Air Terjun Sakral


Tidak jelas posisi koordinatnya, yang pasti ada di ketinggian 870 mdpl (meter diatas permukaan laut), cuaca pagi itu sebenarnya cukup cerah, hanya lingkup lembah ini saja yang kelabu, berkabut tipis tipis. Riak air yang terbawa angin yang bertiup bercabang seolah olah menciptakan sebuah diorama gerimis tipis tipis, membuat basah daun daun pakis dan tanaman purba lain di sekitar aliran sungai. cuma ada satu arah disini, makin menyempit dan menyempit, berkelok menyusuri dimana asal aliran, kadang menanjak, kadang menurun. Dinding dinding batu andesit menjulang tinggi, membatasi sinyal selular yang masuk, seolah menjadi sebuah pagar besi dari areal sakral ini. Lumut, yang notabene-nya organisme paling simpel untuk kelas vegetasi terlihat menempel dimana mana, tak peduli itu batuan sungai, tebing, batang batang pohon tua, bahkan tubuh kita pun akan ditempeli lumut seandainya berdiam diri disini barang sekitar satu bulanan. Makin kedalam, semakin basah, dan deru gemuruh itu makin deras, entah berapa debit alirannya per menit, namun cukup membuat areal jatuhnya berbuih dan batuan dibawahnya melapuk dalam hitungan waktu, Apabila musim hujan, aliran airnya bisa mengamuk sewaktu waktu, mengeruh-menerjang apa saja, batang pohon sebesar dua pelukan tubuhku pun terlihat tergeletak disisi seberang sungai, bekas ditarik secara paksa dari akar dan batangnya oleh amuk sungai.

Tepat dibawah air terjun aliran sungai mengumpul, membentuk sebuah sendang kecil yang kemudian menumpahkan airnya, mengisi ruang dan ceruk yang lebih rendah, membentuk aliran sungai deras yang tadi saya susuri, berbuih dan riuh oleh suara adu otot arus air dan batuan sungai, alirannya menyelinap diantara sela-sela bebatuan menciptakan jeram dan pusaran kecil. Saya melihat beberapa orang sedang berkumpul di tengah sendang, tepat di titik air terjun jatuh, berdiri rapat, membentuk lingkaran manusia di tengah gemuruh air terjun. Angin dari arus air yang terjunbebas dari tebing belakang mengibas-ibaskan rambut mereka yang panjang ke segala arah- tak menentu, dari jarak seratus meter saya dengar mereka bergumam, seolah membacakan mantra dan puji-pujian ala gypsi yang mengagungkan sabda naturalisme. Mereka berseragam, bergandengan, tak pedulikan dingin dan basah yang mungkin tengah menggerayangi hingga titik paling kering dalam tubuh mereka. Aku makin penasaran, semakin kupecepat langkah untuk mencuri jarak, agar bisa menyusup lebih dekat, bahkan lebih dekat lagi.

 


Dari yakin ku teguh

Hati ikhlasku penuh
Akan karunia-Mu, Tanah air pusaka
Indonesia tercinta
Syukur aku sembahkan,
Kehadiran-Mu Tuhan

 

 

Seperti demikian kurang lebihnya mantra yang mereka bacakan dalam lingkaran, mereka terlihat begitu khusuk, hingga kehadiranku-pun tak mereka sadari, mereka ulang mantra itu sekali lagi, namun kali ini hanya dalam nada, bukan dengan syairnya. Kurang lebih ada dua puluh orang dalam lingkaran itu, semuanya tengah memejamkan mata, berusaha menempatkan dirinya sebisa mungkin dalam titik Nol demi mendapatkan sebuah kekosongan, tiket masuk ke dimensi khusyuk dari ritual ini, saya tamati wajah masing masing, begitu damai, begitu tenang dan begitu syahdu menghayati dehem’an kelompoknya. Jelas mereka tidak sedang berpaduan suara, mereka sedang meresapi Do’a dalam ritual dan nada nada pujian, hingga salah satu dari mereka mengambil alih keramaian.

 

 

Kita kembali disini,
Kembali membentuk lingkaran lagi,
Saling berpegangan dalam rasa kekeluargaan
Di tengah keagungan alam yang sakral.

Kita kembali disini,
setelah semua yang terjadi,
mengulang apa yang dilakukan generasi terdahulu
ketika telah datang generasi penerus.

Kita peluk mereka, 
dekap mereka, bopong mereka
dalam sebuah arus deras
karena kini, kita telah jadi keluarga

Bila arus alam yang begitu kuat tak sanggup memisahkan kebersamaan kita,
Jangan sampai arus kehidupan yang memisahkan kita.
baik buruknya kalian, tetaplah kita keluarga
Susah senangnya kalian, tetaplah kita bersama

Dihadapan semesta kita bertasbih,
Atas berkat Tuhan kita disini,
Merayakan sebuah regenerasi
Menyambut seuah solusi

Jika Nama kalian adalah Do’a
Ijinkan kami melafalkannya
Jika keberadaan kalian adalah amanah
Biarkan kami menjaganya

Karena kita kini, Bersaudara!

 

 

Kini sang pembicara yang mungkin bisa dibilang sebagai tetuah, yang dihormati, atau bisa jadi sesepuh yang dianggap imam dalam kelompok ini diam, kembali menyusup dalam deheman nada yang tengah dilantunkan, apa yang dikatakannya barusan bagaikan sebuah munajat sakral, diamini oleh yang lainnya dalam deheman nada, untung masih diucapkan dalam bahasa yang kumengerti, sehingga aku bisa menuliskannya ulang disini. Beberapa kantong mata aku lihat tidak kuasa lagi menahan luapan produksi air mata hingga tumpah dan membasahi sampai ke lahan wajah, deheman nada yang sama kadang terdengar sumbang oleh isak – sedu-sedan dari mereka yang tersedak nafasnya, tak kuasa membuyarkan kekhusukan oleh isak tangis. Tangis yang pecah bukanlah tangis kesedihan atau kepedihan, saya bisa merasakannya, ini isak haru, yang membiru bersama suasana dan makin larut dalam media yang dihantarkan oleh kekhusyukan ritual. Dan saya masih disana, berada disekitaran lingkaran, hanya berdiri, terdiam-merasakan aura magis dari ritual ini begitu kuat, menarik minat dan psikologis saya turut berbasah-basah dalam haru birunya ritual. Begitu khusyuk. Kini mereka melangkah kecil, berputar searah jarum jam dalam kecepatan yang begitu lambat, dan masih berdehem dalam mantra nada. Aku mundur beberapa langkah untuk memastikan posisiku aman dan tidak mengganggu lintasan ritual.

Dalam putaran, mantra itu kembali mereka bacakan;

Dari yakin ku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karunia-Mu, Tanah air pusaka
Indonesia tercinta
Syukur aku sembahkan,
Kehadiran-Mu Tuhan

 

 

semuanya mengikuti tanpa terkecuali, arus lingkaran makin cepat, dan jarak makin rapat, isak tangis pun makin pecah, sesenggukan demi sesenggukan menjadi irama pengisi diantara kekosongan mantra, begitu alamiah, begitu suci, sebuah kekhusyukan yang merupakan panggilan alami jiwa jiwa yang tersentuh, dan terlibat secara langsung dalam proses.

Setelah tiga kali mantra itu diulang, mendekati akhir mantra diucapkan, arus lingkaran makin melambat, namun isak tangis tidak juga melambat, malah makin pecah, bergemuruh dalam pusara gema arus air terjun, hingga ketika mantra berhenti, semuanya membuka mata menoleh satu sama lain dalam lingkaran, memperlihatkan ekspresi ekspresi paling jujurnya, lalu bergumul, berpelukan satu satu sama lain. Cukup lama mereka berpelukan, pelukan itu seolah mengalirkan sebuah kehangatan yang mesra antar keluarga dalam lingkaran. Tak henti mereka gumkan puji syukur atas Khadirat yang Maha Kuasa, para sesepuh dan semangat dari para leluhur yang turut hadir dalam ritual itu, sehingga semuanya berjalan lancar dalam bahasa kekhusyukan di bawah air terjun sakral ini.

Selalu, seperti ini tiap musimnya.
Ritual ini mereka lakukan sebagai bentuk penghormatan atas anggota baru keluarga.

 

 

 

 

***
Diriwayatkan dari Ritual Pengukuhan Anggota barudari organisasi Pecinta Alamku tercinta, Prapala
Tempat aku belajar dan menghabiskan waktu tiap harinya, tempat aku menimbah ilmu-menyibak tirani-tirani Ilmu kehidupan dan persaudaraan.
Aku, dia dan mereka semua yang ada disini pernah merasakannya, pernah pecah isak tangisnya dalam keharuan dan magisnya ritual tahunan yang sudah dilakukan dari dekade ke dekade.
Disini, Di Air Terjun Sakral kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s