Pendakian Gunung Raung 2010


Pendakian Raung 2010

Jalur Pendakian Utara (Desa Sumber Wringin, Kab. Bondowoso)

25 – 27 Februari 2010

Tim Ekspedisi : Saya, Stepi, Ndox dan Faliz.

Pendakian ke Gunung Raung sebenarnya sudah sempat kami rencanakan di penghujung Desember 2009 lalu, pada saat liburan Natal. Namun karena ada suatu halangan, serta cuaca yang sangat riskan pada saat itu, maka pendakian di delay untuk waktu yang belum dipastikan, dan saya-pun sempat menyisipkan menyambangi Gunung Merbabu pada akhir Januari lalu. Pada saat kumpul-kumpul bareng di markas besar Generasi Fotografi Stikom (G-FORST) di Warung Kopi Selir. Stepi dan Ndox yang notabene-nya sudah bekerja menemukan tanggal yang pas digunakan untuk mendaki. Jatuh pada 25-27 Februari 2010, sebab hari Jumat tanggal 26 nya adalah hari libur nasional, bertepatan dengan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Maka,akhir pekan menjadi liburan yang panjang. Tim pendakian awalnya, Cuma kami bertiga. Karena kabar bertiup bak angin kencang di Warung Kopi Selir, maka kabar pendakian kami sampailah ke telinga Faliz. Dia yang baru saja membeli Tas Carrier plus alat-alat pendakian lengkap segera menghubungi aku dan menyatakan ingin gabung. Awalnya, kami meragukan sebab mengingat trek yang akan kami tempuh nantinya bukanlah trek gunung untuk pemula. Tapi, tak apalah, satu yang pasti “Tuhan saja tidak pernah membatasi makhluknya untuk menikmati keindahan alamnya”. Lalu, mengapa kami yang mesti melarangnya. Memangnya Siapa kami?….Toh kita juga sama-sama pendaki pemula.  Melihat ekspresinya yang begitu antusias, kamipun mengikut sertakan Faliz dalam pendakian kali ini

Kami berangkat Rabu, 24 Februari malam dari Terminal Surabaya, kami berkumpul dirumah stepi. Lalu belanja logistic di alfamart terdekat, packing dan berangkat ke Terminal Bungurasih. Waktu menunjukkan pukul 22.39 saat kami tiba didepan Terminal. Melihat kami yang membawa Carrier besar, langsung ada Calo yang menawarkan bus pada kami. Kamipun naik bus malam ekonomi jurusan Tawangalun, Jember.

Kondisi bus lengang, kamipun tak perlu berjubelan, dan bisa beristirahat cukup pulas dalam perjalanan. Saya terbangun, ketika saat itu Bus sedang berhenti di pinggir jalan kawasan parit Jatiroto, Lumajang. Ternyata, sopirnya sedang ngopi sejenak. Aku, Faliz dan Ndox ikut turun dan minum segelas The Hangat. Lalu perjalanan pun dilanjutkan. Bus sudah sepi pada saat itu, Cuma tinggal beberapa penumpang saja selain kami yang memenuhi kursi penumpang. Pukul 02.30 dini hari kami sampai di Terminal Tawangalun, Jember. Banyak jasa ojek langsung menawarkan diri, tapi kami memilih melanjutkan perjalanan dengan Angkutan kota Warna Kuning ke Terminal Arjasa, Jember. Karena trayek dinihari. Sang Sopir dengan seenaknya menaikkan harga. Tarif yang seharusnya  4000 rupiah digenjot hingga 10.000 rupiah per orangnya.

Perjalanan 30 menit, kami sampai di sebuah terminal kecil di sudut kota Jember, tampak dua buah bus, beberapa angkot dan dua kol saja yang sedang beroperasi saat itu, kami mencari Bus Jurusan Bondowoso. Bus sudah siap berangkat, kami pun langsung menggotong carrier masuk ke dalam bus dan berjubel bersama para pedagang pasar yang akan berangkat. Ahhhh, karena kondisi perut yang kurang bersahabat, mumpung bus belum beragkat. Aku memutuskan mencari toilet terlebih dahulu, mengeluarkan sisa sisa pencernaan yang memenuhi tangki perutku. Saat enak-enaknya  nongkrong sambil ditemani kesunyian toilet dan gemericik air kran, terdengar suara orang gedor-gedor pintu sambil memanggil namaku. Dari Intonasinya, aku langsung kenal, itu suara Stepi. “Ndiiikkk….andik….Cepetan, Bus sudah mau berangkat!!” Wah…..sontak aku langsung menyudahi ritual pagi itu, saat aku buka pintu toilet. Betapa malunya aku, ternyata bus sudah bersiap didepan pintu dan pandangan semua penumpang dalam bus tertuju padaku. Ternyata mereka semua menunggu aku seorang. Layaknya seorang tamu terhormat, aku pun masuk ke bus dengan semua sorot mata tertuju padaku…… jadi tidak enak sendiri, hehehe.

Minibus yang kami tumpangi melaju lengang tanpa saingan di sepinya kota Bondowoso, banyak penumpang dengan  beragam barang cargonya silih berganti turun di sepanjang perjalanan. Pukul 05.20 kami Tiba di tujuan, Pertigaan Gardu Atak. Kami menyebrang jalan dan menuju ke angkot biru yang trayeknya ke Desa Sumber Wringin. Karena baru kami saja penumpangnya, maka kami harus menunggu sampai setidaknya angkot penuh, baru kemudian jalan. Kami sempatkan ngopi-ngopi dulu di warung sebelah, Cukup lama kami menunggu, hingga pukul 07.00 angkot-pun jalan. Perjalanan melalui jalan-jalan desa Sukosari yang sempit membelah persawahan yang hijau, Jarak ke Sumber Wringin lumayan jauh, untung angkotnya penuh jadi jalannya agak cepat. Kurang lebih 30 menit kami sampai di Sumber Wringin, dan kami sangat berterima kasih karena diturunkan tepat di area Pesangrahan “Basecamp Pendakian Gunung Raung”.

Tiba di Pesanggrahan Gunung Raung.

Didepan kami adalah sebuah bangunan Belanda dengan  arsitektur  kuno gaya kolonial. Umur bangunan ini saya rasa cukup tua, namun sangat terawat dalam balutan cat tembok warna putih dan Susana yang begitu asri dengan kebun bunga di pekarangan. Bu Endang sang Pengurus Pesanggrahan langsung menyambut kami dengan hangat, mempersilahkan kami istirahat sejenak, dan tahu kalau kita datang dengan muka-muka kelaparan, beliau-pun memasakkan sarapan pagi untuk kami. Sungguh suasana pesanggrahan yang hangat dan jarang sekali kami temui di Gunung-gunung lainnya Cuma ada di Gunung Raung. Kami diajak berkeliling menyusuri ruang-ruang bangunan pesanggrahan , menilik kamar-kamar berfasilitas lengkap yang bisa disewa dan, diceritai ini-itu. Bu Endang, juga mengingatkan kami akan logistic dan stock airyang idealnya kami bawa. Untuk memperingan beban, barang-barang serta pakaian yang tidak perlu, kami tinggal di Pesanggrahan. Lauk pauknya sudah matang, plus sambalnya. kami-pun menyantap masakan Bu Endang dengan lahap. Meskipun menunya sederhana, tapi saat itu terasa sangat nikmat sekali. Setelah makan, kami pun bersiap-siap, Bu Endang mengusulkan kami untuk mengojek saja ke Pondok Motor untuk mengirit energy dan air, sebab di Gunung Raung sama sekali tak ada sumbar mata air nantinya. Ok, kami setuju. Dia-pun menelponkan tukang ojeknya pula. Wah, sungguh baik hati sekali Bu Endang. Sebelum berangkat kami-pun mengisi kas Pesanggrahan sebagai retribusi plus bea menu sarapan paginya dengan nilai yang tidak dipatok, terserah menurut Bu Endang….. “sesuai  keikhlasan kalian saja”, katanya.

Empat Orang sopir Ojek sudah siap mengantar kami, Pukul 09.00 kami berpamitan pada Bu Endang, dan melesat kencang diatas motor menyusuri jalan aspal Sumber Wringin yang berlubang menuju Ke Pondok Motor.

Pondok Motor

Jalanan aspal pun berujung pada hutan pinus, berganti dengan jalanan makkadam dan medan makin berat, saya yang duduk diboncengan saja sempat takut ketika motor ojek harus berjungkat-jungkit melewati jalan-jalan batu, ojek-pun potong  kanan melewati jalanan perkampungan desa lalu potong kiri melewati jalanan pematang perkebunan kopi yang licin  dan becek. Tapi, Pak bibi yang kebetulan menjadi sopir saya berada di posisi paling depan, dengan lihai beliau mengemudikan laju motor membabat trek perkebunan kopi, dengan Tas Carrier dikempit didepan motor bebeknya dan aku di boncengannya. Pak Bibi terlihat santai sambil memegang rokok  yang tersulut di tangan kirinya dan tetap ngobrol, bercerita ini-itu  kepadaku. Saat aku menoleh kebelakang, ternyata Stepi dan sopir ojeknya tak namapak, Entah kemana mereka, kamipun berhenti untuk menunggu. Akhirnya terdengar suara motor, stepi dan rider ojeknya dating dari jalanan sebelah, ternyata mereka tidak melalui trek yang sama seperti trek yang kami lalaui. Para Rider asal Sumber Wringin lalau menyalakan motornya dan melanjutkan perjalanan kembali hingga akhirnya kami berhenti pada sebuah titik pe,berhentian yang sepertinya menjadi tempat pemberhentian dan bongkar muat barang-barang perkebunan. Inilah Pondok Motor, kami telah tiba. Ternyata , sekeitar satu jam perjalanan dengan menggunakan ojek. Poondok motor berada di daerah perkebunan, dengan view hutan pinus yang mengelilingi pandangan mata. Ternyata, motor yang ditunggangi stepi kotor berlumpur, ternyata mereka sempat terjatuh di trek tadi, dan aku lihat  betis kaki stepi sedikit tergores, bedarah.

Pak Bibi menegur Sopir ojek Stepi karena kecerobohannya. Diantara semua sopir ojek kami, sopir ojek Stepi memang yang paling mudah. Hahahaha, kami-pun ikut tertawa melihat kejadian ini. Setelah bercanda dan mengabiskan rorkok satu batang, dan berfoto bersama, kami-pun melepas perjalanan ke selatan, para tukang ojek pun balik sambil melambaikantangan mengiringi perjalanan kami. Saat itu pukul 10.00, kami susuri jalanan pematang perkebunan dan hutan pinus, jalanan berkelok-kelok, naik-turun dan berlumpur.

*Sempat Tersesat

Hati hati, Banyak sekali percabangan di sepanjang trek perkebunan, sedikit membingungkan kami yang sebelumnya tak ada yang pernah kesini. Tapi, kami ikuti saja jalanan trek paling besar yang menuju ke arah selatan-barat daya. Itu adalah trek pendakiannya. Tak ada petani atau orang yang lewat sepanjang jalan yang bisa kami tanyai. Kami berjalan terus hingga tiba di sebuah percabangan, kami ingat kata salah seorang sopir ojek kami tadi, “ambil trek ke barat daya daya mas….sampai masuk hutan nanti”. Berarti kami harus ambil kiri, sebelumnya kami sempat sangsi, sebab trek percabangan sama jelasnya. Dan dari orientasi medan yang kami lakukan, di trek kiri ini juga ada bekas-bekas pernah dilewati para pendaki, juga bekas-bekas sampah snacknya. Kami ambilah jalan kiri, melewati jalanan naik-turun menyusuri sisi tebing dengan jurang  pendek dan sungai kecil berair keruh didasarnya. Dan sampailah kami pada sebuah pondok di Ujung bukit, kami sadar, firasat jadi tak enak. Kelihatannya kami tersesat, salah arah. Kebetulan, kami lihat ada orang yang sedang bakar-bakar diatas, kami segera hampiri untuk bertanya, ternyata narasumber yang kami tanyai ini tak bisa bebahasa Jawa, begitu juga Bahasa Indonesia. Dia hanya bisa berbicara Madura. Wah, kami jadi beingung, diantara kami tak juga tak ada yang bisa bahasa Madura. Tanpa banyak omong, pria patuh baya itu mengantar  kami balik menyusuri jalanan tadi hingga sampai di persimpangan. Dia menjelaskan dengan menggunakan ranting pohon mana arah treknya. Terima kasih banyak bapak….. kami jadi tertolong.

Kami lanjutkan perjalanan kembali, ternyata yang  kami lewati tadi adalah percabangan kea arah Gunung Suket (2900 m dpl), hampir saja akami tersesat kalau saja tak ada Bapak Petani itu. Karena lelah kami istirahat, dan mengobrol dengan salah seorang penebang kayu yang kebetulan lewat, Lalu kami berjalan kembali menembus padang alang-alang dan memasuki batas hutan hujan tropis yang lebat. Itu tandanya kami telah menapaki kaki gunung Raung untuk menuju ke Pos berikutnya, Pondok Sumur.

Di peta tertulis, estimasi waktunya kurang lebih 3 jam  untuk ke Pondok Sumur, Tapi, lewat 3 jam, kami tak sampai juga ke Pos itu. Kelelahan membuat kami sering beristirahat dan sempat tertidur disalah satu tempat yang kami rasa nyaman di siang harinya. Makin masuk hutan trek makin sempit, terlihat banyak remah-remah kulit kayu bekas aksi  Illegal loging.

Hutan di kaki gunung raung masih sangat lebat, alami dan berlumut. Suasana-pun sangat lembab disini. Cahaya matahari hanya samar-samar yang menembus sampai kebawah. Membuat sepanjang trek menjadi sangat teduh, makin kedalam hutan, trek makin sempit, tapi untung tak banyak percabangan lagi. Sekilas, kondisi hutannya mirip dengan hutan lumut yang ada di sekitaran Danau Taman Hidup, saat kami bertandang ke Gunung Argopuro November lalu.

Kami kelelahan, pukul 14.30, kami tiba di sebuah tanah lapang kecil yang ada bekas biffaknya, beberapa bungkus mie instant dan botol air minum tampak berserakan di, kelihatannya tempat ini bekas dipakai camp. Pondok Sumur tak kunjung sampai, kami memilih bermalam disini saja, mengistirahatkan tubuh. Sebab, kami tak tahu, masih berapa lama lagi bakalan sampai kesana. Selain itu, hujan sudah mulai turun.

Saat kami memasak menu makan siang, terdengar suara gerombolan turun dari atas, ternyata mereka adalah rombongan Pecinta Alam dari IKIP jember, total ada 27 orang. Mereka sedang mengadakan Acara Diklat Lanjutan untuk para juniornya. Kami sedkit terhibur dengan kehadiran mereka, dan kami-pun sempatkan bertanya tentang kondisi trek diatas. Mereka pun menyarankan kami untuk bermalam disini saja kalau memang lelah, karena ke Pondok Sumur masih sekitar 2 jam lagi katanya, terus mereka menyarankan, untuk esok harinya nge-camp saja di Pondok Tonyok, tempatnya tertutup, jadi tak seberapa dingin. Mereka juga meninggalkan persedian air untuk kami disana. Dari Pondok Tonyok ke Puncak, butuh waktu sekitar 4 jam. Ok lah, kami ikuti saran mereka, mereka lalu bergegas turun lagi setelah ngopi-ngopi bareng kami. Dan kami segera masuk tenda, dan beristirahat, terdengar hutan makin bergemelitik lebat diluar.

PONDOK SUMUR(1800 m dpl)

Pukul  07.30, setelah sarapan dan packing. Kami lanjutkan perjalanan Ke Pondok Sumur, trek yang kami lalui mirip seperti terowongan yang terbentuk dari tanaman-tanaman liar yang tumbuh menyilang diatas kepala. Trek awal lumayan datar dan berkelok, ada juga pohon besar tumbang yang harus kami titih diatasnya karena menutupi trek. Beberapa harus kami lompati dan merangkak dibawahnya. Tanjakan makin terjal sudutnya, dengan sisi kirrinya berupa Jurang dalam, sampailah kami di Pndok Sumur. Waktu menunjukkan pukul 08.30, Cuma satu jam perjalanan ternyata. Pondok sumur berupa camp-ground dengan jurang dalam disinya, Lokasinya lumayan terbuka dan datar, cukup untuk 4-5 tenda saja, Ada Pal beton ditanah setinggi 30 cm, juga Plang dari Plat bertuliskan nama Pos ini ditancapkan di salah satu pohon tinggi.  Jangan berharap ada sumur atau sumber air disini. Kalau menurut cerita Bu Endang, memang sejatinya ada sumur disini dengan air yang sangat jernih, namun itu semua tak kasat mata. Hanya orang-orang tertentu saja dengan kemampuan yang waskita saja yang bisa melihatnya. Ternyata teman-teman dari IKIP Jember kemarin juga meninggalkan air disini untuk kami, lumayan meskipun tak banyak. Kami istirahat sebentar lalu lanjut.

PONDOK TONYOK(2210 m dpl)

Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan langkah kami. Tujuan selanjutnya adalah Pondok Tonyok. Kalau menurut peta, jarak dari Pondok sumur dan Pondok Tonyok kurang lebih sekitar 2 jam. Jalanan setapak makin sempit dan sudut elevasi pendakian makin terjal, ditambah lagi dengan adanya beberapa pohon tumbang dan semak belukar yang tumbuh menghalangi trek. Jalan berkelok-kelok dan terus naik. Sekitar 30 menit berjalan, ternyata saya baru sadar. Ternyata kamera digital kami tertinggal di Pondok sumur, kami lalai dantak sengaja meninggalkannya. Aku dan faliz terpaksa turun kembali unuk mengambilnya. Ternyata kamera tergeletak di tanah sekitaran kami istirahat tadi. Untung tidak hilang. Kami lalu naik kembali. Trek makin susah, jalanan setapak makin sempit oleh ilalang yang tumbuh subur di musim hujan. Untungnya, sulur-sulur belukar kadang salaing merajut suasana, menghadirkan sebuah terowongan yang teduh bagi kemai yang melangkah. Suasana jadi tidak panas. 2,5 jam harus kami tempuh untuk bisa sampai ke Pondok Tonyok. Pukul 11.30 kami sampai dan beristirahat sejenak. Ternyata, teman-teman dari Mapala IKIP Jember juga meninggalkan air disini,hehehe…Terima Kasih. Sempat ada wacana untuk buka tenda disini saja, lalu nanti tengah malam dilanjut ke Puncak. Tetapi, karena jarak antara Pondok Tonyok dan Pondok Sumur tidak terlalu jauh, hanya setengah jam saja, maka aku dan stepi trekking dulu untuk survey lokasi Pondok Demit, apakah nyaman dan tidak terlalu dingin untuk bermalam, sementara Faliz dan Ndox memasak makan siangnya, Tanpa Carrier, kurang dari 10 menit, kami sampai di Pondok Demit. Setelah orientasi pada medan, ternyata Posisinya lumayan-lah kalau dipakai bermalam. Atas pertimbangan daripada besok kejauhan ke Puncaknya, kami putuskan bermalam di Pondok Demit saja.

Pondok Demit(2367 m dpl)

Lokasinya cukup teduh, tidak luas. Sebuah tanah datar yang mungkin cukup untuk 3-4 tenda saja. Banyak Pohon-pohon besar mengelilingi. Disisi Barat pemandangannya terbuka ke arah jurang dan hutan lebat Raung. Kami bermalam disini saja. Sempat ingin melanjutkan perjalanan, karena mengingat hari yang menunjukkan masih pukul 13.30. Tapi, karena kabut dan gerimis mulai turun. Wah…..urunglah niatan itu. Konon, diberi nama Pondok Demit, sebab  disini ada Pasar Setannya. Waktu yang luang kami habiskan dengan bersenda gurau, dan saling bercerita tentang ini itu. Akhirnya ngantuk dan tertidur, Saat hari menjelang senja, Ndox yang masih berda diluar tenda membangunkanku. Sunsetnya begitu indah sore itu. Perpaduan antara jingga dan merah saling bergelayut merajut senja di ufuk barat. Membuat suasana begitu temaram dalam lembayung yang remang-remang. Kami semua terdiam, hanya bisa tertegun menelan ludah, tanpa berkata sepatah katapun. Sungguh indah nian saat itu, Terma Kasih Tuhan, Terima Kasih alam. Inilah Sunset terindah dalam hidupku. Kami bersimpuh, sambil menghisap batangan rokok kretek, sambil menyaksikan diaroma yang beberapa menit saja ini, lalu tak lupa mengabadikan mommentnya.

Ada yang aneh disini, sayup-sayup kami mendengar suara alunan yang mirip suara gamelan. Samar namun masih dapat kami dengar. Suara gamelan-pun diiringi suara orang nembang. Mirip seperti tembang jawa denan nuansa sedikit dangdut. Kadang sumber bunyi berasal dari arah depan, berpindah dari arah samping, dan berpindah dari belakang. Mirip speaker surround. Kami sempat bertanya Tanya, darimana asalnya. Namun setelah sadar, o..oh, kamipun langsung memilih masuk tenda saja dan beristirahat.

Pukul 02.00 Stepi membangunkanku, Persiapan untuk ke Puncak. Kami packin gulang barang-barang, dan kami tinggalkan carrier kami di salah satu sudut yang tertutup semak di Pondok Demit. Kami ke puncak dengan satu carrier kecil saja, yaitu carrier Ndox. Pukul 02.30 setelah berdoa, kami trekking ke Puncak, untuk kesana kami harus melalui Pondok Mayit dan Pondok Angin. Jalan memang makin menanjak terjal, banyak pohon-pohon besar tumbang yang kadang mengharuskan kami untuk menitih diatasnya. Namun, dengan bekal pencahayaan yang memadai, trekking dalam gelap bukanlah masalah. Ketika menegok ke belakang, kelap-kelip cahaya lampu kota yang berkedip sepi menjelma menjadi sebuah keindahan yang hening dalam gelap. Begitu indah berjajar, berkedip bergantian, dan kadang tampak bergerak dalam arus arah. Itulah kehidupan tanah rata di Kota Jember dan Bondowoso, indah dalam berbagai warna spectrum cahaya.

Kami istirahat sejenak, Pohon Pohon tumbang sepanjang trek tadi sangat merepotkan, memaksa kami menitihya, melompati bahkan kadang merangkak melewatinya. 1,5 jam perjalanan kami tiba di kawasan hutan cemara. Trek turun-naik sebagai pelipur perjalanan kami ke Puncak. Harusnya kami tiba di Pondok Mayit ini. Tapi, sama sekali tak terlihat plang informasi Pondok Mayit. Beberapa tanah lapang agak lebar, sering kami kira sebagai Pondok Mayit, ternyata bukan. Dan Kami terus saja berjalan. Kawasan hutan cemara berubah llagi menjadi padang alang-alang dengan medan miring. 2,5 jam trekking dari Pondok demit kami , akhirnya tiba disebuah camp-ground. Awalnya kami kira itu adalah Pondok Mayit, Ternyata dari Tulisan di Plang, ini adalah Pondok Angin.

Pondok Angin(2900m dpl)

Pondok angin tempatnya sangat terbuka dengan pemandangan lereng hingga hutan raung di sisinya. Kami saling bertanya-tanya, lalu dimanakah posisi Pondok mayit, apa tak sengaja kami lalui begitu saja tadi. Hari masih gelap dan digin, waktu menunjukkan pukul 05.00. Kami sarapan dulu disini, sambil menyaksikan pergantian hari dari gelap ke terang. Angin sangat kencang, kadang suaranya bergemuruh entah bergulung-gulung dari mana. Aku Pandang memutar, Disisi Barat, tampak membujur panjang Pegunungan Hyang Timur atau yang lebih dikenal dengan nama Argopuro, disisi Selatan, hijau dan lebatnya pemandangan Hutan raung tampak meraja lela dalam luas. Itulah, medan-medan yang kami lalui tadi. Di arah timur, ada gunung suket dengan puncaknya yang hanya ditumbuhi reruputan dan sesekali tanaman perdu.  Juga beberapa Gugusan Pegunungan Ijen lainnya, lalu disisi utara, tetap padang alang-alang yang terhampar terjal dan puncak raung yang berdiri megah dalam balutan cadas bebatuan vulkanis. Puncaknya terlihat dari sini. Kami jadi makin bersemangat. Langit sudah biru dalam pagi, kami lanjutkan perjalanan ke Pucak.

Summit Attack

Hamparan lebat alang-alang dan Ranting-ranting makin lama makin sedikit, ranting-ranting tumbuh kering tanpa sepucuk daun-pun menghiasi kayunya. Sekitar 10 menit dari Pondok angin, tibalah kami di batas Vegetasi. Semua pemandangan hijau seolah digulung disini, digantikan oleh diorama batu-batu cadas medan puncak Raung.  Puncak Raung masih angkuh berdiri dalam pandangan kami. Dengan medannya yang terjal dan berbatu. Sekilas medannya mirip medan puncak Mahameru, sama-sama terjal. Namun, bebatuan di Raung adalah tipe bebatuan sedimentasi padat. Jadi tidak longsor ketika ditapaki langkah. Tetapi, hati-hati dengan sisi jurangnya, struktur tanahnya rawan disini.

Ada sebuah petilasan” In Memoriam” disini, batu marmernya telah retak-pecah termakan usia, pada Nissannya terikat banyak syal, bandana, serta scraf dari beberapa rekan-rekan pecinta alam lain. Sebagai simbilisasi Do’a untuk saudara kita yang terlebih dahulu berpulang di Sisi-Nya karena sebuah kecelakaan ketika sedang mendaki gunung ini. Petilasan ini milik almarhum Deden Hidayat dari Bandung, meninggal disini pada Tahun 1993. Sempat terjadi Tanya dalam hatiku, apakah seperti ini nantinya nasib setiap petualang, berkhir dengan kematian dalam perjalanannya. Harus berkahir dengan jatuh ke Jurang, Hipotermia, hilang dihutan, atau bahkan terkena semburan larva panas kawah Mahameru. Lalu, kalau memang begitu, apakah hakikat dari semua petualangan ini. Apakah Cuma sebagai media cari jalan kematian. Arrrggggh….semuanya memang mengerikan ketika dipandang sesaat, namun setelah kuresapi, justru inilah hakikatnya. Inilah jalan kita. Bukankah sebuah kebanggan besar, bisa melangkah dijalan sendiri, merintis arah dan memikul beban berat hidup dipundak sendiri, bisa bersendawa ria dengan alam, menyulam kisah bersama kawan, menyaksikan pemandangan baru, bahkan ketika harus melewati ujung takdir disana. Tak ada penyesalan untuk sebuah hakikat, karena semua lahir dari pemikiran individu yang paling dalam. Tak ada yang mengerikan, justru semuanya tampak begitu indah dan dan damai. Ini adalah dunia dimana Uang dan Politik sama sekali tak ada harganya. Hanya ada kita, alam dan Tuhan. Hidup dan mati itu perkara pasti untuk setiap makhluk Tuhan, semuanya sudah terangkum dalam jilid Buku Takdir. Bagiku, Bukan soal dimana tempatnya, bukan soal apa yang dibawa dan ditinggalkannya, bukan soal dunia. Tapi sebuah perjalanan diantara itu, apakah layak dikenang dalam sebuah narasi tauladan.

Perjalanan kami lanjutkan; batu-demi batuan medan kami tapaki, di beberapa titik jalan hanya selebar tapak kaki, kurang lebih 30 cm. Berupa puncak tebing tipis menjulang yang harus kami lalui sebelum sampai ke puncak, kanan-kirinya adalah jurang dalam. Kami terpaksa merangkak ketika melewati titik ini, dan jalur makin sempit. Yang namanya adrenaline benar-benar terasa disini. Memompa kencang darah hingga ke pitam. Kami ikuti saja terus tapak-tapak kaki bekas pendakian yang ada di di bebatuan dan pasir sebagai panduan jejak.

Puncak raug sudah dekat, Stepi dan faliz sudah duluan sampai di Puncak, mereka memberi semangat pada kami, menjelang puncak, medan beganti dengan pasir-pasir vulkanis yang ambles ketika diijak. Dan sampailah kami di Puncak Gunung Raung.

Puncak Raung (3100 m dpl)

Kami tiba di Puncak raung pukul 06.30, Langit masih biru dan indah saat itu, meskipun awan-awan masih belum pada bergumul dibawah kami. Aku nikmati jengkal demi jengkal pemandangan disini. Puncak raung berupa cekungan yang langsung menghadap kekawah, cekungan tidak seberapa luas, kurang lebih selebar 1 meter, kami bisa mengintip kawah disini. Angin Puncak langsung mengembus ketika aku hadapkan diriku pada hamparan luas kaladeranya. Aku coba pandang kebawah, coba mengarahkan pandngan ke dasar kawahnya, Namun aku tak terlalu berani berdiri menepi, tanah sangat rawan longsor. WOW!! Kaldera kawah Raung begitu luas, dengan kedalaman sekitar 500 meter, dan diameter kawah kurang lebih 1,5 km. Sebuah pemandangan yang menakjubkan, kawah yang tandus dengan sebuah gunung anakan kecil tampak aktif mengepulkan asap ditengahnya. Sementara disekitar kami, tebing-tebing batu cadas saling berlomba menjulang tingi. Diseberang kami, terlihat sebuah puncak bebatuan berdiri menjulang, yang kata orang sering disebut sebagai Puncak Sejati Raung(3332 m dpl). Dari posisi kami sekarang, sangat tidak mungkin untuk menuju kesana. Mustahil untuk menyusuri-keliling bibir kawah hingga sampai kesana, sebab medannya sangat curam dan berbahaya. Biasanaya, pendaki-pendaki yang sampai ke Puncak Sejati, bukan lewat jalur Sumber Wringin, Tapi lewat jalur Kalibaru yang drintis oleh PATAGA, atau jalur Glenmore yang dirintis oleh MAPALA UI.

Setelah puas berselebrasi dan berfoto. Kami turun kembali. Cuaca cerah sekali pagi itu, pemandangan luas hutan Raung yang lebat terhampar seperti sebuah karpet hijau tua dihadapan kami. Kawah Ijen masih terlihat aktif meniupkan asap belerangnya disisi kanan gugusan pegnungan Ijen. Kami melangkah setapak-demi setapak dengan hati hati, sebab, tak seperti saat naik. Saat turun medan begitu licin dititih, kamipun sempat jatuh bangun beberapa kali, terpeleset.. batas vegetasi telah lewat. Kami turuni padang alang-alang dan sampai kembali di Pondok Angin, Istirahat sebentar lalu lanjut lagi.

Saat turun, kami jumpai Pondok angin, Rungsep, mungkin bekas terkena badai, dan banyak pohon tumbang disana, dan Jalur pendakian memang dialihkan untuk tidak lewat kesana dan langsung ke Pondok Angin. Sebab, pondok mayit tak mungkin dipakai untuk berkemah. 2 jam ddari Puncak, kami tiba di Kamp kami, Pondok Demit.  Tak ada masalah dengan barang-barang kami, tetap tak tersentuh diposisi semula saat kami tinggalkan. Kami masak makanan, menghabiskan perbekalan, lalu jam 11 siang kami lanjut turun supaya tidak terlalu sore sampai ke Pondok Motor nantinya. Kami lalui Pondok Tonyok, setelah pondok sumur, di sekitaran tempat kami bermalam pada hari pertama, aku telefon Pak Bibi, sang Sopir ojek, agar menjemput kami nantinya. Menjelang batas perkebunan, hujan yang sebelumnya hanya gerimis, menjadi lebat. Kami pasang raincoat dan lanjut jalan. Keinginan kami hanya satu sat itu, segera sampai ke Pondok Motor, Balik Ke Pesanggrahan, lalu makan masakan Bu Endang plus Sambelnya. Pukul 15.00 kami sampai di Pondok Motor akhirnya. Lebih cepat 30 menit dari estimasi waktu janjianku dengan Pak Bibi. Hujan begitu lebat saat itu, kami menunggu dalam keadaan hampir basah kuyup di Pondok Motor hingga Ojek dating dan mengantar kami balik ke Pesanggrahan. Hahahahaaaa…..akhirnya sampai juga, kami membersihkan badan dan madi disana, lalu makan.hehehe.

Karena masih sore, kami putuskan balik sore itu juga supaya tidak buang-buang waktu dan besoknya bisa full istirahat. Setelah memberekan barang-barang, kami berpamitan dengan bu Endang sekeluarga, dan diantar lagi oleh Pak Bibi dan kawan-kawan ke pertigaan Gardu Atak untuk menunggu Bus balik.

Detail Perjalanan Dari Surabaya :

Berangkat:

Bus malam ekonomi Sby- Jember(Tawangalun)   Rp.28.000

Angkot Tawangalun ke Arjasa   Rp.10.000

Bus Mini Arjasa-Gardu Atak    Rp.6000

Angkotan ke Sumber Wringin    Rp.5000

Ojek ke Pondok Motor Rp.30.000/trayek

Balik :

Ojek Sumber Wringin-Gardu Atak    Rp.15.000

Bus gardu Atak- Situbondo    Rp.5000

Bus Situbondo –Surabaya      Rp.28.000

Sekian.

Advertisements

10 responses to “Pendakian Gunung Raung 2010

  1. Meskipun Panjang….Tapi gak bosan saya bacanya!!
    Lebih tepat disebut cerita perjalanan…

    Bagus sekali tulisannya. Dijadi’in buku aja nih petualangannya

  2. bagus mas.,.,., baru baca awalnya aja udah tertarik.,.,., hehehe.,.,., cz emang pngalamanQ dkit, tpi smakin lama smakin tertarik untuk jadi pecinta alam alam.,.,.,.,

  3. Jalur pendakian dari bondowoso memang menantang banget, tapi sekali – kali coba jalur pendakian dari glemore atau kalibaru banyuwangi, pasti seru banget karena jalur itu jarang sekali dilewati, tapi harus siap dengan bekal yg ckup dan disana tdk ada pos pendakian yg resmi. good luck.

    • Hohoooooo…..Iya bang!!
      Saya pengen banget coba jalur Raung yang sisi selatan…..
      Kalibaru kelihatannya lbih menarik tuh…..
      Nih aja masih cari partner yang bisa mendampingi kesana…:(

  4. Pingback: My blogs reviews in 2010 « Andy's note·

  5. adaka yg bulan marep ini mau kesana? bisa bareng g ya kami rencana tgl 18 maret mau kesana Via waringin. dan klo ada yg bisa bantu aku ngasih map route tracknya?
    klo ada yg punya petanya saya minta kirim aja ke loem_punk@yahoo.co.id atau ke chann41@gmail.com
    thanks sebelumnya buat yg mau bantu.

    • Waaah……saya carikan info dulu yaaah gan!!
      Untuk Raung memang sedang sepi gan….anak2 pada ngacir duluan soalnya lagi aktif kann sekarang….

      Nnti kalo ada kabar…saya posting di sini…
      Keep subscripe yaaah!

  6. pada tau gak
    waktu foto bareng tukang ojek itu
    yang pake jaket tentara itu om gw,,,
    kagak nyangka
    kalo mau ke raung lagi silahkan mapir di rumah saya…………
    silahkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s