Panggil saja Enok


“Enok!” Dengan nada agak sedikit sengau yang jadi menyamarkan lafal “E” nya. Begitulah ponakannya memanggilnya. Enok baru datang dari bandung, baru seminggu lalu, percakapan pertama kami dimulai dari adat berbagi rokok sesame penghuni rumah kontrakan, lanjut berbagi kopi, dan dia sering main ke tempatku, kini kami sering ngobrol bareng. “Di Surabaya ini aku bingung mas mau ngapain….” Udah dua minggu ini dirumah terus. Bosan juga yah!” katanya. “Yah.. jalan jalan sono, Surabaya emang membosankan kalau dipakeknya dirumah terus” balasku. Belum aku menoleh padanya karena sedang asyik melukis, dianya sudah menimpali lagi, “Mau jalan jalan itu bingung mas, gak ada kendaraan!” Aku hanya terkekeh mendengar itu, “Meskipun sudah ada motor-pun nanti alasan kamu juga ganti, Gak tahu jalan Mas” Balasku sambil menirukan logatnya. “Enoook… Enokk… jauh jauh dari kampung kesini kalau cuma dipakai tiduran terus di kost yaah percuma, buang buang ongkos namanya. Surabaya kota bear nok, angkutan kota banyak, hampir semua jurusan alamat ada angkutannya. Kalau emang gak sampe tujuan, yah tinggal oper angkot”. Sekarang alasannya bertambah lagi, takut tersesat-lah… takut berjalan jauh-lah.

Di suatu malam berikutnya, ketika aku sedang ngelembur kerjaan untuk toko tiba tiba dia masuk ketempatku, “Nok… aku sambil garap yaah.. soalnya besok udah harus dikirim ke toko” Ijinku sembari mendengarkan dia berkeluh kesah, sembari tetap focus pada tiap detil lukisan. Oh iya, saya belum bercerita tentang asal muasal Enok yah, ceritanya begini, di kompleks kontrakan ada penghuni baru masuk, satu keluarga baru, sedari awal dia Tanya Tanya tentang kamar kosong saja aku sudah tau kalau calon penghuni baru ini bukan berasal dari wilayah surabya dan sekitarnya, logatnya saja logat sunda. Dan benar, ternyata mereka berasal dari Bandung. Satu keluarga itu ada Enok, dua orang Kakak Perempuan Enok, dan satu anak kecil berusia sekitar tiga tahunan, namanya Raka, dia anak Kakak Enok yang paling tua. Ayah Raka? Aku juga tak tahu. Yang pasti banyak lelaki yang dipanggil dengan sebutan Ayah, Papa, Bapak, dan Kokoh oleh Raka. Enok menjelaskan satu per satu kepadaku tentang siapa siapa yang dipanggil dengan nama itu oleh Raka, sementara untuk Bapak Kandung Raka sendiri, “masih ada di Bandung sekarang, masih satu kampung sama kita mas, orang itungannya juga masih tetangga satu desa.” Cerita Enok, “Nah…itu juga yang jadi alasan kenapa kakak pindah ke Surabaya dua tahun silam, Bapaknya Raka tuh sering bawa bawa raka, kadang kalau diminta ama kakak sering gak dikasih Raka-nya, makanya dibawa pergi jauh aja sekalian sama kakak”, sambungnya. Ooh….begitu! Sahutku.
Enok melanjutkan ceritanya lagi, “Terus di Surabaya kakak kerja mas di tempat karaoke, dari situ dia bisa ngehidupin raka ama beliin banyak mainannya raka, Kenal sama Om-om yang dipanggil Kokoh itu ama Raka, orangnya tua mas, akih-akih, sekitar usianya 50-an lebih lah, Cuma dia kepala pabrik rokok mas, kadang kadang sering tidur di kost’an kakakku. Kasih Uang belanja, beliin ini-itu, beliin raka baju ama mainan, makmur deh kakak. Cuma jeleknya si Kokoh tuh, dia gak begitu suka kalau ada orang lain selain Raka ama Kakak di Kost’an, pas aku ama kakakku yang satunya pertama kali datang ke Surabaya aja, ekspresinya si Kokoh aja udah kecut, sering marah marah lagi sama kakak. Apalagi kalau marah mas, makin keliatan jelek sifat aslinya, semua barang barang yang pernah dikasih ke kakakku, diambilin lagi, mulai dari dispenser, mainannya raka, TV, DVD, sampai baju loh mas, barang yang udah dipakai, diminta lagi, gak tahu kalau dia pernah beliin celana dalam buat kakakku, pas marah marah kemarin diambil juga apa kagak”. Aku hanya tertawa mendengar itu semua, sebenarnya sih tidak ingin dan tidak ada keinginan untuk KEPO urusan pribadi orang, cuma kalau ada yang cerita kaya gini yah gimana lagi. Masa’ mau aku STOP, terus gak mau mendegarkan. Enok masih mau meneruskan ceritanya, “Nah… aku sama kakak itu udah gak tahan mas ama sikap kokoh yang kaya gitu sama kakak, mau aku masuk, ikut belain kakak pas mereka ribut ribut, takutnya nanti urusan makin runyam. Kakak juga gak ngebolehin aku ikut campur, suruh biarin aja katanya.Untung aja ada Rizki”. “Hah….siapa lagi itu rizki nok?” tanyaku.”Halaah mas… rizki ituloh, yang biasanya tiap sore main kesini, yang dipanggil Ayah sama raka, itu pacar baru kakakku mas. Dia yang bawa kita semua kesini, biar jauh dari si Kokoh, biar gak tinggal lagi sama dia, Rizki gak tega mas lihat kakakku digituin sama si Kokoh itu. Dia bawa kita kesini, terus janji biayain hidup kita”.

“Whaat??….. What a life, benar benar eperti cerita balada di lirik lagu dangdut ini cerita mereka.” Gumamku dalam hati. Sosok si Rizki yang benar benar mirip semacama “Hero” ini jadi membuat aku jadi ingin tahu, “emangnya rizki itu kerja dimana nok? Anak Surabayakah?” tak percaya kulontarkan juga itu pertanyaan. Aku tahu si Rizki itu, memang setiap sore dia kerap datang ke Kost Enok, kadang kalau dia datang, terlihat jinjingan keresek dengan lekuk lekuk khas lekukan nasi bungkus didalamnya, ada beberapa yang bungkusan nasi yang dia bawa. Usianya bisa jadi seumuran denganku, bisa jadi terpaut satu dua tahun diatasku. Dan berjanji bersedia menghidupi beberapa orang disini plus tempat tinggal dan segala kebutuhannya. Wow! Jelas bukan perkara main main, ada berapa orang dikamar kost itu, ada Enok, Dua orang kakak perempuannya, dan ketambahan Raka. Sehari makan tiga kali, juga kebutuhan lainnya, seperti bayar kos, sewa kasur busa di pemilik kos, rokok untk Enok dan mamanya raka, kebutuhan beli kipas angina lantaran kos-kosan yang gerah dan pengap. Bisa terbayang, nominal minimal yang harus rizki keluarkan per hari-nya, per-minggu, apalagi dalam satu bulan. Sementara Rizki sendiri seorang Guru muda. Enok dan kakak perempuannya yang baru datang dari bandung itu juga tidak bekerja, jelas untuk makan dan sebagainya menggantungkan tanggungan ke kakaknya, dan rengekan dari kakaknya itu jelas menjadi tanggungan si Rizki juga. Ckckckck….. Hebatt!!. Gumamku dalam hati.

Semenjak cerita si Enok malam itu, aku dan Istri hanya bisa tersemyum sambil geleng geleng setiap kali lihat Rizki datang dam menyapa kita, melihat usia dia, dan beban pilihan cinta yang dia pilih, dengan usia yang baru segitu. Lebih geleng geleng lagi ketika melihat gaya hidup Enok dan kakak kakaknya disini. Rokok Enok minimal 2 Pack sehari, belum mamanya raka, 1 pack Marlboro Black Menthol per hari, untuk air minum, mereka tidak mau beli gallon, untuk konsumsi sehari hari mereka memilih beli air minum kemasan tanggung 600ml satu box untuk sekali beli tiap beberapa hari sekali. Kakaknya tidak mau masak, padahal katanya ada kompor gas portable dikamar, masak aja tidak mau apalagi cuci cuci, bagian Enok tiap tiga hari sekali mengaantar pakaian kotor ke laundry di ujung jalan gede. Sekalinya mereka keluar bareng bareng sekeluarga, naiknya taksi pulang-pergi. Gilaaaa…! “Living high sih boleh aja, asal tetep Livin smart dong.” Ada saja kehidupan macam ini di pinggiran kota Surabaya, gumamku.

Di sebuah pagi, Enok menghampiriku, saat itu aku sedang mencuci motor bututku. “Tumben pagi pagi gini udah bangun nok?” tanyaku. “Dari tadi malem emang belum tidur mas…..ampe pagi nonton stock kaset DVD kakak”. Katanya. Aku timpali hanya dengan kata “ooOo…” yang datar. Lalu dia asyik ngobrol dengan seseorang yang meneleponnya, dari obrolan yang di – Loud Speaker itu aku tahu, kalau yang menelepon adalah cewek. Aku lanjutkan mencuci motor.

Cewekku tadi nelpon mas….udah kangen katanya dia.” “Yah pulang loooh… ceweknya udah kangen tuh.hihihi” balasku. “Sebenernya aku itu males pacaran mas anaknya, si cewekku ini aja yang ngebet….minta dinikahin mas. Kalau aku mah, lebih suka cari tante tante aja mas, enak…dibiayain kita malahan ama tantenya.” “Whatt…..” aku sampai speech-less mendengar itu, tak percaya dengan usia segini, yang aku kira polos, datang dari kampung ternyata punya pemikiran seperti itu. Kalau menurutku, ganteng juga enggak, tinggi juga enggak, dekil iya. Tapi ngelanturnya kejauhan nie anak. “Mas…. Nanti mas andy ada acara kemana?” Enok Bertanya. “kebetulan hari ini aku harus antar barang lagi nok ke toko, ama istriku minta diatar ada interview kerja.” “sampe malem gak?” potongnya. “Nah itu dia Nok, waktu kita itu kurang bisa diprediksi. Kadang kalau pengen mampir mampir yah bisa sampai malem, kalau tiba tiba males lihat Surabaya, yaaah bisa cepet, langsung balik kerumah. Emangnya kenapa?” dia lalu jawab, “yaah pengen aja mas keluar keluar, jalan jalan gitu, kali aja mas andy nganggur hari ini, bisa ajak aku jalan jalan mas, aku pengen tau Surabaya, pengen main ke Mall, bosan di Kost an terus.” Aku sahuti, “yaah nanti lah, kalau ada waktu senggang.Yaah kalau bosan di kost an terus, coba aja cari kerja Nok, kamu ada ketrampilan apa gitu, coba ditawarkan, cari lowongan, se-jelek jeleknya kerjaan jaga toko, juga dapet bayaran nok di Surabaya. Minimal kan kita ada pegangan buat jajan kek, buat rokok, syukur-syukur kalau bisa dipakai makan. Aku sama istri saja, gini gini juga masih terus sibuk cari kerjaan yang lebih layak nok, soalnya kita sadar kita banyak kebutuhan.” Kataku sambil seidikit memberi nasihat, yaah… kalau saja dia sadar. Lah, jawabannya aja begini “Nah itu mas, aku itu belom tahu Surabaya,kalau kerjaannya jauh, aku juga belom tahu jalanan, ntar bisa bisa malah tersesat, lagian ijasah punyaku juga masih dikampung mas. Makanya itu, aku dirumah terus, gara gara gak tau jalan mas. Ini si Rizki juga udah janji cariin aku ama kakakku kerjaan kok mas.Nunggu dari Rizki saja” “Hahaha…lah terus, kalau kerjaan dari rizki ternyata juga tempatnya jauh dari sini gimana? Masih takut tersesat juga?”. Sahutku sambil tertawa, “Enoook,…. ENoook… di kota besar kaya gini kok masih aja ada yang ngomong takut tersesat!.”

Lantas orang orang yang begitu padat disekitar kita ini dipikir apa, kaya tidak bisa ditanyain atau dimintai tolong untuk sekedar informasi, lantas apa gunanya ada peta Surabaya, apa gunanya pakai handphone yang ada layanan internet, kalau perlunya browser hanya untuk buka situs facebook. Bukannya ada peta Surabaya online, juga ada google earth, minimal ada plang penunjuk jalan kalau kepepet tidak ada pulsa untuk paket Internet.

Inilah kisahku tentang Enok, tetangga baruku. Lugu, takut tersesat, Ijasah terakhir SMP, dan ketinggalan lagi di kampung. Hari gini masih bingung mau berbuat apa. Pemuda urban macam beginilah yang bakalan tambah bikin sumpek Surabaya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s