I’m Backhome


I’been on the road too long
Moving In the wrong direction
I don’t know where I belong
I don’t know what I will do?
if I can’t find backhome

(Eric Clapton – Backhome)

Banyak musisi menyanyikan puisi puisi tentang kampung halaman
Banyak sastrawan yang bercerita tentang balada di Perantauan,
Tak kalah banyak pula, seniman yang melukiskan tentang Indahnya kampung Halaman….

Tapi tidak untuk petualang….. ,
Setegar batu karang justru Ia berkisah tentang Indahnya pemandangan dibalik sana…
Setabah nelayan justru Ia tinggalkan kampung halaman; Demi sebuah kisah, demi sebuah impian, demi sebuah khayalan tentang sesuatu yang disebutnya “keindahan” dan “kebebasan”.

Apapun batasan masalahnya, yang pasti isi kepala kita lebih luas dari pada kotak-kotak diperkotaaan, sejauh apapun kita berjalan, setinggi apapun kita mendaki, dan sedalam apapun kita menyelam, itulah dunia kita. Tak ada batasan disana, dan tak perlulah, salah satu dari kita membatasinya dengan persepsi-persepsi sempit perseorangan.
Tak kenal batasan lelah, tak mau tahu batasan harga. Kita disini jelas untuk berpesta, begitu juga dengan padang savanah diseberang sana. Apakah Kalian dengar sayup bisikannya, deru angin timur telah memanggil langkah kita. Datanglah Hai Petualang!  Atau dengan Puncak berbatu diatas sana… Lihat lah, satu bendera sudah disiapkan untuk kita kibarkan, Datanglah Hai Petualang!
Bisikan bisikan itu makin membuat kita makin berdigik, menggigil dalam balutan adrenalin, dan berteriak dalam bahasa “kebebasan….!”
Yaaah, Kurang lebih, rasa rasa itulah yang sering diteriakkan oleh jiwa saya ketika ada sebuah landscape unik yang layak di eksplorasi, yaah….rasa yang bisa saya sebut sebagai kemerdekaan yang sejati!  Sebuah suara hati sudah cukup memberikan komando bagi kita untuk berjalan kemana saja dan bersikap apa adanya, berbagi seadanya dan membantu sebisanya.

***

Hingga sebuah Tanggung Jawab datang mengetuk pintu hati,
Pintu yang telah lama saya tutup rapat dan saya buat kedap suara, tiba tiba diketuk perlahan, perlahan namun berirama. Setidak-tidaknya cukup untuk mengganggu kenikmatanku berpetualang. Yaah, sebuah panggilan tanggung jawab.
Tanggung jawab atas segalanya; segalanya yang ada di tanah datar.

Seperti seorang pemabuk yang disiram lalu dibangunkan, tuntutan hidup sekali lagi melipat lipat geliat  indah yang disebut petualangan. Lalu Menarikku dalam sebuah penjara besar yang disebut perkotaan. Memotong kuku tajamku, menghabisi rambut panjangku, dan mengikir taring-taringku……
Aku bukan lagi si Liar…… melainkan seorang Tahanan Kota.

Rutinitas telah memenjarakanku disini,
Aktivitas telah berani membeli semua waktuku,
Tuntutan kehidupan telah mengisi penuh ransel di pundakku.

Inilah yang saya rasakan ketika kembali berpulang…..
Kembali kesebuah labirin yang orang-orang oportunis bilang itu Realitas!!
Lalu, mau tidak mau kita juga dipaksa berperan oportunis untuk bisa tetap hidup dan bisa memegang sebuah kunci aman kehidupan yang disebut Uang.
Pernah aku berpikir ini begitu bodoh, dan rasanya ingin muntah melihat rutinitas disekitarku……. Namun, ransel beralamatkan tanggung jawab itulah yang tetap memaksaku kembali ke lintasan, kembali beraktivitas dengan topeng topeng rupawan untuk sebuah tujuan hidup yang absurdis dan materiil. Namun, semakin rumit kita berpikir, semakin lugas satu beban lagi ditambahkan. Bagitu dan begitu seterusnya. Hingga kita semua terbiasa dan benar-benar sadar, bahwa inilah Realita!!
Jika kita tak sanggup mengubanhnya, sebijaksananya jalani saja….

 

Mungkin ada saatnya kita berubah haluan sejenak….
Menikmati apa yang disebut tekanan,
berbicara dalam bahasa perekonomian,
Hingga kita bisa sadar, betapa pernah tersesatnya kita dahulu…

Mimpi indah hanya sesaat, selebihnya akan menyesatkan…….
Biarkan pemandangan-pemandangan itu berteriak, berkumandang gaduh meneriakkan namaku.
Karena aku percaya, kalian takkan kemana…..

Aku hanya berpulang untuk sejenak,
menyiapkan sebuah sajak tentang keindahan.
Dan berbagi, dalam arti yang sebenarnya….
karena kehidupan bukanlah sebuah egoisme progresive, melainkan sebuah kerjasama sosial yang simulatif.

Aku tidak menyesal kembali pulang,
Karena aku sadar, ini juga salah satu sisi keindahan. Disini ada jalan terang, disini ada kasih sayang.

Semua tentangmu adalah pelajaran….Tentu tidak akan aku lupakan, selebihnya aku dermahkan, hai alam.
Tolong simpan baik-baik bendera kemerdekaan kita Kawand, Karena mungkin kerinduan akan memanggil kembali untuk dikibarkan.

Andylabina,

Advertisements

2 responses to “I’m Backhome

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s