Long Way to Tambora…..


Long way To Tambora….

“Ada orang yang menganggap mendaki gunung adalah sebuah perjalanan spiritual…
“Ada pula yang menyebutnya sebagai sebuah petualangan…… hingga terkadang mereka sering lupa daratan, menyebut diri telah merasa hebat ketika sudah berdiri diatas sebuah puncak….

“Kalau bagi saya sendiri; pendakian adalah sebuah kegiatan bersenang-senang yang sepenuhnya….. “

 

Rencana perjalanan ini sudah ada di angan-angan sejak tahun lalu, setelah Rinjani. Tujuan saya berikutnya adalah Tambora. Sebuah gunung api tua yang ada di tanah Sumbawa. Kalau bagi sebagian banyak orang yang sudah kesana, tambora memiliki kawah yang spektakuler, dengan garis diameter 7 km membuat Tambora menjadi gunung dengan catatan Caldera terbesar di Asia Tenggara. Tapi boleh kann kalau saya berpendapat berbeda;

“Bagi saya, yang menarik dari Tambora adalah bagaimana perjalanan kita hingga bisa sampai kesana!”

 

Day 1

25 Mei 2011

Dimulai dengan perjalanan naik motor dari Surabaya. Kalau menurut jadwal sih mestinya kami sudah mulai jalan sejak pukul 04.00 berhubung bangun kesiangan plus ada teman yang ingin gabung lagi, maka perjalanan baru dimulai pada pukul 10.00. Tujuannnya adalah Mataram.

Yang berangkat hari ini adalah saya, stepi, Aqil dan Ambon. Tujuan awal untuk sampai di Lomok pada tengah malam harus molor karena sepeda motor Aqil bannya bocor di daerah sebelum Tabanan, Bali. Dan parahnya, kami kemalaman nyampe sana, tak ada tambal ban yang buka. Mencoba dicari muter-muter-pun percuma, memang tak ada tambal ban disekitar situ, otomatis kami bermalam di jalan, di sebuah warung kopi di seberang jalan raya. Pertemuan dengan Kares dan Ajik yang sudah menunggu di Angkringan denpasar-pun batal. Shitt!!

Day 2

26 Mei 2011

Setelah ban motor aqil selesai ditambal, kami lanjutkan ke Denpasar…..Ada Kares dan Ajik yang sudah menunggu ditaman Kota Denpasar, Ajik ikut serta bersama kami dalam perjalanan ini, estafet Bus dari dari Jogja hingga ke mataram.

Padang Bai Pukul 13.00 WITA

Kapal sudah jalan tapi ajik belum juga datang…hingga waktu penyebrangan berikutnya dia juga tak kunjung datang, dihubungi nomornya-pun tidak bisa. Satu yang ada dalam pikiran kami, jangan jangan dia sudah sampai duluan dan ikut penyebrangan sebelumnya. Maka kami putuskan untuk naik ke kapal saja, Eh……sesaat sebelum kapal diberangkatkan ternyata dia menelpon kalau dia baru saja tiba di Padang Bai, dan mohon maaf karena tadi Handphonya mati. Yaaah, namanya juga apes ternyata quota kapal sudah penuh, dan ajik terpaksa harus ikut penyebrangan yang berikutnya sendirian.

Kurang lebih 4 jam…

Itulah janji yang tersiar dari mikropon kapal untuk penyebrangan Padang Bai- Lembar, yah..lumayan lama. Kapal fery yang mai tumpangi mulai masuk Lombok menjelang senja, terlihat Pantai Bangko-Bangko dengan pasir Putihnya di Ekor pulau Lombok. Pulau-Pulau Kecil (dalam bahasa sasak disebut : GIli) menyambut sebelum kapal merapat di Dermaga Pelabuhan Lembar.

Saat memasuki kawasan sinyal, ada sms dari glory, “ternyata dia sudah nyampai ke bandara sejak pukul 16.00”.  Sampai Pelabuhan kami sudah dijemput oleh bang Alwi, selama di Lombok, dialah yang akan mengasuh para pengungsi ini, heheheh…..

Fefe yang rencana menyusul dengan penerbangan hari ini, ternyata penerbangannya delay sehari. Waah.waaah.waaah, sempat bingung juga meng-kalkulasi jadwal yang molor. Mana glory juga sudah pesan tiketnya untuk penerbangan pulang-pergi. Ckckckck, untung saja tiket pesawat pulang glory bisa diundur sehari. Satu hari tanpa jadwal ini kami pakai saja untuk berkeliling pulau Lombok, menyisiri jalan pantai Utara hingga nyabrang ke Gili Trawangan.

Day 3

27 Mei 2011

Yaaaah…..akhirnya saya bisa sampai ke Gili Trawangan setelah tahun lalu jadwalya ke Cancel. Hehehehe, singkat saja deskripsi saya tentang gili Trawangan…. “bagus! Tapi sudah ter-asimilasi oleh kehidupan ala kuta Bali, jadi kurang alami.”

Day 4

28 Mei 1011

Fefe akhirnya tiba semalam, kami bicarakan lagi soal transport kesana. Rencana Touring hingga desa Pancasila terpaksa harus dicoret sebab, teman-teman yang ikut ternyata banyak yang estafet transportasinya. Yaaah, daripada berangkat secara terpisah mending bareng-bareng aja nge-buss. Setelah minta pendapat dari teman-teman Mataram, dan telepon singkat dengan Om Noto, kami setujui naik Buss trayek Mataram – Calabai langsung,

Sebenarnya ada alternative angkutan lain yang lebiih nyaman yaitu, naik Bus Mataram – Dompu (turun cabang Banggo) dilanjutkan dengan Bus ke Kadindi. Tapi daripada oper-oper angkutan plus takut ada salah perhitungan waktu ketika tiba di Cabang Banggo nanti, maka kami pilih Bus yang langsung Mataram – Calabai saja.

Kami hindari naik cari bus di terminal mandalika, bertais. Sebab disana adalah sarang babi rusa, pelancong-pelancong yang awam berbahasa sasak seperti kita pasti bakalan jadi santapan empuk para calo-calo yang sering kelewatan dalam memasarkan tiket.

Untung ada teman-teman Mataram yang bisa bantu cari bus hingga kami dapatkan bus “Mulya sejati” trayek Mataram – calabai dengan tiket Rp. 150.000,- . kami berangkat pukul 10.00 dan katanya sih sampai di Calabai pukul 08.00 esok ahrinya,.

WOW!!!!!! 22 JAM DALAM BUSSSSSS……..

Untuk ukuran pulau Jawa, mungkin bisa dipakai untuk trayek dari Banyuwangi- Jakarta via Buss. Ckckckck, kami belom sempat membayangkan apa yang harus kami lakukan untuk mengisi waktu 22 jam di buss nanti, eeh…..buss sudah jalan.

Buss mini yang kami tumpangi sudah penuh dengan penumpang dan setumpuk barang barang bawaan di atap bus, tapi tetap saja sopir Buss masih berputar-putar di jalanan Lombok sambil terus menaikkan penumpang plus barang bawaannya  yang ber kardus-kardus. Sessat ketika saya bangun dari tidur eh, sudah ada sepeda motor diikatkan dibelakang buss. Yaaah, hanya diikat dengan tali tampar saja, tak ada pengamanan lainnya….. inilah kondisi salah satu potret kondisi pengiriman barang  untuk daerah di timur Indonesia. Sementara kita yang ada di perkotaan begitu dimanjakan dengan hadirnya TIKI dan JNE, Sungguh sangat kontras.

Sampai dengan tengah hari, buss Masih berada berputar-putar di kawasan Masbagik, Lombok Timur. Padahal waktu normal lintas pulau Lombok dari pelabuhan Lembar ke Kayangan adalah 2 jam lebih, eeeh…ini kok sudah 4 jam lebih malahan.

Kali ini yang lebih parah, tiba tiba ada seorang nenek-nenek memberhentikan buss, beliau ingin ikut naik buss. Tapi bawaannya itu yang tidak masuk akal. Fisiknya boleh nenek-nenek, tapi yang dibawa ada lebih dari sepuluh buah karung tepung dengan berat masing masingnya 50 kg. Waaah….waah.wah, saya sempat jengkel disini, “buss sudah penuh toh kok masih mau diangkut juga, gimana sih nih sopirnya??? Ilmu Matematika nya gak dipake apa….”  Seluruh penumpang yang sudah naik sampai disuruh turun dulu, dan seperti yang sudah diduga…karung karung tepung itu mau dimasukkan kedalam buss…. uWooooWW!!! Keluar buss nanti tinggal digoreng saja sudah jadi ayam crispy ini kita nati….

Tapi percuma marah-marah disini…. Bagi kita ini mungkin jadi sesuatu yang kelwatan. Tapi bagi mereka yang disini, ini adalah sebuah kondisi yang biasa saja. Jadi tak ada yang heran, malah sopir buss dan sederet awak kernet nya masih bisa bercanda ria dalam kondisi seperti ini. Sementara Jakarta disibukkan dengan jumlah angkutan yang membludak hingga bikin jalanan maceet…..mereka yang ada disini, rela duduk diatap buss, bukan lantaran mengirit biaya, tapi karena angkutannya sudah tak ada lagi untuk jadwal berikutnya.

Kami tiba di Sumbawa pada pukul 17.00 WITA setelah melalui penyebrangan Kahyangan – Tano kurang lebih 2 jam. Benar saja, lepass pelabuhan kami disambut denganban Buss yang pecah akibat keberatan muatan mungkin.

Day 5

29 Mei 2011

Kami seperti dikocok kocok dalam adonan tepung didalam Buss ketika sudah lepas dari cabang Banggo, keseluruhan jalanannya adalah Makaddam sampai di Calabai, kalau masih bertemu sisa-sisa aspal itupun adalah keberuntungan. Ini adalah dinihari, sambil setengah tersadar saya masih mengikuti ketika buss berjalan di menyusuri punggungan bukit dan menuruni lembah lembah savannah…

Dan matahari pagi membangunkan aku ketika sebuah pemangdangan savannah ala New Zealand terhampar di kiri dan kanan kami. Buss harus mengalah berjalan lambat sambil terus membunyikan klakson ketika ada sekelompok Sapid an Kuda liar Sumbawa yang menyebrang. Kami sudah tiba di kawasan Doropeti. Fefe menunjukkan sketsa gunung Tambora yang ada di seletan kami… sebuah sketsa gunung besar dengan atap yang terkepras sejak letusan besarnya tahun 20 April 1815.

Sejenak ada perkampungan……sejenak kembali lagi padang savannah… begitulah populasi penduduk disini, mungkin kepadatannya cuma 4 % dari total luas wilayahnya. Menariknya di Sumbawa, Padang savannah ini terletak tidak jauh dari garis pantai, jadi ketinggiannya anatara 10- 150 mdpl saja.

Kami diturunkan di Grasai P.O Mulya sejati di kadindi bawah….

Disuruh menunggu disebuah bruga (Sebuah pendhopo di depan rumah.red), untuk selanjutnya   menunggu instruksi dari Pak Haji tentang bagaimana nanti naik ke Dusun Pancasilanya. Yaaaah, “Pak Haji”……. Pemilik P.O Mulya Sejati, yang namanya minta dituliskan Pak Haji Saja.

Suguhan The hangat keluar dari dalam rumah, lumayan menghibur perut kami pagi itu, sambil kami ditemani ngobrol oleh bapak-bapak dan para tukang ojek yang sudah sedari tadi menawari kami tumpangan ojek ke Dusun Pancasila, hehehehee…..sambil setengah memaksa gitu deh menawarinya.

Pukul 08.00 waktu itu, ketika seorang bapak muda berkumis tipis dan mengenakan kupluk haji putih menghampiri lalu bersalaman ke kami, eaaaaah……init oh yang namanya “Pak haji”, sungguh jauh dari bayangan kami, saya kira yang dipanggil Pak haji tuh orangnya udah setengah baya gitu. Ternyata masih muda juga, heheheee. Beliau mohon maaf tidak bisa mengantarkan kami ke Pancasila sebab, mobil pick upnya lagi keluar. Yaaah, jtak ada pilihan lain selai mengiyakan tawaran para tukang ojek. Dan kami diberangkatkan ke Desa Pancasila.

Jarak Kadindi ke Dusun Pancasila sekitar 6-7 km……lumayan juga kalau kami tadi jalan kaki. Disepanjang jalan yang ada hanayalah hamparan perkebunan kopi, jalannya naik turun. Dan sedang ada proyek perbaikan jalan disana, jadi kemungkinan besar kalau tahun depan kembali lagi kesini kondisi jalanannya mulai dari cabang Banggo sudah berbeda. Sudah bagus bang!! Kata bapak Ojek yang aku tumpangi.

***

Tiba di Dusun Pancasila

Ojek yang saya tumpangi mau langsung bablas saja kmelewati Desa Pancasila kalau rekan-rekannya yang lainnya tidak meneriaki dari belakang. Tidak sampai setengah jam dengan menggunakan Ojek kami tiba di “Lapangan Pancasila”, Rumah bang Ipul, yang sekaligus jadi basecamp K-PATA tepat berada didepan Lapangan Pancasila. “Selamat Pagi……..itulah salam pertama dari Bang Ipul kepada kami, beliau adalah koordinator untuk guide dan Porter di Desa Pancasila ini. Dan beliaulah yang mendapat SK Pariwisata langsung dari kabupaten Dompu untuk mengelola ticketing gunung Tambora.

Dan terus terang Bang Ipul sedikit kaget dengan kedatangan kami yang tiba-tiba dan tanpa konfirmasi, sebab tamu tamu sebelumnya, selalu konfirmasi dulu minimal sehari sebelum mereka datang, supaya bang Ipul bisa menyiapkan semuanya.

Kami dipersilahkan masuk kerumahnya, disuguhi album foto-foto Tambora karya teman-teman plus copy proposal untuk acara 2 abad meletusnya Tambora pada 20 April 2015 mendatang yang sedang dirintis oleh teman-teman dan disetujui oleh Bupati NTB. Jadi, pada 20 April 2015 nanti bakalan ada event besar disni……. Yaaah, semoga bisa datang!!

Bang Ipul menawarkan apa kami mau pake jasa Guide atau mau jalan sendiri….???

Yupz, kami sepakat pakai guide saja, karena informasi yang kami kantongi Cuma sekedar info perjalanan saja, tak ada copy’an peta topografi atau plot GPS. Dan ongkos guide disini, Rp.100.000/hari untuk kawan kawan local.

Kami dipersilahkan bersiap-siap dahulu, sambil cari sarapan sementara bang Ipul carikan guide…. Maklum, karena kami datangnya tanpa konfirmasi jadi semuanya serba dadakan. Dan, karena hari-hari ini adalah musim petik kopi, jadi banyak anggota K-PATA yang sudah berangkat bekerja di ladang kopi jadi agak susah juga siapin guidenya. (hehehehee……maaap merepotkan bang!!)

Susahnya disini, cari warung saja susah…. Ada yang buka tapi tidak jual nasi, warung yang biasa jual nasi sudah ditinggal oleh pemiliknya memetik kopi sedari pagi tadi. Huuuft, akhirnya terpaksa kami bongkar muatan keril untuk masak mie sebelum berangkat.

Setelah kami sarapan, ternyata ojek dan Guide kami sudah siap. Dan Guide yang akan menemani kami adalah “Bang Anas”. Setelah packing kembali kami bereskan urusan tiket untuk masuk pendakian Tambora yang dibanderol Rp. 10.000,-/orangnya.

Memang sih sedikit lebih mahal kalau dibandingkan dengan tiket masuk ke TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) atau ke TNGR (taman Nasional Gunung Rinjani) Yaah, sebuah harga yang sepadan untuk menegok sebuah Caldera dengan diameter 7km yang begitu melegenda.

Kami naik ojek hingga batas portal di Pintu hutan. Sebab, mempertimbangkan keterbatasan waktu yang kami punya juga management tenaga jangan sampai kami drop dulu di awal awal jalan. Ojek disini, tak beda dengan ojek-ojek di Gunung raung, hanay dengan kendaraan bebek 100cc ala kadarnya mereka berani membela jalanan kebun Kopi yang becek dan naik turun. Kadang sempat ngeri juga siih, saat mereka harus ber-manuver menghindari lubang-lubang dijalanan… Untung, ojek-ojek pilihan Bang Ipul sudah kelewat terbiasa melewati lintasan seperti ini saat mengantar tamu meskipun dengan keril-keril gedhe didepan. Saluuuuut!!!

Jalanan dari perkebunan kopi ke Batas Hutan lumayan membingungkan, banyak simpangan…. Dan jalan yang dipilih tidak selalu lurus saja. Keterbatasan bahasa, membuat komunikasi saya dengan sopir ojek sedikit terbata-bata, padahal saya ingin Tanya Tanya banyak tentang perkebunan deisekitar sini, Siapa yaaah yang punya perkebunan seluas ini???

Sekitar 30 menit menumpang dibelakang ojek, kami tiba dibatas hutan.

Huuuft, lumayan jauh juga kalo semisal kami tadi jalan kaki, bisa bisa tenaga habis duluan sebelum nanjak. Bang Anas yang lalu berada didepan kami untuk selanjutnya saat kami memasuki batas hutan. Bagi yang pernah ke gunung Raung, Vegetasi di Tambora tidak jauh berbeda dengan disana, semak-belukar yang rapat, sesekali tumbuh-tumbuhan purba macam pakis dan paku juga masih terlihat menjulang tinggi.

Lebatnya semak membuat parang akhirnya ikut angkat bicara untuk sedikit melebarkan jalur. Pohon pohon yang tumbang pun tak tanggung tanggung besarnya, baru habis kalu dipeluk tiga orang mungkin, makin kedalam makin rapat. Kita ikuti saja jalan pipa; kurang lebih 1 jam setengah kita tiba di Pos 1.

Pos 1

Semirip-miripnya dengan gunung Raung (banyuwangi, Jawa Timur), untung saja di Tambora masih ada sumber air, seperti di Pos 1. Kita tinggal buka pipa, maka botol botol air bisa penuh kembali.hehehe…

Di Pos 1 Tambora, tak ada plang, papan nama dsb…. Cuma sebuah tempat lapang untuk 2 tenda dan bekas-bekas api unggun, kami ngopi sebentar disana.

Pos 2

Kira kira dua jam jalan dengan kondisi trek yang tak jauh berbeda dengan Pos 1 kita ternyata sampai di Pos 2.  Pos sepanjang Pos 1 dan Pos 2 masih landai, Cuma lebatnya semak belukar saja yang membuat jalan kita agak lambat. Di bawah Pos 2 ada sungai yang mengalir, disanalah ternyata  ujung dari pipa-pipa irigasi yang ada disepanjang trek. Sungai inilah yang juga menjadi rumah dari kerajaan pacet di Tambora.hehehehe.

Kondisi Pos 2 lebih lebar dari Pos 1, masih bisa didirikan 3 Pos atau lebih… sisa sisa shelter juga masih tersedia, meskipun hanya tinggal puing.

Kami makan siang disini, kami sempatkan masak nasi untuk mengisi perut yang sudah teriak teriak. Guide kami, Bang Anas masih terlihat malu-malu untuk makan bareng dan bercanda, dia malah menegluarkan bekal yang dia bawa dari rumah. Wkkakakakakaka…..namanya juga baru kenal. Tapi  setelah kami ajak ngobrol terus, lama kelamaan ikutan rame juga dia.

Dari bang Anas, kami akhirnya dengar banyak cerita tentang Tambora dan sesuatu sesuatu yang di sakralkan disini. Mulai dari legenda kerajaaan Pekat, Sanggar dan Tambora yang hilang hingga pendaki yang tersesat, semua kami obrolkan sepanjang perjalanan ke Pos 3.

Pos 3

Hari sudah gelap, namun kita belum memasuki Pos 3. Makin keatas, kita makin disuguhi trek-trek yang berupa lorong babi, memaksa kita merunduk-berjalan dibawah payung-payung semak belukar. Setelah sekitar 2 jam berjalan dari Pos 2 kita akhirnya sampai juga di Pos 3.

Tak heran kenapa para Porter merekomendasikan untuk bermalam di Pos 3 saja, sebab diantara Pos 1 dan Pos 2 tadi, Pos 3’lah yang paling kering dan luas. Kalau disini sih, mau sepuluh tenda lebih juga cukup, Kondisi shelternya juga cukup bagus. Kita Camp disini malam mini.

Satu yang sedikit susah di Pos 3 adalah ketika kitamau ambil air, sebab tempat sumber airnya agak jauh dan jalurnya naik turun menyusuri setapak di sisi seberang shelter. Kalau kondisi airnya sih bagus disini, debitnya juga lumayan kalu ada yang mau pake mandi, hehehehe..

Dua tenda sudah didirikan, menemani tenda coleman milik anak-anak dari Bima yang tak tahu ditinggal kemana oleh pemiliknya. Kalau kata bang anas sih, mungkin mereka bermalam di Puncak.Sebab, tertulis misi mereka di buku tamu adalah penelitian geologis. selepas makan malam kami rapatkan tentang bagaimana summit attack esok pagi, menurut bang Anas, mendingan kita mulai jalan dini hari benar, sekitar pukul 01.00. Kalau beruntung dan bisa kejar waktu, kita bisa dapatkan sunrise keluar dari ufuknya.

 

Day 6

30 Mei 2011

 

Summit Attack

Pukul 00.00 ketika alarm milik ambon berbunyi. Alhamdulillah, cerah mala mini, bintang bintang tampak ramai berkumpul di langit yang ada diatas kami. Kita cek sekali lagi soal perbekalan, air dan kondisi kamera. Tenda kami tinggal disitu, Pukul 01.00 kami mulai jalan. Kami berjalan beriringan, dengan tetap memperhatikan jarak antar satu dan yang lainnya.Selepas dari Pos 3, kita akan tiba di perkebunan jelatang. Saya juga heran kenapa Jeletang yang aneka macam ini bisa tumbuh begitu subur di Tambora. Mirip seperti kondisi di gunung argopuro jelatangnya. Cuma disini beragam sekali, ada yang Cuma saat tersengat sakit……atau mau yang sampai semingguan sakitnya. Saking rapetnya, sampai lagi lagi parang yang berbicara untuk sedkit melebarkan jalur. Sepanjang Jalur dari bawah hingga ketinggian segini, saya belum menjumpai jurang-jurang blank, kebanyakan trek yang kita lalui berputar mennyisir punggung-punggung bukit, ada pun jurang Cuma berupa lereng terjal dengan kedalaman 5-15 meter lah, dan disana sudah pasti rimbun oleh perkebunan jelatang.

Pos 4

Setelah satu jam kita tiba di Pos 4. Suasana di Pos ini rimbun sekali, sampai, Pos 4 berada disebuah sisi lereng, dan dikelilingi oleh perkebunan jelatang. Lagi-lagi tak ada plang, shelter yang ada juga sudah roboh tak bersisa. Inilah satu satunya Pos yang tidak terdapat Sumber airnya di Tambora.

Pos 5

Jark dari pos 4 ke Pos 5 juga kurang lebih satu jam, treknya tetap sama; Perkebunan Jelatang. Vegetasi sudah mulai terbuka disini, dan angin mulai terasa. Kami istirahat agak lama di Pos 5, ngopi-ngopi dan bakar api unggun.

Selepas Pos 5, kita tinggal menanjaki pucuk-pucuk punggungan yang berbuku-buku hingga ke bibir Caldera, view hutan dibawah sudah mulai terlihat bersamaan dengan sinar matahari yang muali mencuri kesempatan memulai fajar menggantikan malam. Trek tanah liat sudah berganti dengan batu-batu kerikil lembut, vegetasi juga sudah mulai jarang, tinggal Cuma sekumpulan cemara di dekat puncak bukit menuju bibir kawah. Saat matahari mulai terbit, kami bisa lihat pulau Satonda dan pulau Moyo yang ada diseberang pantai utara Sumbawa, Sungguh Indah…..andai saja kami punya cukup waktu beberapa hari lagi dan budget yang agak lebih mungkin kita bakalan kunjungi 2 pulau yang masih jarang di ekspose tersebut, cerita cerita bag Anas tentang keindahan pulau itu, makin membuat kami tertarik untuk eksplorasi kesana.

Bibir Caldera

Akhirnya, kami tiba di bibir kawah, tapi ternyata trek untuk mengintip kaldera jauh juga dari sini. Bibir kaldera tambora kurang lebih lebarnya 2 kali lapangan bola lebarnya. WOW!!! Inilah yang kita ingin lihat…..akhirnya kesampaian juga, Sebuah Caldera yang begitu luas menganga hadapan kami. Untuk beberapa saat kupandangi, jelas sekali hampir 3x luas kaldera gunung raung. Semua sudah terbayar ketika sampai disini, ditambah bonus cuaca cerah pagi itu, Puncak tambora terkesan hanya sebagai pelengkapnya saja.

Semuanya terbayarkan sudah…..

Sebuah pemandangan yang tidak bisa kita temukan di gunung manapun selain di tanah Samawa ini;

Sekumpulan pohon cemara yang ada dibawah caldera sana terlihat seperti rumput-rumput kecil yang berdiri tegak. Sungguh bisa dibayangkan, betapa kecilnya diri kita di hadapan semua yang maha Besar ini. Kita hanya bisa berdecak, tak sampai pikiran ini bisa membayangkan seberapa besar letusannya dulu yang konon getaran dan abu vulkanisnya sampai terasa hingga dibeberapa sisi belahan dunia.

Apalagi untuk membayangkan….tentang bagaimana semua ini bisa terjadi dan bagaimana terbentuknya kehidupan kehidupan dibawah sana, apalagi setelah bang Anas menjelaskan kalu dibawah sana ternyata ada sumber air, aliran sungai, hewan-hewan (rusa, burung-burung) dan pepohonan. Kami hanya mampu berdecak kagum tentang semua fenomena ini, sungguh sesuatu diatas alam piker manuasia yang bisa membuat semuanya ada. Yaitu Tuhan.

Beberapa Ekspedisi turun  ke kawah sudah pernah dilakukan oleh komunitas pecinta alam setempat, antara lain GAMPIN dan K-PATA. Sementara untuk pihak luar, penurunan kawah Tambora sementara dilakukan demi tujuan penelitian geologis saja oleh pihak asing.

Bang Anas lalu menggiring kemi Segera ke Puncak. Terlihat dekat sih puncaknya, tetapi semakin didekati kok ternyata jauh yaaah…..sebab selain melipir bibir kaldera kita juga arus melalui beberapa patahan-patahan lempeng batu batu puncak. “Jangan Terlalu dekat dengan bibir kawah jalannya” kata bang anas, sebab, kondisi sekitar bibir kawah yang berupa pasir vulkanis lembut gampang sekali longsor, apalagi di beberapa patahan batuan, retakan-retakan mulai terlihat.

Puncak Tambora (2851 mdpl)

Sebuah punukan kecil yang lebih tinggi dari sisi sisi bibir kawah lainnya itu  yang disebut puncak tertinggi Tambora. Yang katanya makin tahun makin ambles, dan diperkirakan longsor sepenuhnya pada tahun 2020 oleh ahli geologis yang pernah meneliti kesana beberapa tahun lalu.

Ada sebuah prasasti sebenarnya, tapi sudah pecah dan hancur dimakan usia. Darisini terlihat Puncak Jalur Kawinda To’I dan puncak dari Jalur Doropeti yang ada jauh dibawah sana. Sementara view Caldera makin terlihat luas dari sini, bisa dibayangkan pasti butuh lebih dari 2 minggu untuk ekspedisi mengelilingi kawahnya.

Tak lama kami di Puncak, setelah puas dengan hasil foto kami lalu turun. Karena kabut mulai naik dan angin semakin kencang berhembus.

***

Target kami untuk sampai di desa Pancasila malam ini, terpakasa molor karena kami terhadang hujan di Pos 3, karena kemalaman dan fisik yang sudah lelah sekali. Malamnya kami buka camp dadakan di Pos 1. Pagi pagi sekali baru lanjut ke desa Pancasila.

Day 7

31 mei 2011

Bang Ipul hanya tertawa-tawa mendengarkan cerita dari glory, sementara aku, ambon, stepi, aqil dan fefe sudah kelelahan menghabiskan trek kebun kopi sepenjang perjalanan turun tadi. Huuuft…..

Kami mau balik hari itu,” Pak Haji” pemilik P.O Mulya Sejati sepakat mau menunggu kami setelah ditelpon oleh bang Anas. Bang ipul mengantar kami hingga turun ke Kadindi, sampai mencarikan kami warung makan…..sebab kami beliau tahu kami belum sarapan waktu turun tadi.

Sekarang, petualangan kami selanjutnya tinggal menghabiskan 22 jam lagi di Bus…… entah apa yang terjadi sampai mataram nanti….. kita Cuma bisa menunggu untuk sebuah cerita baru tentang tanah Samawa.

-Sekian-

Advertisements

7 responses to “Long Way to Tambora…..

  1. Dear Sobatku Andy,

    Ditunggu Plan selanjutnya , Sukses buat Mimpi Tambora yang Sudah Menjadi Kenyataan .. Perjalanan panjang dan Seru ..Thx a lot Buat kebersamaan juga kekomplakannya…dan telah mengajak saya … ( sorry ya , kalo ada kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja )

    Nb : Top , buat hasil foto2nya Bro..

    Regards,
    glo

    • Sorry bang, baru buka blog…..
      hehehehe. mungkin nie udah telat yaaah info dari saya. maapin yaah… ^_^

      Nie contact bang Ipul : 085937030848
      (confirm dulu aja kalo mau kesana, biar bisa disiapin sebelumnya ama bang Ipul)
      Salam buat Bang Ipul dari Andy…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s