Laguna itu (kini) sudah seperti Depo Sampah


Kotor, rungsep, rusuh, semrawut, dan tak terjaga!! berikut mungkin jawaban yang keluar secara ceplas-ceplos ketika saya dimintai pendapat tentang bagaimana keadaan Segara Anak (Pulau Sempuh.red). Sebuah Laguna yang ada di tengah – tengah pulau sempu itu padahal dulunya begitu Indah, bersih, dan Hijau Tosca warna airnya. Kini??? yaaah, seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan ini, seperti itu kurang lebih keadaannya. Berikut hasil kunjungan saya bersama teman-teman kesana Awal  April Lalu.

Image

 

06 April 2012

Hari yang ditentukan telah tiba, sekitar tengah malam kita berangkat dari Surabaya. Tetap seperti biasanya, saya selalu puas bahkan sampi orgasme ditempat kalau perlu, seandainya saya bisa sampai ke lokasi adventure dengan naik motor. Entah kenapa? mungkin sejak dari lahirnya saya sudah menganut aliran “Ali Topan” Kali yaa.

Kami berangkat Ber-enam pada saat itu, saya berbeoncengan dengan momok, aqil berboncengan dengan Rheva, dan Faliz berboncengan dengan Ical. Disini, Ichal adalah orang baru, sesosok makhluk antah berantah yang tiba-tiba dikenalkan faliz ke kita,dan baru kali ini dia gabung adventure bareng kita. Mungkin boleh yaaah, saya pake satu paragraf khususuntuk menerangkan deskripsi Ichal. \^.^/

Sekitar Pukul 22.00 Faliz, aqil, rheva dan seorang sosok baru kumpul datang ke kantor saya, yang sekaligus menjadi lokasi Kumpul kita malam itu. Faliz mengenalkan temannya yang dengan loga Jakarte gitu, menyebutkan namanya “Ichal”. Entah gimana yang bener nulisnya, (Ichal/ical/izal/ atau ijal) yang pasti untuk seterusnya kita memanggilnya Ichal, dan dia tampak tidak keberatan. Sambil menunggu momok yang belum datang, kita ngobrol-ngobrol sambil re-pack barang bawaan masing-masing, sembari mengecheck peralatan vital kaya tenda, sleeping bad, ponco, kali aja ada yang belom kebawa. Si Ichal dengan melankolisnya, memisahkan diri dari keramaian kita, menyendiri di halaman depan sambil main gitar didepan tong sampah, padahal banyak nyamuk disana. Diajak masuk, dan ngobrol bareng, dianya malah gak nyautin….. “Nah, darisitulah!!” Cap “Makhluk Langkah” mulai kita anugerahkan pad sosok profil si Ichal Tersebut.

Sekitar pukul 24.00 momok datang, dan tak lama setelah itu kita sudah berada dalam lintasan jalanan altileri Ahmad Yani, menuju ke Selatan. Sekitar satu jam setengah Non-stop Biking kita tiba di Malang. Rute terdekat ketika sudah sampai Malang adalah kita melewati Tumpang, terus ke Poncokusumo hingga di Pertigaan Wajak kita ambil Kanan. setelah itu, jelas sudah ada Plang gede bertuliskan Pantai Sendang Biru. Kita Ikuti saja jalu itu tanpa belok belok.

 

07 April 2012

Pukul 04.00 kita istirahat sejenak disebuah warung kecil di Pinggir Jalan sebelum masuk desa Sitiarjo. Dan kebetulan ban motor Rheva bocor juga pada waktu itu. Terpaksa gedor rumah Tukang tambal ban dulu.

Perjalanan setelahnya adalah situasi yang paling aku nantikan, jalanan pegunungan malang selatan yang naik turun dan Menikung……wuiiiih!! sungguh sensasi tersendiri berkendara di rute seperti Ini, kita keluar masuk hutan-kampung, hutan-kampung, hingga samapi di sebuah kawasan lembah yang cukup luas, dan disinilah Desa Sitiarjo (Kab.Malang selatan) Kita Transit disini, dirumah Saudara Rheva. Misi utamanya sih, numpang sarapan :-p ehehehehe.

Dari sini, perbekalan air mulai dibahas, botol botol kosng yang ebelumnya dibawa dari Surabaya kami Isi. Oh iya, sekedar catatan…… Sempu adalah Pulau dengan tekstur geologinya, 70% berupa batuan karang, sisanya tanah Gambut, rawa, dan Pantai. Kalau mau bermalam di segara Anak, bijaksananya kita bawa perbekalan air secukupnya, karena sepanjang perjalanan dari Teluk semut (Tempat sandar kita) ke Segara Anak, sama sekali tidak dijumpai Sumber air Tawar. Dan Untuk perjalanan kali ini, total kita bawa 20 botol Air kemasan 1,5 liter untuk kami ber-enam,

Disinilah, niat usil mulai bergejolak didalam dada, hihiiii. Formalnya sih, biasanya kalau ada anggota-anggota baru, selalu ada kegiatan kaderisasi, dan Inilah saat yang tepat untuk meng-kader si Ichal heheheh…… Satu tas Eiger size 40 L kita khususkan untuk bawa stock air 10 Botol. tas langsung Full…… berdiri tegak dengan Gagah ditengah tengah ruangan, menunggu si Porter untuk membawanya, dan tak lain, posisi terhormat sebagai Porter itu nantinya akan dipegang oleh Ichal.whohohohoo…

Pukul 09.00, setelah semua dirasa beres, kami pamit dengan meninggalkan tumpukan piring kotor di Dapur, bekas sarapan tadi.heheheheee…… Si Tuan rumah tidak mengijinkan kami untuk mencuci piring sendiri setelah makan, katanya “Sampean Salep ten wingking mawon mas piringe”

Dirasa masih kepagian nie, untuk nybrang jam-jam segini ke Sempu, kita mampir dulu ke Pantai Bajul Mati, Malang selatan yang kebetulan lokasinya tidak terpaut terlalu jauh dari pantai Sendang Biru, Pelabuhan penyebrangan kami ke Sempu.

 

 

Pantai Bajol Mati

Untuk main ke Pantai Bajol mati, dari Pertigaan sebelum pantai Sendang Biru nanti kita belok ke kanan (ada papan penunjuk arahnya kok) melewati jalan aspal yang kelihatan mengkilap dan baru beberapa tahun lalu di aspal, Jalannya lumanya lebar, sebab ada wacana kalau jalur sini nantinya akan menjadi bagian dari Jalur Lintas Pantai selatan Jawa. Banyak bukit-bukit karang yang sengaja dikepras, demi kepentingan Pembuatan jalan Ini. Lima Kilometer dari Persimpangan tadi, kita akan menjumpai sebuah jembatan unik, yang namanya Jembatan “Bajol Mati” yang menyebrangi sebuah Muara Sungai. Uniknya jembatan ini, terlihat dari arsitekturnya. yang ada semacam pancang setengah Lingkaran dari besi yang turut menahan beban jembatan juga berfungsi di sisi artistik juga. Tampak disana Muda-mudi lagi pada berfoto Narsis dengan background arsitektur Jembatan.

Sedangkan kami? langsung Tancap-lah ke Lokasi Pantai. Disini, HTM dipegang dan dikelola oleh Perhutani, dan HTM nya Rp. 4000,-/orang plus Rp. 2500,-/motor. Dan, Wow…..!!! Sebuah landscape pantai yang luaas langsung menjadi wallpaper penghlihatan kita sejauh mata memandang. Pasirnya Kuning, dan karena perairan disini adalah laut lepas, maka otomatis ombaknya pasti besar. Dan sudah ada plang bertuliskan “DILARANG MANDI DI LAUT” waaah, kurang asyik kalo ke Pantai tidak pakai ritual mandi Laut 😦    Tenang!! untuk yang ingin mandi, sudah ada tempatnya, yang pasti sih bukan di toilet-lah.… Disisi Timur pantai ada semacam Muara yang ber-air Payau, dengan kedalaman 0,5 – 2 meter (disisi bawah tebing). Melihat air-nya yang hijau bening…..langsung membuat saya ingin segara melepas pakaian dan Byuuur!!!!  segar sekali airnya, dan muara air payau itu serasa seperti kolam renang pribadi kita, sebab kondisi pati bajol Mati sedang sepi sekali saat itu. Hanya aku dan Rheva yang mandi di sungai, Aqil Faliz, Ichal ayik berteduh santai dibawah Pohon Kelapa. Sementara si Momok, asyik sendiri dia mendokumentadikan landscape dalam media motion picture.

Tiba -tiba aku dan Rheva jadi teringat cerita bapak-bapak penjaga pintu masuk tadi tentang kenapa pantai ini diberi nama Pantai “Bajol Mati” sebab, dahulunya ada banyak buaya kawasan ini, dan parahnya sering memangsa warga sekitar juga yang kebetulan ber-mata pencaharian dan bermuki, di sekitaran muara dan Pantai, sebelum akhirnya banyak ditemukan tewas setelah diburu oleh sapa tuh namanya???? (maaf,lupa :-p) Tokoh masyarakat yang ceritanya menjadi Hero dalam lakon cerita itu. Dan, akhirnya karena sering ditemukannya buaya-buaya yang mati disekitaran sini, maka pantai Ini dinamakanlah pantai “Bajol Mati”

Aku dan Rheva punya keyakinan sendiri yang berlandaskan akan feeling dan Iman masing masing kalau sebenarnya Buaya Disini pasti belum mati seluruhnya, pasti masih ada 1-2 yang mendiami muara Ini dan sedang asik berenang dengan perut lapar dibawah kita. “Yaaaaap……….!! sebelum salah satu paha kita jadi mangsa seperti di Film Crocodylus, ada baiknya kita sudahi acara berenang-renang di Muara siang itu “

Mungkin tidak ada 2 jam, kami stay di Pantai Bajol Mati….. yaah!! bukan lantaran pantainya jelek, juga bukan lantaran sudah mulai banyak muda-mudi berpasangan yang mulai masuk ke Pantai, sementara kita ber-enam cowok semua…….*mengenaskan :-(. Tapi karena pantai sebelah sudah menunggu kita, yaah, Sendang Biru!

Kami amati ekspresi si ichal ketika pertama-kali memanggul tas setan itu…..yaah, hhhhmmph…….zz..hmmph…. kami semua mencoba menahan tawa sebisanya saat melihat dia mengernyitkan alis mata saat pertama kali memanggul tas itu dipuncaknya, wkakakakakaka…...dan akhirnya kami semua tak kuat menahan tawa. “Eh, Do’i malah tetep Innocent padahal kita udah ketawa terpingkal-pingkal”.

 

 

Pantai Sendang Biru

karena tidak ada perubahan formasi motor dan tidak ada kejadian menarik selama perjalanan menuju ke sendang Biru, maka cerita langsung saya skip sampai scene kedatangan kita di Sendang Biru. Semua yang pernah kesini, mungkin tidak heran kenapa pantai ini dinamakan Biru, yang kalo dalam bahasa Indonesia artinya (kolam biru) . Benar sekali, air di pantai ini sangat biru, apalagi ketika dilihat dari atas bukit sebelum kita memasuki kawasan pantai. Kondisi di Pantai sendang Biru sangat berbeda sekali dengan kondisi Di Bajol Mati tadi, disini ramai sekali, baik oleh pengunjung lokal maupun wasatawan domestik sekitaran Jawa Timur. Padahal di Pantai sendang biru tidak ada Spot untuk berenang, main air dan Mandi Laut.  Para wisatawan yang datang cenderung memilih gelar tikar di Taman dekat pantai sambil membuka bekal makan siang yang sudah dibawah dari rumah sebelumnya. Yang sedang bawa duit lebih, malah bisa beli Ikan-ikan laut gede-gede hasil tangkapan nelayan yang langsung bisa kita tawar ketika perahunya baru Sandar.

Image

Image

Dari sana sudah bisa kita bayangkan, yaaah…! Pantai sendang Biru lebih mirip seperti Pelabuhan Pelelangan Ikan, tak bedanya pantai Prigi, Trenggalek. Dan yang tak kalah ramiai lagi, adalah arus lalu Lintas penyebrangan laut ke Pulau Sempu-nya. Sejak 2009- sekarang pulau sempu makin laris manis menarik hati dan Isi Kocek para pelancong untuk menyembanginya. tang terkenal tidak lain adalah spot “Segara Anak” yang bisa dibuat camp dan cuma satu jam perjalanan dari Lokasi teluk semut. Bermacam background pengunjung yang datang kesana, mulai dari para MAPALA, anak kampung yang sok-Pecinta Alam, Remaja Masjid yang mencari Pencerahan, Keluarga Besar (kakek, nenek, Pakdhe,Budhe, Bapak, Emak, Bulek, PakLek, Mbakyu, dan 3 anak-anak)  , Sepasang muda-mudi yang mencari Tempat syahdu, Anak-anak gaul SUTOS, Anak band yang pengen bikin Foto Profile, sampai Anak Sekolahan.

Kita nyampe di sendang Biru kira-kira pukul 11.30, sudah jelas yang kita lakukan pertama kali adalah cari Warung. Karena kita sudah lapar lagi. Dan akhirnya, setelah 3x muter-muter lokasi Pantai akhirnya  menemukan sebuah warung yang mampu menarik selera makan kami siang itu. Warung itu, terletak tepat di depan Pos Perijinan masuk ke “Cagar Alam Pulau Sempu”. Sepanjang saya amati dari Lokasi makan, di Pos Perijinan tersebut  tak ada kegiatan-kegiatan perijinan maupun pendataan yang berarti dari setiap pengunjung yang masuk ke Lokasi cagar Alam. sangat berbeda sekali dengan Pos Perijinan di TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger semeru) maupun TNGGP (Taman Nasional gunung Gede-Pangrango) yang begitu konservatif terhadap setiap pengunjung yang masuk, baik dari ID card masing-masing pengunjung hingga sampah yang dibawa turun-pun tak luput dari pengawasan di Perijinan dua Taman Nasional tersebut. sangat berbeda sekali dengan disini (Cagar Alam pulau Sempu.red). Asalkan bilang pernah ke Sempuh sebelumnya dan tidak pergi sendirian saja, kita sudah diloloskan. Meskipun jujur kita bilang belom pernah dan cuma sendiri saat itu, toh, ada guide lokal yang siap menemani dengan ongkos Rp.100.000,- sekali jalan. (Kalau mau diajak menginap guidenya…..yah, biayanya silahkan di-nego lagi.)

Saat itu, saya pun nge-test tidak usah pakai ijin dulu ke Pos, dan walhasil, tidak ada masalah….. perahu tetap saja menyebrangkan kami ke Pulau Sempu asalkan kami bayar didepan ongkos penyebrangannya. (Sebesar Rp. 100.000,- /rombongan untuk bolak-balik) Durasi penyebrangannya-pun singkat, cuma 15 menit kita sudah landing di Teluk Semut, Pulau Sempu.

 

 

Pulau Sempu

Tempat sandar perahu untuk penyebrang pada umumnya dalah, Teluk Semut. dan dari sinilah, trek umum menuju ke segera anak dimulai. Untuk sandar ke lokasi-lokasi lain, untukm keperluan ekspedisi bisa di-nego ke Tukang Perahunya,

Teluk Semut, menjorok hingga sejauh 200m meter, disini perairan mulai dangkal, Motor mesin perahu dimatikan sebab sudah mulai banyak karang. Sebagai gantinya, sang Sopir nahkoda beserta anaknya yang masih berumur belsan tahun itu mendorong perahu dengan sebilah bambu Panjang yang dicelupkan kedalam air, hingga kami diturunkan ke bibir teluk. sebleum meninggalkan, kita harus bikin janji dulu dengan sang Nahkoda mau dijemput kapan untuk baliknya, jangan lupa juga meminta Nomor Hape bapaknya untuk sekedar mengabari ketika kita sudah kembali ke teluk semut Nantinya.

Dari sinilah, trekking dimulai, medan licin bekas tanah rawa akan kita susuri nantinya, banyak akar-akar melintang dan pohon-pohon tumbang yang akan menjadi tantangan kita disepanjang perjalanan. Di pertengahan jalur, trek mulai rungsep, ancuur……. dan beberapa bagian berubah menjadi kubangan lumpur. Kita harus pandai pandai mennyisir, mencari trek yang aman untuk dilalui supaya tidak terjebak dalam kubangan lumpur tersebut. Jalur-pun menjadi bercabang dimana-mana, akibat dari penyisiran yang berbeda-beda dari rombongan sebelum kita untuk mencari trek yang setidaknya aman untuk dilalui. Tapi jangan Khawatir, kemana-pun percabangannya, akan menuju kearah yang sama (Segara Anakan.red). Dari sini mulai banyak artefak berupa sol-sol sandal dan sepatu yang sudah lepas dari bagian tubuh sang Empunya, entah karena tidak habis dimakan ketika sang Empunya kelaparan, atau lepas dengan sendirinya akibat perjalanan yang sudah ditempuhnya kelewat jauh.hehehehe. Pemandangan Sepanjang jalur adalah hutan yang rapat, tak bisa kita jumpai pemandangan terbuka, dan kondisi jalur yang rungsep plus kelembaban udara yang tinggi sangat mengerik isi  kerongkongan kita untuk setetes air pelepas dahaga. Medan trekking disini sangat cocok untuk latihan Lintas Alam.

Ketika kita sudah berjumpa dengan bibir Laguna, berarti kita sudah dekat, tinggal menyusur -memutar bibir Laguna sebelum sampai ke Lokasi Camp Segara Anak. Kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari Teluk Semut kita khirnya sampai di Lokasi Camp Segara Anak.

(video karya momok selama trip kemarin, visit his Video Portfolio on Vimeo!)

 

 

Segara Anak

Kemana Segara Anak Sempu yang dulu pernah di eluh-eluhkan mirip seperti Lokasi Shooting Film The Beach yang dilakoni oleh Leonardo Dicaprio….?

kemana Pasirnya yang putih Bersih?

Kemana Air lagunannya yang Hijau Tosca Dulu??

Sangat mem-prihatinkan kondisi segara Anak sekarang, hampir berubah menjadi sebuah pasar sore penuh tenda warna-warni ketika weekend begini. Kami aja sampai agak kesusahan mencari Lokasi Camp, karena saking padatnya disana!! Di beberapa sudut Lokasi, sudah tercipta semacam Depo Sampah Mini, tempat orang orang membuang sisa sisa peradabannya selama disini, tanpa ada kesadaran akan kebersihan dan kecintaan terhadap alam sama sekali, Bertumpuk-tumpuk Polybag menggunung disana.

Image

bahkan, hampir setiap jengkal kita melangkah, selalu saja ada sampah, macam-macam wujudnya, mulai dari puntung rokok, bungkus rokok, bungkus snack, bungkus pembalut, bekas kertas makan, sendok plastik, botol minuman, kaleng sarden, hingga bandana kotor. Saya cuma bisa geleng-geleng melihat keadaan disini, sangat berbeda jauh dengan kondisi beberapa tahun lalu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki disini. Momok-pun mengeluhkan sebuah perbedaan yang sangat signifikan dengan kondisi tahun 2006 lalu, ketika dia juga pertama kali kesini. ckckckckc….. bahkan apabila sedang dalam keadaan beruntung, kita bisa menjumpai tabung Elpiji kemasan 3 kg yang ditinggal, ataupun Galon Air yang ditinggal. Ekosostem pandan liar yang dulunya lumayan mendominasi di Lokasi Camp, kini juga mulai tergusur dan berubah wujud menjadi, “Tempat Menjemur Pakaian Basah sehabis Berenang”.

Kita akhirnya menemukan lokasi Camp dekat Depo Sampah Mini tadi. Mau milih dekat dengan bibir pantai takutnya ketika malam Air pasang dan kita harus memindahkan tenda lagi, maka kita memilih yang agak kedalam saja.

Ketika Matahari sudah mulai condong Ke barat, dan langit telah memantulkan cahaya ke emas-emasan di permukaan air laguna, kita lepaskan baju dan ByuuuuuuuuR!! kita cicipi segarnya air Laguna.

Image

 

 

08 April 2012

Keringat yang lumayan basah membangunkanku dari tidur, ternyata lumayan panas tidur didalam Lafuma Summertime ketika Camp di Segara Anak. Itu pula yang membuat anak-anak ternyata lebih memilih untuk tidur diluar beralaskan matras.Sudah terang ketika aku keluar tenda, entah jam berapa itu. Segera ayang aku cari adalah nesting dan kompor, ritual Ngopi itu hukumnya Fardlu Ain ketika kita Camping. Dan, sialnya Nesting dan semua perangkatnya masih dalam keadaan kotor bekas pesta Speghetti oleh Faliz semalaman. Pergilah saya mengambil air Laguna untuk mencuci perangkat masak. Mata langsung dapat hiburan, ketika didepan saya ada seorang Bule Cewek yang duduk-duduk menunggu lakinya yang sedang main air….. WOW!! si cewek Bule hanya mengenakan setelan Hotpants +Tanktop ketika itu, aku lama-lamahin ngambil airnya dengan harapan Ingin melihat si Bule Cewek ikut nyebur ke Laguna….. Lama aku tunggu, dan gak nyebur-nyebur juga dia…… mending ngopi dulu deh!!

Ajakan tetangga sebelah tenda untuk mengunjungi Pantai Pasir Panjang aku lewatkan pagi itu lantaran masih pengen santai menikmati Segara Anak pagi itu. tak lama, si Ichal mengajakin berenang…… Ayooo.kalo berenang!!! Dari ngobrol-ngobrol, saya tahu kalau si Ichal ternyata anak UNAIR Jurusan Perikanan, dulu sempat kuliah di IPB jurusan Kelautan. Makanya kalau untuk urusan laut, Biota dan ekosistemnya, dia lumayan tahu banyak ternyata. Dari penjelasan Ichal pula saya jadi tahu, kalau kondisi biota koral yang ada di pinggiran segara Anak (Lokasi berenang Pengunjung.red) sudah tidak tertolong alias telah mati, tidak lain penyebabnya adalah karena terlalu banyak di injak-injak oleh mereka yang tidak tahu dan tidak mau tahu akan kelestarian biota air disana. Sedangkan, Untuk yang posisinya agak ditengah, masih hidup dan punya kesempatan untuk bisa tumbuh apabila kelestariannya terus kita jaga bersama-sama. wuaaah……“ternyata ngerti aja si Ichal nie soal beginian,saluut dah!!” gumamku dalam hati. Kami berenang sambil sesekali snorkeling di perairan dangkal segara Anak, hingga mendekati batas seberang dari tempat Camp.

Pagi itu, kami mendapati secara langsung, seorang mas-mas yang kira-kira usianya 5-7 tahun diatasku membuang sekantong kresek gede sampah ketumpukan yang ada dibelakang kami. ckckckcck……padahal dandanannya sudah kaya Pecinta alam angkatan 90’an, tapi tingkahnya kampungan. “Memang tampilan dan style tidak bisa cukup untuk mencerminkan tabiat seseorang dihadapan alam”.

Selesai Sarapan, kami segera Packing dan meninggalkan Segara Anak. Kami mengejar waktu supaya tidak sampai kemalaman sampai kembali Di Surabaya. Mengingat besok jadwal kantor kembali menanti.

Image
Image
Image
Image
*)Maaf……untuk kali ini saya belum bisa melakukan apa-apa untuk merubah kondisi di Segara Anak, Sempu yang sudah terlanjur kotor, tetapi se-minimal mungkin yang bisa saya lakukan adalah, tidak menambah kekotoran disana. Mungkin, dikunjungan berikutnya saya akan adakan agenda Bersih-bersih Segara Anakan bareng adik-adik Saya.
*)Mari Kita lestarikan Kekayaan alam yang ada, karena generasi berikutnya masih memiliki Hak yang sama untuk bisa melihatnya. Mari Kita jaga, bukan untuk siapa-siapa……melainkan untuk mereka.
Advertisements

2 responses to “Laguna itu (kini) sudah seperti Depo Sampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s