Satu Bab Baru dalam hidupku


Malam itu, 02 November 2013 atau 27 Kliwon Bulan Besar untuk penanggalan Jawa adalah satu momment istimewa dalam hidupku, karena pada malam ini saya akan memulai satu “Bab baru” dalam hidup, dimana aku akan mempersunting seorang gadis yang sudah aku kenal dalam 42 bulan terakhir menjadi Isteriku. Dia adalah Luluk Husna Rahmaningrum binti Ali Mustofa, seorang temanku kuliah dulu di Stikom, gadis asli trenggalek, oleh sebab itu, prosesi kami akan dilakukan di kota ini, sebuah kota karang di selatan Jawa Timur. Tepat pukul 19.00 malam itu, aku tengah menunggu di serambi tengah rumah, menunggu calon istriku selesai di rias, perasaan gugup, gerah bercampur bimbang bercampur kala itu, teman teman yang menyertai sampai tertawa melihat lakuku yang kikuk kala itu.

Kami menunggu aba aba, untuk selanjutnya bergesser ke Masjid Jami’ Karangan, yang menjadi lokasi Ijab – Qobul kami, Masjid jami Karangan adalah lokasi pilihan Luluk, sebab di sekitaran masjid inilah tanah kelahirannya berada 25 tahun silam, dan masjid Jami Kaangan ini berdiri diatas tanah wakaf dari keluarga mendiang Ibu kandungnya.

Kami duduk berdua, bersebelahan, mengenakan busana yang di dominasi warna hijau tosca, aku disebelah kanan, luluk disebelah kiri, didepanku adalah Wali Nikah Luluk, yang tidak lain adalah Bapak kandungnya, 2 orang disebelahnya yaitu penghulu dan perwakilan dari KUA kecamatan Karangan, trenggalek. Sementara orang tuaku dan para saksi melingkar diantara kami. Istriku terenyuh, menangis tipis-tipis begitu prosesi dan lafal Ijab – qabbul antara saya dan bapaknya tengah berlangsung. Saya sempat mengulangi prosesi  sekali lagi karena saya dinilai terlalu lambat menjawab lafal Ijab yang diutarakan oleh Wali Nikah pihak Istri, Namun hanya itu selebihnya kami lalui dengan lancar tanpa halangan sama sekali.

Saah!! Kata itu langsung membahana se-antero atmosfer masjid begitu kami dinyatan sah sebagai suami – istri baik secara agama dan catatan sipil, buku Nikah yang sudah ditanda tangani pun kini sudah kami kantongi, sementara tangis haru dari istriku semakin menjadi, terbawa larut oleh khidmatnya suasana. Kantong air mata juga turut pecah dari kelopak mataku, aku tak bisa menyembunyikannya lagi dibalik pelupuk ketika melakukan prosesi “sungkem” pada kedua orang tua, perasaan ini pecah, tak kuasa menahan haru ketika melihat Ibuku pecah tangisnya. “sepurane yoo bang… mama ga iso nge ke’i akeh, mama ga iso ngerewangi akeh, wes tak dungakno wae lancar, keluargamu langgeng” begitu Do’anya ketika melepasku. “kudune iku aku sing ngucapne ma…” seorang anak laki laki yang belum bisa memberikan balasan apa-apa kepada kedua orang tua.

Selanjutnya, shalawat, doa dan ucapan selamat dari para yang hadir mengiringi langkah kami pulang, bagaikan tangga dan lampu peunjuk jalan yang tak kasat mata bagi kami yang baru.

Dialah yang aku piih mendampingiku,menjalani sisa usia, wanita bijaksana tempatku mengaduh dan bersandar dari segalan benturan omabak dan buih kehidupan di bahtera rumah tangga, dialah isteriku kini. Prosesi selanjutnya tidak perlu aku kisahkan, kalian akan menjalaninya sendiri kelak,ketika jodoh dan waktu kalian tiba, kalian akan tahu sendiri, dan mengenyam yang namnya surga dunia. Surga Dunia hanya ada dalam bahtera rumah tangga yang sah, yang diberkati oleh wahyu semesta dan para malaikat yang dikirim turun untuk mendoakan, Sebuah bahtera yang dimulai dari sebuah ritual agung, dimana dalam pemilihan tanggalnya saja ada perhutungan rasinya, dimana dalam prosesi riasnya, sang perias dan kedua mempelai harus menjalani puasa terlebih dahulu, dan dimana dalam acaranya sanak saudara, jauh-dekat turut menyertai-mengantarkan tambatan tambatan doa’a pada kedua mempelai yang diberkati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s