Enregistrer mon Voyage


Perjalanan Besar itu adalah perjalanan usia kita, pandangan hidup kita, proses yang kita jalani, dan jalan yang kita pilih, hingga kita menemukan apa yang kita cari, apa yang disebut hinayana sebagai “Pencerahan”.

 

Aku selalu terkesima, tak luput aku garis bawahi setiap kutipan kutipan menarik tentang perjalanan dari setiap buku yang aku baca, mulai dari Jack London, Christopher Johson McCandles, Soe Hok Gie, Agustinus WIbowo, Pramoedya ananta Toer, Norman Edwin dan lain lain, membaca tulisan mereka seperti sedang menonton “book of life” dan mereka duduk dalam ruang interview VIP didepanku, bercerita, berseru, memekik sambil memainkan berbagai bahasa tubuh yang mebuat aku makin larut dalam candunya. Ikut menelusuri labirin labirin petualangan mereka; menyaksikan eksotisme kultural di celah himalaya, menyusuri ber mil-mil jalan raya Daendels di utara pulau jawa, duduk dalam bangku sempit selama 90 jam dalam perjalanan darat dari China ke Dataran Tinggi Tibet, duduk dalam ritual menghisap hish hash di atap losmen murah, dan merasakan tegangnya urusan birokrasi dokumen dokumen penjelajahan didaerah baru, hidup selama kurang-lebih 90 hari dalam magic buss, turun dalam arus liar Colorado hingga ke meksiko dengan kayak, diterbangkan badai pasir, hingga merasakan jari jari membeku di pendakian Aconcagua. All Hail!! untuk mereka semua, mereka telah membawa fantasi itu, menuliskannya dengan begitu nyata dan membagikan ceritanya pada kita semua.

Suatu saat aku ingin juga seperti itu, menuturkan ceritaku, menuliskan kutipan kutipan falsafahku dan mengekspresikan kekagumanku akan eksotisme eksotisme yang kutemui selama perjalanan. Ini bukan obsesi, sekedar catatan perjalanan anak manusia yang lebih menghargai pelajaran kehidupan diluar bangku sekolah, biarkan waktu yang mematangkan semuanya tanpa bantuan karbit, karena yang ingin ditelurkan adalah buah pemikiran yang murni, sudah cukup manis dengan bumbu asam-garam keringat dari hari kemarin.

 

Ada yang mendapatkan pelajaran dari setumpuk buku tebal
Ada yang mendapatkan pencerahan dari selembar daun lontar
Ada yang mendapatkan kesadaran daari sebelas cambukan
Aku ingin mendapatkan kehangatanku disini, dihadapan api malam ini.

Ada yang menemukan dunia dari balik meja
Ada yang menemukan kepuasan dari kelelahan
Ada yang menemukan surga dalam dekap kasih sayang
Aku menemukan perjalananku disini, disebuah padang luas dibawah puncak.

Ada yang cukup puas dengan setetes air mata
Ada yang masih haus dengan secentak sari lontar
Ada yang harus menimba air dari sendang
Tapi Aku menemukan pelipur dahagaku disini, terselip diantara kebebasan bias bias cahaya pagi.

 

Hingga kini aku masih berjalan, mengumpulkan kepingan mozaik mozaik yang telah digariskan, dan menuliskan apa yang aku dapatkan. Kompas tidak lagi menjadi panduan, karena angin tengah berhembus bercabang, bahkan batang jamrud hijaunya dibuat bingung hendak memihak ke arah mana-membingungkan, karena ini perjalanan hati, Seperti daun yang baru saja terhunus jatuh dari tangkainya, Ia relakan dirinya bergerak barang sesaat, bebas…….lepas mengikuti kemanapun arah memanggilnya, entah harus berputar, meliuk liuk dalam sepoi, merantau-menyeberang atau langsung terjun bebas , jatuh kebawah.

Dalam Kehidupan, takdir itu pasti; manusia hidup untuk kemudian mati. seperti daun jatuh yang pada akhirnya akan tunduk juga pada hukum alam untuk jatuh kebawah. Pramoedya Ananta Toer menuliskan, “Hidup itu simple, Jika kamu lapar maka makanlah, jika kamu kekenyangan  berarti waktunya buang air besar. Diantara, makan dan buang air besar itulah kehidupan manusia yang sebenarnya sedang terjadi”. Garis batas dari kehidupan sudah disuratkan, ada yang digariskan jauh hingga harus dijalanani berpuluh-puluh tahun, ada yang begitu singkat mencicipi nafas barang beberapa detik, lalu bertemu dengan batas. Dan diantara Nafas dan batas itulah yang disebut perjalanan besar anak manusia, atau kalau dalam bahasa perancis bisa dituliskan “Enregistrer mon Voyage”. Saya sangat kagum beberapa penulis memilih menasbihkan perjalanan besarnya sebagai suatu aktivitas musafir panjang dengan tujuan yang jauh sekali, harus berjuang keras melilit ikat pinggang agar bisa melangkah satu mil lebih jauh, berinvestasi bertahun tahun  agar bisa membeli jadwal penerbangan promo lintas benua atau secara ilegal menembus dunia batas, supaya bisa menyaksikan eksotisme bahaya berplesir di daerah konflik, berhaji dengan jalur darat, bermigrasi ceria ala hippie hingga memilih pengembaraan spiritual ala budhism dengan melepas segala keterikatan dan siksaan duniawi demi mendapatkan fantasi pencarian yang dramatis dan menyentuh.  Jika saja mereka bisa memilih bukit lebih tinggi untuk bisa membuka pandangan lebih luas, mungkin mereka akan tertawa melihat cermin air danau didasar lembah. sebab perjalanan besar itu bukan soal kemana tujuannya, berapa biayanya, siapa partnernya dan apa misinya. Perjalanan Besar itu adalah perjalanan usia kita, pandangan hidup kita, proses yang kita jalani, jalan yang kita pilih, lakon yang kita perankan hingga kita menemukan apa yang kita cari, apa yang disebut hinayana sebagai “Pencerahan”.  “Happiness in Real that’s only when we shared” begitulah kutipan dari christopher Johnson McCandles, bagi semua yang sudah menemukan pencerahannya, keindahan berikutnya yang akan kita temukan adalah keindahan berbagi. Menuturkan kembali sebuah pelajaran yang kita dapat untuk membuka celah dan tangga tangga pengetahuan bagi mereka yang tengah merintis di igir-igir.

“Dari kesadaran ini, saya jadi tahu beda anatara perjalanan dan petualangan, bedanya niat dengan obsesi dan begitu berlawanannya hati dengan ambisi”.

 

Kalimat indah diuntai dalam khultus Do’a
Menghadiahkan pagi bagi mereka yang noktural
Jejak langkah tanpa alas yang membekas
Terpatiklah sekam dalam setampuk bara
Seketika saja huma tergoncang
Arah rupa tak kenal arah
menasbih titik di seberang ngarai
Jemari berjabat dengan sesepuh
Salam terlantun khas tanah persia
Melangkahlah jauh ke jingga senja
Mencari arah tak tahu arah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s