Arjuno sisi Purwosari, sebenarnya bukan jalur pendakian tapi jalur spiritual!!


Ini adalah perjalanan bersama kami yang perdana. Buah dari rutinitas Kopi darat OANC 031 yang hampir rutin kami lakukan tiap minggu malam di sebuah warung kopi di Emperan kota Surabaya, terpetik nama Puncak Ogal-Agil Arjuno sebagai tujuan awal. Semoga masih bisa terpetik nama-nama lain untuk dijelajahi dari pertemuan pertemuan berikutnya,  sehingga permulaan ini tidak menjadi akhir.”   (Purwosari, 5-8 November 2010)

Day 1

5 November 2010

Hujan deras di kawasan Surabaya dan Sekitarnya sore itu, mungkin yang membuat jam kumpul di Terminal Bungurasih yang seharusnya jam 2 siang jadi molor. Dari Laporan Stepi, Saat dia kesana jam 2 belom terlihat ada yang berkumpul. Baru jam 3 lebih beberapa orang sudah kumpul, ada Faliz, Kevin, Daniel, Yudi dan Frederick. Karena melihat waktu yang makin sore, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat duluan dengan buss ke Purwosari, kemudian menyusul rombongan Mas Agus, Adimamat, Hendro dan Saipul. Sementara Aku, Rudolv, Aqil dan Ndox berangkat dengan motor. Supaya nanti di Purwosari ada yang handle untuk booking carteran mobil ke Basecamp. Hujan terus menjadi teman selama diperjalanan,  bisa dibilang lebat juga hujan sore itu. Mau tidak mau, kami yang naik motor harus tetap terus, supaya setidaknya kami datang lebih dahulu dari rombongan buss.

Rombongan motor tiba jam 4 di Purwosari, tapi ndox dan Aqil tiba lebih dulu, dan ternyata disana sudah ada Bang Toyib. Baru sekitar Maghrib, rombongan buss mulai datang, tapi hujan tak juga reda. Faliz dapat kabar, ternyata masih ada yang menyusul lagi pake motor, mereka adalah Nessa, Clara , Alex dan Andito. Karena posisinya masih di Sidoarjo, Kita suruh mereka langsung ke Basecamp aja nanti.

Angkutan carteran ke Basecamp sudah siap, kebetulan ditawari orang yang rumahnya kita pakai berteduh dan kumpul. Baru setelah rombongan Mas Agus tiba, rombongan diberangkatkan, Keril dan yang punya saling berjejalan didalam. Entah, saya tidak tega membayangkan betapa sumpeknya situasi didalam mobil Colt itu. Beruntung Yudi dan Bang Toyib yang sudah duluan duduk didepan.

Basecamp

Si pemilik mobil bilang kalau jalanan dari pegadaian ke Purwosari sedang rusak, jadi kita memutar dulu lewat jalan lain. Menyusuri jalanan naik turun yang berlubang menuju ke Desa terakhir, Desa Tambak Watu. Kurang lebih 45 menit perjalanan kami yang naik motor tiba duluan di Basecamp. Sebenarnya, tempat kumpul kami malam itu, kurang tepat kalau disebut sebagai Basecamp. Sebab Cuma rumah warga yang ada warungnya, sementara untuk perijinannnya dilakukan di sebuah Pos Ronda yang ada didepan. Untuk perijinan per orang dikenakan Rp.2500,- Lumayan sportif juga sih pengoorganisasian di kampong ini, ada kupon retribusi dan juga buku tamu. Bisa dipastikan, setidaknya uang tidak masuk ke kantong-kantong yang tak jelas.

Tapi, beberapa nama yang telah mendaftar diatas kami menuliskan tujuan “ZIARAH” di buku tamu. Yah, ZIARAH!! Sebab, Arjuno sisi Purwosari ini, lebih dikenalnya sebagai jalur spiritual ketimbang jalur pendakian. Dari kunjungan yang sempat saya lakukan beberap waktu lalu, memang hampir disetiap Pos ada sebuah gubung dan tempat pemujaan juga, disitu kadang berdiam pula orang-orang yang menyepi demi tujuan tertentu. Tapi, sambutan mereka terhadap para pendaki yang lewat sungguh baik. Dan mereka tak enggan berbagi gubuk dengan kita kita yang baru datang malahan.

Setelah semua anggota berkumpul, dan siap dengan bawaan masing-masing, kami mulai perjalanan malam itu. Start pukul 20.10, kami tinggalkan basecamp, rombongan Nessa, Clara, dan Alex kami biarkan menysusul saja. Dengan pertimbangan Nessa juga sebelumnya sudah pernah kesini bersama saya beberapa waktu lalu. Ada yang memakai headlamp ada yang pake senter, ada juga yang pake lampu emergency. Diputuskan, malam itu kita ngecamp di “Guo Oentoboego” saja. Karena hujan dan sudah terlalu malam,. Trek awal yang kami lewati adalah Perkebunan Kakao, jalanan makadam yang sudah lebar dan landai cukup mudah untuk dilalui, didepan ada percabangan, kita terus saja.  Tak sampai 1 jam kita tiba di Pos 1 “Guo Ontoboego”

Pos 1 “Guo Ontoboego”

Saat kami tiba, mas-mas dari dalam gubuk menghampiri, dan menawarkan  untuk berbagi tempat didalam gubuk, tapi karena kami sudah bawa tenda, bahkan lebih… kami tolak secara halus. Sebagian sudah sibuk pasang tenda dan sebagian lagi masak. Tak lama hujan-pun reda. Pertimbangan saya, sangat riskan sekali meneruskan untuk trekking malam disini, sebab banyak sekali persimpangan-persimpangan dan kondisi kita yang sudah kehujanan dan lelah diperjalanan tadi. Eh, tak lama Nessa, Clara, dan Alex datang. Alex memperkenalkan wajah baru yang dia bawah…. Memang sih tidak pernah kami temui sebelumnya di acara kopi darat. Total ada 7 tenda malam itu, memenuhi pelataran Guo Ontoboego. Sebenarnya kebanyakan sih untuk jumlah 19 orang, gak papa lah! Yang satu, untuk tenda dapur. Dalam hal tenda, saya salut dengan Faliz, ckckckck…… tas kerilnya rela diisi 2 tenda saat itu.

Day 2    6 November 2010

Ternyata sudah pagi, ketika Ndox dan rudolv membangunkan dari luar tenda. Jam menunjukkan pukul 5.30. Semalam hangat, nyaman sekali tidur saya di tenda ini. Pemandangan guo Ontoboego baru terlihat jelas, beberapa teman yang baru pertama kesini sudah enggan bertanya Tanya lagi temapat apa ini. Setelah sarapan, lalu kami packing dan segera jalan. Sebab, kami tetap harus mengejar target untuk sampai ke Jawa Dipa hari ini.

Jam 7.30 kami jalan. Selepas guo Ontoboego, ada dua persimpangan yang sama jelasnya, faliz yang ada didepan sempat bertanya pada saya, pilih yang mana ini. Dan saya bilang “kanan”. Tak ada feeling apa-apa, dan kita lalui trek itu.  Sketsa Mahameru di seberang selatan sana menghibur kami dalam kabut pagi, trek memasuki tegalan dan jalannya berliku-liku. Tapi asyik juga karena treknya yang landai. Tegalan lalu berganti dengan hutan dan trek mulai kurang bersahabat nanjaknya. Huuft……ada persimpangan lagi didepan, kami pastikan semuanya kumpul dulu, lalu kita ambil kiri. Tak lama, ada percabangan lagi di tempat terbuka, dan kita ambil yang terus. Rudol yang kini ada didepan bolak-balik menoleh kebelakang dan memberi isyarat padaku “Benarkah ini jalannya??” dan aku suruh jalan terus aja dulu, Padahal seesungguhnya aku juga mulai ragu. Sebab, kali ini semak-semak tumbuh lebat sekali, masa baru satu bulan lebih kami kesini sudah selebat ini. Saya makin yakin kalau ini bukan trek yang kita lalaui dulu ketika kami melipir punggungan bukit dengan rumpun semak yang lebat. Dan kali ini rudolv memberanikan diri menyatakan secara lisan keragu-raguannya. Dan sorot mata teman-teman langsung berubah ketika saya pastikan ini bukan trek yang dulu kita lalui. Tapi kami teruskan saja dulu, hingga ketemu tempat agak lebar untuk berkumpul, berpikir dan mengambil keputusan.

Benar saja, tibalah kami di persimpangan, treknya cukup lebar dan bahkan ada anak tangga dari kayu yang disusun pada jalur. Awalnya, saya kira ini adalah trek pendakian yang sebenarnya. Tapi faliz berkata tidak. Sebab, menurut dia dulu, tak pernah melaui trek macam ini. Kami pilih istirahat disini dulu. Biar semuanya kumpul, dan kita ambil keputusan. Anak tengga menyimpang ke kiri dank ke kanan, dan tak jelas juga dimana ujungnya.  Lalu aku dan rudolv survey trek, sementara stevi menyusuri trek yang tadi kami lalui, sebab ada orang sedang cari rumput disisi jalan katanya. Siapa tau bisa ditanayai. Persimpangan yang dikanan kami pilih pertama untuk disurvey, berharap ujung punggungan diatas adalah trek pendakian. Ternyata anak tangga menanjak dan berputar, mengantarkan kami dipelataran sebuah gubuk kosong. Bukan….ini bukan sebuah gubug tegasku, ini padepokan. Sama seperti di Pos Pos lainnya, hanya ada satu gubug untuk tempat pemujaan dan sebuah arca. Semakin bertanya-tanya saja aku…..tempat apa ini. Kenapa dulu tidak pernah lewat sini. Dan trek-pun terputus dipelataran gubuk. Kami cari-cari, memang tak ada lagi terusan dari trek. Lalu, kami putuskan turun lagi, ditikungan sebenarnya ada sebuah trek lagi, kecil dan sudah hampir tertutup. Stevi meneriaki dari bawah, katanya…”Suruh ambil kanan terus!!”   “Hmmm…..tapi kanan yang mana??”,sahutku. Dia menggeleng, sebab hanya itu yang dia dengar dari seruan bapak tadi, sangat mencurigakan untuk memilih trek yang kecil ini, didepan saja sudah disilang oleh palang dari ranting pohon. Kami turun saja, dan semua anggota sudah berkumpul. Mereka terkejut begitu tahu kalau kita ini sedang tersesat. Clara sampai sekali lagi menyanyakan “Beneran ini kita tersesat??”…..

Tetap Tenang…..itu yang coba saya lakukan!! Meskipun tau kita sudah tersesat ini, malah kita sempatkan bercanda-bercanda dulu. Yaaah, kemungkinan terburuk paling yaah harus balik menyusuri trek tadi, tapi kami percaya, ini tak mungkin terpentang jauh-jauh. Stevi yang tadi balik lagi untuk coba bertanya lebih jelas ke bapak yang tadi baru saja kembali, dan dia bilang dia tidak menemukan lagi bapak yang tadi. Loh??!!…..

Kini yang terisisa Cuma persimpangan naik yang ke arah kiri, aku dan rudolv survey jalur lagi.Yaaah….!! ternyata memang benar, kami menemukan kembali trek pendakian. Ternyata kami tadi memotong tidak melewati jalur memutar seperti biasanya, dan Padepokan di Ujung jalan yang tadi kami lihat adalah Padepokan Eyang Madrem, jalan memotong yang kami ambil bertemu di anak tangga menuju ke Padepokan Eyang Madrem. Tinggal lurus saja sudah tiba di Tampuono

Pos 2 Tampuono

Sebuah Gapuro bertuliskan “TAMPUONO” ada didepan, ada juga Plang bertuliskan “Kawasan Situs Purbakala” saya jadikan tempat menjemur kaos saya yang basah oleh keringat. Karena mendekati Suroan, ada warung yang buka. Kami beristirahat disini sambil membicarakan yang kita lalui barusan. Tetap! Saya pesan Kopi Pahit, yang lain malah ada yang memesan Indomie. Kalau dihitung hitung, lewat jalur yang tadi ternyata lebih irit 1 jam dan treknya banyak turunnya daripada jalur pendakian umum yang kelewat berputar-putar dan nanjak.

Yang lainnya menyempatkan diri melihat-lihat kompleks Tampuono yang terdiri dari banyak padepokan-padepokan, dan mengunjungi sendang Dewi Kunti pula. Bisa dibayangkan kalau saja semalamanan kita nekat jalan kesini, ckckckck…..entahlah!! gimana jadinya.

Pukul 10.30 kami jalan lagi, ikuti saja petunjuk yang terpaku di pohon, treknya ada dibelakang Gubuk “Eyang Sekutrem”. Tak lama kita temukan persimpangan ke Air Terjun Gumandar, untuk ke Puncak, terus saja. Maka tak lama kita sampai 10 menit kita tiba di Pos 3 “Eyang Sakri”

Pos 3 Eyang Sakri

Cuma ada Pondokan kecil berwarna Hijau dan sebuah Papan Informasi beruliskan “POS 3 EYANG SAKRI” Tak berlama-lama, kami lanjut jalan lagi. Dari sini mulai terasa beratnya, trek memaksa kita memakai gigi satu terus karena menanjak abis.

Selepas hutan, kita melalui pada terbuka, dengan trek yang berbatu-batu. Sayang sekali saat itu cuaca sedang berkabut, sebetulnya pemandangan indah sekali dari sini. Interval antar tim kami rapatkan ketika kami kembali memasuki hutan dank abut begitu pekat mengahalangi jarak pandang. Dan baru kami sadari ternyata kita ada didekat sebuah bagunan tua yang reot dan gelap. Ada gapura dan pagar dari kayu, di gapuronya, tertulis aksara-aksara Jawa yang saya sendiri tak jelas apa bacanya. Dan didalamnya ada bangunan yang entah ada apa didalam sana, juga terbuat dari kayu, sederhana sekali, Cuma disusun begitu saja. Cukup gelap untuk kami terawang, apalagi dalam suasana kabut begini. Sempat sih saya merasa ngeri sekilas….meskipun sebelumnya sudah pernah melewatinya, tapi tetap saja kesan angker dan suwuk pada bangunan disebelah kanan jalan ini tak bisa dikesampingkan juga. Dari Prasasti tertulis bagunan ini didirikan tahun 1999. Masih terhitung baru, dibandingkan dengan yang ada di Tampuono atau Guo Ontoboego, tetapi karena jarang dipakai bangunan ini jadi tak terurus dan kesannya seram. Saya Tawarkan, mungkin saja ada yang mau menengok ke dalam, semuanya serentak menggeleng kepala sambil tersenyum kecut.

Maju tak jauh dari padepokan reot tadi, ada persimpangan lagi, yang satu lurus. Yang satu berbelok ke kanan. Untuk menuju ke Eyang Semar, kita ambil yang lurus, kalo yang ke kanan….enath kemana. Kami istirahat dulu disini, makan snack dari tas alex dan mengiris pudding yang semalam kita buat. Sebab setelah ini, trek tinggal menanjak berputar-putar hingga ke Eyang Semar.

Pos 4 Eyang Semar

Taman Bunga dan Pemandangan lepas menyambut kami ketika tiba di Eyang Semar, kabut sudah mulai menipis. Dan, tipis-tipis sketsa keindahan pemandangan mulai digambarkan cuaca siang itu. Kira-kira butuh 2 jam dari Pos Eyang Sakri hingga sampai sini, dan perjalanan kami itu terbilang cukup santai. Ada sekitar 4 Pondokan disini, dan Cuma tinggal 2 yang tetap terurus, sisanya, sudah mulai reot dimakan cuaca. Ada sumber air juga disini, dibalik Pndok bamboo, sudah dibuatkan bak, dan kran. Inilah istimewanya jalur Purwosari Arjuno, hampir di setiap pos selalu ada sumber air, bahkan seperti di OntoBoego, Tampuono, Eyang Semar dan Makutharama sudah dibangun sarana M.C.K juga. Yang membangun yah sudah pasti orang-orang yang sering menggunakan tempat ini untuk ritual sembahyang dan Menyepi.

Pos ini disebut Eyang Semar karena di dekat area pemujaannya, ada Arca Semar yang dibalut sarung Hitam-Putih menghadap langsung ke Timur yang lepas. Ada bendera merapa putih juga disana, dikaitkan pada tiang yang tinggi. Saat itu di Pondok Bambu sedang ada orang, mungkin 2 saat itu. Yang satu lalu keluar, dan mnyambut kami hangat. Wajah yang satu ini masih aku kenali, Bapak-bapak separuh baya dengan rambut belah tengah lurus agak gondrong dan berkumis tidak terawatt. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak lusuh saat menebar senyum ke kami. Masih orang yang sama seperti yang aku temui saat pendakian lalu. Ternyata sudah satu bulan lebih sang Bapak masih disini.

Kami tidak lama-lama disini, karena target makan siang kami adalah di Makutharama, dan perut kami sudah pada keroncongan ini. Kini gantian Nessa yang didepan, setelah pamitan kami lanjut ke Makhutarama.

Pos 5 Makhutarama

Ke Makhutarama tidak jauh sebenarnya, bahkan dari Eyang Semar, kita sudah bisa melihat bendera merah Putih berkibar diatas, dan itulah Makhutarama. Tapi karena treknya yang terjal, perjalanan terasa begitu berat. Selepas melipir punggungan bukit savannah, kita akan langsung dihadapkan pada jalur tegak yang bisa dibilang hampir 80 derajatan-lah. Mana batu yang mesti dipijak tinggi-tinggi lagi. Begitu seterusnya hingga tiba di pelataran Candi.

Kalau saya lihat-lihat, posisi Makhutarama seperti Punden berundak, sebuah temapat pemujaan purbakala dari nenek moyang kita yang biasa kita baca di buku-buku sejarah kita pas SMA. Dengan sebuah candi yang masih tersisa di puncak bukitnya. Dan Sebuah gubuk jerami yang cukup luas di sisi kanannya. Sama seperti di Pos-pos sebelumnya, gubuk jerami ini juga buatan para peziarah yang sering datang kesini. Didalam gubuk, sudah ada tungku dan perapian, tempat tidur, peralatan makan seperti piring, gelas, dan mangkuk. Meskipun sederhana dan beralas jerami, tempat inilah favorit saya. Karena paling nyamana dan paling hangat kalu sudah bermalam digubuknya. Untuk sumber air, kita tinggal berjalan saja kea rah utara, maka sudah terlihat kran air. Dan untuk MCK nya sudah dibuatkan bangunan dibalik semak-semak. Kurang apa coba!!!

Saya langsung memasak anget-anget dulu…untuk menghibur kontraksi otot perut selama diperjalanan nanjak tadi dan menghangatkan tubuh, sementara yang lainnya menjelajahi “Sendang Widodaren” yang ada di ujung jalanan setapak di belakang gubuk. Kami target istirahat lama disini, samabil makan siang. Dan tak lama gerimis plus kabut mulai mengguyur, lalu yang lainnya balik ke gubuk dan sibuk dengan dapurnya masing masing, memasak aneka menu yang bisa menghibur perut masing-masing. Bihun, cream soup dan kornet jadi menu group saya siang itu, setelah semua matang, lalu menu disajikan berjejer seperti di prasmanan dan kita santap bareng-bareng.

Gerimis lalu berganti dengan hujan deras setelah itu. Dan terpaksa kita tunggu dulu, karena tak mungkin meneruskan perjalanan dalam keadaaan hujan deras begini. Pandangan anak-anak tertuju pada sosok yang duduk bersila pada sebuah batu diluar sana. Seorang pria tua berbaju hitam dengan udhenk khas dikepala terlihat sedang duduk bersemedi mengahadap ke timur. Dan, seakan derasnya hujan kala itu tak menggannggu sedikitpun kekhusyukkannya untuk terus bersemedi.

Sampai dengan pukul 3 sore, ujan belum juga terlihat berhenti. Faliz sempat berbisik untuk bermalam disini saja,enaaak…… Pertimbangannya, kalau kita bermalam disini. Besok ke Puncaknya kejauhan, butuh sekitar 6-7 jam ke Puncak, belom perjalanan baliknya, tenaga pasti bakal lebih terkuras. Kalau Stevie sih memilih terus saja, nanggung kalau masih jam segini harus berhenti. Akhirnya, diambil keputusan, kalau memang sampai jam 5 sore hujan belum juga reda, kita alihkan camp disini. Tapi kalau sebelum jam 5 sudah terang, kita lanjut jalan ke Jawa Dipa.

Saya ingatkan lagi ke teman teman, kalau selepas Makhutarama, tak ada lagi air, maka kita harus mbontot air dari sini secukupnya. Sekitar 3 liter per orang sudah cukup untuk bekal hari ini sampai besok turun kembali kesini. Tak lama setelah itu, sekitar pukul 3 sore hujan reda, kami lalu mengisi air dan packing. Beberapa orang pendaki yang sekiranya sudah berumur terlihat turun, lalu mampir ke Gubuk. Mereka ternyata baru sembahyang dari Puncak. Kini giliran kita yang harus jalan. Tercatat jam 4.15 kita kumpul diluar, disisi barat Puncak Ogal-Agilnya sudah mulai tampak mengintip dibalik bukit-bukit. Cuaca berganti cerah sekarang, saat kami mulai melangkah menapaki-tangga tangga licin Sepilar.

Sepilar

Sepilar adalah  kompleks candi diatas Makhutarama, saat menuju sepilar, kita seolah manaiki altar saja dengan anak tangga dari batu dan arca-arca di sebelah kanan-kiri jalan. Beberapa arca masih terbungkus kain putih, mungkin biasa dipakai untuk sesembahan. Makin keatas, anak tangga makin tegak saja. Persis diatas bukit ada sebuah situs Candi Purbakala berupa 3 Pilar masih berdiri diatas sebuah bangunan Punden batu. Bau dupa yang masih berasap langsung tercium di udara, setelah sebentar ambil dokumentasi. Lalu jalan lagi.  Kami memutar dibelakang kompleks candi. Kalau kita ambil trek turun, adalah ke Sendang widodaren kalau kita ambil yang nanjak, itu trek ke Puncaknya.

Setelah sepilar, trek makin nanjak, mana jalurnya tipis sekali. Kita ikuti trek menanjak di pinggir jurang, dengan kondisi trek yang licin dan rungsep bisa dipastikan kalau turunnya nanti bakalan makan waktu lebih lama. Kami jalan terus, karena memang tak ada tempat yang cukup lapang untuk kumpul dan istirahat. Kini Nessa dan alex yang ada didepan. Dari komunikasi yang kami lakukan, beberapa orang masih tercecer jauh sekali dibelakang.

Setelah sampai pada tebing punggungan dengan plingsingan batu besar-besar saya baru lega. Karena patokannya dari sini Jawa Dipa sudah tidak jauh lagi. “Itu….didepan!!” Jawabku pada Daniel yang sedari tadi mengeluh kakinya sudah sakit semua.

Jawa Dipa

Butuh satu jam perjalanan dari Makhutarama untuk sampai kesini. Jawa Dipa adalah sebuah campground kecil dengan patok prasasti marmer bertuliskan JAWA DIPA dan lambang warna Merah-Kuning-Putih di Prasasti. Saya rasa cukup sampai delapan tenda disini. Dan angin dingin dari puncak langsung turun menyambut kami. Lumayan dingin juga ternyata. Sambil menunggu faliz yang membawa tenda, saya rebus air dulu untuk bikin teh madu.

Dan, tak sampai gelap semua sudah datang, lalu mendirikan tenda masing-masing. Setelah tenda siap, saya memilih memasak didalam tenda saja, tak kuat dengan anginnya yang dingin. Malam itu disepakati besok kita Summit attack jam 4 pagi. Ok! Lalu kita tidur.

Go to Summit

Pukul tiga pagi rudolv sudah terdengar berteriak teriak dari tenda sebelah, membangunkan kami semua untuk segera bersiap-siap. Aku sempatkan masak cream soup+kopi dulu pagi itu sebelum keluar tenda. Dan cuaca begitu cerah, Sunrise yang masih malu-malu tampak berwarna jingga dalam raut garis cahaya di ufuk timur sana. Angin tak lagi sedingin kemarin malam. Bang Mamat dan Frederick tidak ikut ke Puncak, mereka stay disini saja katanya. Jadwal berangkat pukul 4 jadi molor karena kita saling menunggu. Akhirnya, pukul 05.20 kita baru mulai jalan.  Dan, Aku di posisi depan lalu dibuntuti oleh rombongan 16 orang lainnya. Bukit demi bukit kita daki seakan tak berujung. Setiap samapi di Puncak suatu bukit, ternyata masih ada bukit lagi, begitu seterusnya. break kami lakukan ketika dirasa rombongan yang dibelakang terpisah jauh. Sekilas, trek disini mirip “Bukit Penyesalan” di Rinjani. Untungnya vegetasinya beragam; mulai dari padang ilalang, semak, savannah, hutan pinus, hingga rumpun perdu mengisi pemandangan bergantian. Puncak runcing itulah Puncak Ogal-Agil Arjuno, tujuan kita hari ini. Masih terlihat jauh.

Saat memasuki trek landai  dan memutari punggungan, saya  makin sumringah. “Ini sudah dekat dengan puncak tandanya”, kataku pada Aqil. Dan kami mepercepat jalan untuk menunggu yang lainnya di Persimpangan Jalur Purwosari-Lawang dulu. Pemandangan makin terbuka disini. Sederhana sekali, persimpangan antara jalur Purwosari-Lawang hanya dipatok dengan sebuah pohon perdu yang sudah ditancapi plang penunjuk arah ke Purwosari dan ke Lawang.  Berikut beberapa coretan jahil dan identitas mapala-mapala sebagai suatu bentuk eksistensi anak anak muda yang kurang wawasan.

“Sebentar lagi adalah padang Blueberry, lalu Puncak…..yah. Kira kira satu jam lagi lah!!” itulah yang saya jawab, ketika ada salah seorang yang bertanya. “Puncak memang sudah terlihat dekat sekali dari sini. Tinggal jalan saja.” Aku tambahi. Dan setelah semuanya lengkap, kami lanjut jalan, langsung kebut saja. Sudah tidak sabar ini ke Puncak, bosan 4 jam jalan nanjak terus. Meskipun banyak percabangan, kita ikuti saja, toh puncaknya juga sudah terlihat. Potong ke atas langsung, pasti juga nyampe.

Puncak Ogal Agil Arjuno (3338 m dpl)

Pukul 09.15 saat itu, kami tiba di sebuah pemandangan tumpukan batu-batu besar, cuaca sedang berkabut tebal. Baru alex, aqil dan aku. Yang lain masih dibawah, Inilah Puncak Arjuno, yang kita lihat rucing seperti taring kalau dari bawah. Pemandangan yang bisa dilihat Cuma tumpukan batu batu besar di Puncak karena pekat sekali kabutnya. Sebenarnya kalau cerah; bagus sekali pemandagan dari sini. Ada view Gn. Penanggungan, Asap kawah welirang, Semeru dan gunung Kawi. Kalau dari jalur Purwosari-Lawang kita langsung keluar dibawah puncak Ogal-Agil. Tak melewati puncak Bayangan seperti kalau kita lewat jalur Tretes. Tak lama setelah itu, Yudi datang, berikutnya Nessa, semenara yang lainnya terdengar berteriak bersahut-sahutan dibawah. Karena posisinya yang meruncing ke atas, dari sini kita bisa dapatkan Pemandangan lautan awan yang luas. Dan saking terbukanya posisi kita saat ini, saat hujan mulai turun, kita bingung cari tempat untuk berteduh. Ada yang bersembunyi dibalik ceruk batu, ada yang pasang flysheet, ada yang langsung nggelar ponco. Kalo aku ikut dalam rombongan flysheet bareng Nessa, Clara, Kevin, faliz dan Alex. Masih ada juga yang baru nyampe dan langsung cari tempat untuk berteduh; tapi tak ada. Berbagi Ponco adalah solusinya. Satu Ponco dibentangkan dan dipakai berteduh 2-3 orang.

Hujan makin deras, belum ada tanda tanda akan reda. Tapi saya yakin ini Cuma hujan lewatan dari kabut saja. Sambil menunggu……tetepp!! Memasak adalah suatu keharusan, karena harus ada sesuatu yang masuk ke perut untuk menghangatkan tubuh. Lumayan juga, air hujan yang turun bisa dimanfaatkan untuk dimasak. Dan me-refill botol minum yang kosong. Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya hujan benar-benar reda. Kami abadikan momen-momen bersama ini dengan foto bareng. Lalu, setelah puas. Kita turun.

Ditengah-tengah perjalanan turun ke camp terkahir Jawa Dipa, hujan kembali turun. Kali ini malah lebih deras. Kami terabas saja, yang penting nyampe ke Jawa Dipa dulu. Toh, stock pakaian ganti juga masih ada di keril. Lega, ketika kumpulan tenda beneka warna sudah tampak di kejuauhan.Dua jam turun akhirnya, sampai juga di jawa Dipa. Hujan masih deras, dan parahnya lagi saat kita buka tenda. Eh…ternyata tenda kita sudah banjir, air mentes adari atas dan merembes dari pojokan tenda. Sleeping Bag, logistic, keril barang lainnya yang tadinya dimasukkan kedalam tenda saat kami berangkat kini basah semua. Karena tak mungkin meneruskan turun dan packing barang barang di situasi hujan lebat begini. Maka kita putuskan, menunggu agak terangan dulu. Mungkin tidak samapi sore. Meleset, hujan makin lebat saat sore, Posisi jawa Dipa yang berupa cekungan diantara berbuku-buku bukit saat hujan lebat begini berubah menjadi mangkuk air, dan air makin deras saja membanjiri tenda-tenda kami.

 

Turun

Baru menjelang maghrib hujan mulai reda berganti dengan gerimis, lalu kita segera packing karena takut hujan lagi dan tidak mungkin untuk bermalam disini lagi dengan kondisi tenda kebanjiran. Setidaknya kita berteduh dulu di Pondok jerami Makhutarama. Pukul 6 kami turun, masing masing sudah siap dengan ponco dan Headlampnya dan berharap segera sampai ke Makhutarama. Tetapi, sudah bisa diprediksi dengan trek macam itu. Turun pasti bakalan lebih lama karena licin, apalagi dalam keadaan hujan begini. Kini Yudi Dan Alex yang didepan. Kami turun perlahan-lahan dan tetap jaga jarak agar satu dan yang lainnya tidak terpaut jauh jaraknya.  Dan berhenti setiap ada yang tertinggal atau jatuh terpeleset, Sungguh melelahkan…..apalagi trauma  terperosok di jurang seakan jadi phobia bagi aku sendiri selama perjalanan turun ke makhutarama. 2 jam akhirnya kami sampai di Sepilar, aku kasih instruksi dulu pada semuanya untuk jaga ketenangan saat memasuki kompleks candi hingga ke Makhutarama. Lalu kita turuni tangga-tangga candi yang licin dengan hati-hati dan tetap jaga ketenangan, soalnya takutnya kalau ada orang yang sedang ritual di Sepilar dan kita nanti mengganggu.

Akhirnya, Sampai juga di pondok Jerami yang hangat ini, Pondok ini begitu kurindukan sedari tadi. Pukul 09 malam saat kami semua berkumpul disini, saya biarkan semuanya rileks dulu sebelum membuka wacana untuk voting turun malam ini atau besok. Sebab, kondisi cuaca yang hujan, kondisi jalur turun yang licin serta adanya beberapa teman-teman yang headlampnya mati menjadi pertimbangan saya. Karena cuaca bukanlah sesuatu yang dapat diprediksikan, dan tak baik bagi kita untuk memaksakan diri turun dalam kondisi rombongan besar seperti ini. Pasti bakalan lama dan melelahkan. Gayung-pun bersambut dari hasil vote hampir semuanya memilih untuk turun besok pagi saja, 3 orang yang mengacungkan jari untuk tetap turun malam ini, Mas Adimamat, rudolv dan ndox. Dan Rudolv sebagai penunjuk jalanannya. Karena memang mereka ada urusan dan pekerjaan yang benar benar tidak bisa ditinggal besok senin. Pukul 9 malam, kami lepas pamitan mereka, dan berharap yang terbaik saja. Sementara kita yang disini adalah yang memilih menunggu untuk turun besok.

Sekian,

Dan sampai jumpa dalam petualangan berikutnya.

Advertisements

20 responses to “Arjuno sisi Purwosari, sebenarnya bukan jalur pendakian tapi jalur spiritual!!

  1. Iya, kang. Kemarin kami dari Blitar juga tersesang disitu. Dari Gua onto Bogo kami pilih jalur kanan, soale jalurnya lebar. Kami gak lihat arah. Akhire kami harus memanjat batu – batuan dengan kemiringan 85 derajat. Namun pada waktu itu bertemu dengan Mas arif, anak juru kunci lawas. Dia menceritakan kisah tentang nama – nama di jalur tersenut. Dan mewanti – wanti kami untuk tidak mendekat ke Arca Candi Lumbung, penghuni disana kurang berkenan jika didatangi orang.

  2. kemaren tanggal 25 juga habis dari sana. tapi gak sampe muncak, soalnya cuacanya ekstrim. katanya sih di puncak ada badai, banyak yang turun juga akhirnya. sedikit nyesel siih,.. tapi insyaallah kapan-kapan boleh deh nyoba lagi. 🙂

    • Iya….
      Emank akhir2 ini cuaca lagi ekstrim2nya…..
      Apalagi kao spot macam puncak arjuna yang ber-diorama vertikal limit kaya gitu. situasi benar-benar tidak bisa kita perkirakan…

      Nih yang kemaren naik bareng anak2 OANC kah??/
      Boleh lah dicoba lagi…..
      contact2 yaa kalo mau kesana lagi…

    • Wheheheheheee…… Iya,Arjuna emang gitu om! Kondisi di Puncaknya emang susah diprediksi….
      Tiba-tiba bisa panas bangett…..tiba-tiba bisa langsung mendung dan badai…
      Ok…next time di coba lagi Om, gunungnya juga gak kemana-mana kok….
      Ajak2 yaaah kalo kesana lagi

  3. Bener2 mengingatkan saya 4 thn yg lalu…
    Jalur purwosari yg begitu melelahkan…

    salam kenal buat semuanya…

  4. Ya’ ampun… akhirnya ketemu juga chapternya. makasih banyak kawan!!!

    total perjalanan berapa jam? tracknta terlihat jelas gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s