergi tidur, tidak ada siapa –siapa lagi yang bisa diajaknya bicara malam itu, karena malam sudah kelewat larut. Entah waktu yang berjalan terlalu cepat, atau aktivitasnya yang terlalu padat.

Begitu tiap harinya, ada hampir ribuan dokumen tiap tahunnya yang Ia baca dan Ia teliti, syaraf matanya pun mengendur dimakan usia, tiap tahun ketebalan lensanya harus ditambah untuk kasus mata tua. Dan kebiasaan ini sudah terjadi hampir selama 20 tahun sejak tahu 1984 pertama kali Ia mengenal kesibukan. Dan semakin lama, bukannya semakin banyak jam kosong untuk tiap harinya, tapi makin banyak waktu yang harus Ia habiskan diluar rumah, jaman memang sudah berubah, tetapi dirinya tidak.

Mari kita tinjau sudut lain dari personal diatas, tiap harinya mobilnya harus menempuh rute rata rata 60-70 km, dengan meng-konsumsi bahan bakar sebanyak 5-7 liter tiap harinya. Digudang tempat kerjanya ada ber-saf-saf dokumen yang tertata di almari plus sisanya tertumpuk sembarangan di kardus, setiap tahun, setiap tutup buku ada sekitar satu ruangan 4 x 4 m full berisi aneka kertas ber-tinta yang harus di loak dan dibakar, 16 jam dalam sehari lampu di kantornya harus menyala terus untuk menerangi ruang kerja, ada 30 orang pekerja yang harus absen tiap hari senin sampai sabtu, 12 jam sehari jam kerja mereka, menyalakan 9 unit computer, dan 7 unit mesin cetak dan fotokopi dokumen, 6 orang pekerja membawa mobil, dan sisanya naik sepeda motor, belum lagi ada 3 mobil operasional perusahaan, dan 2 sepeda motor kurir dokumen. Dan itu sudah menjadi sesuatu yang normal dikantornya, dan sudah lebih dari 25 tahun berjalan seperti itu.

Untuk kehidupan rumah tangga, dia harus melewatkan sarapan pagi dirumah bersama istri dan anak-anaknya setiap hari kerja, melewatkan sore hari dan jam minum teh keluarga, jarang berbicara dan mengobrol dengan anak-anaknya, sehingga anaknya sendiri begitu canggung dengannya, lebih canggung dengan bapak mereka sendiri ketimbang dengan pembantu rumah tangga, melewatkan interaksi social dengan warga di kompleks perumahan dan beberapa kali waktu liburan bersama keluarga selama 20 tahun.

Itu baru satu personal yang kita ilustrasikan dengan akivitas seperti itu, ada berapa personal lagi di satu kota dengan keseharian seperti itu.

Terjebak dalam jarak, rutinitas dan keterbatasan waktu setiap harinya.

 

Hampir 150 liter Bahan bakar minyak dia konsumsi per minggu untuk menunjang mobilitas pribadinya, berapa listrik yang di habiskan untuk satu putaran meteran tiap bulannya, berapa lembar dokumen yang harus dicetak, dibaca, ditanda tangani, di arsipkan lalu di loak dan dibakar setiap tahun, berapa kertas yang harus dibeli untuk stock.

Bukan sebuah nilai operasional yang kecil, dan bukan berdampak sepele juga pada lingkungan.

Dia tahu darimana kertas di produksi, darimana juga tinta tinta diproduksi, listrik dihasilkan dan Bahan bakar diproduksi. Tapi dia tidak bisa mencegah itu semua, karena bagi dia itu sudah menjadi sebuah kebutuhan, bukan pemborosan. Karena segala urusannya bisa berjalan lancar apabila semua itu ada.

Lantas bagaimana dengan urusan orang lain, kebutuhan orang lain, kebutuhan orang banyak?

Untuk saat ini, mungkin semua pertanyaan diatas belum bisa dimasukkan dalam pikiran, sebab bagi dia bukan hanya dia saja, ada banyak orang orang dan aktivitas serupa yang melakukan itu, karena ini hanya sebuha rantai ekonomi dalam ruang industri.

Percayalah, beberapa atasan anda, juga termasuk tipe orang seperti itu, seseorang yang cerdas, tapi sayangnya terjebak dalam pola pikir dan rutinitas. Mereka bukan orang-rang yang tidak mau berubah, mereka justru orang orang yang suka dengan perubahan, kalau tidak suka dengan perubahan, lalu mengapa set computer di kantor anda adalah set terbaru, lalu mengapa system absent dan security di kantor anda sudah paling mutakhir.

Mereka cuma orang orang yang sedikit memikirkan diri sendiri.

Itu sifat personal yang normal, dimana para orang orang ekonomi dan industry berpikir seperti demikian. “Meraih keuntungan sebesar besarnya dengan pengeluaran sekecil kecilnya”.

Saking bernafsunya mereka untuk menekan pengeluaran sampai sekecil kecilnya, kalau perlu bisa gratis, mereka mempersempit pola pikir mereka sendiri, terjebak dalam doktrin dan kaedah kaedah yang sudah di standarisasi. Mereka dibutakan dari media substitusi yang bisa menggantikan kehadiran mereka disana, sehingga mereka bisa berhemat bahan bakar minyak untuk sarana transportasi mereka, dan mereka punya banyak waktu untuk bersenang-senang da tetap dekat denga keluarga.

Ini tahun 2014,  seaindainya sejak 10 tahun lalu sang pimpinan perusahaan sudah melirik investasi untuk berinovasi di teknologi perkantoran, bisa dihitung berapa nlai penghemamatan akibat penekanan biaya tidak penting disana sini yang bisa dipangkas dari operasional. Sayangnya mereka tidak melakukannya, motif terbesar untuk tidak berinovasi adalah biaya yang besar di awal, dan kungkungan kebiasaan yang seakan sudah menjadi ibadah selama bertahun tahun dalam operasional perusahaan.

Bayangkan saja, kalau semisal meeting dengan kolega bisa dilakukan dalam sebuah aplikasi meeting online, dimana dia dan beberapa kerabat bisa berkomunikasi, bertatap muka dalam dunia maya dan membicarakan topik hari itu tanpa harus membuang waktu menempuh perjalanan jauh, menyewa tempat meeting, jamuan makan, berangkat terburu buru dan mengurangi kemacetan lalu lintas kota. Lebih hemat bukan.

Belum lagi kalu dia bisa mengganti cetakan draft document perusahaan dalam sebuah form online yang selalu biasa diunduh dan diisi secara digital oleh klien, berpa ongkos cetak yang bisa dipangkas, dan berapa meter persegi hutan yang bisa diselamatkan dari produksi kertas secara berlebihan, dan tidak ada sampah tahunan dari barang loakan kertas dan arsip digudang.

Dan jumlah karyawan juga bisa ditekan, sampai seminim-minimnya, hingga hanya buruh dan pengawas dengan system shift saja yang hadir dikantor untuk tiap harinya, namun semuanya tetap terkendali, tercatat, dan bisa dipantau sewaktu waktu. Jumlah pemakaian listrik bisa berkurang, dan pembelanjaan dana untuk unit computer juga bisa dibatasi sebab pekerjanya makin sedikit.

Tentu saja, kalau saja dia mau keluar dana lebih besar untuk ber-inovasi dengan system seperti itu dari dulu, tentu manfaat berkepanjangan akan dia dapatkan dan dia tak akan tampak setua saat ini, karena dia punya lebih banyak waktu untuk bersenang senang.

Yah, tapi itu hanya seandainya,

Seandainya semua orang dalam Top Leader di perusahaan bisa berpikir fleksibel, dan mau berinovasi dengan teknologi komunikasi, dan mau membuka pemikiran lebih luas akan hakikat bekerja yang tidak hanya dihitung dari nilai kehadiran di tempat kerja, tapi lebih berorientasi pada hasil dan efisiensi, tentu mereka akan lebih bersenang senang dengan hidup mereka, dan ada banyak waktu untuk membuat perusahaan baru.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s