Pendakian Merbabu


Catatan Pendakian Merbabu

22 – 24 Januari 2009

Jalur Pendakian Cuntel, Kopeng-Kab.Semarang.

Tim Ekspedisi : Saya, Aqil, Susilo, Penyet.

Hari itu rabu, 21 Januari 2009. Kami berkumpul dulu di Rumah Aqil, tidur disana malam itu untuk membicarakan perjalanan. Dan, subuhnya, tepat pukul 04.30 wib kami memulai Touring ke Jawa Tengah. Dari Surabaya, kami berangkat cuma bertiga. Aku berboncengan dengan Aqil, sementara Susilo sendirian mengendarai motornya. Kami ikuti saja trayek bus jalur selatan, melalui kota Solo, lalu mengambil jalur arah Kota Semarang. Sebab tujuan kami adalah Salatiga, yang terletak diantara Jalur Solo- Semarang. Perjalanan Surabaya – Salatiga dengan motor kurang lebih menghabiskan waktu 8 Jam. Dan kami tiba di kota Salatiga pukul 1 siang, lalu menyusur kota menuju ke Rumah Susilo yang terletak di Dusun Sejambu (kurang lebih 15 menit dari pusat kota), makan lalu istirahat.

Sorenya, Penyet menelepon kami, memberitahu  kalau dia sudah tiba di Terminal Bawen(Ambarawa) dan meminta untuk dijemput. Penyet yang hampir selalu menjadi partnerku dalam pendakian-pendakian sebelumnya, pada saat itu sebenarnya sedang berada di Magelang. Mendengar aku akan mendaki lagi, dia langsung memutuskan bolos kerja beberpa hari untuk ikut dalam pendakian ke Merbabu.

Malam itu, kami habiskan sambil berkeliling kota Salatiga lalu Nongkrong di Kedai Ronde “Mak Pari” di bilangan kota Salatiga sambil membicarakan rencana pendakian esok harinya. Tak sampai tengah malam,kami balik kerumah Susilo untuk istirahat, mempersiapkan fisik untuk esok hari.

Sebagunnya dari tidur, kami melihat dahulu cuaca; ternyata cukup berawan. Gunung Merbabu yang biasanya terlihat dari teras rumah Susilo, pagi itu tertutup oleh saputan awan. Samar-samar, hanya terlihat siluetnya dalam putihnya pagi itu. Lalu kami packing, dan mendata logistic yang akan dibawa, karena kebetulan sekali dalam pendakian kami kali ini, stock logistic dapat sokongan dari Ibunda Susilo yang baik hati. Wah, menu malah kelihatan sangat mewah, ada beras, tempe-tahu, telur puyuh, Mie instant, Sayur-mayur, bumbu-bumbu, Sarden, Susu Milo, Kopi, garam dan Gula. Betapa nikmatnya kami para pendatang ini. Rasanya, seperti Turis yang disambut meriah oleh Tuan Rumah.

Kami jadi tidak enak sendiri…..

Base Camp Cunthel

Setelah berpamitan dan minta Doa’ restu pada Ibu Susilo, kami berangakat berboncengan Ke Dusuun Cunthel. Perjalanan kurang lebih 1 jam dari rumah Susilo. Base Camp terletak di Dusun Cuntel (1700 m dpl).  Sangat menyenangkan, setibanya disana kami disambut hangat oleh Pak Partono dan Pak Yakub (Penjaga Base Camp). Berbincang dahulu sebelum berangkat mendaki, Pak Partono dan Pak Yakub sangat ramah pada setiap tamu yang dating. Sungguh suasana yang sangat jarang ditemui di Base Camp pendakian gunung manapun. Base camp juga menjual beberapa kebutuhan seperti batterai, minuman, snack, sabun, kopi, extra joss, mie instant juga cinderamata. Tak perlu khawatir, Basecamp buka 24 jam, jadi kita bisa datang kapan saja. Kalau mau makan atau minum hangat, Pak Partono dan Pak Yakub juga bersedia membuatkan. Sungguh suasana Basecamp yang nyaman.

Start Pendakian

Pukul 12 siang, setelah pamitan dengan kedua penjaga Basecamp, kami berangkat. Kami menyusuri jalanan kampong Desa Cuntel sebelum akhirnya sampai di batas perkebunan dan jalan setapak pendakian. Sekilas, ketika melihat Desa Cuntel; saya jadi teringat dengan Ranu Pane. Yah….desa terakhir di Semeru. Pemandangan alamnya yang indah, sejuk udaranya, serta pertak-petak ladangnya, sangat mirip sekali dengan Ranu Pane. Sepanjang perjalanan, kita akan menemui tandon air penduduk, kita bisa mulai mengisi air. Tak perlu semua, sebotol saja untuk teman perjalanan. Sebab, Tandon air terakhir masih ada di tengah perjalanan antara Pos Bayangan I dan Pos Bayangan II.

Pos Bayangan I (1858 m dpl)

Setelah berjalan 30 menit penuh tanjakan, dan menyusuri perkebunan penduduk, kita tiba di Pos Bayangan I. Cuma ada sebuah gardu dengan atap-atap berupa seng. Yang sudah tidak terawatt dan kondisinya reot. Kami istirahat sejenak, lalu jalan lagi. Tak lama berselang, kami mendengar suara gemericik air, ternyata didepan kami ada sebuah Tandon Air. Silahkan mengisi air disini; sebab inilah Tandon air terakhir bagi kita para pendaki. Untuk amannya, dalam pendakian Gunung Merbabu, masing-masing pendaki bawa persediaan 5 liter air untuk minum dan memasak.

Pos Bayangan II (2063 m dpl)

15 menit berjalan kembali dari tendon air terkhir, kami tiba di Pos II. Ada sebuah gubuk yang cuam tinggal kerangkanya saja. Sungguh tidak terawat. Dari sini, kabut dan gerimis mulai menyerang. Kami memasang raincoat dan melanjutakan perjalanan.

Pos I / Watu Putut  (2145 m dpl)

Perjalanan makin berat oleh beban air dalam jerigen. Mana jalan setapak makin menyempit oleh ilalang dan rumput liar yang tumbuh subur di musim hujan, tanjakan juga makin terjal dan licin. Jarak antara Pos bayangan II dan Pos I ternyata tidak jauh, 20 menit perjalanan kami sudah tiba. Kami memasak mie instant  dan minum Kopi disini. Pos I adalah sebuah lapangan kecil berada di pinggiran bukit, sebelah kami adalah jurang. Dan diseberang  jurang terlihat jalur pendakian dari Tekelan.  Cuma cukup untuk 2-3 tenda, sangat jarang orang ngecamp disini, sebab masih terlalu dekat dengan kampong.

Pos II/ Kedokan (2300 m dpl)

30 menit berjalan menyisir punggungan bukit yang menanjak, kami tiba di Pos II. Ada bekas Camp yang masih baru jejaknya. Pos II terletak di  punggungan bukit, disekitarnya beruapa pemandangan perengan bukit, lembah dan hutan.Pos II berupa kedhukan punggungan bukit. Lebih luas daripada Pos I, cukup untuk 5 tenda. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Mengejar agar tidak terlalu malam sampai di pemancar, kami segera bergegas.

Pos III/ Kergo pasar  (2458 m dpl)

Perjalanan setelah melewati Pos II, 30 menit berjalan, kami mulai masuk hutan lebat dan padang alang-alang, jalanan naik dan berkelok-kelok, kadang kami juga menyiri pinggiran bukit yang sisi kanannya adalah jurang. Suasana makin sore dan gelap oleh mendung. Trek makin licin setelah gerimis kembali menggelitiki perjalanan kami, 30 menit perjalanan. Kami tiba di Pos III. Tak ada Plang atau papan yang menerangkan kalau ini Pos III; berupa sebuah camp ground ditengah-tengah hutan. Ada bekas sampah dan kayu bakar. Lumayan luas, bisa 10 tenda lebih. Tapi karena musim hujan, alang-alang yang tumbuh lebat membuat tempat ini tampak sumpek dan rimbun. Kami tak berhenti disini, langsung lanjut saja.

Hujan makin deras, dingin angin makin menusuki seluruh persendian, bercampur dengan beban yang kami bawa saat itu membuat kami kelelahan. Kami cari tempat agak rindang. Beristirahat sejenak untuk buat minuman hangat. Akhirnya, serupatan Milo hangat cukup menghibur bibir kami yang kering. Lalu perjalanan kami lanjutkan kembali.

Setelah keluar hutan, kami tiba disebuah padang alang-alang di punggungan bukit, Pos IV(pemancar) sudah terlihat berdiri gagah diatas sebuah bukit yang tinggi, seperti sebuah tancapan bendera finish untuk perjalanan kami hari itu. Target kami, bisa ngecamp disana malam itu. Tapi, hujan makin lebat saja, bercampur dengan angin kencang. Menghormati waktu Maghrib, kami istirahat sejanak. 10 menit lalu jalan lagi. Langit sudah gelap, cahaya senter jadi penuntun kami selanjutnya.Hujan dan trek licin makin menyulitkan. Kami bolak-balik terpeleset lumpur, untung saja trek bukan pelipiran,dan tanah tekstur lumayan padat,  jadi tak khawatir longsor.

* Amukan Badai Merbabu Malam itu.

Pukul 7 malam, hujan makin deras, hembusan angin makin kencang. Tak terima berhembus saja; suaranya mirip seperti teriakan-teriakan orang. Bayangan hitam pepohonan jadi dibuat terhempas liar oleh tiupannya. Pada saat itulah kami baru sadar, kalau yang kami hadapi kala itu adalah badai, berhembus dari puncak, seolah menghalangi perjalanan kami. Kami berhenti sejenak, istirahat. Membuat bifak sederhana untuk dari raincoat untuk payungan, lalu kami memasak dibawahnya. Mie instant sangat berguna disaat darurat seperti ini, lumayan menghangatkan badan kami.

Saat itu pukul 20.30. Sialnya, badai tak kunjung berhenti. Malah makin kencang saja. Diam saja membuat kami kedinginan lagi. Kami memutuskan untuk kembali berjalan, mencari tanah agak lapang untuk mendirikan tenda darurat malam itu. Terus terang, amukan badai malam itu sangat membahayakan, kami tak berani ambil resiko meneruskan perjalanan ke Pos IV(pemancar). Mana kondisi seluruh tim yang kelelahan dan kedinginan. 10 menit berjalan, kami sampai di Padang Edelweiss. Ada sebuah tempat rindang, sisi kanannya cukup untuk ukuran tenda kami. Langsung saja, kami putuskan malam itu buka tenda disini. Bikin bifak untuk tempat memasak, lalu beristirahat. Besok baru lanjut kembali.

Pos IV /Pemancar  (2883 m dpl)

Diginnya malam, dan kondisi badan basah membuat kami tak bisa tidur nyenyak malam itu, sampai dengan menjelang subuh aku masih mendengar hujan rintik-rintik. Pukul 7 kami bangun, cuaca sangat cerah pagi itu. Pos IV (pemancar) ternyata sudah sangat dekat. Kami memutuskan langsung tancap gas saja kesana. Pukul 7.30, setelah berkemas kembali. Perjalanan kami lanjutkan. Sudut elevasi pendakian makin terjal. Trek menuju ke puncak bukit, melalui padang edelweiss, terus menanjak melewati padang savanna. Dari sini pemandangan kota salatiga dan Kopeng terlihat kotak-kotak dibelakang kami. Kurang lebih 1 jam berjalan kami akhirnya tiba di Pos IV.

Ternyata, disamping pemancar ada bangunannya juga, yah….sebuah gardu satu bilik, Ternyata, menara pemancar sudah tidak berfungsi lagi dan gardunya kosong. Dikelilingi oleh kawat berduri dan dihiasi oleh aksi vandalism pendaki-pendaki yang kurang bertanggung jawab. Membuat tempat ini terlihat terawat. Ada celah untuk masuk ke bangunan, melalui sisi depan yang kawat berdurinya sudah dirusak. Sangat disayangkan sekali, kondisi disini sangat kotor, sampah dimana-mana, ditambah lagi coretan-coretan di dinding. Kami rapat sebentar, untuk memutuskan apakah perjalanan ke puncaknya dilanjutkan hari ini juga atau esok pagi hari. Cuaca cukup cerah soalnya, dan tidak bisa dipastikan esok hari bakal secerah pagi ini. Namun, karena pertimbangan angin yang cukup kencang saat itu, kami tak berani ambil resiko. Apalagi kami belum mengenal medannya. Maka diputuskan, perjalanan ke puncak dilanjutkan esok hari saja. Siang itu kami beristirahat di Pos IV dan berdoa semoga cuaca esok hari cerah.

Kami mendirikan tenda didalam gardu. Gardu sangat lembab dan kotor sekali saat itu, banyak sekali sampah-sampah plastic dan kaleng disudut ruangan.mana becek lagi didalamnya. Tapi, demi berlindung dari cuaca yang kurang bersahabat. Gardu yang lembab itu-pun tak jadi masalah. Sebab, hari ini kami putuskan untuk beristirahat penuh untuk persiapan fisik besok ke puncak.

Siang hari kami habiskan untuk foto-foto dan memasak, dari Pos Pemancar, landscapenya sudah lumyan bagus. Diseberang jembatan setan, terlihat jelas puncak-puncaknya. Puncak syarip, Puncak Kenteng Songo, dan Puncak Triangulasi. Juga jejeran puncak-puncak kecil lainnya, Geger Sapid an Gunung Kukusan.

Malamnya, kami kedatangan teman, mereka adalah rombongan pendaki dari kota Wonosobo, Magelang dan Salatiga. Mereka datang berurutan. Kami berbincang sejanak dengan mereka, cuaca malam itu cerah,kami makin optimis untuk melangkah ke puncak esok harinya, di sisi Utara, kelap-kelip lampu kota Salatiga dan Semarang menghiasi obrolankami malam itu. Alam menjadi saksi pershabatan kami malam itu, ditengah –tengah gugusan sisi-sisi puncak merbabu. Rombongan dari Wonosobo-pun bersedia menemani kami ke puncak, kami janjian mulai pendakian puncak esok hari pukul 5 pagi. Lalu kami pamitan masuk tenda dan istirahat.

Perjalanan ke Puncak

Pukul 04.30 alarm berbunyi, aku dan aqil keluar tenda, Memasak sereal. Penyet dan meki menyiapkan apa saja yang akan kami bawa ke puncak. Rombongan dari Magelang mengetuk pintu, minta ijin untuk turut masuk di gardu, mereka kedinginan. Ternyata mereka tak bawa tenda, hanya bermalam mengandalkan jaket dan sleeping bag. Mereka tak turut ke puncak, hanya cukup sampai di pemancar saja. Yah sudah, kebetulan…..kita suruh saja tidur di tenda , sambil titip barang-barang kami. Setelah itu kami  menuju ke Camp rombongan dari Wonosobo. Ternyata mereka masih tidur….kami bangunkan, tapi mereka mengajak agak siangan aja ke puncaknya. Karena tak berani ambil resiko dengan cuaca yang susah ditebak, kami jalan duluan saja.

Jembatan Setan

Trek ke puncak Merbabu, diawali dengan melewati puncak-pucak kukusan tebing tipis. Orang biasa menyebutnya Jembatan setan. Sungguh suatu nama yang membuat bulu kuduk berdiri. Tapi, karena mental sudah bulat, kami lalui saja. Treknya tidak berat sebenarnya, kebanyak landai.Namun lumayan membuat soprt jantung, karena sisi kanan-kirinya adalah jurang , dan makin lama trek makin sempit. Akhirnya akupunmulai sadar, kenapa jalur ini disebut dengan nama JembatanSetan. Jika salah langkah, dan terperosok  maka tamatlah kita.Maka, usahakan jangan sampai melamun saat melewati tempat ini, berbahaya.

Kawah Merbabu

Kawah merbabu adalah kawah mati, berupa gugusan  batu-batu belerang, namun baunya masih sangat menyengat. Uniknya, kawahnya tersebar dibeberapa titik dengan jarak yang tidak seberapa jauh. Kami mendengar suara gemericik air dari sini. Jelas sekali, ada sumber air  seperti sungai dibawah, juga terlihat trek turunnya disebelah kanan jalur pendakian. Tapi, karena persediaan air kami rasa masih mencukupi sekali. Maka kami lanjutkansaja perjalanan. Trek jembatan setan makin menyempit, dan naik-turun. 45 menit perjalanan, kami tiba di Pertigaan jalur Syarip-Kentheng Songo. Kami lanjutkan perjalanan, dan memutuskan Puncak Kentheng Songo sebagai tujuan utama kami.

Puncak Kentheng Songo (3142 m dpl)

Dari Pertigaan, kalau mau ke Puncak Kenteheng Songo, ambil jalur ke kanan. Kita akan melewati jalur setapak menyusuri padang rumput yang indah, treknya landai. Dan pemandangan sangat indah dari sini. Pos Pemancar, tampak kecil sekali dari sini. Dibelakangnya tampak gunung telomoyo dan Ungaran.

Trek mengalun naik-turun mengikuti penampang puncak-puncak bukit. 10 menit, kami tiba di sebuah persimpangan; jika ke kiri-bawah, kata akan memutar melewati puggungan bukit untuk ke Puncak Kenteheng songo. Jika terus, kita akan munyusuri jalur tipis diatas bebatuan. Saya sarankan, mending ambil trek memutar, lebih aman. Sebab, Tim kami-pun awalnya tertipu melewati trek yang lurus, sempat dag-dig-dug ketika harus mendaki batu-batu yang tipis dan kanan-kiri kita adalah jurang dalam. Sampai batas ada bendera merah putih tertancap, kami tak melihat ada trek, jalan langsung memotong turun tajam, menuruni batuan karang dengan sudut hampir 90 derajat. Sangat berbahaya. Akhirnya kami memutuskan balik saja, ambil trek memutar, lebih aman.

Baru saat mau menaiki puncak, kita mau tidak mau dipaksa melipiri jalur bukit karang yang tipis sekali, treknya kira-kira cuma 15 cm lebarnya sepanjang 10 meteran kita harus melaluinya sambil berpengangan pada tebing-tebing disisi kanan kita, sebab sebelah kirinya adalah jurang. Syuuuuh….lumayan sport jantung.

Dilanjutkan dengan trek terjal yang hampir tegak 80 derajat. Trek yang juga licin membuat kita tertatih-tatih mendakinya. 5 menit kemudian, tepat pukul 07.15 kami tiba di puncak Kenteng Songo. Berupa dataran sempit, dengan empat kenthengan(tempat air) dari batu ditengah-tengahnya. Susilo menjelaskan padaku, kalau sejatinya Kentheng(Tempat air) yang ada disini berjumlah Sembilan buah. Oleh karena itu, diberi nama “Puncak Kentheng Songo”. Namun, hanya orang-orang tertentu dan pada hari-hari tertentu saja bisa terlihat berjumlah Sembilan buah. Dan, setiap pendaki yang mencapai puncak ini, selalu bercerita tentang jumlah Kentheng yang berbeda-beda antara rombongan satu dan lainnya.

Terdengar ada suara orang yang memanggil kami, mereka ada diseberang. Ternyata ada trek menuju kesana. Kamipun menuju kesana.

Puncak Triangulasi (3151 m dpl)

Ternyata trek yang kami lalui menuju ke Puncak berikutnya, sekaligus puncak Trtinggi di Merbabu, ini adalah puncak Triangulasi. Tidak jauh, kira-kira 100 meteran. Kami mengampiri dua orang yan menyapa kami, dan berkenalan. NamayaYayak dan Yudi. Kurang lebih sebaya dengan kami.Ternyata, mereka berdua dri Salatiga. Mereka sampai disini pukul 06.30 tadi, berangkat  selepas Isya’ dari jalur Tekhelan.

Dari sini, di sisi selatan, tampak sketsa gunung Merapi yang gagah. Dan pemandangan Desa Selo dibawahnya.Seolah menjadi suguhan tantangan ekspedisi berikutnya bagi kami.Terus menyembulkan asap kawahnya yang putih keudara, dengan angkuhnya, laksana sebuah undangan bagi kami untuk bertandang menjejakkan kaki ke Puncak Garuda-nya yang terkenal akan berat medannya. Juga tampak jalur pendakian Merbabu dari arah Selo. Melipir naik-turun bukit-bukit teletubies.

Kami istirahat, makan kabin sambil berbincang dengan teman baru kami. Mereka bertanya-tanya tentang Gunung Semeru, aku suruh mereka main ke Jawa Timur, pasti nanti saya antar ke Semeru. Gantian, Mereka-pun berjanji akan mengantarku ke Gunung Slamet saat aku bertandang. Hehehe. Pukul 08.00 kami lanjutkan perjalanan, mereka langsug turun, dan kami menuju ke Puncak berikutnya.

Puncak Syarip (3119 m dpl)

Dari ketiga puncak Merbabu, Syarip adalah yang terendah. Untuk kesana, kami harus balik ke Pertigaan awal.  Jika ke Kentheng Songo ambil kanan, makan kalau ke syarip, kita ambil ke kiri. Tak lama, kurang dari 5 menit dari pertigaan kita sudah ada di Puncak syarip. Saat itu kira-kira pukul 08.30, langit sangat cerah dan pemandangan sangat luas disini. Inilah keindahan alam Merbabu, kami berempat sangat bersyukur kepada-Nya karena atas rahmat dan Hidayah-Nya telah diberi  kesempatan untuk bisa meraih ketiga puncaknya. Sehingga bisa menuturkan kisah ini dengan bangga.

Lalu , setelah itu, kami berjabat tangan dan berpelukan atas semua keberhasilan dan kenangan kami pagi ini. Dan, untuk Merbabu, gunung Jawa Tengah yang pertama kalinya kita jejaki puncaknya.

***

Untuk balik ke Pos Pemancar, dari puncak syarip. Kami melwati trek yang sama seperti saat berangkat, melalui kembali jembatan setan yang makin seram dilalui ketika angin berhembus kencang. Kabut-pun terlihat mulai naik mengampiri kami. Kira-kira 1 jam perjalanan balik, kami sampai di Pemancar. Rombongan dari Wonosobo dan dari Magelang yang kami suruh menempati tenda kami ternyata sudah tidak ada disana, entah kemana, mungkin saja langsung balik. Tanpa meninggalkan pesan-pesan pada kami.

Kami memasak, makan. Packing, Lalu segera turun.

Dari Pos IV/ Pemancar, untuk turun kembali ke Basecamp kami butuh waktu 3 jam. Pukul 2 siang kami sudah tiba di Basecamp Cunthel. Ternyata, disana ada beberapa pendaki dari UKSW (Universitas Satya Wacana) Salatiga. Mereka 3 orang, mereka  sebenarnya ingin berangkat mendaki kemarin malam, tapi karena hujan, mereka jadi malas dan memilih bermalam saja di Base camp. Kami-pun mengobrol dengan mereka tentang Gunung Semeru, Gunung Kerinci di Sumatera dan Puncak Sejati Gunung Raung di Jember yang ternyata sudah pernah mereka daki.  Sangat mengagumkan…..

Inilah catatan atau lebih bisa disebut Cerita Perjalanan saya ketika menapaki indahnya Gunung Merbabu. Sungguh sangat berkesan, suatu hari nanti. Kalau masih ada kesempatan, saya akan mengulanginya…… semua momen indah menapaki  Puncak keindahannya.

Dan, setelah ini, foto-foto pendakian kami akan kami cetak dan albumnya akan kami taruh di Base Camp Cunthel, sebagai kenang-kenagan untuk para pendaki selanjutnya. Akan semua keindahan  yang kami  raih dan saksikan selama 3 hari pendakian itu.

Andy Supertramp

Thanx to :

Allah SWT……….       atas semua Semesta Alam dan Keindahannya.

Keluarga ……yang selalu mendoakan aku dari Rumah.

Susilo sekeluarga…..  atas Homestay nya selama kami ada di Salatiga

Pak Partono dan pak Yakub …….atas sambutannya selama di Base camp Cunthel.

Aqil………sebagai partner perjalanan + Foto-foto Strobiss nya yang indah.

Penyet…………atas Tumis sayurnya yang lezat.

Honda Grand 97’ ku…………yang telah membawa aku dari Surabaya ke Salatiga.

Advertisements

8 responses to “Pendakian Merbabu

  1. wah,makin hari makin melanglalng buana nih bung supertramps…!!

    Nice Catper…
    kpn jalan”beriktnya??
    say ikut bang…

    • Terima kasih atas sanjungannya mas……
      hehehehe……
      kebertulan semester kemarin banyak waktu luang, jadi bisa melanglang buana…
      hehehehe….

      Tgl.24-28 saya ke Raung…
      kalo pengen gabung, monggoh…..
      contact via email aja mas….

  2. Wow……Salatiga yah……
    Jadi pengen naik kalo tau ternyata merbabu tuh keren viewnya diatas…..

    Gabung donk mas…..
    kabarin yah akalo ada pendakian lg.

    • Iya mas…..saya naik dari Cuntel-kopeng..
      Ok….. tgl.24, saya mau ke raung mas, Jember-Jawa Timur.
      Kalo mau gabung…ayoo!!
      hubungin via email ato YM aj mas…..
      kita mah welcome aj…..
      yang penting asiikk.,..

  3. Wah MAs andy..Makin Keren aja..
    denger ke raungnya ngajak juniornya ni??…wah2 pasti keren n ganteng juniornya ni..^^

    • aduuuuh….bencana tuh mas saya ngajakin junior yang salah!!
      mana anaknya bawel, lebay, cerewet….wess pokoknya gak bangett!!
      hehehehee……
      kita buang ke kawah raung, eh malah dibalikin lagi……kejelekan anak…gak bisa buat tumbal.
      hehehehehe……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s