Jangan Pernah meremehkan sesuatu yang sepele


Pagi ini dibuka dengan acara “Wisata Kuliner” oleh Pak Bondan Winarno di salah satu stasiun TV swasta, saya masih dikasur, mencoba menggugah selera sarapan dengan menonton acara kuliner. Sangat bagus ide acara ini, yang dikunjungi juga bukan Cuma restoran restoran mahal dengan makanan berkelas saja, sang pemandu acara tidak malu belusukan hingga lompongan –lompongan gang sempit demi mencari citarasa terbaik kuliner khas Indonesia. Dulu, cuma acara ini, panduan jajan keliling kota yang ada di TV, sebelum yang lainnya mengekor, hingga kedai kedai dan warung jajanan yang pernah dikunjungi pak Bondan dalam acara “Wisata Kuliner”nya diburu para penggemar jajanan ketika melancong ke kota tersebut.

Siangnya, saya menonton sebuah acara dengan tajuk “Tau Gak sih”di acara ini ada konsep membedah sebuah pengetahuan dengan cara yang sangat sangat ordinary, disertai beberapa pertanyaan sepele yang dilempar ke beberapa segmen usia hingga public figure dengan tema yang dibahas, dan jawaban yang ditemukan pun beragam, ada yang tekhnis, hingga slengekan. Dari sana , saya tahu kalau kadang jawaban dari beberapa siswa sekolah dasar itu lebih tekhnis dan berisi daripada jawaban beberapa public figure yang terpaut usia dan jenjang pendidikan jauh diatas mereka.

Karena seharian ini saya tidak keluar rumah, malamnya dilanjut dengan menonton salah satu acara live-show yang kebetulan sedang live dari Surabaya. Herannya, padahal cuma acara hiburan dengan bumbu joget bareng yang dipimpin oleh Caesar bisa membuat goyang seluruh penonton yang ada di lapangan Kodam, kelihatannya bukan hanya penonton saja, jari jari kaki saya sudah dibuat ikut bergoyang. Coba sekarang, siapa yang tidak tahu tentang “Goyang Caesar”. Bukan lagi menjadi sekedar goyang, hampir di setiap acara, selalu diadakan joget bareng, kadang juga dilombakan, dan acara acara dari stasiun TV lain pun mengekor, dengan membuat joget-jogetan disela sela acaranya.Padahal cuma joget, tapi dalam waktu singkat semua orang sudah bisa melakukannya, menjadi begitu booming dan fenomenal.

Yah, begitulah Indonesia dan masyarakatnya yang latah, gampang sekali dibikin goyang, gampang sekali dipatik, dan cepat sekali kalau disuruh meniru.

Tetapi kalau kita tarik benang flashback nya, apa sih acara wisata kuliner, apa saja sih topic yang dikupas dalam setiap episode “Tau Gak SIh”, dan siapa sih Caesar, dan goyangannya itu, semuanya berawal dari sesuatu yang sepele, yang sering dianggap remeh, dan selalu kelewat dari pemikiran kita yang kadang terlewat perfeksionis.

Dibilang minimaslis sih tidak, yah….memang sepele!

 

 

Tapi lihat, gaung dari semua hal sepeleh itu, baik dari segi rating, fenomena, hingga efek yang terasa apabila ditayangkan terus menerus, dijejalkan dalam porsi besar dan terus di blowing up dalam jadwal yang rutin, sesuatu yang sepeleh atau sifatnya mengganggu sekalipun dalam kurun kurang dari 2 bulan saja juga bakal menjadi sebuah buah bibir dan candu dalam konsumsi hiburan masyarakat kita.

Mengenai paragraph  diatas, saya jadi teringat dengan iklan TV comersial salah satu produk sosis siap makan yang pernah mencoba mencuri perhatian public dengan bermain jargon-jargon dan singkatan
 “S-M-S”   di awal tahun 2011. Saya dan teman teman selalu bilang itu iklan paling “worst” untuk skala produk nasional, dan sekarang tahun 2014, apa yang terjadi; produk tersebut tetap menjalankan konsep iklan dengan pola yang sama, namun lebih banyak versi produksinya, makan banyak public figure yang dipakai, dan siapa yang tidak familiar dengan jingle iklannya? Siapa yang tidak tahu produknya? Dan siapa saja yang mengekor untuk produk demikian? Dan siapa juga yang paling laku dipasaran?

Kalau sebuah “junk-food” saja bisa menjadi sebuah gaya hidup di negeri kita, sebuah ide yang awalnya saya pikir “sampah visual” pun, kini punya ruang tersendiri dalam kelas public. Saya jadi merasa begitu bersalah kalau pernah berpikir bahwa ide iklan, jargon, dan jingle iklan “S-M-S” itu adalah sampah. Dengan effort yang dan public awareness yang diperoleh dan dijalankan terus menerus hingga tahun 2014 ini, bukankah sudah bisa dikatakan kalau konsep iklan itu sudah berhasil untuk mencuri perhatian, menjadi buah bibir, dan mendapat ruang public di segmentasinya. Dan kita (termasuk kita) yang menertawakan di awal, dipukul untuk mengakuinya sekarang.

Susuatu yang remeh dan sepeleh memang tidak bisa dipandang sebelah mata, jangan pernah diremehkan, apalagi dilewatkan dari hitungan. Karena sesuatu – sesuatu yang sering terlewatkan dalam hitungan empiris orang orang teoritis seperti itulah yang sangat potensial menjadi “somethin’ out of the box” kalau tahu bagimana cara mengemasnya dengan tetap diluar “box of public perception”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s