Ideology Konsumtif


Ideology Konsumtif

Konsumtif seakan sudah menjadi sub-culture baru peradaban manusia abad ke XXI. Semuanya bermula dari keinginan manusia untuk hidup *simple. (simple) yang saya maksudkan disini adalah malas memasak, malas cuci pakaian, malas berjalan, malas mengantre, malas berbuat sesuatu, malas mengotak atik, malas berpikir, malas berkreatifitas, malas berolah raga, dan lain sebagainya. hingga suatu saat nanti, mungkin suatu saat nanti manusia juga akan menjadi malas untuk bernafas. Membeli alat bantu nafas yang membuatnya tak perlu terengah engah lagi menghela nafas untuk memompa darah dan oksegen ke seleuruh tubuhnya. Semuanya mau dibuat otomatis.

Barang barang baru muncul, menggantikan barang lama dengan fungsi sama, tapi sekali lagi lebih *simple, cukup tekan satu tombol saja atau kalau perlu cukup dengan mengedipkan mata sudah bisa menggantikan fungsi dari mengucek pakaian kotor, menyetrika baju, membersihkan ruangan, membantu perjalanan, memanggang roti, memasak hingga menuliskan pesan.

Lantas, dikemanakan barang barang lama itu?

Satu per satu pabrikan yang tidak mampu mengikuti perkemabangan gaya hidup manusia mulai terpinggirkan, terlupakan, dan berhenti ber produksi. Barang barang ciptaannya yang dulu sangat membantu kehidupan manusia kini sudah tidak ada harganya, mengisi ruang ruag kosong di gudang, teronggok di tempat sampah atau dibiarkan di pegadaian tanpa ditebus lagi. Ratusan buruh diberhentikan dari kerja lantaran porsi kerja mereka sudah cukup tergantikan dengan hadirnya sebuah mesin produksi yang *simple, tak memerlukan tuntutan tunjangan keselamatan kerja, tunjangan hari tua, gaji bulananan, uang makan dan uang transport kerja. Karena sekali dipesan, dia akan selamanya berada di ruang pabrik. Cukup *simple menurut mereka, tak butuh juga pelatihan untuk meningkatkan loyalitas kerja bagi mesin.

Kehidupan manusia mulai dibuat nyaman dari situ, “less cost, less time, less human power, more safe and more powerfull” Begitulah semboyan angkuh mesin industry yang diteriakan tim salesnya. Sepuluh – dua puluh tahun berlalu, seratus, dua ratus tiga ratus hingga lima ratus tahun berselang sejak revolusi industry pertama kali dicetuskan kaum capital di benua baru sana, dan baru disadari ternyata barang baru hasil invovasi juga tidak sepenuhnya baik, fungsinya yang kokoh dibikin ringan dengan menggunakan bahan plastic guna menekan angka kumulatif biaya jual per satuannya. Barang barang yang bekerja secara otomatis membutuhkan baterai untuk bekerja, dan mesin mesin yang meringankan beban pekerjaan seratus buruh juga membutuhkan bahan bakar dengan nilai yang besar untuk hitungan  hitungan produksi per hari.

Bagaimana dengan per bulan? Pertahun? Dan beratus ratus tahun hingga kini?

Akibat terbiasa dengan gaya hidup *simple yang berujung pada pola konsumtif massa yang dibentuk oleh doktrin ideology industry agar mereka (pabrikan) bisa terus menjual barangnya, manusia sudah bukan lagi makhluk *simple, seperti sebelumnya; seperti era nenek moyangnya terdahulu. Kini manusia bentukan peradaban terlalu disibukkan dengan tuntutan ini-itu, kebutuhan ini-itu, dan pemilihan ini-itu. Bekerja bukan lagi berdasarkan kebutuhan berkarya dan berolah raga mendaya gunakan kemampuan fisik dan kecerdasa psikologisnya. Tetapi bekerjanya mereka lebih dikarenakan oleh tuntutan gaya hidup dan pemuasan birahi konsumsi dalam diri mereka. Hidup seperti dikerjar target, harus memiliki ini-itu, harus membeli ini-itu, harus membayar ini-itu, kesana – kemari, membanjiri ruas ruas jalan utama kota demi satu tujuan. Bekerja, supaya bisa tetap hidup, suapaya bisa tetap aman, dan nyaman.

Kota kota besar sekarang lebih mirip hutan belantara, bukan sebuah hunian yang nyaman, dimana setiap individu berubah menjadi buas, masing masing mereka adalah survival yang harus bertahan hidup dengan cara apa saja dan makan apa saja di belantara beton dan besi.

Obsesi, Aktualisasi, dan Gengsi Dogma mereka.

Uang menjadi Pahala; amalan hidup yang harus terus dipupuk dalam pundi pundi guna kemakmuran dan kesejahteraan sanak saudara. Siapa yang bisa meneruskan usaha, itu artinya berbakti pada orang tua, dan siapa yang bisa memberikan kaya, berarti Dialah Tuhan. Kepadanya-lah mereka berserah diri.

Untuk selanjutnya, manusia akan menjadi semakin rumit, tidak se *simple seperti yang diharapkan. Gaya berpenampilannya harus berganti tiap musim agar terlihat “up to date”, beragam penyakit baru terdefinisi dalam kitab kedokteran, menyerang psikis, akibat degradasi mental dan problematika kehidupan yang sudah kelewat keluar jalur alam. Belum lagi ditemukannya logam logam berat yang masuk dalam pencernaan melalui konsumsi air tanah yang tercemar limbah industry dan limbah baterai bekas, kemasan plastic yang tidak sehat, hingga radiasi gelombang tak kasat mata.

Semua efek samping dari gaya hidup konsumsi, yang baru terasa setelah lewat beberapa ratus tahun menjadi tren dalam gaya hidup manusia.

Teringat sebuah cerita di jaman mesir kuno, dimana masyarakat mesir sampai harus memohon pada seorang Pharao untuk meminta hujan demi mengairi sawah dan ladangnya. Kini berbalik, hujan seolah menjadi musuh bagi manusia, juga termasuk petani,karena banjirnya bisa meluluh lantakkan padi mereka yang hampir panen, begitu pula untuk sang empunya yang punya hajat, Pharaoh model millennium atau yang bisa disebut dengan pawang hujan kadang sengaja diundang dalam hujatan, bukan untuk mendatangkan hujan, tapi untuk menolak hujan. Karena hujan bukan lagi dianggap sebagai berkah, becek dan banjirnya bisa mengacaukan hajatan.

Alam seakan menjadi musuh manusia.

Kemurkaannya menyebabkan banjir, kekeringan , gempa bumi gunung meletus dan angin topan yang bisa membinasakan sebuah peradaban hanya dalam durasi sekian detik. Sebegitu sombongnya manusia, sampai sampai saking emosinya kalimat umpatan dan kutukan sering terlontar dari mulut mereka, ketika ditimpa kesialan lantaran cuaca yang mengacaukan jadwal.

Coba bayangkan manusia yang tingginya kurang dari dua meter ingin menantang alam?

Bukankah banjir, kekeringan dan rusaknya alam lantaran tingkah mereka sendiri, hasil dari peradaban manusia konsumtif yang serakah mengeksploitasi alam, menggantikan lereng lereng bukit yang lebat dengan pabrikan furniture, mem-plester lembah lembah dengan aspal padat, mengubah ladang ladang dan tambak warga menjadi kompleks perumahan, sehingga tak ada ruang untuk resapan air tanah.

Produk produk baru diluncurkan dalam jumlah ribuan hingga jutaan material tiap harinya, tanpa memperhitungkan rasio ketersediaan tempat sampah dan sarana pengolahan limbah produksi dan hasil konsumsinya.

Sumur sumur minyak dan barang tambang di bor dan disedot kandungannya berjuta juta barrel tiap hari untuk menunjang hidup mesin mesin produksi.

Ber hektar hektar hutan lebat digulung demi menjamin ketersediaan bahan baku kayu untuk trend furniture terkini.

Mobil mobil dan motor terus diproduksi dan dipasarkan dalam target yang massive tiap tahunnya tanpa memikirkan ketersediaan ruas jalan yang ada dan emisi gas karbon yang dikeluarkan.

Pohon pohon sudah bukan menjadi pilihan lagi untuk berteduh, lantaran lebih *simple dan instant dengan mendirikan kanopi dari fiber di teras rumah.

Dan yang terbaru, para buruh buruh pabrik yang seakan sudah menjadi bagian dari mesin produksi pabrik, kini ramai berdemo, mogok kerja, turun ke jalan menyuarakan tuntutan ini-itu lantaran upah kerja mereka sudah tidak cukup lagi menunjang apa itu yang dinamakan “checkpoint aman” berkonsumtif. Bagai sebuah boomerang bagi ideology konsumtif, yang dilempar, lalu kembali menyerang balik.

Semuanya ampas dari Produksi.

Efek samping dari gaya hidup konsumsi yang kini menjadi parasit bagi kehidupan, tumpukan sampahnya makin menjadi codet dalam eloknya peradaban yang dibangun, dan sisa sisa ekploitasinya bagaikan nanar yang mengangah dan lubang lubang lubang angker di usia bumi yang makin hari makin tua.

Semakin cerdasnya para ilmuwan, semakin menggariskan sebuah penemuan penemuan yang sudah melenceng bahkan kalau bisa menentang hukum alam, biar disebut “Amazing”. Dan “Wow” ketika ditayangkan di Discovery Channel. Merusak ekosistem, dan memutuskan satu per satu tali keseimbangan alam dalam falsafah hidup manusia modern sebagai dorongan dari kepentingan Industri.

Manusia sudah melupakan alamnya. Jauh larut dalam modernitas era industri.

Manusia bukan lagi penjelajah seperti para leluhurnya yang mencari kehidupan baru, di benua baru. Manusia kini adalah bagian dari mesin industry,  harus terus bekerja, agar bisa memperoleh makan. Melupakan semua etos tanah kita tanah surga, dimana tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Melupakan sebuah naluri dasar mereka diciptakan, melupakan keahlian mereka berburum selain berburu dollar, melupakan ketrampilan mereka menanam, kecuali menanam pamrih, dan melupakan bahwa seharusnya “Pada alamlah mereka bergantung, bukan pada Boss bos yang ada didalam pabrik.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s