Catatan Pendakian Slamet “Empat hari Bergumul dalam rapatnya hutan basah”


Gunung yang membentang diantara kabupaten Purwokerto, Tegal, Purbalingga dan Banyumas ini sempat bikin gemas para penggiat alam yang ingin menjajakkan tapak di punggung-punggungnya, sebab terhitung sejak Oktober 2010, hingga kini masih saja ditutup untuk aktivitas pendakian. Santer terdengar bahwa aktivitas vulkanis di Puncaknya  yang menjadi latar belakang, adapula bisikan angin yang bilang bahwa, pengembalian ekosistem dan vegetasi adalah alas an yang  kedua. “Jalur Bambangan (Purbalingga) dan Baturaden (Purwokerto) ditutup hingga April 2011”, sebuah petikan berita yang saya sunting dari salah satu situs forum Pecinta Alam.

 

03 Februari 2011

“Gong xi Fat Coi”……kami rayakan Imlek kali ini dengan trip ke Slamet, atas undangan salah seorang kawan di Purwokerto, Kamis pagi kami berangkat dengan kereta ekonomi Logawa ke Purwokerto. Pesertanya, Aku, Stepi, Aqil, Ambon, dan Flo. Sekitar 11 jam perjalanan dengan kereta, kami tiba di stasiun Purwokerto. Aji kemudian menjemput; dan itu kami bermalam dirumahnya.

Pendakian akan kami mulai besok, dan segala sesuatunya dirapatkan kembali malam itu, mulai dari skema perjalanan sampai management logistiknya. Aji sebenarnya sudah meng-ultimatum dari jauh jauh hari kalau di pendakian kali ini kita akan main “kucing-kucingan” dengan polisi Hutan di Baturaden,… ”kalau tidak bertemu yaaah bisa terus, tapi kalau sampai ketahuan di perjalanan, kita bisa-bisa disuruh balik” itulah taruhannya. Selain itu, Sang Tuan Rumah kita di Purwokerto juga belum pernah naik ke Slamet dari jalur ini (Baturraden.red) sebelumnya. Jadi, yah….sama sama mencoba lah.

 

04 Februari 2011

Pagi di rumah Aji’ begitu hangat, sinar matahari pagi langsung mebangunkan kami yang masih saja tertidur dengan pulasnya hingga pukul 07.30. Tapi tidak dengan pemandangan diluar jendela, sisi Baturraden tampak tertutup kabut, dan Slamet hanya tampak kaki-kainya saja. Setelah management logistic, air dan checklist perlengkapan Ok! Pukul 13.30, kami berangkat ke Baturraden dengan carteran angkot, dan kira kira 45 menit perjalanan kita diturunkan di Desa Kalipagu, Baturraden.

Perijinan dilakukan dirumah seorang Ibu Tua yang saya juga belom sempat saya menyakan siapa nama dan teleponnya, dirumah Ibu itu terpajang beberapa foto-foto pendakian Slamet dari para pendaki sebelumnya, beberapa motor yang diparkir, juga seperangka alat komunikasi radio. Disini kami Cuma mengisikan nama dan Kontak masing-masing di buku tamu. Lalu, saya tuliskan hari balik tanggal 07 Februari 2011 (Semoga lancer dan tidak ada apa-apa…..do’a saya saat itu), sebab sang Ibu Tua bolak-balik mengejah tentang cuaca yang buruk belakangan.

Setelah check ulang air, kami berpamitan pada Ibu Tua di Perijinan, lalu berjalan menapaki makadam kampong. Trek awal jalur baturaden adalah perkebunan dan warga, Pemandangan indah disini, kami melewati pipa air raksasa, waduk buatan, jembatan air, menyusuri sisi parit hingga tiba di air terjuan air panas “Pancuran 7”. Karena kami naik dari bawah, otomatis kami bebas tiket masuk ke resort wisata ini. Lalu perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan raya loka-wisata Baturraden, belok kiri lalu nanjak hingga bertemu Pal. Disisi kiri jalan yang bertuliskan 12 A. Setelah berjalan lumayan jauh, aji mengatakan, bahwa pendakian yang sebenarnya baru dimulai dari sini. “Pal 12A itulah start awal pendakian Slamet Via Baturraden”, kata aji.

Target hari ini adalah Pos I; kita akan camp disana, jarak Pos awal dengan Pos I kurang lebih adalah 30 menit. Karena sore itu hujan, maka sepenjang trek banyak sekali kubangan kubangan air, Yang menjadi panduan bagi kami adalah “pita biru” peninggalan dari pendaki sebelum kami. Setelah memotong hutan karet dengan trek datar yang becek, kami Tiba di Pos I . sebuah campground kecil dan rimbun yang tak ada plang atau papan pengenalnya sama sekali, Cuma ada sebuah sungai kecil dibawah, dan kami bermalam disini.

 

05 Februari 2010

Kami mulai perjalanan hari itu pada pukul 09.00; trek langsung berubah menanjak selepas Pos I. Karena kami sama-sama beu pertama kesini, patokan estimasi jarak dan waktu dari Pos ke Pos berikutnya hanyalah dari Peta Topografi buatan Bumiayu dengan skala 1:50.000. Dua jam jalan dari Pos I, kami tiba di Pos II, dan tetap tidak ada tanda pengenal atau patok Pos sama sekali. Tetapi, dari perhitungan navigasi di Peta, memang inilah Pos II.

Tempatnya lebih terbuka dan lebih luas daripada Pos I, ada sumber air juga di Pos ini, tepatnya sekitar berjalan 50 meter kedepan, lalu ikuti saja jalanan turun ke kanan-bawah, ada sungai kecil disana. Di Pos II, kami Cuma istirahat sejenak sambil ngopi, lalu lanjut jalan.

Tidak ada 1 jam kami sampai di sebuah tugu triangulasi yang ada di puncak sebuah punggungan, “Igir Klanglar” itulah yang tertulis di Peta, alia POS 2 extra. Ada bekas camp dan bivak disini, kami lalu lanjut jalan ke Pos III yang jaraknya juga sekitar satu jam dari sini.\Trek gunung Slamet jalur Baturraden masih begitu rapat, jalan setapak yang ada lebarnya benar-benar masih setapak. Begitu hijau, batangbatang pohon pun tak ada yang tak ditutupi oleh lumut jenggot, Untungnya trek Cuma satu, tak ada percabangan kemana-mana kecuali kearah mata air. Jadi, tidak begitu menyulitkan kami yang sama-sama baru pertama kesini. Tiba di Pos III yang tetap tidak ada planngnya, kami tinggalkan 1 botol air untuk persediaan balik, lalu kami jalan lagi.

Trek menuju Pos berikutnya begitu terjal, jalan setapak juga makin sempit, belum lagi angin yang langsung menghantam ketika kita tiba di sisi punggungan makin membuat berat perjalanan menuju ke Pos IV, dari perhitungan peta didapatkan jarak antara Pos III dan Pos IV apabila ditarik garis lurus adalah sekitar 2 km. banyak camp-camp kecil diperjalanan yang sering kami gunakan untuk beristirahat sejenak. Jangan harap untuk dapatkan view-view landscape di Jalur Baturraden, sebab disepanjanga trek kita akan terus bergumul dengan lebatnya vegetasi hutan basah. Tiap beberapa ratus meter, tak lupa juga kami inspeksi kaki masing-masing dari lintah yang menempel.

Pukul 16.00; kami tiba disebuah camp terbuka yang kira-kira kami sebuat ini Pos IV, ada percabangan disini, yang lurus ke sumber air sedangkan kalau kekanan adalah trek ke Puncak. Setelah orientasi medan sejenak, Stepi menemukan lokasi camp yang lumayan rimbun guna menghindari angin yang sudah mulai kencang disini, tepatnya agak turun kearah sumber air. Dan kami dirikan tenda disini.

Sumber airnya tinggal berjalan beberapa ratus meter ke barat, ikuti saja jalan setapak yang menurun dan kita akan sampai pada sebuah ceruk sedalam 2 meter yang dialiri aliran sungai kecil. Kondisinya masih begitu alami disini, tidak seperti sumber mata air di gunung-gunung lain yang banyak botol minuman berserakan atau alat bantu pengambilan air. Untuk meraih air di cerukan, maka kita harus turun di ceruka tersebut terlebih dahulu. Pada jam-jam tertentu ditengarai, hewan-hewan liar akan datang kesini untuk minum air.

Angin tak henti-hentinya berhembus kencang sepanjang malam, kami petakan air dan logistic untuk persiapan ke Puncak besok pagi, dan sesuai ancang-ancang kami akan start summit attack pada pukul 05.00, dan dari perhitungan navigasi didapatkan estimasi waktu sekitar 5-6 jam untuk ke Puncak Baturaden (3428 m dpl).

 

06 Februari 2011

Summit Attack’

Pukul 05.00 saat kami buka pintu tenda, dan angin masih tetap berhembus dingin pagi itu, kondisinya masih tak berbeda dengan saat malam hari. Kami tekadkan keluar dan memulai perjalanan ke Puncak Slamet. Semua tim sudah terbalut oleh jaket dan windstopper masing-masing, kecuali aqil yang masih tetap sakti memulai perjalanan di pagi yang dingin itu hanya dengan ber-kemeja G-FORST (Generasi Fotografi Stikom) yaah, baju kebesaran yang selau kami pakai dalam perjalanan ke Puncak kami, semoga hari ini juga masih bisa dipakai ber-foto bareng di Puncak Slamet.

Makin keatas, trek makin sempit dan rimbun. Di beberapa titik, pohon-pohon yang tumbang serta rumpun vegetasi yang rungsep memaksa kami untuk merayap ala militer. Dua jam jalan dari camp, kami tiba di camp berikutnya yang kami kira adalah pertigaan kaliwadas, ternyata bukan. View sudah mulai terbuka disini, begitu juga dengan angin, makin keatas makin kencang berhembus. Bisa dibilang kalu ini adalah badai, dan bukan waktu yang tepat untuk meneruskan perjalanan ke Puncak. Karena sangat berbahaya. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah suasana putih berkabut, malah sekarang ditambah oleh gerimis rintik-rintik.

Berhenti dan beristirahat bukanlah solusi, sebab semakin kita diam, semakin kita akan merasa kedinginan, kami teruskan berjalan meskipun perlahan. Dan yang tersirat dari sorot mata masing masing adalah “Puncak Slamet” yah, itulah obsesi yang perlahan menyuntikkan sugesti pada kami untuk tetap bertahan dan meneruskan perjalanan keatas. Tapi, tidak dengan angin…..yang seolah tak mau mengalah sama sekali untuk menunjukkan kedigdayaannya di medan-medan atas Slamet.

Keputusan berat harus diambil dari sini…sebab saya lihat flo, satu-satunya cewek dalam pendakian ini  mulai nampak menggigil kedinginan, berulang kali saya perhatikan dan sangat berbahaya sekali baginya untuk meneruskan perjalanan dengan kondisi seperti itu. Namun, tidak mungkin juga menginstruksikan pada yang lainnya untuk balik disaat semangat puncak sedang menggelayuti pundak masing-masing, namun lebih tidak mungkin lagi untuk menyuruh flo untuk balik sendirian ke camp. Maka, aku putuskan untuk turun dari situ, menemani flo balik ke camp. Biarkan yang lain, yang meneruskan semangat kita ke Puncak Slamet, dan satu harapan saya, semoga tidak terjadi apa-apa.

Setelah saya titipkan tas pada Aqil, aku dan flo turun, tetap melewati trek yang tadi. Yang ternyata justru malah licin ketika turunnya. Sekitar 1 jam, kami tiba di camp. Tak ada yang berubah dengan kondisi camp, tidak berubah sama sekali seperti saat kita tinggalkan, karena memang tak ada rombongan lain yang mendaki Slamet pada tanggal itu. Aku pandang lkearah Puncak, ternyata juga masih tetap sama, tetap putih-pekat dalam selimut kabut.

Hampir setengah hari aku dan flo menunggu di tenda, berharap minimal kabar baik menyertai turunnya teman-teman. Hingga Menjelang sore, suara sapaan terdengar dari luar tenda, dan itulah teman-teman. Akhirnya mereka datang juga, dan yang lebih membuat senang lagi adalah ternyata mereka berhasil menapakkan kaki ke Puncak Slamet (3428 mdpl) meskipun dalam cuaca badai.

Aku dengarkan dengan seksama penuturan dari mereka masing-masing, untuk menangkap bagaimana sekiranya cuca di Puncak sana. Supaya bisa ikut merasakan sedikit-sedikit suasana kala itu, salut untuk teman-temanku yang hebat. “Dibatas vegetasi, angine kuenceng banget….awakdewe sampe mlaku iku nganan-nganan dewe rasane” kata aqil. “Wess…..jarak 5 meter, pendangan wes gak ketok opo-opo” kata Stepi, “nang Puncak Dilut ae….terus langsung mudun” tambahnya.

“Awakmu mudhun karo flo kui, ra ono setengah jam wes pertigaan kaliwadas ndik…..bar iku jalanan landai” kata aji. “Waaaah……waaah,wah,angin nguaplok-ngaplok nang Puncak, tanganku sampe abo….” Kali ini kata Ambon. “sorry gak sempet moto-motho sing apik”

Karena kelelahan, malam itu, kami putuskan camp disitu lagi….besoknya baru turun.

 

07 Februari 2011

Setelah beres-beres dan packing, kami turun langsung…. Kira-kira butuh 4 jam untuk sampai ke titik jalan aspal…. “Sekian!”

Advertisements

6 responses to “Catatan Pendakian Slamet “Empat hari Bergumul dalam rapatnya hutan basah”

      • tengkyu gan… catatan ente jdi referensi ane kemarin daki via baturraden tgl 6-8 Agustus 2011. turunnya via Guci lebih mantab gan,muterin kawah dulu.. biasanya d Plawangan ada air d batu2an. ternyata kemarin kemarau jadi g ada air… summit dr Plawangan lebih enak gan.. g nyampe 2 jam.

      • Waaaah…… seneng rasanya kalo denger apa yang kita tulis bisa jadi refrensi buat yang lain.
        Sekrang gantian atuuh, Posting donk catpernya dari Baturaden turun Gucci. Sapa tau bisa saya jadiin refrensi saat ngulang ke Slamet…. ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s