Rutinitas dirumah Mertua


Sugeng Enjing!!
Begitulah sapaan mentari yang menyelonong masuk  melalui lipatan gordyn jendela kamar, membangunkan kelopak kelopak mata yang masih digelayuti kantuk, sebuah pagi yang murni telah mengganti hari kemarin, membawakan dongak dongak sinar harapan untuk waktu berikutnya. Seisi rumah juga tengah disibukkan oleh aktivitas pagi, para wanita sibuk didapur, sibuk menyiapkan sarapan dan kopi untuk suaminya, para Pria sibuk dengan ritual paginya masing masing; Adik Iparku sibuk dengan beberapa kandang burungnya dihalaman belakang, Bapak Mertuaku sibuk dengan bagaimana cara sepatunya bisa mengkilap, sementara aku…..  aku masih bingung entah mau memilih aktivitas apa untuk membuat pagiku terlihat ada aktivitas. Itu dia Istriku, dia datang dengan secangkir kopi Hitam pahit favoritku. Yaah…. beginilah aktivitas pagiku dirumah mertua. Masih terlihat kikuk…yaah, maklum penghuni baru. Aku masih belum terbiasa dengan rutinitas dan komunikasi disini. Aktivitasku setiap harinya sedari bangun tidur cuma ngopi, sarapan, ngopi, main dihalaman belakang, merokok, ngobrol bareng tetangga sebelah rumah, dan budhe budhe yang rewang didapur, antar jemput adik istriku sekolah dan ngaji, ngopi lagi, baca buku, browsing internet, malamnya tidur dan beraktivitas suami – istri. yah, cuma itu, dan dalam dua hari saja aku sudah bosan. Tapi ketika melihat sepeda gunung yang terparkir dibelakang, aku jadi merasa ada kesibukan, yaah setidaknya ada yang tergambar dilakukan untuk mengisi waktu barang barang dua jam, ketimbang setiap hari menunggui waktu terlewat hingga malam.

Setelah mandi, aku meminjam sepeda gunung bapak mertuaku yang baru dibelinya untuk berkeliling keliling sambil melatih fisik yang sudah lama tidak dibangunkan oleh aktivitas berat. Sepeda ini sudah beberapa hari terparkir dihalaman belakang sejak dikirim dari toko, belum pernah dipakai oleh sang empunya. Plastik dan beberapa pelindung kardus saja masih terpasang, Wah…berarti aku nih yang men-tester pertama kali!. Aku genjot pedal sepeda keluar rumah, menyetel, settingan gear sepeda sesuai dengan medan dan aku susuri jalanan aspal halus dibelakang sawah desa Karangan. Matahari pagi sudah mulai tinggi, mengiringi langkah dan aktivitas warga menyambut rutinitasnya. Kukayuh pedal sepeda makin jauh, dan jauh, mengikuti jalanan aspal licin yang membelah ditengah persawahan,bukit bukit karang tinggi menjulang, seolah menjadi pagar alam utuk kehidupan disini.

Aku kini tengah berada di Kabupaten Trenggalek, menghabiskan waktu se-pasaran pasca pernikahanku. Untuk lima hari, aku akan habiskan waktu dirumah keluarga istriku. Trenggalek adalah sebuah kabupaten kecil di selatan Jawa timur, berbatasan sebelah utaranya dengan Kabupaten Ponorogo, berbatasan barat dengan Kabupaten Pacitan, dan disebelah timurnya ada kabupaten Tulungagung. Sebenarnya areal pematokan wilayah untuk kabupaten Trenggalek cukup luas, terhitung 126.140 hektar, cuma dua per tiga dari luas wilayahnya tersebut adarah daerah pegunungan yang jarang dihuni masyrakat. Sama halnya dengan berbagai kota dipesisir selatan pulau jawa, kontur alamnya berupa barisan pegunungan kapur, atau yang biasa disebut dengan “Kawasa Karst”, dan untuk kabupaten trenggalek sendiri, masuk kedalam kawasan Karst Tua, beda dengan tuban dan Pacitan yang didaerahnya banyak ditemukan eksokarst dan mini tower, di Trenggalek, ekso-karstnya sudah larut dalam tanah, entah membentuk labirin labirin macam apa dibawah pemukiman penduduknya. Jarang ada eksplorasi eksplorasi dari para penjelajah karst di trenggalek, mungkin karena kawasan ini kurang dikenal kalu dibandingkan dengan pacitan, gunung kidul, dan tuban. Disini yang baru diketemukan Goa Lowo, di daerah Watu Limo, dan kini juga sudah menjadi kawasan wisata. Sampai sekarang, aku sendiri masih belum mengunjungi Goa Lowo, padahal sudah beberapa kali mengunjungi kawasan te pantai Prigi dan Karanggongso yang termasuk  jalan satu jalurnya.

Aku tiba disebuah keramaian, aku perlamabat laju sepeda, kini aku membobol jalan perkampungan, tiba disebuah lapangan besar dengan sumur tua di pinggir lapangan, tampak anak anak madrasah tengah bermain bola dengan lepas, aku berhenti sejenak, memperhatikan permainan mereka, kini lebih dekat lagi. Tawa mereka yang begitu polos mengundang sebuah senyuman, mereka bercanda, berolok-olok satu sama lain degan bahasa jawa yang khas. Mereka lepas dalam keasyikan mereka kala itu, tak memperdulikan lagi peluh yang menetes sebesar biji jagung hingga membasahi seragam olah raga mereka, dan kaki kaki telanjang yang tanpa alas. Bola kaki yang cuma satu diperebutkan orang banyak, ada kalau sekitar daua puluh lima orang dilapangan, sudah diluar batas kesebelasan pada umumnya, di tendang kesana kemari, diikuti keriuhan gelak tawa dan pekik bocah bocah. Kali ini bola ditendang melambung jauh, hingga keluar lapangan, menggelinding kearahku. Mereka pun meneriakiku, mengacungkan tangannya satu satu, menunggu operan bolaku, seperti peserta jalan sehat di kompleks perumahand surabaya yang menunggu nomor undian. Aku tendang ngawur begitu saja, yang penting masuk kembali kelapangan. Hahahaa…..kutinggalkan mereka dalam keasyikannya. Untuk siswi madrasah yang putri memilih menepi, bermain bola plastik lempar dipinggir lapangan, lebih tenang ketimbang sekumpulan bocah lelaki tadi. Tak ada yang sibuk dengan “gadget”, anak anak disini masih asyik bergulat dengan mainan tradtional, mungkin hanya beberapa yang entah beruntung saja yang sudah mengenal teknologi handphone dan Tab untuk menggantikan keasyikan bermain diluar rumah dengan rekayasa fantasi terkaan mesin. Udara disini masih begitu murni, minim sekali polusi udara yang berlebihan, sayang kalau hanya dihabiskan didalam rumah dengan barang barang modern hasil teknologi. Bocah bocah disinilah yang masih mewarisi tradisi, bocah bocah disinilah yang membawaku hanyut dalam nostalgia jaman SD ku, bermain hingga peluh membasahi baju, berteriak teriak hingga serak, dan berlari hingga lelah. Sesuatu yang mungkin sudah mualai dirubah oleh kurikulum dan banyak alat bantu peraga dan senam senam “Tjap Kesegaran Jasmani” untuk SD dikota.

Aku kini menghampiri bapak bapak yang tengah menadikan sapinya didekat sumur tua, senyum ramah membalas tatap muka kami. Dia gosok bagian belakang punggung sapi dengan sikat, dia nampak sibuk dengan kesibukannya, in baru sapi pertama, masih ada tiga sapi dibelakangnya yang tengah menunggu untuk dimandikan juga.

Masyarakat disini hidup dalam tatanan kesederhanaan, menjunjung tinggi ketergantungan akan ekosistem dan keseimbangan alam yang ada guna menjalankan tradisi leluhur yang sudah lama diwariskan turun temurun. Sebuah tradisi agung budaya jawa. Kini aku berada diantara sekumpulan petani jagung yang lagi ngasoh, karena sedari tadi aku memperhatikan mereka, salah seorang bapak bapak berkumis dan bercaping tani memanggilku, mengundangku untuk mampir  di saung dan menawariku kopi. Akupun turut “ngasoh”, bolehlah sebatang – dua batang rokok disini. Bingung juga sebenarnya memulai pembicaraan, apakah aku harus mengajukan sejumlah pertanyaan retorika macam “Jenis varietas apa ini jagungnya?” “berapa lama jagungnya bisa dipanen pak?” atau “satu kilogramnya jagung sekarang berapa pak?” aku bukan orang seperti itu, bukan orang yang paham banyak juga soal dunia pertanian. Maka aku pilih duduk diam sambil nyengir sana sini, ikut tertawa ketika yang lainnya tertawa terbahak dan sok-sok memperhatikan ketika ada yang berbicara serius. bahasa yang mereka obrolkan saja aku tidak mengerti benar, padahal sama sama bahasa jawa, tapi berbeda dengan yang kita pakai dialeg sehari hari disurabaya, disini lebih halus, lebih kromo, mirip seperti bahasa masyarakat di gunung kidul.

Setelah dua batang habis, aku berpamitan, “arep menyang ngendi toh mas?” tanya salah satu. Aku jawab, “Badhe menjelajah pak, muter muter wae… golek kesibukan karo olah raga.” sahutku.”Walah mas… mas….nek arep golek kesibukan, iki toooh yoo ono sawah, iso aku direwangi….” hahahaha…..io.mas, golak kesibukan kok dadhak adoh adoh men….” sambut tawa yang lainnya pun turut menyahuti. “Iggih pak… monggoh…” jawabku lagi, sambil mengayuh sepeda meninggalkan mereka. “Benar Juga yaah… ” pikirku, aku jadi terbayang kata kata bapak tadi saat berpamitan, “golak kesibukan kok dadhak adoh adoh” seolah kata kata spontan, singkat jelas dan padat dalam balutan canda itu sudah cukup memberi jawaban padaku yang beberapa hari belakanga merasa bosan dirumah mertua karena merasa bingung cari kesibukan, bingung mau berbuat apa, takut kelihatan nganggur dan ongkang ongkang. “Mau cari kesbukan saja, kok harus jauh jauh” begitulah terhjemahan bahasa Indonesia untuk kata bapak itu tadi. Segera aku kayu pedhal lebih kencang dan kencang lagi. Benar sekali, kesibukan itu tidak harus dicari, kesibukan itu bukan ada ditempat yang jauh, dan kesibukan itu bukan untuk dibingungkan. Tapi kesibukan itu adalah seuatu yang natural,tak perlu dibuat buat hanya untuk mendapatkan simpati orang, dan buat apa jauh jauh, rumah mertua begitu luas, orangnya juga banyak, jelas sekali, pasti ada yang bisa saya lakukan, barang sejinjing pekerjaan, asalkan bisa kulakukan sebisaku.

Tak terasa, ada kalu lima kilometer lebih aku bersepeda. Kini kukayuh sepedaku kencang kencang, lebih mirip seperti latihan fisik sebenarnya. Aku ingin segera sampai rumah, karena aku sudah dapatkan jawaban atas apa yang sudah membuatku tampak seperti orang tidak jelas selama ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s