Lintas Hyang Timur, africanya jawa!!


“Pertama kali saya kunjungi pada November tahun 2009, hingga saat saya balik lagi pada November 2010 tidak banyak yang berubah, jalur juga masih setapak, bahkan dibeberapa titik selepas Cikasur dan jalur menuju Puncak, setapak itu ada yang putus, karena tertutup oleh liarnya rumput ilalang yang tumbuh subur disini. Bahkan beberpa jejak babi hutan seringkali menipu untuk diikuti.” Inilah deskripsi singkat jelas padat dari saya tentang pegunungan Hyang Timur, sebuah barisan hijau yang membentang di sisi timur pulau jawa, atau yang lebih dikenal dikalangan pendaki dengan nama “Argopuro”.

24 November 2010

Seperti banyak agenda pendakian lainnya, selalu meeting-point dimulai di terminal bungurasih, dalam agenda kali ini, Rudolf yang menjadi ketuanya, kami kumpulkan 14 orang dari berbagai nama kota di pulau jawa melalui situs milis penggiat alam untuk pendakian bersama ke Pegunungan Hyang Timur, Argopuro. Sebenarnya saya mengharapkan peserta yang lebih banyak biar acara lebih meriah, tetapi karena panjangnya medan dan alokasi waktu pendakian. Sehingga, banyak teman-teman yang notabene-nya mas-mas kantoran tidak berani ambil resiko ikut agenda ini. Setelah semua checklist Ok! Pukul 23.00 Kami melaju ke Besuki, Kabupaten Situbondo dengan naik bus PATAS yang karena sepi penumpang malam itu, akhirnya kami diangkut juga dengan tariff ala bus ekonomi.

***

 

25. November 2010

Pukul 04.00 ketika kami dibangunkan oleh teriakan kenek buss; “Besuki…..Besuki mas!!” Dan alun-alun besuki masih sepi sekali saat itu, hanya gelap malam dan basah bekas hujan yang bisa saya ingat, Dan seperti biasanya, beberapa orang makelar angkot tidak bisa melihat orang yang nganggur, mereka langsung menghampiri ketika melihat rombongan baru diturunkan, dicuekin juga nanti marah. Dihiraukan juga obrolan mereka ngelantur kemana-mana, sama sekali tidak bisa memberikan suasana tenang pada kita barang sesaat, padahal kita semua masih ber-status 5 watt saat itu, baru saja bangun dari tidur di Buss tadi.

Sampai dengan pukul 05.30 tidak kami lihat angkot biru muda lewat; aku, ambon dan Rudolf coba berjalan ke seberang, tepatnya ke Pangkalan biasanya angkot mangkal. Tetapi, ternyata masih belum ada yang mangkal. Rudolf lalu mengamini tawaran carter angkot dari salah satu makelar, biar rombongan tidak terlalu lama terlantar di alun-alun Besuki. Sebab, selain jadi tontonan orang-orang, beberapa teman yang tertidur di trotoar juga tampak di kerubungin lalat. Wkakakaka….

Satu jam tiga puluh menit jalan, kami tiba di desa Baderan, Desa terakhir sebelum memulai pendakian Argopuro. Sepanjang perjalanan tadi, mulai tampak mengekor, kaki-kaki pegunungan Hyang-timur dis eberang lembah, Penduduk Baderan sebagian besar adalah Madura, sama seperti penduduk-penduduk di pedalaman daerah “Tapal kuda” pulau jawa lainnya. Karena masih kepagian, kami sempatkan sarapan dulu di warung, lalu mengurus perijinan di KSDA Pegunungan Hyang Timur di Baderan. Kami bertemu langsung dengan bapak Susiono, kepala KSDA disini. Prosses perijinan berjalan lumayan lama, karena selain jumlah kami yang 14 orang,  Bapak Susiono yang hobi bercerita terus bercerita pada kami tentang ini-itu sembari mengetik surat jalannnya.

Pukul 11.00 kami jalan, itu saja Rudolf masih harus balik lagi ke KSDA sebab ternyata surat jalannya lupa di-stempel, untung belum jauh.

Target perjalanan kami adalah POS “Mata Air 1”  yang berada di HM.43 pal-pal hekto meter akan dipatok disepanjang trek hingga batas Cisentor nanti, namun Pal HM 01 baru akan kita temukan setelah melalui perkebunan warga sejauh kurang-lebih 8km.

Satu yang tidak bisa saya lewatkan dari perjalanan awal adalah, mandi di Pancuran yang ada ditengah-tengah perjalanan, huuft….penat di perjalanan yang panas segera hilang sesudah mandi di pancuran itu, dan disitulah biasanya kami mengisi botol-botol air untuk minum. Ditengah hari hujan turun, dan saat itu kami belum keluar dari batas perkebunan, kita berhenti sejenak di sebuah POS view lalu membuka bekal makan siang disini,  baru setelah hujan reda, kami jalan lagi. Pemandangan punggungan yang indah adalah bonus perjalanan di Baderan, karena baru saja hujan, air terun-air terjun dadakan juga terlihat menggerujuk di seberang. Tepat saat maghrib, saya tiba di “Pos Mata air 1” dan kita camp disini.

 

Pos “Mata air 1”

Adalah sebuah rest-area yang ada disebuah punggungan, di sisi kanannya ada sebuah ctempat camp yang bisa didirikan 4-5 tenda, sedangkan mata irnya ada disisi kiri, untuk mengambi air, kita harus mengikuti jalanan turun menuju sumber air.

***

 

26 November 2010

Kami lanjut jalan; menanjaki trek-trek yang masih berupa hutan rungsep, sampai batas bukit jambangan setelah itu baru turun ke area sabana alun-alun kecil, melintasi 5 sabana naik turun bukit dulu sebelum akhirnya tiba di Cikasur (Alun-alun Besar)

CIKASUR (Alun-alun besar)

Coba bayangkan anda berada disebuah padang golf yang luas, dikelilingi bukit-bukit kecil , dan cemara-cemara tinggi, ada beberapa bekas reruntuhan dan sungai kecil yang membela ditengah. Semuanya makin indah ketika dingin dari kabut menyeruak, membelai-belai tipis tubuh kami ketika trlewati. Yah…itulah cikasur, surga bagi kami dan para penggiat alam lainnya, yang hanya bisa ditemukan di Pegunungan Hyang Timur.

Kira-kira pukul 15.00 kami disini, ambon yang sudah dating duluan ternyata telah memanen lebih dari 3 tas kresek selada air dari sungai, sementara Rudolf,aqil, dan Kevin asyik berburu foto landscape di tengah savannah. Bekas-bekas parit dan batas lapangan terbang jaman colonial masih terlihat jelas disini. Kami nikmati 2jam di Cikasur sambil makan siang, sebelum lanjut jalan ke pos berikutnya, Cisentor.

CISENTOR

Perjalanan Cikasur-Cisentor butuh waktu sekitar 3 jam, langit sore saat itu sungguh indah, sempat membesitkan kata untuk “bermalam di Cikasur saja untuk malam itu”, tapi karena keterbaasan target waktu kita, maka teman-teman memilih untuk terus. Tepat saat hari mulai hari gelap, kami sudah lepas dari savannah, memasuki batas hutan yang rungsep, pohon-pohon besar yang tumbang kadang harus memaksa kami memutar, merayap dan bolak-balik harus membenarkan cover keril yang tersangkut, makin gelap lagi saat kami berada disisi jurang untuk turun ke lembah tempat Pos Cisentor berada. Kalau tidak terpeleset, yaaah keril yang kecantol, itulah isi perjalanan kami menuju ke Cisentor. Puncaknya adalah ketika saya harus tercebur ke Sungai didekat cisentor, basalah sepatu saya.

Pukul 19.00 kami tiba di Cisentor yang dipatoki dengan HM 140.  Kami dirikan tenda-tenda didepan pondok kayu, dan menjadikan pondok itu sebagai dapur dan tempat ngumpul kami. Sebab, memang rencana kami mau 2 hari disini. ­

 

27 November 2010

Summit Attack

Paginya, kami memang rencana summit attack hari ini. Cuaca juga mendukung. Tapi perjalanan kali ini kami agak santai, sebab, memang medan ke puncak yang tidak begitu berat, kami juga meninggalkan barang –barang gembolan disini. Kami berangkat pukul 08.00, ambon yang sudah bosan dengan puncak Argopuro memilih menunggu di tenda saja.

Perjalanan ke Puncak argopuro (Puncak rengganis, Puncak Arca dan Puncak argopuro) memang tidak begitu berat, kami hanya perlu melintasi savannah, rawa embik, lorong edelweiss, kalimati, hingga akhirnya sampai di Alun-alun , pertemuan jalurnya; disitulah tinggal kita memilih mau ke puncak mana terlebih dahulu. Kita jejaki masing-masing puncaknya, dimuali dari Puncak Argopuro, Puncak Arca, lalu puncak Rengganis. Memang dari ketiga puncak; yang paling eksotis tetaplah puncak rengganis…dengan hamparan kawah matinya dan ceruk-ceruk tempat sesembahan warga sekitar yang masih mengagungkan animism dan dinamisme. Dan, kami balik lagi ke tenda pada pukul 15.00

Untuk melanjutkan ke taman hidup, dari Cisentor butuh waktu 6-7 jam. Dan sangat beresiko untuk melakukan trekking malam kesana, jadi kami pilih bermalam lagi di Cisentor, sambil menceritakan semua pengalaman-pengalamam potong compass yang seru tadi siang.

Memang, kalau boleh saya bilang…. Pendakian Argopuro, Moment klimaksnya bukanlah pas di Puncak, tetapi trekkingnya itulah moment-momment tegangnya. Semua yang terbentang diantara trek sepanjang 72km yang melintas-membelah gugusan pegunungan dari Baderan (Situbondo) ke Bremi (Probolinggo) itulah tantangan yang sebenarnya. Sedangkan, puncaknya Cuma sebuah bonus untuk pemburu ketinggian diatas 3000 meter.

Dan kalau kita lihat pemetaaan Pegunungan Hyang Timur di KSDA Baderan, sebenarnya masih banyak sisi lain Argopuro yang belum ter-explore dan Puncak-puncak lainnya yang belum pernah dijajaki kaki para petualang. Seperti cerita Pak Susiono tentang “Lembah Selatan” argopuro yang banyak bikin penasaran orang-orang akan keindahannya, legenda tentang “Dewi Rengganis” juga “Danau Tandjung” di Cikasur yang keberadaannya masih misteri. Belum lagi, kasak kusuk tentang adanya trek-trek potong compass yang katanya bisa menghubungkan puncak bukit jambangan ke Rawa Embik dalam waktu singkat, atau dari Puncak Rengganis langsung ke Danau Taman Hidup. Tanda Tanya itulah yang sampai sekarang masih membuat Pegunungan Hyang Timur selalu mempesona bagi kita para penggiat alam untuk bisa di-explore lagi sisi lainnya.

***

 

28 November 2010

Setelah semua bawaan sudah ter-packing ke keril masing-masing, pagi itu kami tinggalkan Cisentor. Target hari ini memang seharian jalan ke Taman Hidup, lalu melewati malam terakhir yang hangat disana. Ditargetkan, perjalanan ke Taman Hidup butuh sekitar 6-7 jam. Kami lalui perjalanan hari itu dengan agak santai, sambil memotret-motret pemandangan Africa-nya Jawa yang khas dan hanya bisa dijumpai di Argopuro. Savanah…savannah dan savannah lagi, itulah menu perjalanan kami selepas dari Cisentor

AENG KENIK (CIPESING)

Dua jam jalan kami tiba di Aeng kenik, sebuah camp kecil yang bisa dipakai dua tenda, dan disekitar lokasi dipenuhi dengan tanaman rengas (wit jancukan.red) yang bisa menyengat apabila daunnya tersentuh atau tergores oleh bagian tubuh kita, bekasnya dikulit juga lumayan. Di aeng kenik lumayan seru, sebab untuk melanjutkan trek kita mesti menitih sebatang kaya yang membentang untuk menyebrangi sungai Aeng kenik yang airnya bisa dibilang agak “Pesing” untuk dijadikan konsumsi air minum, apabila kita jatuh yaaah…..bisa dibayangkan rumpun tanaman rengas siap menjadi landasannya. Hehehe…

Acap kali terdengar suara khas “Janccooook….” Dari mulut teman-teman yang sempat bersinggungan dengan wit rengas. Belum habis gaungnya, yang lain sudah mengumpat-umpat lagi. Inilah salah sensasinya mendaki gunung argopuro. Kadang saya rindu sekali dengan umpatan-umpatan lantang dari mulut teman-teman saat menulis catatan ini.

 

 

CISINYAL

Trek selepas aeng kenik yang lumayan berat; sebab kita harus melewati bukit-bukit yang jumlahnya entah berapa, trek yang sempi dan terjal dan ladang tanaman rengas dimana-mana, hingga tiba di Cisinyal . Di Cisinyal ada sebuah spot camp, bisa dipakai 2-3 tenda, terletak disebuah puncak bukit dengan pemandangan luas, kenapa disebut Cisinyal, karena disini adalah satu satunya tempat di belantara argopuro yang ter-acces sinyal ponsel all operator. Hehehehe…

Kami lalu lanjut jalan lagi, trek masih naik-turun bukit hingga tiba di kawasan Cemoro Limo, disini hujan turun, dan tandanya sudah tidak jauh lagi dengan target danau “Taman Hidup” karena tidak mau berlama-lama dalam hujan dan hari yang sudah mulai memasuki sore, kami lanjutkan perjalanan. Menuruni trek-trek berbatu yang lumayan menyita energy karena kami dibuat jatuh bangun terpeleset disini.

Saat memasuki kawasan hutan lumut yang terlihat begitu purba dengan pohon-pohon besarnya yang sekiranya tak habis dipeluk 3 orang kami rapatkan jarak. Lumayan ngeri juga sih ketika harus melintasi hutan lumut ini sendirian. Karena suasananya yang singup dan jarang bisa tertembus matahari. Untungnya treknya juga tidak ikutan ekstrim; sedari sini, kita tinggal menyusuri jalan setapak yang berputar-putar saja hingga ke Taman Hidup. Baru setelah menyebrangi sebuah sungai kecil dengan dasar aliran berwarna merah, itulah tandanya kita sudah masuk area Taman Hidup. Saya, Ambon, Rudolf dan Aji  sempatkan berhenti disini, melepas raincoat dan membersihkan diri barang sejenak, kalau saja kita mau ikuti aliran sungai ini, kita akan keluar di Air Terjun Bremi. Sedangkan kalau kita ikuti trek, maka kita akan tiba di camp “Taman Hidup” yang ada disisi danau.

Selepas bersih-bersih dan merokok untuk sebatang, kita lanjut jalan. Banyak sekali percabagan disini, dan kita selalu memilih cabang yang ke kiri, sebab percabangan ke kanan akan membawa kita ke Puncak bukit Triangulasi, yang akan membawa kita turun ke Bremi.

 

“TAMAN HIDUP”

Teman-teman sudah tampak didepan; ada yang memasak mie, ada yang duduk di batang pohon roboh, yang lainnya juga sedang asyik ber-foto di sisi Danau. Inilah Camp Taman Hidup, sebuah tanah sejengkal yang ada disisi danau, ditempat inilah biasanya para pendaki membuka tenda. Kita tidak bisa berkemah disisi danau persis, sebab, kondisi taman hidup yang sebenarnya lebih mirip rawa daripada danau membuat daratan disekitarnya tergenang air sebatas mata kaki. aku, ambon, Rudolf, dan Aji lah yang datang belakangan.

Belom sempat saya lepas keril, alex bilang ke saya kalau sebagian rombongan mau turun langsung ke Bremi sore ini…. Wah, waaah…. Disinilah saya sempat kecewa, “kita naiknya bareng-bareng, eh..kok turunnya pake acara terbagi begini” ujarku. Yaaah, tapi mau dibagaimanakan lagi, rekan-rekan yang turun juga ditunggu kerjaan esok harinya jadi tidak bisa turut menemani. Yah sudahlah….

Lalu tim didata lagi, siapa yang mau turun dan siapa yang menghabiskan semalam lagi disini.  Semuanya memang memilih turun sore itu, sudah jengah mungkin dengan 4 hari perjalanan lintas hutan, yang tersisa Cuma aku, Rudolf, ambon, aji’ Kevin dan Duwi yang bermalam di Taman Hidup.

Ok! Selepas yang lainnya turun, kami dirikan tenda, bivak untuk dapur serta jemuran sederhana untuk pakaian dan raincoat kita yang basah. Malam kami biarkan berlanjut begitu saja, dan kami berpesta ala kadarnya dengan sisa logistic yang masih lumayan banyak. Malas membawanya kembali pulang, jadi kita masak semuanya, sambil bercerita tentang evaluasi perjalanan. Memang sebagian dari kami yang tinggal disini sedikit mengesalkan teman-teman yang turun duluan. Masa, berangkatnya barengan tapi turunnya kita ditinggal. Yaaah…yaaah…yaaah!! Kita ambil sebagai pelajaran sajalah, daripada disesakkan dalam dada.

***

29 Desember 2011

Pukul 04.44;
sebuah pagi yang tak terlupakan, kami semua sudah terjaga untuk menyaksikan moment kabut yang menguap dari danau. Taman hidup bukan terlihat seperti danau, melainkan seperti hamparan kaca, bening dan tak ber’arus. Angin pun berhenti barang sesaat untuk mengijinkan kami menyaksikan keindahan ini . bukit-bukit pegunungan hyang timur ter-refleksi sempurna di permukaan air, berpadu dengan warna magenta dan biru khas pagi hari. Satu yang kurang lengkap, tak ada rokok!! Kami sudah kehabisan rokok sejak kemarin malam.

Tak lama kemudian, bias-bias sinar mulai berebut-menerobos menyinari sisi sisi yang masih gelap, tak luput juga dermaga tua di sisi telaga. Beningnya air telaga menampakkan kehidupan-kehidupan didasarnya.

Saat kembali ke camp, ambon sudah siap dengan menu sarapan paginya, berikut pancake untuk bekal turun kita nanti diperjalanan. Kami makan menu istimewa, Nasi punel, Sossis, cream soup, pasta, dan telur dadar. Hahahaha….

Lalu kami packing, dan turun ke Bremi.

Tanah masih merah dan terlihat basah, memang licin untuk dipijak. Vegetasi trek masih seputar hutan basah, kami sempat dibikin bergantian jatuh saat turun, bisa dibayangkan bagaimana perjalanan teman-teman kemarin dalam gelap. Dua jam kami akhirnya kiba di perkebunan karet, batas desa Bremi dengan hutan…..

Advertisements

4 responses to “Lintas Hyang Timur, africanya jawa!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s