Lintas Pringgondani, Pundhak, Buthak


Pagi yang temaram telah datang, membangunkan mata-mata yang masih ingin menikmati lelap. Diluar sana, angin dingin bergerak rendah beradu paham dengan ilalang meniupkan sebuah bahasa yang tak pernah bisa diartikan oleh manusia. Kami tengah berdiri disini, di sebuah puncak kecil yang sering disebut sebagai “Pringgondani”

Ufuk tengah sibuk menyingsing, menjatuhkan sinar jingganya di atas puncak Selongkal, walau seberkas namun sangat membekas diatas pundaknya.

Ber buku-buku lipatan alam didepan kita itu memang rumit untuk dipetakan, kalau diamati dari sini, butuh melintasi tiga lipatan alam, yang berarti ada ngarai dan punggungan. Dimana batu jamrud kompas menunjuk pada angka empat puluh tujuh derajat sebagai tujuan berikutnya, Gunung Pundak.

Kami habiskan hangatnya secangkir kopi untuk berlima, sambil menunggu masaknya sayur kacang panjang dan tempe bokrek yang dimasak ala Belle. Tepat pukul delapan, kami berencana meninggalkan camp kami di puncak Pringgondani.

Perjalanan menuju puncak Gn.Pundak memang begitu menantang, teman kami hanya kompas dan parang, selebihnya adalah otot otot kaki yang sudah dipersiapkan dan bahu yang harus disetel lebih kokoh menerabas kebon jelatang yang membetang luas dalam perjalanan lintas punggungan. Disini saya dan Intip, harus memotong kompas, menarik arah lurus empat puluh tujuh derajat, sementara Belle, Cered dan Lepek mengambil arah memutar, menuruni lipatan alam untuk menghindari jurang, entah tujuan mana yang menjadi poin bertemu kita selanjutnya, tapi setidaknya masing masing isi kepala kita menghendaki di Watu Rejeng.

Jalan yang saya dan Intip pilih memang lebih berat, namun lebih cepat ketimbang memutar. Dan kali ini ada jurang menganga didepan kami, jauh diseberangnya tertancaplah, sebuah tebing batu kokoh, yah…tebing itulah yang disebut “Watu Rejeng”. Tak ada pilihan lain, jurang tetap harus dituruni, sebuah Tramontina kecil saya ayunkan membabi buta, menebas apa saja jenis keluarga jelatang yang ada didepan mata, sisa duri durinya saja masih terasa perih dan gatal ketika menggaruk betis yang basah oleh embun pagi itu, menempel di flanel dan cover keril. Makin kebawah ngarai, semaknya makin kelam, tramontina saja tidak cukup ditebaskan sekali untuk memangkas rumpun akar akaran yang lumayan besar, tangan dan kaki juga tidak mau kalah untuk ikut andil membuka jalan, kalau perlu keril pun juga perlu dipakai sebagai garda penyapu medan, sambil berjalan mundur. Salah langkah sedikit, yah tinggal terperosok dalam jebakan jelatang.

Sampai juga akhirnya kami di dasar ngarai, berbatu batu besar dan penuh tanaman akar menjalar. “Disini biasanya spot yang tepat untuk nyantai-nyantai dhisik sen” kata intip. “Ioo…spote wenak, Iyup pisan. Cuma bahaya sawangane nek ujan ujanan, iki jalure banjir bandang.” Kataku. Dan Intip membalas dengan senyuman.

Menilik kebelakang, puncak tebing sudah tidak terlihat, semak belukar dan akar menjalar yang menghalangi. Kami bisa lihat jalur curam dan sisa sisa jelatang yang tumpas oleh tebasan parang, itulah jalan turun kami tadi.
“Kira kira ada empat jerigen full, cukupkah untuk stok air kita berlima?” Tanyaku. Sekedar memastikan persediaan air sebab di Gn.Pundak tidak ada sumber airnya. “Insya allah cukup… yah, sembari kita irit untuk perjalanan besoknya, sebab kita harus lintas 4 karvac terlebih dahulu sebelum bertemu sumber air di dekat panjeran!”

Perjalanan selanjutnya penuh menanjak, selepas dari ngarai, tak ada bonus, tak ada jalur, kembali parang dan tenaga yang harus berbicara. Berkali kali aku membungkuk untuk melonggarkan barang sejenak beban keril di pundak. Sementara kami juga mencoba berkomunikasi dengan tim yang menyisir kebawah melalui teriakan-teriakan bersahut-sahutan. Tak ada yang dibicarakan, hanya sekedar memastikan saja posisi mereka dimana. “Sebenarnya aku suka semua ini tip, tapi tidak dengan beban seberat ini pastinya. Mungkin lain kali kita bisa melintasi medan ini dengan lebih enjoy! Dan barang bawaan yang sedikit lebih masuk akal.” Intip hanya cekikikan mendengar keluhanku. “Yaah… sayangnaya kamu mengambil Point Navigasi ini sendiri, gak ada angkatanmu yang lainnya. Coba kalau semisal kamu berkelompok dengan angkatanmu, pasti forsir barang bawaan tidak seberat saat ini, karena bisa dibagi.” jawabnya. Yaah, bagaimana lagi, saya ikut diklat satu angkatan cuma berdua, entah itu petaka atau malah rejeki, apalagi untuk saat ini, saya tinggal sendiri, saudara saya satu angkatan saya sendiri sudah tak tahu dimana sekarang rimbanya, di lingkungan kampus juga sudah tidak terlihat saat jam jam kuliah. Apalagi di sekretariat Prapala, sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu sudah tak berani datang, walaupun barang cuma berkumpul santai didepan blumbang depan sekretariat. Kabar terakhir yang saya terima darinya waktu bertemu di kampus, katanya sih dia sekarang terpaksa harus ikut bekerja sebagai “tim penjualan” atau yang biasa disebut sales untuk sebuah perusahaan penyedia jasa koneksi internet dan TV berlangganan. Makin keroposnya kondisi keuangan keluarga, memakasa anak laki laki tertua itu harus ikut menjadi topangan pondasi ekonomi yang sudah tua dan rentah dimakan usia. Jelas, sudah tidak ada waktu dan pikiran lagi untuk bermain-main ketika saya sekalipun ditempatkan dalam posisi tanggung jawab yang belum pada waktunya harus dititahkan. Yang harus ada adalah semangat untuk membuat dapur umum keluarga bisa tetap mengepulkan asap pulennya nasi.

Kira kira sudah hampir tengah hari ketika saya hampir sampai di puncak igir-igir punggungan “Watu Rejeng”. Tinggal satu batu besar lagi, kirnya mungkin ini rintangan tersulitnya, sehingga saya harus memanggil intip kembali turun untuk membantu menaikkan keril saya duluan, baru saya, dan tibalah kami di Igir-igir punggungan “watu Rejeng”. Gema suara dari sisi barat menunjukkan posisi tim kurang lebihnya dari tim yang menyisir melalui sisi bawah. Saat ini yang saya rindukan adalah saat saat makan siang. Perut sudah lapar dipermainkan oleh medan yang lumayan gila sudut elevasinya. Namun kelihatannya saat saat itu harus diselimurkan untuk hari ini, dan sisa sisa hari Navigasi berikutnya, estimasi waktu membuat kami harus selalu tergesa gesa, setidaknya ada biskuit coklat dan air putih hangat untuk siang ini, diatas “Watu Rejeng”.

Cuaca tengah bergerak, ketika kami mulai lanjut jalan, kabut dan angin saling beradu bertubrukan, mencampur adukkan warnanya di hadapan kami. Entah warna apa saja yang dicampurkan, yang bisa kami lihat hanya warna putih pekat dan basah, untuk jarak beberapa depah dihadapan kami. Sesekali ampas dari tubrukan tersebuat turun berupa gerimis rintik rintik. Selepas dari “watu rejeng” tadi kami sudah berjalan bersama, tak ada lagi yang memutar memilih ngarai yang landai, jarak satu orang dan yang lainnya mungkin cuma 2 meteran. Igir-igir dari punggungan makin menipis, tinggal memilih mau ngarai sebelah kiri atau sebelah kanan jika salah pijakan atau tergelincir. Disini kami melakukan re-section sekali lagi untuk memastikan posisi kami. Karena pemandangan sedang seperti ini, yang bisa kami lakukan hanya “re-section” dengan menggunakan protaktor dan alti-meter saja.

Dan dari hasil re-section mengharuskan kami menuruni ngarai curam sekali lagi, untuk menyebrang ke punggungan berikutnya. Kami tidak mencoba terus keatas untuk menemukan pangkal dari pecahnya punggungan seberang yang menyebabkan adanya jurang, sebab Igir-igir sudah semakin menipis dengan tumpukan batu batu gunung besar didepan trek kami. Kali ini Lephek yang ada didepan, dia lalu potong kanan dengan menerobos rumpun pohon cemara muda, yang usianya masih setinggi dada, Dan beberapa tangkai yang seharusnya masih mendapatkan kesempatan untuk tumbuh lebih besar, kokoh dan menggaruk langit dengan daun perduhnya harus berguguran oleh tebasan Lephek.

Trek yang dilalui makin curam saja, saya bongkar isi tas paling atas untuk megambil “webbing”, sebab beberapa kali tergelincir membuat cuaca di hati makin buruk dan fisik makin lelah. Dengan menggunakan webbing, kami berjalan turun beriringan, namun tetap saja ada yang tergelincir, namun setidaknya rangkaian kami bisa menahan laju jatuh rekan tim kami jangan sampai terperosok kebawah terlalu jauh. Gerimis tipis tipis sudah membuat rumput rumput gajah yang kami pijak basah, begitu pula dengan flanel ku, tapal tapal sepatu boot yang kami pakai juga sudah lelah mecengkram tanah yang licin.

Saya berdiri diatas batuan besar diatas jalur sungai kering, atau yang biasa disebut orang orang sebagai “kalimati”. Sama seperti kali mati di lepatan punggungan sebelumnya, namun tidak rungsep, pemandangannya pun terbuka. Webbing kami lepas, dan di packing kembali di keril. Kita habiskan satu dua batang dulu disini.

Sebuah stepa luas sedang kita potong, untuk mendapatkan jalur terpendek dari batu jamrud kompas selepas kami mendaki dasar kalimati kedua. Dan sudah cukup sore untuk jam minum kopi saya rasa.
“Ayo sen…semangat sen!! Aku loh fisik benere yoo wis enthek, podo pegele… cuma semangat ndang nyampe pundak, ndang istirahat, ndang camp sing nggarai aku iso melaku cepet!” Tepuk belle ketika jalan ku sudah mulai melambat oleh berbagai alasan seputaran kompromi isi perut. “aku sebenarnya juga masih ingin lanjut, semagat juga masih ada Bel, makany aku masih bisa senyam senyum disini.” Sahutku.
“ooooh….setaan, ayoo wes ndang teko, ben gak nganti peteng awakdewe buka tendo” Belle menimpali sambil menyembunyikan wajah yang tak kuat menahan tawa sambil segera bergegas meninggalkan aku yang sudah ancang ancang mau menyulut sebatang rokok kretek lagi. “SIaap Seniooor…!!” Gak jadi nyantai deh, merokok sambil jalan lagi.

“Pundaaaaaaaaak!!!…..” tiba tiba sebuah teriakan terdengar dari beberapa puluh meter didepanku, tapi aku kenal vocalnya, ini suara mas Cered. Kabut kelabu menghalangiku melihat sosoknya, dan aku pun mempercepat langkah supaya bisa segera menaruh pantat dan melepas beban pundak jika disitu memang puncaknya.
Perlahan seiring dengan makin pendeknya seleisih jarak pandang, saya bisa melihat beberapa sosok dengan masih memanggul tas keril di pundaknya, yaah itu memang rekan rekan se-Tim ku, Mas Cered yang duduk diatas batu besar bersama Lephek, dan dua berikutnya itu Intip dan Belle.
“Inikah puncaknya??…” tanyaku. Namun ketika aku dekati, mereka jalan lagi. “Itu puncaknya di seberang” Kata mas Cered. “Mana??” Kabut tebal menghalangiku untuk bisa melihat apa yang ada didepan, lebih tepatnya di seberang jurang ini. “Puncak Pundaknya mana sih tip?” Kilahku setengah tidak percaya kalau ini bukan pucaknya, dan tidak percaya sekaligus sangat keberatan kalau kita harus menuruni ngarai lagi. “Ituloh, seberang lembah ini, sudah dekat sekali kita”. Dan ternyata memang harus menuruni satu ngarai lagi, yang artinya “dimana ada turunan, pasti ada tanjakan lagi”. Namun kali ini kita menyisir menyusuri batas potong punggungan dengan jurang lembah yang saat ini sedang kita susuri. Ternyata, inilah batas dari padang stepa luas di sebelumnya.Dari tempat saya berjalan terlihat sebuah batu besar di tengah tengah stepa, tingginya sekitar 5 meter dengan bentuk penampang batunya di yang unik mirip sebuah logo brand “outdoor” lokal.
Lepek dan Mas Ceret sudah duduk bersila diatas puncak sabana, dalam kabut tipis tipis saya bisa melihat gerak mereka, namun hanya gerak, tidak dengan mereka berdialog apa disana. Mas ceret dan Lepek terus turun, mereka memilih patuh melewati alur punggungan, hingga memasuki belantara lagi, hutan hujan basah yang lebih lebat, dengan sulur sulur akar liana sebagai pilar penopang rerimbunan belantara diatas tanah, dan parang harus kembali dibuka dari tudungnya untuk sedikit melebarkan lintasan.
Setelah mendaki lembah, kami tiba di teras Puncak Gn. Pundak, berbelok kekanan seratus meter hingga sampe pada punden berundak sederhana yang menjadi patok Puncak Gunung Pundak, kami bermalam disini malam ini.

Puncak Gn. Pundak

Sebenarnya bila melihat topografinya, pundak bukanlah sebuah gunung, namun salah satu punggungan sisi utara dari. Gn. Welirang, yang disebut puncak Gn. Pundak ini berada pada ketinggian 1587 mdpl. Topografinya berupa padang savanah dengan sesekali ditemui pohon cemara gunung yang baru ditanami sejak kebakaran beberapa tahun silam. Saya dirikan bivak di sela sela hutan cemara yang belum terlalu tinggi, namun cukup untuk menghalaui angin turun dari puncak welirang.

Sebentar saja, malam telah datang, menyanyikan lagu lagu akan kesunyian. Kami duduk dalam keramahan canda, berselimutkan kain sarung dan hangatnya sedotan bara yang menyulut racikan tembakau cincang dalam gulungan kertas tipis,  dan akan bertambah kenikmatannya oleh beberapa jumput marijuana kering.
Beberapa kali, tiupan angin dingin membuat keramaian lokal diantara persendian membuat kata “dingin” tidak hanya sebagai bahasa verbal, namun sebuah rasa yang identik dengan efek penginderaan.

Rumput ilalang bergoyang riang…
Memainkan alunan musik asing yang begitu tenang
Sang Bathara tahu benar kalau ini tengah malam
Dia berikan chandra yang menyisir wana

Jangan pernah segan menengok ke belakang
Tembakau, Marijuana dan cengkeh dalam sulutan
Berfantasi ria tentang mara bahaya
Tawa mereka–lah yang begitu kau rindukan

Para sesama sedang membelah lembah
Tahu benar dimana ada sendang penghibur gerah
Habiskan alam dalam langkah
Selinting makna penutup jengah 

Selamat Pagi,

Secangkir kopi hanya tinggal menunggu didihan air nesting untuk diseduh, kami kembali ke padang terbuka, dimana pemandangan pagi begitu mengagungkan Gunung Welirang di sisi utara. Kami sudah begitu siap untuk beberapa karvac ke barat daya, puncak kami selanjutnya adalah puncak gunung Buthak/

Menuruni kembali jalan yang kami lalui saat mendaki puncak Pundak hingga ke lembah rungsep yang banyak sekali nyamuk lemurnya, membuat kegatalan dini dan aktifitas tambahan Garuk menggaruk di pagi hari, sangat-sangat tidak fresh. Perjalanan ke buthak akan terasa lebih mudah apabila kita pandai membaca kontur topografi treknya, setidaknya kita bisa menghemat sedikit tenaga dan menali erat putara waktu untuk menuruni ngarai-ngarai dalam dan terjal, Kami membuat sebuah garis imaji di peta, garis inilah nanti yang akan kami tempuh, kami memilih mengekor-mengalur mengikuti pola punggungan, mengharamkan menurni lembah di kanan-kiri, jika tidak dengan sangat terpaksa. Memang Ringan, tak seperi lintas Pringgondani-Pundak kemarin, namun kebon jelatangnya masih sama, satu cerita dengan hari kemarin. Beberapa kali kami tetap harus memperhatikan peta, konsekuen dengan alur garis imaji yang kami gambarkan, berikut deviasi lekukan lekukannya yang berkelok kelok.

Intip sekarang yang berperan sebagai tukang Jagal, Menebas sadis leher leher ilalang dan pepohonan yang mengganggu jalan kami, lebih bertenaga, lebih beringas, dan lebih tanpa ampun apabila dibandingkan denganku. Jalan yang dibukanya sudah sama lebarnya dengan trek pendakian di gunung gunung lainnya yang sudah dilalui ribuan telapak kaki per tahunnya, kami yang ada dibelakangnya tinggal mengekor saja dengan santai, sambil merokok-pun juga tidak masalah, meneruskan perjalanan menginjak injak sisa tebasan ilalang yang ketika terinjak kaki seakan bersinggungan satu sama lain, berderit, menjeritkan pekikan pekikan nelangsa alam semesta. Tangan tangan manusia yang menyebut dirinya sebagai pecinta alam tengah merobek jalur nadi alam, menebas tanpa alasan untuk semua yang menurutnya menghalangi langkahnya, demi sebuah tujuan, demi sebuah alasan, demi sebuah tempat dan tampuk yang dinamakan “kepuasan dan kebanggaan”. Kurang lebihnya, entitas kami sebagai pecinta alam seperti demikian pada saat itu.

Sebentar saja, saat tengah hari bergiliran mengisi Pos waktu, kami tiba di perpotongan jalur pundak – pringgondani, kami tibak bisa me-resection koordinat dalam kerimbunan, yang menjadi acuan kami hanya alti meter yang kurang akurat lah acuan kami. Seribu seratus sekian meter kala itu, dengan kompensasi koreksi kesalahan antara dua sampai lima belas meter, kami tarik garis lurus pada peta dengan point ketinggian tersebut memotong karvac demi karvac hingga di garis imaji yang kami buat, “Yaap!!….sudah dekat” dari perpotongan jalur ini, tinggal mengikuti trek turun yang sudah ada, dan kami tiba di perkebunan warga. “WaoW!!”

Untuk ke Gn. Buthak, jalur yang kami tempuh memang akan jatuh ke jalur makadam yang kami lalui saat berangkat ke Pringgondani, melewati lagi perkebunan Asitaba, tanaman khas jepang yang di budidayakan unuk diambil khasiat daunnya sebagai bahan dasar medis dan kosmetik. ditanam diselah selah hutan pinus. Kami berbicara dengan beberapa petani asitaba yang kala itu sedang nge-laut alias jam makan siang, selinting martijuana membuka obrolan kami siang itu, kami kenalkan pada mereka yang merasa aroma pembakarannya lain, inilah lintingan pujaan kami, lintingan tembakau khas aceh, “Memang berbeda pak dengan tembakau tembakau khas jawa pada umumnya”. Kini giliran mereka yang hisap, “Tahan asapnya, rasakan….biarkan pikiran tenang terlebih dahulu, lalu hembuskan” kataku sembari berlagak ala motivator kondhang, Dan mereka pun terbahak bahak, menikmati tarikan demi tarikannya.

Tidak perlu lama lama bercanda dengan mereka, yang penting sudah cukup meredam lelah dan membagikan sedikit kebahagiaan, kami jalan lagi, masih ada tujuan terakhir, Puncak gunung buthak. Lephek menunjukkan padaku pintu masuk ke gunung buthak melalui pematang kebon asitaba, pintu masuk itu ada di sebuah tikungan, menaik hingga batas tanjakan yang ditutup dengan kebon budidaya pakis, lalu turun leambah dalam dan naik lagi. Kami tak perhatikan jalur yang ada demi meringkas putaran waktu. Buthak vegetasinya lebih rapat, tidak ada tempat untuk savanah dan stepa kecuali beberapa kotak kecil di puncaknya nanti, untuk saat ini porsi kami hanyalah jalur hutan lebat  yang menanjak hampir  empat puluh derajat. Tebas, Tebas dan tebas…. tidak perlu waktu lama, kami sudah ada di Puncak Buthak. Aku sendiri tak tahu kenapa gunung ini disebut gunung Buthak, sementara penampang landscape nya menurtku sama sekali tidak sepaham dengan pemahaman Buthak alias gundul. Disisi seberang dari jalur kami tampak kawasan wana wisata Dlundung, dan dintara dua perpotongan alur punggungan di pangkal lokasi wana wisata itu terdapat Air Terjun. Kaki kaki Buthak saja sudah cukup memberikan makna dan pencaharian bagi penduduk lokal, banyak di eksplorasi potensinya sebagai perkebunan selada, asitaba, pisang dan sayur mayur. Pada saat ini, cuma aku, Intip dan Lephek saja, sementara Mas Cered dan Belle memilih menghabiskan waktu, menunggu kami di perkebuanan asitaba tadi, Aku memilih lokasi beristirahat yang terbuka, menikmati Landscape istimewa yang menjadi hak pandang yang paling hakiki dari setiap penjelajah sambil menarik dalam asap asap kepuasan akan perjalanan lintas alam kami kali ini.

Advertisements

2 responses to “Lintas Pringgondani, Pundhak, Buthak

  1. Reportasenya keren, tambah dokumentasi pasti lebih mantap, mas.hehe Pringgondani – Pundak – Buthak memang selalu menyenangkan untuk dijelajah, masih jarang dijamah. Salam kenal dari saya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s