Kenapa harus Sempurna? Kenapa Harus Mengkilap? Kenapa harus Presisi?


Lamunan Kopi malam itu membawa saya terhanyut dalam pemikiran sambil memandangi benda benda disekitaran penglihatan. Saya masih ingat benar kapan membelinya, dan kondisinya ketika dimasukkan kedalam rumah ini, berikut alasan kenapa saya dan istri  memilihnya. Satu persatu, mulai dari Teflon, kompor gas, cangkir keramik, Meja makan, sendok, garpu dan barang barang penghuni dapur lainnya, karena kebetulan rumah kontrakan saya yang ini, dapur dan ruang tamu jadi satu, jadi tempat saya ngopi, bisa disebut di dapur, bisa juga disebut di ruang tamu.

Barang barang tersebut tampak begitu mengkilap, presisi ukurannya, bahannya pilihan dan ter-packing dalam sebuah kemasan yang rapi hingga kami memboyongnya kesini. Belum ada bekas kuning pada bagian dalam Mug akibat efek kafein, belum ada lapisan Teflon yang terkelupas akibat menggosoknya dengan benda kasar, juga belum ada bau sayur pada sendok dan garpu. Begitu sempurna. Kesempurnaan itu pula yang menjadi motif kami memilihnya untuk dibarter dengan sejumlah nilai rupiah, dan kesempurnaan itu pula yang membuat kami merasa aman dan percaya untuk memakai produk tersebut.

Kompetisi pasar telah memanjakan kelewatan memanjakan konsumen, sampai dengan tahap “desire” pun kita masih dipandu oleh tim sugesti sugesti tak kasat mata tim pemasaran lewat tampilan produk. Produk produk berlomba menjadi sempurna, penampilan produknya harus kelihatan “Wah!!” dalam display rak toko, harus mengkilap, presisi; harus sempurna. Se sempurna tuntutan orang orang dibalik meja manajemen. Buah buahan dan sayuran juga dituntut berdandan supaya bisa masuk supermarket, harus mengkilap, terlihat segar selalu meski berhari hari dalam freezer, meski sudah berapa lapis disemprot bak dipernis lapisan lilin. Pola tersebut telah mengakar, membangun sebuah system koordinasi sederhana dalam benak para konsumen tentang gambaran kualitas, bahwa barang yang baik itu harus sempurna, harus Presisi, harus tampil mengkilap. Mengesampingkan kesan Raw, tidak Presisi, dan sederhana yang tanpa pernis sebagai kualitas “rejected”.

Tahu ada barang penyok, kusam berdebu, atau pemasangan bautnya kurang rapat saja kita sudah minta tukar dengan yang baru. Akibat keterlaluan dimanjakan, perilaku konsumen jadi semakin rewel, bisa dibilang “feedback” dalam ilmu ekonomi, tapi kalau saya sebut ini “boomerang” bagi para pelaku industry. Menjadikan satu bab tambahan dalam ilmu riset mereka, orientasi pasar mereka jadi terpusat pada bagaimana cara mengatasi “rengekan rengekan” konsumen manja yang rewel” menekan harga jual sebesar mungkin, agar barang barang “Sempurna” tersebut bisa terbeli oleh siapa saja. Masalah bahan, limbah, dan kelestarian alam? “aah…itu nomor kesekian, yang penting barang bisa launching tepat waktu, ter- display sempurna, Mengkilap dan pasti presisi.”

“Toh, urusan konsumen hanya sampai batasan pembelian, dan konsumsi saja. Urusan limbah, pemilihan bahan baku dan soal pelestarian alam itu rahasia pabrik kita”.  

Kenapa harus Sempurna?

Kenapa Harus Mengkilap?

Kenapa harus Presisi?

Jawabannya sudah menjadi pola, sudah menjadi kebiasaan, sudah menjadi pemahaman kualitas yang mengakar dalam kehidupan konsumsi selama berpuluh puluh tahun di negeri ini.

Kesempurnaan, ke-presisian dan “shinny look” bukanlah sifat bawaan lahir manusia, tapi kalau hasil kerja manusia bisa seperti itu, berarti system kerja yang ada telah mem-program manusia layaknya mesin, menjadikan para perkerja sebagai bagian dari mesin industry, siap kerja siang-malam dan siap ditempatkan dimana saja. Untung saja mereka (para pekerja) masih punya sanak keluarga, masih punya rumah, tidak tidur dipabriknya bareng mesin yang sungguhan.

Dan, untung saja di tengah industry yang menuntut penampilan sempurna, masih ada saja kalangan yang merindukan kualitas apa adanya dari barang barang buatan tangan (hand-made), memandang hasil hasil industry buatan tangan manusia dalam citarasa dan kelas tersendiri. Usaha usaha yang memproduksi barang barang handmade pun kembali bergairah, menemukan kembali sepetak lapak untuk barang dagangannya ditengah tengah konsumsi massal barang barang pabrikan. Disini, barang barang tak harus sempurna, tak perlu tampil mengkilap, tak perlu presisi, miring sedikit-bisa ditolerir kok, kan buatan tangan. Hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s