Catatan Pendakian Gn. Rinjani


11 – 19 September 2010
Jalur : Sembalun – Senaru
Tim Pendakian :
Saya (Andy Labina), Stepi, Ambon, Bang Alwi, Bang Jo, Hendra, Bang Ji’eng, Poteng

“Pernah kita merasa lebih tinggi dari siapapun….Berdiri gagah diatas puncak, Bercanda mesra dengan Sang Surya. Di titik inilah semua hakikat akan terungkap.  Dimana batas menjadi dekat. Dimana tanya akan terjawab. Biarkan keindahan ini terus membuai kita, bagaikan segerombolan sapi yang dimanjakan oleh savanah, seperti serumpun cemara di sisi Telaga. Dalam hijaunya lembah-lembah Surga.   Rinjani Mt. 3726 m dpl”.


Rinjani…….
Adalah sebuah mimpin besar yang sudah menggelayuti sisi bawah sadar saya sejak setahun lalu. Yah, sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di Puncak Gunung. sebuah Puncak berpasir vulkanis di ketinggian 3676 m dpl. Puncak Mahameru. Dari sinilah awal mula aku menjadi gila, seorang maniak yang selalu tak pernah kehilangan gairah untuk kembali ke hutan. Rinjani seolah-olah telah memanggilku dengan keindahannya yang sudah sering aku lihat di televisi, majalah, dan beberapa posting blog teman-teman yang pernah kesana. Dan Akhirnya, Setahun lebih dari awal mula aku bermimpi saat itu aku baru bisa bermain dipangkuannya, mennggalkan jejak-jejak di punggungnya, serta mengukir kisah di lembahnya.

11 September 2010

Hari ini masih termasuk dalam perayaan hari Idul Fitri yang kedua. Pagi pagi sekali aku tinggalkan rumah dengan motor pinjaman dari salah seorang teman. Aku tak peduli apa yang ada di benak kedua Orang tuaku saat itu, melihat anaknya pergi mengembara di hari besar; begitu juga dengan tetangga kiri- kanan, persetan dengan mereka semua. Yang ada diisi kepala, cuma Rinjani. Lalu aku jemput rekanku, Stepi. dan, petualangan besar segera menunggu kita didepan mata.
Stage -1 Petualangan kami dimulai dengan melewati jalanan Porong hingga Pasuruan yang macet merambat, banyak para pemudik bermotor yang melewati jalur ini, Tidak lupa dengan dua anak mereka yang masih kecil-kecil dan istri diboncengan. ckckckcck……satu motor bisa ditunggangi 4-5 kepala. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Dimana matahari makin tidak malu-malu menerawang sepanjang si sepanjang jalan, kaos double plus jacket windstopper membuat tubuhku basah oleh keringat.

Stage -2 Kami sempat Checkpoint untuk ngopi di sebuah warung kopi sebelum memasuki batas kota Probolinggo, ujian kedua datang. saking asyiknya ngopi, saya sampai lupa dan menshodakoh-kan Ponsel saya di warung kopi itu gara-gara ketinggalan. ckckckck……

Pukul 16.30 kami tiba di Ketapang, berhenti sejenak di Indomaret, lalu lanjut menyebrang ke Bali. Untuk hari ini, kami tidak langsung potong kompas ke Lombok. Tetapi bermalam dulu di rumah saudara salah seorang teman di Denpasar. Disana, ambon, salah seorang rekan yang turut juga dalam pendakian Rinjani menunggu. Kami masuk kota denpasar sekitar pukul 23.00, Deretan Jalan Gatot Subroto (gatsu), Denpasar adalah rest-point kami malam itu. Rudolv, Cino, Ambon dan keluarga tuan Rumah serta Anjing-anjingnya menyambut kami ramah saat itu.

12 September 2010

Sinar matahari pagi yang lancang menelusup melalui jendela kaca kamar tamu membangunkan kami, Rudolv saya lihat sedang asyik browsing dengan laptopnya, dan Ambon tampak asyik memulai pagi dengan menghisap sulut asap rokok kretek di sisi balkon. Sementara  Niko dan Stepi masih tidur pulas di samping saya. Teriakan dari si Tuan rumah membuat kami semua terjingkat lalu sadar bahwa waktu sudah menunjukkan jam 11 siang. Empat bungkus nasi jenggo dan air putih telah ada diatas meja rupanya. Yah, itulah menu sarapan pagi kami di Bali pagi ini. dan tetap saja, Headline untuk perdebatan kami pagi ini adalah, ” Siapakah yang mau mandi duluan?? “

Si Tuan rumah mengajak kami berkutik dulu dengan koleksi motor motor klasiknya pagi itu. Lalu, si Rudolv dan Ambon diajaknya ikut serta ke bengkel, sementara aku, Stepi dan Cino jalan-jalan berkeliling kota Denpasar sambil belanja kebutuhan logistik untuk ke Rinjani besok.

Depansar begitu panas hari ini, membuat kita malas beraktivitas. Sebagian besar waktu kami habiskan dengan berguling-guling diatas kasur. Sorenya, baru si Tuan rumah mengajak kami ke Pantai Sanur naik mobil “VW Combi nya. WOW……di sepanjang perjalanan, kami selalu jadi perhatian ditengah hiruk-pikuk Denpasar yang padat, hehehe….lebih tepatnya bukan kami, tetapi mobil yang kami tumpangi.
Yaah…yah…yah, meskipun sudah tidak menarik lagi. Tapi Sanur tetap saja ramai oleh pengunjung sore itu. Air lautnya sudah tidak bersih lagi, banyak sampah dimana-mana, Abrasi air laut juga membuat bibir pantai makin terkikis sempit. Dari Pantai sanur, gunung Agung terlihat begitu angkuh dalam selimut mendung. Saya jadi teringat memori di bulan mei lalu. Dimana, sesuatu yang terlihat angkuh di seberang kami itu pernah saya jejaki puncaknya. Kami tak lama berada di Sanur, lalu balik lagi kerumah.

Pukul 19.00
Si Tuan rumah memekik dari bawah, menyuruh kami untuk segera turun dan masuk mobil. Yaah, malam ini ada acara ulang tahun adik Cino, dan pastinya makan-makan. Heheheee…. Semua suguhan sudah terhidang diatas meja ala prasmanan. Tanpa banyak prosesi, datang langsung makan.  Ada Ayam Betutu, Sate Penyu, Sate Babi, Bakmi, dll. Seolah-olah hidangan terus turun dari langit tak berhenti, beraneka makanan terus disuguhkan hingga perut kami tak mampu lagi menampung. Ini adalah rumah keluarga besar Cino di Bali, semua sanak saudara tampak berkumpul ramai dalam acara ini. Saat melihat jam tangan, ternyata sudah pukul 21.00. Dan kami-pun pamitan balik kerumah untuk packing dan siap-siap berangkat ke Padang Bai.

Sampai kembali di kediaman si Tuan Rumah, kami packing ulang keril kami. Shitt….ternyata segelonding kopi Nescafe sponsor dari Cino ketinggalan di Surabaya. Setelah semua siap, pukul 22.00 kami pamitan pada si Tuan Rumah dan berangkat ke Padang Bai. Salah satu Om dari Cino juga ikut mengantar saat itu, aku dan stepi naik motor, membuntuti laju mobil kijang kapsul coklat yang ditunggangi ambon, rudolv, cino dan om’nya dari belakang. Dan kurang lebih satu jam dari sekarang, kami telah sampai di Padang Bai, lalu ambil penyebrangan pukul 24.00

13 September 2010

Penyebrangan Padang Bai-Lembar kurang lebih 4 jam, kondisi laut cukup tenang malam itu sehingga kapal dapat tiba lebih cepat.  Saya dibangunkan oleh Ambon ketika kampal hendak merapat ke Dermaga Lembar, Pagi masih begitu buta, hanya siluet bukit-bukit tinggi yang terlihat disekitaran. Setelah turun dek, kami menepi dulu di salah satu warung kopi di sisi kiri pelabuhan sembari menunggu jemputan dari Bang Alwi yang sedari tadi di telephone tapi tidak diangkat.

Oh iya….dalam Catatan kali ini ada beberapa tokoh baru yang akan saya juga akan turut serta dalam petualangan saya di Rinjani. Dimulai dari Bang Alwi, beliau adalah kenalan ambon saat ke Rinjani 2007 silam, selama di Lombok ini, rencana kami akan singgah di rumah beliau, di bilangan Karang Bata, Mataram. Orangnya tinggi, kurus, berusia sekitar 30’an lebih, dan memiliki wajah khas pulau Lombok. Ternyata, dia ketiduran pulas saat kami telpon. Baru sekitar 2 jam dari waktu kami tiba di pelabuhan beliau datang dengan menggunakan motor. Ambon lalau dibonceng Bang Alwi dan kita langsung meluncur ke arah Karang Bata.

Suasana hangat perkampungan menyambut kami ketika tiba di Karang Bata, kami berkenalan dengan beberapa pemuda disana yang nantinya juga akan turut dalam pendakian Rinjani, diantaranya, ada Poteng, ada Bang Johari, ada Hendra. Saat kami tiba dirumah Bang alwi, para pemuda langsung ramai bergumul masuk ke kamar juga, sebagian ada yang memandang kami dengan aneh, sebagian pula ada yang menyapa ramah. Mereka adalah para Remaja Masjid Kampung Karang Bata, yang notabene nya masih anak buah Bang alwi. Sebagian besar anak muda di Karang Bata memilih merantau di luar pulau setelah lulus sekolah. Bahkan sebagian lagi ada yang memilih mengadu nasib di Negeri Tetangga karena kecemasannya sendiri terhadap masa depan mereka bila saja tetap diam di kampung. Tapi satu yang saya suka disini adalah, ketika saat saat lebaran begini, dimana semua yang perantauan pulang kembali ke kampung, Suasananya ituloh, yang bikin iri. Yang tidak saya dapatkan di kampung saya; ataupun di jawa, suasana remaja karang taruna yang begitu guyub dan kompak. Tidak mengenal batas usia, tidak mengenal batasan tema.

Tak lama setelah bincang bincang perkenalan, Menu Plecing Kangkung keluar dari dapur sebagai suguhan sarapan kami pagi itu. Lengkap dengan krupuknya. Kami Nyampah (bahasa Sasak untuk sarapan) rame-rame. Ini adalah pengalaman saya makan Plecing kangkung; yang tak lain adalah sayur kangkung rebus plus sambal terasi pedas yang diurap diatasnya. Biasanya dihidangkan dengan nasi putih panas, inilah salah satu kuliner ngetop khas pulau Lombok. Saking lahapnya, saya sampai nambah lagi. hehehee….maklum! “__” .

Setelah semua siap, Pukul 11.30 kami berangkat. Mobil kijang kotak keluaran tahun 1970’an jadi angkutan kami. Mengantarkan kami keluar dari kampung Karang Bata ke terminal Mandalika, mataram. Total ada 8 orang berikut kami bertiga yang turut dalam pendakian Rinjani. Dan semuanya duduk di Bak belakang mobil. Seru juga!! Mana sorot matahari kota Mataram saat itu sedang di ubun-ubun kepala, mungkin tinggal diasinin kita sudah siap disajikan jadi ikan asin. Kita meluncur kencang menuju  mandalika, dan tak sampai 30 menit dari start pemberangkatan, kami tiba di depan terminal, dan kebetulan saat itu sedang ada angkot yang mangkal di pinggir jalan. Setelah tawar menawar harga pas. kami langsung Tancap gas menuju ke Aikmel.

Aikmel
Aikmel adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Lombok Timur. Kurang lebih butuh
1,5 jam dari kota Mataram untuk kesini. Saya saja sampai ketiduran di sepanjang perjalanan. Kita turun di sebuah pertigaan, dan ada pasar disana. k
alo lurus ke sembalun, kalau ikut ke kanan adalah jalur trans Lombok. Kami turun disini, untuk selanjutnya oper naik angkutan ke Sembalun.

Sembalun

Sembalun adalah sebuah lembah di sisi timur Rinjani, Sebuah desa terpencil yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangan yang begitu indah. Sembalun adalah desa terakhir di Rinjani sebelum jalur pendakian, dengan populasi kurang dari 1000 kepala keluarga, sembalun tetap indah untuk diceritakan. Dari Aikmel, untuk menuju ke sembalun, kami harus oper naik Sembalun express. Yaah…..Sejenis kendaraaan bak terbuka berbahan bakar solar yang siap dipakai untuk medan menanjak ekstrim. Seperti biasa, bang alwi mengadakan sebuah negosiasi harga dulu dengan si pemilik angkutan dengan bahasa yang tidak aku mengerti, cepat, lugas, lantang  dan logatnya khas. Setelah harga cocok. Langsung berangkat.

Kira kira ada 12 orang di bak belakang; termasuk kami. ditambah setumpuk keril gedhe-gedhe yang ditaruh di pojok dan barang-barang hasil bumi dari penumpang lainnya. lengkap sudah, ada buah-buahan, ada sayuran, juga ikan pindang yang aroma anyirnya kadang tercium semriwing diperjalanan.

Perkampungan demi perkampungan menyambut kami di awal perjalanan. Dilanjutkan dengan perkebunan tembakau, lalu belokan demi belokan tajam. Pak Sopir tak henti-hentinya membunyikan klakson hampir tiap 5 detik sekali. Maklum, selain tikungannya yang tajam, jalan menuju sembalun juga sempit, dua mobil berpapasan saja mungkin sudah susah untuk lewat. Aku duduk  disisi samping bak, warga kampung duduk ditengah, dan sisanya lagi ada yang berdiri di depan. Tampang lelah dan kuyuh membuat membuat mobil ini serasa mengangkut para pengungsi bukan pendaki.

Lembar-lembar jalan lalu berubah menjadi hijau ketika Sembalun Express memasuki batas hutan, hijau dan masih lebat. Sekumpulan kera terlihat bermain di pinggir jalan, menyambut dan kadang terlihat berusaha mengejar mobil yang lewat dengan liarnya. Tak hanya satu, tetapi langsung segerombolan datang mengejar, tetapi ketika laju mobil dirasa kian kencang, mereka berhenti dengan sendirinya.

Tikungan demi tikungan mengekor disepanjang perjalanan, kami yang duduk di sisi bak tetap harus waspada ketika mobil berpapasan dengan kendaraan roda empat lainnya apabila bokong kami tidak ingin terpapras.  Akhirnya tibalah kami disebuah pemandangan terbuka. Terlihat jelas sketsa perbukitan hijau mengelilingi pandangan mata. Au sampai dibuat bengong, mau motret yang mana duluan. Seakan pemandagan tak ada habisnya di setiap cuilan sudut mata.

Terlihat sebuah gardu pandang didepan, langsung menghadap ke sebuah pemandangan luas dibawahnya. Kotak-kotak kecil rumah warga tertata apik menghiasi sela-sela pemandangan hijau; yaah…itulah Desa sembalun. Yang kata teman saya Nessa adalah ‘Hidden Village’. Memang indah, sembalun bagaikan sebuah nadi yang dikelilingi oleh berbuku-buku pegunungan. Beberapa pasang muda-mudi yang bercengkrama mesra disekitaran gardu memandang kami yang kegirangan ini dengan aneh. Hehehehee, maklum. Baru pertama kali .

Mobil yang kami tumpangi lalu berkelok-kelok turun mengikuti rambatan aspal jalanan, semakin turun semakin terlihat jelas pemandangan apa nian yang kami lihat tadi dari atas, yahh..kami tiba di Sembalun. Horaay!!… serasa bukan lagi di Indonesia saat kami berada disini,  mobil berjalan perlahan dijalanan aspal yang masih baru, menurunkan satu per satu warga dan juga muatannya. Hal pertama yang langsung kami lakuakan adalah menyulut asap rokok. Sedari dua jam lalu, disepanjang perjalanan kami tidak bisa merokok sama sekali. Hamparan padang rumput luas ada di kanan, berikut sapi-sapi dan juga gembalanya. Makin ke perkampungan makin eksotis, kami menyaksikan langsung perkampungan sasak yang masih begitu sederha ala kehidupannya. Mereka yang duduk  ber-inang dipinggir-pinggir jalan berbicara dalam suatu bahasa khas yang masih belum aku mengerti. Asap rokok makin membuat indah asumsi pemandagan desa. Sementara, berbuku-buku perbukitan kaki gunung Rinjani terlihat merambat, mengelilingi Desa; Membuat Sembalun tetap istimewa dalam keterpencilan.

Setelah berkelok-kelok dijalanan kampong;  sopir memberhentikan mobil didepan sebuah gapura Bertuliskan “TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI” yang tak lain adalah pintu gerbang pendakian. Bang alwi dan ambon lalu masuk ke bangunan  yang ada disisi kanan gapura. Itu adalah Basecamp pendakian gunung rinjani, kami didaftarkan dulu, membayar prasyarat sebagai formalitas pendakian. Untunglah, Rinjani tak seribet Mahameru di jawa yang mengharuskan kami foto kopi ini-itu, bawa surat dokter kek, beli materai kek…yang bikin mendaki gunung terasa begitu susah. Kami tidak mendaki lewat gapura tadi, tapi agak majuan lagi; ada sebuah jalan tembusan melalui belakang rumah warga yang bisa langsung potong jalur. Jalur ini biasa dipakai oleh orang kampung sembalun yang sebagian besar adalah porter pendakian. Melalui sini, maka kami bisa mengirit estimasi waktu sekitar 2 jam.

Kami cek ulang packing’an Keril. Nanas dan nasi bungkus  yang tadi di beli bang alwi di Pasar Aikmel –’belum masuk keril, padahal semua keril sudah penuh. Waaah…wah -____-‘ .

Start Pendakian

Pukul 16.00 sore itu; ketika kami mulai melangkahkan kaki meninggalkan desa sembalun.  Lumpur Pematang-pematang sawah, mengotori sepatu kami di awal-awal. Ternyata, jalur ini adalah jalur warga, umum dilalui untuk menggembalakan sapi mereka di padang savannah. Banyak sekali ranjau -__-‘ ; baik yang masih basah ataupun yang sudah memfosil. Aku jadi minder sendiri, dari semua rombongan, kerilku yang paling kecil disini. Semuanya memanggul keril minimal 60 literan, sementara punyaku Cuma Karrimor Kodiak 20ltr. Dan yang paling gedhe adalah bawaan Bang alwi, ramping sih kerilnya, Cuma tingginya, wuiiih….ampunn!! tapi Bang alwi masih tampak sehat wal afiat tuh bawa barang segedhe itu, dan ajibbnya, langkahnya masih tetap stabil tanpa henti.

15 menit jalan, kami berhenti. Nasi bungkus langsung jadi santapan makan siang kami Teman-teman yang lainnya tampak berebut  membuka air di kerilnya….lumayan untuk memperingan beban.  Selesai makan dan merokok bentar, kami jalan lagi. Untungnya, Matahari sore yang mulai sayu membuat perjalan kami tidak gerah. Trek masih landai, kadang naik kadang turun, tapi banyakan datarnya. Lalu kami masuk hutan sebentar dan kembali di Savannah. Hari makin sayuh, ketika kami tiba di Persimpangan jalur. Pukul 18.00 kami tiba di Pos 1.

Pos 1

Semua senter sudah menyala. Ada serombongan anak SMAN 1 mataram yang datang lebih dulu di Pos. Kami berhenti untuk istirahat sebentar disini, lalu angin dingin khas savannah memaksa kami untuk jalan kembali apabila tidak ingin kedinginan.

Pos 2

Tidak ada setengah jam kami habiskan untuk tiba di Pos 2. Wow!! Banyak juga yang sudah mendirikan tenda, dijembatan saja sudah penuh berjajar tenda-tenda. Yah… di Pos 2 ada sebuah jembatan yang menyebrangi aliran sungai vulkanis yang saat itu sedang kering. Kami turun agak kebawa, mendirikan tenda disekitaran shelter. Sebenarnya fasilitas di trek rinjani ini sudah cukup bagus. Hampir desetiap Pos ada Toiletnya. Sayang sekali, kurangnya perawatan dan kesadaran dari para pendaki, membuat fasilitas toilet itu kini rusak dan penuh dengan coretan-coretan tak jelas.

Disini, kami merasakan bagaimana ramainya berkemah dengan rombongan anak SMA. Wuiiiih, semuanya dibikin heboh, mulai dari masak mie, banguun tenda. Sampai siapa yang bertugas mengambil air saja dibikin heboh. Sampai-sampai para seniornya saja kewalahan. Heheheee…

14 September 2010

Setelah sarapan, kami packing. Dan buru-buru melanjutkan perjalanan. Mengingat banyaknya tenda di Pos II semalam. Kami tak mau kehabisan tempat di Plawangan sembalun nantinya. Makanya, kami harus bergegas. Pukul 08.00 kami mulai jalan. Sebuah pemandangan indah menyambut kami diatas tanjakan. Aku sampai-sampai tak bisa membedakan apakah aku masih di dunia, ataukah aku sudah bertemu surga. Sungguh indah; Padang savannah yang begitu luasnya bak menggulung-gulung di sepanjang kaki Rinjani. Kuning, liar dan tebal begitu aku langkahkan kaki membelah savannah. Biarlah aku jalan belakangan, aku potret sebanyak-banyaknya pemandangan disini. Dengan berlatar belakang puncak, awan-awan tampak tebang rendah diatas savannah, berjalan perlahan ditiup mesra angin timur. Disisi selatan langsung terlihat pemandangan desa sembalun dan laut lepas. Tak henti-hentinya mataku dibuat orgasme oleh lukisan Tuhan disini.

Trek ternyata berjalan memutar-menyisiri padang savannah, naik-turun lembar-demi lembaran bukit. Arrggghh……rasanya pengen berhenti lama disini. Buka mesting, masak air dan ngopi dulu. Sayang yang lainnya begitu cepat-cepat, hanya aku dan hendra yang berjalan belakangan.

Pos 3

Dua jam dari Pos 2 kami akhirnya disebuah cerukan sungai buangan lahar dingin rinjani. Aroma vulkanis masih tercium disini. Mulai banyak monyet terlihat disepanjang trek. Awalnya aku sedikit takut juga. Sebab, monyet disini kesannya buas, selalu ingin merampas apa saja yang dibawa oleh orang yang lewat. Konon ceritanya, monyet monyet disini bertingkah seperti itu sebab sudah terbiasa dikasih makan oleh tiap tamu, terutama bule yang lewat dulu-dulunya. Eiiiitsss….aku amankan dulu kamera, baru melangkah lagi.

Teman-teman terlihat menunggu dibawah…tepat dibekas aliran sungai lahar. Kami istirahat dulu disana. Pukul 10.05 saat aku melirik ke jam tangan saat itu.

Tiba-tiba seorang pria yang kira kira seumuran denganku ikut nimbrung dengan kami, dia ternyata anak mataram juga. Namanya Heri, Gilaaa…..naik Rinjani sambil bawa gitar +keril. Ckckcck…..

Bang Alwi lalu menyahut…”loh, biasanya saya juga gitu ndik….!!” Haaaah….Yang benar saja, udah keril segedhe itu, ditambah gitar lagi. Sungguh diluar akal sehat untuk trek seperti rinjani ini. Kalau tidak masyarakat lokal tidak mungkin bisa.

Bang alwi mengupas nanas, lalu dibagikan pada kami semua. Lumayan segar, untuk pelipur lara ditengah dahaga dan sengat matahari. Dari sinilah, kami mulai berkenalan dengan Bang didin, Anggi dan Ithank yang ternyata satu kompi dengan heri. Dari sini, lalu kami jalan bareng terus.

Pukul 10.30 kami lanjutkan perjalanan, menanjaki yang namanya Tanjakan Penyesalan untuk bisa sampai ke Plawangan Sembalun. Menurut estimasi waktu normal di catatan-catatan perjalanan milik anak Pecinta alam lain, sekitar 3,5 jam sih…!! Tapi gak tau lagi, kami tak ada target waktu, yang penting nyampai di Plawangan sembalun secepatnya yang kita bisa.

Ternyata untuk menuju ke Plawangan sembalun kita harus melangkahi bukit demi bukit, yah namanya saja tanjakan penyesalan, saat menanjakinya yang ada di benak kita cuma umpatan umpatan kesal. Setelah kita mencapai puncak suatu bukit ternyata masih ada bukit-dan bukit lainnya, huuuuft…!!

Tapi semenjak bertemu dan jalan bareng rombongan herry dan bang didin, perjalanan kami menjadi lebih ceria lagi. Hampir di tiap break kami mainkan satu bait lagu. 100 meter berhenti lagi….1 nada lagi. Hehehe, perjalanan-pun jadi tak terasa.  Hampir semua tembang-tembang hits milik Bang Iwan kami mainkan.

Siang itu; yang ada dalam benak saya adalah bagaimana caranya bisa cepat sampai ke Plawangan Sembalun. Di tengah trek, saya tinggalkan rombongan yang sedang asyik santai sambil nyayi-nyanyi ditengah tanjakan. Saya susul Stepi dan Poteng yang sudah duluan. Lalu saya berkenalan dengan anak-anak lokal dari Masbagik, Lombok Timur. Dimana sayalihat peralatan yang mereka bawa sanghat sederhana sekali, hanya mengandalkan fisik dan penguasaan medan semata. Mereka bercerita pada saya mulai dari A-Z, tentang rinjani; Tentang mistis-mistis di Rinjani, tentang  cerita perampokan di rinjani beberapa tahun silam , kisah kisah gila mereka saat mendaki rinjani.Di Puncak Bukit Plawangan, saya temukan stepi dan Polenk sedang pulas tidur saling bersandaran, mereka sudah disini sejak satu jam lalu katanya. Ari Toak dan kawan-kawan dari Masbagik menemani saya sampai Persimpangan Turun ke Segara Anak. Mereka, tak kepuncak, tetapi langsung turun ke Danau. Sementara kami ambil lurus, menelusuri beberapa bukit lagi menuju Base camp “Plawangan Sembalun”, Peraduan terkahir kami untuk hari ini sebelum besok dinihari summit attack.

Plawangan Sembalun
(basecamp terakhir sebelum puncak)

Sebuah tanah miring yang langsung menghadap ke danau sudah dipenuhi bermacam warna tenda siang itu. Pukul 15.13 kami menginjakkan kaki di Basecamp terakhir sebelum puncak. Masih aku, Stepi dan Potenk. Sementara yang lainnya entah masih dibawah sana. Kami segera cari tempat yang seminim mungkin terkena amukan angin nantinya. Sebab, menurut pengalaman teman-teman, angin di plawangan sembalun kalau sedang ngamuk cukup kuat untuk menerbangkan tenda meskipun itu berpasak.

Tiba-tiba ada mas-mas yang menyapa kami ketika mendengar aku dan Stepi berbicara dalam logat Suroboyo’an. “Sampean Teko ngendi mas?? “ Tanya mereka. Spontan kami jawab, “Suroboyo, mas”. Lalu percakapan-pun berlangsung. Ternyata mereka juga berasal dari Surabaya. Dan, sama gilanya dengan kita….Sama-sama naik motor dari Surabaya ke Lombok. Motornya sama-sama Mio pula. Hehehehe….. Sayangnya, aku lupa nama mereka, jadi tidak bisa turut aku tuliskan dalam catatan perjalanan ini. Mereka lebih tua kira kira 10 tahunan diatasku, mereka bilang, tujuan utama mereka ke Rinjani adalah pengen coba rasanya memancing di Segara Anak. Bahkan, turun dari rinjani nanti, mereka ingin Touring keliling Lombok dulu, sembari mincing di pantai-pantai. Kami larut dalam obrolan panjang sambil menemani mereka menggulung tenda; mereka sudah ke puncak tadi pagi ternyata dan ini mau turun ke Segara Anak sore ini. Kami-pun janjian untuk bersua lagi di Segara Anakan besok.

Segera kami lepas keril yang rasanya makin bertambah berat saja, lalu dirikan tenda. Sementara potenk member tabik untuk mengambil air di mata air. Tenda sudah siap, aaahhh…..saatnya untuk tidur siang. Hehehehe, perjalanan nanjak di Tanjakan Penyesalan sangat melelahkan. Eh, tak lama potenk balik lagi ke tenda, tanpa sebotol kosong-pun terisi air. Lohh??… Ternyata dia takut menuruni trek-trek curam menuju sumber mata air. Curam sekali katanya. Yaa sudahlah, tidur lah kami bertiga sambil menunggu yang lainnya.

Kira kira Satu jam berlalu sejak aku terlelap dalam lelah, huuuft. Sinar matahari sunset tepat menembus tenda kita, membuat panas tenda dan bikin basah kaos. Ambon sudah tiba, sementara yang lainnya masih dibawa. Gara-gara gitar yang dibawa heri, Hampur disetiap peristirahatan mereka menyayikan satu nada katanya. Hihihihii. Lalu ambon mengajak aku turun ambil air di Sumber mata air. Wow…..Lumayan curam dan licin juga treknya, pantas saja tadi potenk balik lagi. Ckckckck…..trek berliku naik-turun harus kami lewati untuk mencapai mata air. Kalu dari basecamp, Plawangan Sembalun, kita ambil arah ke kiri. Ikuti saja jalur menurun, dan sampailah kita pada sisi sebuah sisi tebing dengan air mengucur diri celah-celah bebatuan berlumut. Sekilas sumber air Plawangan sembalun ini, mirip sekali seperti Sumbermani di Kalimati, Semeru.

Setelah setidaknya, 6 botol 1,5 ltr ambon isi penuh, kami kembali ke Camp. Huuuft, bisa dibayangkan kalau turunnya saja curam, pasti naiknya bakal menguras energy lagi. Alhasil, dengan sedikit ngosh-ngoshan kami kembali ke Plawangan. Terlihat Bang Alwi dan lainnya sudah datang, mereka sedang sibuk dengan tenda kapasitas 5 orangnya.

Sore itu sudah hampir dilipat leh malam, senja seakan menjadi sebuah benang merah yang indah di Plawangan sembalun, Sunsetnya begitu sempurna. View danau yang membuat saya penasaran sedari siang tadi akhirnya terlihat juga dari atas; luar biasa indahnya. Saya sampai kebingungan pilihan kata apa yang pantas untuk mendeskripsikan keindahan disini. Segera aku ambil kamera, mungkin dengan benda yang satu ini aku bisa membagi keindahan ini dengan yang lainnya nanti. “Andiiiiiiiii!!!” aku dengan pekikan itu, suara yang taka sing bagiku, dan…ternyata Glory. Daia adalah temanku dari Jakarta, kami bertemu di Pendakian Semeru Mei lalu. Yah, bisa dibilang meskipun kita baru kenal dekat dan baru dalam hitungan hari jalan bareng ke semeru, tapi rasanya jadi lebih dekat lagi ketika di Rinjani. Anaknya asyik, sekali kenal, pasti langsung enak diajak ngobrol. Dan dengan gayanya yang khas, glory juga langsung akrab dengan teman-temanku yang lain.

Ohhh…ternyata glory sudah muncak tadi pagi, berangkat jam 1 nyampai puncak jam 10 katanya. Katanya, dia sempat drop di tengah jalan, tapi tekadnya masih belum. Puncak begitu mahal apabila harus ditukar dengan fisik yang drop. Apalagi bagi kami yang datang jauh jauh dari Jawa. Sambil sesekali tidur diceruk-ceruk bebatuan, dia lalu lanjut jalan hingga puncak. Sungguh perjuangan yang laur biasa, aku salut! Glory juga memperingatkan aku, medan disekitaran Puncak, anginnya begitu kencang.

Senja yang indah, kini tergulung oleh gulita dalam pena, Cuma nyala lampu lusinan tenda pendaki yang menerangi Plawangan sembalun. Malam ini, sumpaaaah. Rasanya tidak ingin keluar aku dari dalam tenda… masak didalam tenda saja kelihatannya. Tapi, rombongan bang alwi lalu keluar, ambon bagian bikin kopi, Bang Ji’eng dan Bang Joh spesialis sambal, dan bang alwi divisi lauknya. Sementara aku tetap berada di divisi entertain; menghubur mereka dengan lagu lagu dari soundtrack film “Gie” dengan Heri dibagian gitar. Tak lama, api unggun dari bang didin membuat hangat untuk sesaat.

Malam itu angin bertiup kencang sekali di Plawangan Sembalun, sampai mender-deru di udara. Kalau dibilang dingin…yah! Memang dingin, tetapi mau tidak mau aku harus menyesuaikan suhu tubuh dulu dengan udara luar, agar pas nanti summit attack tidak kaget lantaran kedinginan. Tapi ada yang sedkit fals malam ini, beberapa orang dari dalam tenda malah asyik bertelephone ria dengan kerabat atau kekasihnya. Busyeeeet….. ini di gunung sinyal kenceng juga. Setelah Tanya bang Alwi, ternyata sinyal XL dan M3 terbilang kenceng di Plawangan Sembalun. Tinggal kita bawa charger portable saja, bisa deh telpun cewek kita, Katanya.

Cukup untuk mala mini, ternyata makin malam makin dingin. Aku memutuskan masuk ke tenda lalu tidur, sementara stepi masih terlihat sibuk menyiapkan perlatan summitnya. Ambon masih diluar, tapi karena dingin sekali, maka aku minta ijin untuk tutup pintu tendanya. Aku coba istirahatkan semua, baik badan maupun pikiran. Semua aku siapkan untuk laga puncak besok.

**

Summit Attack

Sudah pukul tiga lebih, saat entah alarm dari Handphone siapa itu yang berbunyi kencang. Aku lalu bangun, keluar dari sleeping bag polar yang hangat, lalu berkumpul dengan yang lainnya diluar. Dan tentu saja, sebuah sambutan dingin dari angin langsung membuat seisi tulangku bergemetaran. Mungkin tak sedingi Mahameru, tetapi anginnya itu yang bikin tak tahan. Air panas sudah matang di Panci tungku Trangia, kopi lalu diseduh dan sisanya dibikin the lalu dimasukkan ke Termos untuk diperjalanan. Setelah semua siap. Pukul 03.30 kami berangkat. Sebelum sempat melangkahkan kaki, salah seorang Pembina dari PALASMA menghampiri bang didin, beliau mau nitip adik-adiknya, sebab dari para senior PALASMA sendiri tidak ada yang ikut ke Puncak. Loooh??….. ckckckc. Aneh juga!! Katanya Pembina, lah kok anak didiknya dilepas Cuma sampai sisni saja, terus kalau ada apa-apa di puncak, siapa yang tanggung jawab, pikirku. Bang Alwi lalu berlalu, batinku, mungkin bang Alwi punya isi kepala yang sama dengan aku, makanya dia tinggal lalu begitu saja.

Advertisements

10 responses to “Catatan Pendakian Gn. Rinjani

  1. Bulan Juni ada agenda kmn Broo.. mau kah temani saya Nge-Trip ke Rinjani??, insya Allah brangkat tgl 4 Juni , balek tgl 10 Juni 2013,
    -Dimas-

  2. Oow, klo ga bs gpp , btw bagi Contact Person orang mataram aja klo gitu, klo bs yg deket ama bandara ya,, oiy Ndik km klo ada waktu mampiro ke rumah Jemur, skalian ngopi & ngobrol2 santai kayak dulu, khan lumayan lama kita gak ketemu… Follow tweetku @dimas_syarif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s