Pondok Pertama Kami


“Depan SD Muhammadiyah…. masuk saja, ada gang didepannya, jalannya masih makadam, lurus aja, tepat dipojokan, itu tempat kita.” Sahutku melalui sambungan telepon dengan ayah yang kebetulan mau berkunjung ke tempat kami

 

Sebuah bilik dua ruangan berukuran 3 x 6, sebuah ruang kontrakan di ujung jalan makkadam, punya kami berada paling ujung, tidak berada dalam satu labirin bareng penghuni lainnya, tetapi langsung menghadap keluar, ke jalan sempit yang masih belum di aspal. Sebelah kanan bangunan langsung bertepi pada selokan besar, Tampak depanya Cuma dinding konsep unfinished warna “pink” dengan sebuah pintu dan jendela kecil,  kami mendaftarkan tempat ini dengan nama “Pink Labirin” dalam directory Geo Tagging For Square. Ketika jendela kecil yang merupakan satu satunya jalur ventilasi ini dibuka tabirnya, sebuah tanah lapang satu kavling ada didepan, kalau musim musim seperti ini lebih mirip apabila disebut kebun kangkung, sebab di tanahnya yang becek tergenang air hujan yang tak menemukan jalan untuk mengalir berubah menjadi rawa mini yang lebat oleh tanaman kangkung liar dengan batangnya berdiameter sebesar sedotan soda, mirip sekali dengan kangkung asal Bumi Gora sana, yang terkenal maknyus apabila dimasak Plecing dengan sambal pedas. Kangkung kangkung liar di tanah tergenang depan rumah ini tumbuh berdesakan satu rumpun, berebut hara dari sepetak tanah yang tergenang. Dua batang pohon pisang baru saja ditancapkan oleh pemilik tanah, berharap tunas yang lainnya bisa tumbuh dan mengganti dekorasi vegetasi tanah yang cuma sepetak ini.Aku selalu membiarkan pintu kontrakanku terbuka, karena satu jendela kecil itu tidak cukup untuk mengganti isi udara dalam kamarku, angin berhembus sepoi sepoi kala siang hari, kubiarkan langsung menyelinap masuk hingga ke sudut ruangan paling belakang, kamar mandi, tanpa permisi pun tak masalah; aku maklumi. Ketika malam tiba, aku dan istriku sering menghabiskan malam dikamar depan, berbincang dan berkeluh kesah akan apa yang terjadi sepanjang hari tadi, ada rencana sih untuk menaruh dua bangku didepan kontrakan, ditambah meja kecil juga untuk tempat kami menaruh cangkir teh dan kopi ketika waktunya bersantai, Cuma nanti dulu lah, masih banyak list barang prioritas yang mengantri untuk dibeli selain menu sarapan pagi. Seru sekali kalau malam disini, suasana disini lebih terasa seperti kita bukan di Surabaya, ada di sebuah kecamatan pojok di mepet sawah di jombang, kami tak perlu memutar lagu, masih ada bunyi bunyian hewan malam, berketukan, bersahut sahutan membentuk alunan melodi malam. Kami rindu bebunyian ini, bebunyian yang masih sempat kami dengarkan dulu di masa kanak kanak kami, ketika populasi manusia di Surabaya belum seramai dua puluh tahun lalu, sebelum para penghuni baru mengganti ekosistem mereka dengan bangunan beton dan pasar.

Walaupun sempit, kesederhanaan dalam kesunyian ini membuat kami nyaman, lupakan sejenak tetangga sebelah sebelah, anggap saja kita cuma berdua, menunggu sebuah sawung dibelakang padepokan silat. Cuma kami, ki Sanak dan Nyi Sanak yang hidup damai bersama alam.

Inilah pondok pertama kami, setelah malam pertama hingga malam kelima bulan suro di Pondok Mertua Indah tentunya. Masih belum rapi, masih banyak tumpukan tumpukan barang dan baju dalam kardus yang menunggu almari baru untuk tempat bersemayam. Ruangan pertama, kami pakai sebagai ruang tamu, yang sekaligus merangkap ruang makan, ruang sepatu, gallery karya kami, ruang baca, garasi motor, smoking roomku dan dapur. Aku membatasi penggunaan almari dan rak, aku gantikan fungsinya dengan panel panel yang bisa di gantung dan di bor ke dinding. Satu set Meja makan yang merangkap meja ruang tamu, meja kompor, dan dua kursi baca saja sudah membuat ruangan ini penuh. Hahaha…. Ruangan berikutnya adalah kamar kami, yang diharuskan steril dari asap rokok oleh sang istri yang merangkap supervisor ruangan, dan yang paling belakang adalah kamar mandi. Jadi, setiap ada tamu yang hendak menumpang buang hajat atau sekedar mencuci air muka di kamar mandi, mau tidak mau harus melewati kamar tidur kami dulu, karena cuma itu jalannya. Lorong terusan satu arah

Memang kecil, tapi seakan tanpa batas bagi kita, pasangan yang merdeka, ketimbang harus berbagi ruangan dipondok mertua.

Dari ruang yang kelihatannya sempit ini kami mulai semuanya, kami lewati batas batas pemikiran dan kenyamanan orang orang kebanyakan. Karena apapun ruangannya, kami anggap saja itu bahtera, dimana para awak didalamnya harus berusaha menjaga keseimbangan agar bahtera ini tidak tenggelam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s