Sebuah pagi menjelang tutup tahun 2013


Samar, gelap dan dingin, begitulah ketika aku buka mataku yang masih lengket akibat tidur selama enam jam. Hari ini tanggal 24 Desember 2013, besok hari Natal. Dan 7 hari lagi tahun 2013 sudah tutup buku, lembaran tebal 2014 sudah menanti. Semoga lebih banyak keberuntungan disana, 2013 sungguh tahun yang berat bagi saya, begitu banyak transisi terjadi, mulai dari pembelajaran, tamparan, berkah, musibah, dan hidup baru terjadi disini. Tapi di penghujung tahunnya, minus tujuh hari sebelum resmi 2013 tutup buku, saya masih bukan apa-apa, dan bukan siapa-siapa. Resolusi demi resolusi, masterplan demi masterplan, satu banyak yang belum jalan, Masih tersendat di antrian realita. Banyak sekali yang menyebabkan semuanya haru mengantri, berjalan lambat untuk direlaisasikan atau bahkan berhenti total, dengan kepastian yang tdak jelas kapan akan dijalankan kembali atau mulai dijalankan.

Kuminium air putih dari teko sedikit demi sedkit untuk membasahi kerongkongan yang kering ini. Aku coba rasakan proses turunnya air dari kerongkongan hingga membasahi setiap sisi saluran itu sebelum dingginnya aku rasakan di perut. “apa ada yang salah dengan prossesku?”Apa tim-ku kurang bisa support?” “Apa modalku kurang?” “atau memang ini sebuah cobaan?” beberapa pertanyaan itu mengisi ritual pagiku hari ini. Tidak bisa dipungkiri, aku merasa dipukul dengan keras tahun ini, efek sakitnya masih membekas hingga pagi ini. Apa yang aku lakukan tahun ini ternyata tidak semuanya mulus, dimulai dari aku mengikuti semacam diklat organisasi pecinta alam di bulan januari, yang berlanjut dengan keseringanku meninggalkan usaha yang aku jalankan lantaran keasyikan ber-keseharian di secretariat dan bangku taman dipinggir danau sana, kuliahku tidak lanjut, prospek pemasaran di perusahaan tidak lancar, biaya operasional pindahan kantor yang tinggi, kerugian proyek sebesar enam juta rupiah, upah para vendor belum terbayar, hutang pribadi menumpuk, dan pembayarannya entah dengan uang siapa.

Sekali lagi aku mengaduh pada kopi, kasihan sekali cairan hitam ini, warnanya jadi makin pekat oleh keluh kesah tuannya.

Untung hidupku tidak aku jalani sendiri di bulan November lalu, ada istri yang bisa menjadi temanku berbagi, satu per satu masalah hutang teratasi oleh uang kita (lebih banyak uangnya, bukan uangku, dan hampir semuanya uang amplopan dari para tamu di acara kita), beberapa list kegiatanku yang dirasa tidak penting dia coret, salah satunya yaitu menjalani kesehari di organisasi pecinta alam yang selama ini aku eluh-eluhkan dan aku puitiskan dengan indah di beberapa tulisanku terdahulu. Aku belum berani mengatakan ini pada saudara-saudara disana, aku belum berani terbuka pada mereka tentang keadaanku, sebuah bayangan tanggung jawab pengabdian memang seharusnya ada dipundakku tahun ini, tapi istriku tidak bisa mengerti itu, baginya itu tidak penting, dia memang belum paham banyak tentang “brotherhood” modern dalam sikap berorganisasi. Bagi dia kehidupan kita lebih penting, titik. Memang ada benarnya pemikiran para wanita, karena dia istriku, tentu aku harus menghormati pemikirannya juga. Untuk kesehariannyam lantaran tidak ada fasilitas internet dikantor, satu per satu teman-teman enggan datang kekantor, ketiadaan fasilitas internet oleh pemilik bangunan itu juga lantaran kita yang selalu telat bayar dan menunggak, tapi operasional tiap hari. Akhirnya Internet tunggakan internet yang mahal akhirnya tidak terbayar dan dibiarkan mati saja, sebab total pemakai aktivnya yah kita kita juga. Si Momok, mulai menjalankan Usaha Toko Baju 2nd  Hand-nya, Adhil sibuk dengan banyak komunitasnya, Luluk yang sedari sebelum menikah sudah mengutarakan pegunduran dirinya kini lebih suka dirumah, berkerajianan tangan ketimbang aku ajak kekantor, dan fikar, entah dia sibuk apa, dibilang nganggur ya dia sering keluar, dibilang kerja tapi dia pagi hari baru tidur, saat pasar didepan rumahnya sedang aktif aktifnya. Yang masih sering kekantor, Cuma tinggal aku dan adhil, itu juga terasa garing kalau Cuma berdua, dan kita tidak pernah sampai lama disana, barang Cuma dua jam, lalu pergi lagi. Itupun, kebanyakan aku langsung pulang.

Untuk mengisi kebanyakan waktu kita yang senggang, kami membuat “Holijoli” juga di penghujung tahun, sebuah toko kerjinan tangan dan barang barang handmade lainnya untuk menyalurkan hobi dan kecintaan kami pada kegiatan mencipta, apa saja yang lucu, unik dan menarik dari buatan tangan kita respect, dan kita jual melalui online. Untuk nama itu sendiri, kami juga belum mengadakan launching. Preview dan transaksi masih melalui aku social media. Rencananya, rumah kita ini nantinya akan merangkap sebagai galerinya. Tapi itu masih dalam penggarapan, saat ini masih belum bisa menghasilkan apa-apa, kami harus sering browsing dan membeli barang barang baru dan bahan bakunya untuk memperbanyak koleksi, dengan target musim panas tahun 2014 besok, kami sudah bisa launching dengan cukup banyak koleksi. Memang menyenangkan, kami rasa hidup kami memang disini, tapi ternyata tidak, pagi ini aku terbangun lantaran tangisan istriku yang merasa bosan, lelah dan hampir saja stress dengan aktivitasnya dirumah yang ternyata menurutnya itu membosankan. Aku mendengarkan keluhannya dengan sambil dia sesenggukan, dia ingin bekerja, ingin punya aktivitas kesibukan formal seperti banyak wanita seumurannya, mendapat posisi dikantor, dapat gaji bulanan, dapat seragam, punya jadwal rutin, dan mendapatkan strata social lebih, dia mengeluhkan beberapa lamaran kerjaan yang belum dipanggil, beberapa interview yang gagal, da nisi tabungan kita yang makin hari makin menipis oleh konsumsi. Keluhan dia membuka mataku dari alam mimpi, bahwa kehidupan rumah tangga bukan sekedar bahtera di alam mimpi, ini dunia nyata. Ada tagihan listrik, tagihan air, biaya telefon, pulsa internet, ongkos transportasi dan modal usaha. Aku langsung mengajaknya bangun dari kasur, dan membuatkannya secangkir teh hangat, dan ternyata teh hangat tidak serta merta mengatasi. Otak manusia itu sekumpulan system syaraf sadar, harus ada tindakan, harus ada aksi yang berbuah solusi, harus ada kabar gembira soal pertambahan nilai tabungan, dan harus selalu ada proyek unuk membiayai semua baban konsumsi rumah tangga kita. Saya jadi teringat apa yang saya baca dalam buku “Poor Dad, Rich Dad” karya Robert T. Kyosaki. Kenapa orang orang yang kaya akan semakin kaya dan orang yang miskin akan tetap miskin. Hal itu dikarenakan oleh Pondasi keuangan yang buruk, ibarat inngin membangun Gedung pencakar langit yang tinggi apabila tidak dimulai dengan sebuah pondasi yang dalam, tentu tidak akan kuat, dan kelak akan runtuh. Yah, Pondasi keuangan kami yang tidak kuat sejak memulai bahtera inilah penyebab pagi ini begitu murung dan kopi semakin pekat hingga pahitnya yang khas cukup untuk membangunkan sel-sel tubuh yang masih tertidur oelh buaian angan-agan. Bukan soal keasyikan berkeseharian dipinggir danau di secret prapala, juga bukan soal kehiduapan teman teman istriku yang membuatnya iri. Sementara penghasilan tetap belum ada, investasi karya kami belum menghasilkan, konsumsi sehari hari dan belanja ini itu tetap jalan terus. Tak bisa berhenti, memutuskan menghentikannya, sama saja dengan menyuruh organ pencernaan kami berhenti. Berhemat juga bukan solusi lagi,mau berhemat sampai kapan-pun, isi tabungan kami jelas akan habis juga nantinya. “Orang bodoh dan Uangnya adalah Pesta Besar” sebut Robert. T. Kyosaki. Dan yang dimaksudkan orang bodoh dalam subject itu bisa jadi kita salah satunya. Dan kepekatan kopi yang aku seruput sekali lagi membawa pagi ini lebih serius lagi, untuk sebuah aksi nyata, untuk mendapatkan sebuah pendapatan tetap yang bakalan menjadi “main anchor” kita. Berbekal sebuah sindiran dari buku “Be the Elephant; Build a Bigger, Better Bussines” karya Steve Kaplan.Seseorang dengan mimpinya yang tak pernah menjadi kenyataan, berarti ada masalah dengan cara dia bersosialisasi, dan mengemas sebuah kerja sama”. Oke. Waktunya untuk melibatkan lebih banyak orang lagi untuk mimpi kita yang kompleks.

Terima kasih untuk istriku tercinta, dan secangkir kopi di penghujung tahun 2013 ini, sangat inspiratif.

Kita mulai semuanya. Satu per satu. Kita mulai bawa mimpi kita melompat keluar dari alam surealisme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s