Food Traveler dari Romania


Di suatu malam di pertengahan bulan september tahun lalu tempat tongkrongan kami di pinggir danau hijau kedatangan tamu seorang Backpacker dari Romania, Namanya Mikaela, dia dibawah kemari oleh bang Gopar. Seorang cewek, usianya ternyata sudah 32 tahun, tapi raut mukahnya tidak seboros orang bule pada umumnya, masih tampak seperti baru berusia 21 tahun. Kami semua malah tercengang ketika dia bilang dalam lafal inggris kalau dia sudah diatas 30 tahun. Dia sama sekali tidak bisa bahasa Indonesia, hanya bahasa inggris yang memnyatukan kita, aku rasa dia juga sudah bisa maklum dengan bahasa inggris kita yang acak-adul. Mikaela begitu tinggi, aku saja dibuat sebahunya, kurus dan berpotongan pendek jabrik. Dari Romania, dia menempuh perjalanan darat, seorang diri, oper dari bus ke bus, melewati perbatasan Negara, menembus Negara gurun pasir di timur tengah,china,  masuk ke asia tenggara melelui tumpangan truk barang ke Vietnam, Thailand, malay, lalu menyebrang dari Singapore ke Batam, dia menunjukkan journal tebalnya ke kami, disana dia masih menyimpan sisa guntingan tiket tiket angkutan umum yang dia naiki, tiket masuk obyek wisata, nota makan di kedai dan struk penginapan, sementara untuk tulisannya aku kurang bisa membaca, dia menulisnya dalam bahasanya. Dia datang ke Surabaya, mengunjungi salah seorang  temannya di Milis, dan dari temannya itu dia mendapatkan tumpangan tempat tinggal untuk menaruh ranselnya dan mencuci beberapa pakaian kotornya yang sudah hampir jamuran lantaran terlalu lama berada di ransel. Lalu dia kenal bang Gopar, dan diajaklah kesini, berbeda dengan kebanyakan backpacker yang saya temui, mikaela tidak hanya berkeliling untuk menuliskan pengalamannya saja, Mikaela termasuk dalam jenis “Food Traveler” bukan “foot” yang  selalu diidentikan dengan berjalan kaki, dia adalah pemburu makanan, tidak sesuai dengan persepsi kami ketika membayangkan tubuh seorang “fod traveler”, mikaela bertubuh langsing dan tinggi semampai, dia menggemari perburuan resep resep tradisional suatu Negara, mempelajar resepnya, mengantongi bumbu bumbu rahasia, singgah dari satu kedai ke kedai lainnya di kota tempat dia singgah, di Surabaya saja, dia ingin belajar tentang pembuatan tempe dan tahu, serta minuman tradisional Jawa, waah….. Kalau untuk tempe dan tahu, kamu harus datang ke pabriknya, didekat sini kebetulan tidak ada, kalau mau cari sih ada, di surabaya agak pinggiran atau di kabupaten sidoarjo, disana masih bisa ditemui., kalau di pasar sih, adanya sudah dalam bentuk jadi, Coba nanti kami bantu carikan infonya. Dan untuk minuman tradisional jawa, langsung saja kita belikan untuk menjamu dia, bukannya sinom atau beras kencur yang kita belikan, sinom dan beras kencur bisa dicari besok pagi dipasar,  tapi untuk mala mini kami yang sajikan Cukrik, minuman tradisional yang memabukkan, sejenis arak, tapi kalau sudah masuk Surabaya, disebut Cukrik. Begitu kami menuangkan dalam gelas arak kecil untuknya, dia langsung bilang “Nourook!!”  Hah?… kami saling berpandangan, tak tahu apa artinya itu, ternyata, nourook itu semacam cheers ala Romania sana. Dan, ekspresinya lebih mirip seperti orang kepedesan ketika mencicipi itu. Dia tak mampu menghabiskan satu gelas kecil sekaligus, seperti adat kami biasanya, dia minum sedikit dulu. “What kind is it? So spicy” katanya,lalu kami hanya tertawa. Itu yang biasa kami minum disini, Cukrik itu arak dalam versi Suroboyo’an. Memang sedikit lebih pedas dan lebih panas dari arak biasanya, terbuat dari fermentasi beras, dan sampai sekarang masih dibuat dan dikemas secara tradisional. Untuk cukrik polosan, kadar alkoholnya bisa sampai 40% tergantung kita beli dimana, kalau kualitasnya bagus bisa sampai segitu. Dan  dia hanya bisa bilang “WOW!!”

Teman teman yang lain pada mengumpat dalam bahasa jawa, menunggu putaran gelas araknya, karena mikaela tidak segera meminumnya, hanya memegangnya sambil bercerita. Semoga saja dia tidak tahu bahasa jawa, dan apa yang dikatakan teman-teman.

Jamuan berikutnya datang, jajanan gorengan hangat dari warung depan plus petis, disana ada yang dia cari, tahu dan tempe. Kami lalu menerangkan hasil hasil olahan dari tahu dan tempe, salah satunya jajajanan ini. Dia mengambil catatannya dan kamera poket dalam totebag nya. Kami isi lagi cukrik dalam gelasnya yang sudah kosong, dia ternyata suka juga dengan cukrik, yah kadar 40% mungkin sudah biasa bagi mereka yang ada di Negara dingin dimana ongkos membuat alcohol lebih murah ketimbang memelihara kebun the dan kopi. Satu lagi yang membuat mikaela berkata “wow!!….” kali ini dengan wajah berkeringat adalah Petis. Dia begitu menikmatinya, mencocol gorengannya dalam dalam di wadah petis. Tak peduli dengan bau petis yang menyengat, atau dia malah menikmatinya. Kami tidak bisa menjelaskan secara detail tentang proses pembuatan petis, karena memang kami ti dak tahu. Kami hanya bilang kalau “spicy sauce” ini terbuat dari tumbukan udang kecil, bawang, cabe dan merica. Tergantung selera juga, mau dibuat pedas atau dibuat sedang sedang saja.

Dimana saya bisa dapatkan petis? Saya mau bawa ke Negara saya, mereka pasti kaget dengan rasa dan aromanya. Saya juga mau bawa pulang arak.”

Kalau petis, besok kita bisa antar ke pasar tradisional, tapi kalau untuk arak, disini masih diperjual belikan secara illegal, dan tidak semua penjual mau memper jual belikan barangnya pada orang baru. Apalagi untuk cukrik yang kualitasnya bagus, Kataku.

Mikaela begitu menyanyangkan, kenapa “Spicey sauce” alias petis tidak diperjual belikan di Super-market seperti tempat dia biasa mendapatkan makanan kaleng dan sarden di kota ini, dan mengapa cukrik diperjual belikan secara illegal, adakah yang salah dengan minuman ini, dan adakah yang salah dengan orang yang meminumnya. Semuanya dibeli, bukan dicuri, Katanya. Lantas kenapa masih masih illegal disini.

Yah, begitulah disini-di Indonesia, kita punya hukum yang berbeda, mungkin berbeda juga dengan di Negaramu. Fefe menjelaskan. Masyarakat disini, masih heran dengan fenomena mabuk, minuman keras dan kata haram yang difatwakan sebuah lembaga ke-islaman di Negara ini. Mungkin illegal masih masih bisa diakali, tetapi “taboo” kata itu masih persoalan persepsi pribadi, dan persepsi mayoritas.Karena mabuk, dan minuman keras tradisional masih identik dengan cap “preman kampung”. Yang selalu digambarkan dengan onar dan kriminal.

Begitu juga dengan petis, yang kamu sebut “Spicey-sauce” . Supermarket yang ber-Ac masih sanksi memasukkannya dalam  salah satu rak-display nya sebab baunya yang menyengat, takut melekat diseluruh ruangan. Sementara mereka sendiri sibuk men-display dan mendatangkan aneka sauce dan makanan kaleng ala luar negeri. Dan produsen dalam negeri kita–pun masih belum ada yang berani mengemas petis dalam produksi yang serius untuk meningkatkan nilai jualnya, alhasil bahan yang satu ini, harus tetap mendekam dan diperjual belikan dalam pasar tradisional.

Oooh, so dear…! Kata mikaela. Maaf, saya tidak tahu itu semua dan saya baru tahu. Yaah…. No problem, itu persoalan klasik di negeri kami, tidak hanya petis, di kancah resep tradisional lain, jajanan pasar yang asli rasa masakan dalam negeri makin lama makin minggir, mencari posisinya di lompongan lompongan sempit, atau sudut kerumunan diatas gerobak pedagang kaki lima atau mungkin yang kamu kenal dengan flea seller. Untuk masuk pasar modern masih maju-mundur, ketika sudah ada yang mulai melakukannya pun, lidah masyarakat kita masih terobsesi dengan aneka menu luar capat saji ketika sudah masuk mall.

Berarti kalian yang ada disini, orang orang yang terpinggirkan, atau memilih menepi? Karena saya lihat kalian minum-minuman dari fermentasi beras yang kalian sebut cukrik, makan gorengan dicocol petis, dan berkumpul melingkar dipinggir danau berlumut, sangat sangat menyepi. Yeaah…. You know what I meant, I’m just kidding guys.

No….no. no problem, that’s our choice….. we feel better in here. Bisa dibilang juga, kami tidak peduli dengan apa yang disebut itu modern, trend dan sebagainya. Kami merasa ber-identitas disini, karena menurut kami, modernitas bukan soal apa yang kita pakai, apa yang kita cicipi dan apa ada dimana kita, modernitas bagi kami lebih soal pola pikir dan kebebasan untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan, tidak harus selalu mengekor pada stereotype yang lagi In.

But, I love it very much guys.

Yah …begitu juga kami.

Malam makin larut, ternyata mikaela betah duduk bersama kita disini, sayangnya dalam waktu dekat kami tidak ada agenda kegiatan alam, seandainya ada, pasti dia kami ajak ikut serta, entah gunung, tebing, goa atau sekedar berjalan-jalan keliling kota. Sayangnya juga, mikaela tidak punya banyak waktu di Surabaya, seperti para traveler lainnya, dia hanya singgah beberapa hari di suatu kota, lalu lanjut berjalan kemana saja nalurinya berucap. Mikaela tidak begitu suka dengan foto-foto, dia lebih suka travelling sambil berkuliner, mencatat dan mengantongi beberapa bumbu bumbu rahasia resep resep masakan tradisional suatu Negara, ke Negara lain.  Beberapa catatan menu, dia perlihatkan di journalnya. Disitu juga ada beberapa foto dan gambar makanan, dari situ juga dia bercerita tentang restoran restoran unik dinegaranya dan Negara-negara yang dia kunjungi

Andai saja kalian lihat ranselku, bau nya begitu menyengat, ada rempah rempah ada ikan kering ada bumbu bubuk, daging dendeng, jamur-jamuran yang dikeringkan, makanan kaleng dan ada baju kotor, hahaha… semuanya oleh oleh dari perjalanan. Mungkin semuanya bakal jadi koleksi yang begitu berharga ketika aku pulang nanti, tapi kalau masih belum bisa pulang dalam waktu dekat, yaah, bakalan menjadi cadangan makananku ketika berhemat. Hahahaa…. Sambungnya dengan tertawa. Itulah maksudku kenapa saya lebih suka mengumpulkan bahan makanan daripada foto. Karena pasti ada saat-saat saya harus berhemat dijalan, dan itu semua akan berguna.

Kalian jangan lupa yah, sebelum saya pulang nanti, saya mau bawa seukuran botol ini,ini kenang kenangan saya dari sini, andy, kamu bisa antarkan saya beli itu, Kata mikaela.

Iya… tenang saja, nanti kalau mau pulang saya antar.

Kemana tujuan kamu setelah dari Surabaya? Tanyaku.

Bisa jadi saya mau ke selatan, keAustralia, Lalu selandia baru. Tapi sebelum berpindah Negara, saya mau berplesir keliling Indonesia dulu, saya sering mendengar Bali, Lombok,   Wakatobi dari milis. Mungkin saya mau kesana dulu.

Wow…… itu akan menjadi perjalanan yang asyik. Kataku.

Kapan rencana bergeser?

Mungkin 2-3 hari lagi. Besok dan lusa saya masih ada waktu ber-kuliner bareng kalian yang sudah janji mengantarku. Hahahahaa…. Kata mikaela.

Resep dan citarasa tradisional masakan kita terasa begitu eksotis bagi mikaela, begitu asing dan membuat lidahnya harus berkenalan dan beradaptasi dengan sesuatu yang aneh untuk pertama kalinya. Begitu juga dengan mereka para eks-patriat yang bersinggah disini. Dan itulah salah satu daya tariknya.

Sementara bagi orang kita, yang sudah terbiasa sedari kecil dengan citarasa seperti itu, mungkin sudah kelewat biasa, bahkan ada yang bilang bosan. Dari situlah celah menu asing untuk masuk dan berasimilasi dengan bahan baku local sebagai  varian baru, citarasa baru dan trend baru dalam indera perasa masyarakat modern. Dan ujian bagi peribumi Negara berkembang ada disana. Mau menyempatkan semua itu hanya sebagai sebuah bentuk petualangan kuliner, atau sebuah komoditi  primer baru. Mau ber-improvisasi dengan mengembangkan resep local atau bermain dengan trend menggunakan lebih sedikit bumbu dengan sajian makanan cepat saji ala Negara barat.

Tetapi, dimana bayi dilahirkan, disitu lidah dibentuk, sejauh jauhnya lidah berpetualang, pastilah tetap ada kerinduan akan masakan Ibu dirumah, dan kerinduan itu pula selalu membayang-bayangi mikaela, ketika sudah sebelas bulan lamanya berpetualang, jauh dari rumah. Masakan ibu –lah, yang saat ini sedang dirindukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s