Kompleksitas versus Keterbatasan


Ceritanya, pada suatu akhir pekan, istriku mengagendakan sebuah reuni dengan beberapa teman kuliah, dan tempat ketemuan yang dituju adalah “Mall”. Saat kutanya? Kenapa harus Mall, bukankah banyak tempat lain yang lebih mendukung untuk membangkitkan semangat nostalgia jaman kuliah, dia menjawab “Halah, daripada ribet, wes ke Mall aja, mau nge-lounge ada, mau Hang out ada, mau belanja tinggal milih, mau jalan yaah tinggal  jalan aja, adem lagi!”.

“Ehhhm….” Belum selesai aku bicara, dia sudah masuk lagi.

“Kamu mau nge-rokok, juga sudah adaa tempatnya sekarang”. Tambahnya lagi.

Benar benar telak, seperti sebuah hatrick yang tak terbalas di sebuah pertandingan bola, pertimbangan demi pertimbangan dari istriku begitu masuk akal, simple, dan tak terbantakan, alasan alasan lain juga urung aku lemparkan, karena sudah terjawab semua.

Pukul enam sore, kami sudah duduk di sudut sebuah café tempat kita janijian, kami yang dating duluan, dan istriku kini tengah sibuk mengisntruksikan pelayan café untuk men-setting meja agar kami ber enam bisa duduk santai dan nyaman.

Tiba tiba datang seorang sales kartu kredit yang hendak menawarkan paket paket applying terbaru dari bank nya. Karena sudah tahu apa yang hendak disampaikannya, dan belum ada rencana dari kami untuk membuat kartu hutang tersebut, kami mohon maaf, dan minta untuk dilewati saja, sang sales-pun berlalu, kembali ke standnya. Sepuluh menit kemudian, datang pegawai café mengantarkan menu yang kami pesan, belum sempat kami menikmatinya, dia sudah membuka buku menu dan menawarkan kembali promo hidangan pembuka sebagai teman minum teh, kami pun hanya tersenyum, sekaligus menolaknya secara halus, sang pelayan pun berlalu. Berselang tiga menit kemudian, datang lagi sales asuransi yang kebetulan juga sedang buka stand promo di dekat café tempat kami duduk hendak  menawarkan penawaran ini-itu, kali ini, karena dia datang dari arah yang tidak bisa kami lihat, jadi dia sempat berkata spatah – dua kata “blaah…blah blah….” Sebelum akhirnya kami isyaratkan kalau kami sedang tidak tertarik pada penawarannya saat ini. STOP!! Kami hanya ingin duduk, minum teh, menunggu teman-teman dan ber-reuni, tidak untuk penawaran ini, tidak untuk penawaran itu, kami sedang tidak tertarik. Mungkin ini, salah satu “thread” yang lepas dari bahan pertimbangan istriku ketika memilih tempat reuni di Mall, Mall ada sebuah bangunan multi fungsi, kalau semisal diibaratkan menu makanan, mall adalah paket combonya, segala produk dan jasa ada disini, segalanya bisa ada dan siap untuk dijual, selalu ada peluang pasar diantara lalu lalang orang orang yangdatang kemari dengan berbagai macam tujuan.

Lima belas menit berlalu, dan belum ada teman teman yang datang, istriku tengah sibuk ber telepon sana sini, menanyakan masing masing sudah sampai mana, sementara aku hanyut dalam lamunan, melihat teatrikal makhluk social yang datang dengan berbagai macam dandanan, dan kutip kepentingan mereka bisa ada disini, bahkan beberapa yang datang pun, terlihat berjalan linglung, seperti sedang tak punya tujuan, mengalir begitu saja menjelajah setiap lorong, menaiki elevator demi elevator. Lucu juga!

Beginilah mungkin wujud pasar modern itu, hamper sama dengan pasar traditional namun beda setting, bermacam orang memadati tempat, berlalu lalang kesana kemari, ada yang datang untuk ber transaksi, ada yang datang untuk makan atau minum kopi, ada yang datang hanya untuk meng-update refrensi harga terkini, ada yang datang untuk menemui teman, ada juga yang datang hanya untuk berjalan jalan, tidak ada tujuan khusus, tidak ada motif, hanya begitu saja sebagai cetakan dari pola hidup dan kebiasaan sehari hari mereka, Cuma settingnya modern, tidak ada menawar, tidak ada ayam, kucing dan lalat berani berkeliaran, tidak ada bau sampah basah, ruangannya ber AC, ada barcode barang, dan yang datang plus yang jualan lebih stylish.

Saya tamatkan satu per satu wajah orang orang yang berlalu lalang, para sales yang begitu aggressive menghampiri calon calon pembelinya juga satu keluarga komplit yang tengah bertamasya di mall. Mereka semua tampak begitu menikmati, mulai dari mengagumi hingga terbiasa dengan segala fasilitas dari pasar modern ini, sama dengan istriku yang beralasan di mall kita bisa menemukan segalanya. Mereka sudah merasa nyaman dan aman dengan pola seperti ini, Tiga puluh tahun lalu, orang (terutama ibu Ibu, maaf!)  lebih suka berbelanja di pasar traditional karena harga barang dan makanan lebih murag selain itu “bisa ditawar”. Kini, Ibu Ibu sepertinya sudah lebih nyaman berbelanja di Mall, atau supermarket, harga yang tidak bisa ditawar seakan sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka, lebih mahal juga wajar, sebab terbayar oleh fasilitas yang mendukung keamanan dan kenyamanan berbelanj, bahkan konsep pasar modern ini telah berhasil mengubah “mindset”para pembeli bahwa harga yang dibanderoll di supermarket adalah harga yang termurah, ada diskon lagi, pelayanan cepat, baik, tempatnya adem, tidak ada preman, tidak ada genangan air ikan dan comberan, tidak ada bau sampah. kualitas barang bersih dan pasti barang pilihan, dan tak perlu berlama lama lagi “tawar menawar”.

Jujur, saya sendiri pun termasuk salah satu dari mereka yang merasa aman dan lebih nyaman berbelanja di Mall untuk beberapa barang kebutuhan. Tapi, lamunan saya langsung tersentak ketika melihat agen asuransi yang tengah menjelaskan spek jasanya pada salah seorang calon customer di stand nya, dan seketika itu juga mempertanyakan tentang kata “Aman dan Nyaman” untuk kehidupan yang sudah modern dan kompleksitas ini.

Dan tawa kecil pun terlempar, bareng beberapa pertanyaan berikut;

“Kalau sudah merasa aman, kenapa masih perlu paket asuransi?”

“Kalau sudah merasa aman, kenapa masih saja sibuk meninggikan pagar rumah hingga memasang kamera pengawas?”

“kalau sudah merasa aman, kenapa harus ada jasa security?” bukan hanya untuk dirumah, di computer dan gadget pribadi pun, security antivirus wajib dipasang”

“Kalau sudah merasa aman, kenapa sampai harus menduplikasi data data penting kerjaan dan arsip diri ke server Google?”

“Kalau sudah merasa aman, kenapa kita masih menambahkan pengaman tambahan di kendaraan bermotor kita di parkiran basement?”

Dan, kalau sudah merasa nyaman,

Kenapa kita selalu meng-komplain ini-itu?

 

Berbeda sekali dengan mereka yang masih dipedalaman, yang selalu merasa tidak aman ketika malam tetapi tidak pernah memasang pagar tinggi berjeruji di halaman rumah.

Berbeda sekali dengan mereka yang serba terbatas dan tidak pernah protes atas apapun karunia alam yang diberikan.

Dan mereka yang ada disana, masih bisa tidur pulas dan nyaman nyaman saja diatas dipan kayu tanpa kapuk.

 

Sebuah gambaran sederhana, rumitnya tuntutan hidup di era kompleksitas dengan mereka yang tengah berada dalam jarring jarring keterbatasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s