Dimana tombol START?


Disebuah malam di musim penghujan yang becek di pinggiran Surabaya, aku habiskan malam dengan salah seorang partner kerja di sebuah kedai kopi, dimulai dengan sharing problem masing, lalu berlanjut ngelantur kesana kemari menghabiskan semua isi kepala kami diseduh semuanya di sana.

Obrolan kami seakan tanpa batas ketika berdua, tak ada lagi benturan kultural, social, ekonomi, dan budgeting , sebab yang kami bicarakan adalah “mimpi” kami, bukan dengan mimpi buruk, bukan juga  soal “tafsir mimpi” semalam. Ini mimpi tentang masa depan, tentang penemuan, dan kehidupan yang ideal dimasa mendatang. Ternyata, kami berdua adalah seorang pemimpi handal, lebih tepat disebut seorang visioner karena tanpa kita sadari obrolan santai di kedai kopi ini membawa kami pada ide ide gila. Kadang Kami saling memuji pemikiran satu sama lain, mengandaikan diri kami sebagai seorang sutradara hebat dibalik mahakarya mahakarya abadi masa depan, yang kelak akan mengubah dunia dan pola pikir orang, kami adalah ahli hipnotis, yang mampu menghipnotis satu sama lain untuk meng-“iya” kan pemikiran kami berdua. Kali ini kami berperan sebagai seorang birokrat licin yang mengantongi setumpuk berkas berkas petisi untuk di lobbi kan ke pemerintah untuk mengubah system perpajakan yang kami rasa sering kecolongan oleh tikus-tikus kantoran. Empat jam serasa bukanlah durasi yang cukup untuk obrolan dua visioner hebat macam kami, masih ada detail ini itu yang perlu dijabarkan,sebab yang kami bicarakan sebuah project yang kelak bakalan mendatangkan omzet ratusan juta rupiah dan royalty hak cipta pada kami. Dan seperti seperti biasanya, Aku bilang pada temanku, “you’re a Genius men!” Lantaran ide idenya yang selalu brilliant dan luput dari sudut pandang orang orang pada umumnya. Dan dia bilang aku sesorang yang salah memilih sekolah desain, harusnya “harusnya kamu itu ambil kuliah di filsafat saja” lantaran aku yang sering berteori, danseperti malam malam sebelumnya, pertemuan selalu diakhiri ketika telepon dari salah seorang istri kita sudah memanggil, dan kita kembali menjalani kehidupan masing masing.

Pertemuan sebelumnya juga berakhir seperti itu, barangkali berikutnya pun juga, dan beberapa pertemuan –pertemuan berikutnya juga seperti itu. Lalu kami bertemu kembali, membicarakan ide ide brilliant masing masing ketika bertemu, saling memuji, dan berakhir begitu saja. Ide Cuma jadi ide, mimpi tinggalah mimpi, pikirku  selalu ada mimpi baru untuk keesokan harinya, mengalir begitu saja tanpa beban pikiran seperti prosesi buang hajat di pagi hari.

Suatu ketika, dalam pertemuan kami saling berdiam diri, itu cukup lama, kami asyik dengan gadget masing masing sembari mempercepat dan memperdalam sedotan rokok masing masing di sudut kadai kopi biasanya. kami bosan berbicara soal mimpi, “bicara hal yang lainnya saja!” kataku. Dan pertemuan yang garing malam itu diakhiri lebih cepat sebelum panggilan telepon dari salah istri kami masuk. Kami lelah berbicara soal mimpi, kami lelah bermimpi, karena hanya sebatas mimpi.

Kami sadari, ternyata kami bukan seorang visioner hebat seperti yang biasa kami eluh-eluhkan, seorang sutradara hebat juga bukan, karena kami tidak pernah buat film, seorang birokrat juga bukan, karena kami tak pernah turun ke lapangan lobi lobi. Tak ada project jutaan dollar, tak ada royalti hak cipta. Kami cuma seorang pemimpi, itulah masalah kami. Sama dengan jutaan manusia lainnya yang halal memilih setting adegan dan peran berbeda untuk setiap malamnya, karena hanya untuk malam itu saja, dan akan berakhir ketika kita bangun. Parahnya lagi, itu semua tidak nyata, dan tak ada upaya untuk membuatnya menjadi nyata. Kami hanya berfantasi, memilih bermain aman dengan imaji, ketimbang melakukan aksi. Hingga akhirnya, kami menjadi bosan dalam stagnasi.

Tak ada yang hebat dengan para pemimpi, karena setiap orang akan mendapati dirinya juga demikian. Yang hebat adalah mereka yang berani memulai petualangan nyata-mencari dan   menemukan “Dimana tombol START” untuk memulai mewujudkan mimpi mereka. Meledakkan setumpuk peti dinamit yang kelak akan menjebol tembok  batas alam sureal dengan alam nyata. Mereka satu derajat diatas para pemimpi, merekalah Pemimpi yang bertanggung jawab.

 

“Mimpi mimpi yang hebat sekalipun akan tetap menjadi biasa saja ketika kita belum menemukan dimana tombol START-nya.” Sebuah tombol hebat yang mampu memicu ledakan dinamit untuk menjebol dinding batas alam surreal dan dunia nyata”.

“Ketika mimpi hanya diterjemahkan dalam bentuk kata kata, suatu saat pasti ada masanya dunia bosan dengan bacaan. ”

“Mimpi harus menemukan Tombol START-nya” untuk menjadi aksi nyata.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s