Pantai Watu Godek


Perjalanan dimulai malam hari, sekitar pukul 7 malam saya tiba dirumah Mas Iwan. Ngobrol-ngobrol sejenak lalu segera tancap gas.Dalam perjalanan kali ini, saya hanya berdua dengan Mas Iwan. Awalnya sih agak malas, tapi daripada nganggur dirumah dan tak ada catatan perjalanan sama sekali bulan ini lantaran rencana ke Raung yang gagal. Yah, ladeni aja tuh si Mas Iwan.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan kami tiba i daerah Grati, perbatasan Pasuruan – Probolinggo. Kami istirahat sejenak sambil ngopi di warung kopi pinggiran jalan. Setelah itu lanjut lagi. Perjalanan kami lalui dengan santai sambil ngobrol dan menikmati dinginnya angin malam. Tengah malam kami tiba di Kota Lumajang. Dan langsung meluncur ke arah selatan ke Dusun Tempeh, sebab, malam ini kami bermalam disana, disalah satu rumah kerabat Mas Iwan.

Malam itu, kami idak tidur, ngopi lagi sambil ngobrol semalam suntuk. Banyak sekali yang kita bicarakan, yah tentang sejarah, tentang politik, flsafat dan lain sebagainya. Disana ada yang namanya Mas Mansyur, beliau berusia sekitar 40 tahunan, seorang lulusan Fakultas Sastra Universitas Udhayana, bali. Beliau memilih hidup bersahajmodernurban yang materialistis.

Paginya, pukul 5 kami langsung tancap ke Pantai Watu Godek, letaknya di desa Tempursari, sisi selatan Lumajang. Perjalanan begitu menyenangkan, karena pemandangan yang saya lihat sungguh suatu pemandanan baru. Sketsa gunung semeru, Sungai buangan lahar, pertambangan pasir, dan kehidupan masyarakat Lumajang. Kami tidak melewati jalan umum, kami memotong melewati pasirian, membobol jalan-jalan kampung, hingga masuk ke daerah hutan. Sekitar 1 Jam perjalanan, kami sudah tiba diatas bukit, batas pantai selatan terlihat indah dari sini. Seperti sebuah hampaan lembah yan memukau. Kami lanjutkan perjalanan, menikmati alam sambil menyusuri jalanan aspalyang berkelok kelok di sisi bukit. Saya semakin bersemangat, tak kenal lelah lagi melihat semua keindahan ini. Apalagi ketika melihat bukit-bukit terjal menjulang tinggi.

Kami serasa melewati jalanan di Hawaii, dengan view pantai selatan di Sisi kiri kami, jalanan aspal kadang berlubang menyusuri tapakan panjangnya pantai selatan jawa. Kami berfoto disana, bermain ombak dan mengabadikan stiap momen yang ada pagi itu. View pantai juga begitu luas, mistik dan memukau dngan pantaulan sinar suraya di buihnya, menampilkan sebuah pemandangn monochroe di mata kami. Memandang pantai selatan yang luas tanpa batas, kami jadi sadar, dan merasa begitu kecil diantara semuanya, Ciptaan-Nya.

Watu Gedhek

Watu Gedek mirip sebuah dinding besar yang membenengi Desa Tempursari dan seitarnya dari ancaman ombak. Ada yang unik disini, teksuk bebatuan di Watu Godek begitu indah, layaknya sebuah ukir-ukiran dewata. Mrip sepertii tekstur Gedhek ( sesek bambu). Terbentang panjang, sekitar 500 meteran di sisi pantai selatan.

Watu Godhek

Nama Watu Godhek berasal dari bahasa Jawa yang artinya Watu Goyang. Konon, pada jaman dahulu batu besar ini alasnya kurang mapan, jadi ering terlihat begerak geak ketika terdebur oleh hempasan ombak pantai. Namun seiring berjalannya waktu dan tingginya tingkat abrasi pantai, kini batu besar itu kian terdorong ke pinggir disekitaran pasir pantai. Sehingga tak bisa begerak kembali. Tetapi, kata penduduk sekitar, batu hanya bisa begerak pada hari-hari tertentu dalam perhitungan tanggalan Jawa.

Sepanjang sisi pantai Watu Godek, ditaburi oleh pasir hitam yang halus, yang saya sukai dari pantai ini adalah almnya yang alami dan masih jarang terjamah oleh perdaban. Jadi masih bersih dan begitu liar dalam busana alamnya. Pantai watu godek juga masih belum dikukuhkan sebagai daerah wisata, sebab belum ada retribusi dan penarikan tiket. Kebanayakn yang berkunjung disini juga masih masyarakat sekitar lumajang saja. Jarang dikenal namanya oleh masyarakat luar. Sehingga saya sangat beruntung diberi kesempatanuntuk bisa melakukan ekspedisi disini.

Disekitar tebing-tebing cadas pantai, banyak terdapat ceruk ceruk berarir hasil dari resapan air-air laut serta banjir ketika air laut pasang. Terlihat banyak jalan setapak menyusuri tebing-tebing hingga masuk ke hutan belakang pantai. Jalan itu adalah jalanan orang kamung untuk mencari Kayu Jati di hutan.

Setelah puas berfoto, kami berkunjung ke ruah salah seorang kerabat Mas Iwan lagi, namana Cak Bagong. Kami bilas dan mandi disana, ngobrol sambil ngopi lagi. hahahaha……hidup serasa begitu damai disini, diantara suasana alam pedesaan Dusun Tempursari yag indah dan alami.

Pukul 10, kami bergerak menuju Pantai TPI(Tempat pelelangan ikan), makan ikan bakar sampai puas, sebab harga menu ikan bakar disini begitu murah sekaligus ikannya masih segara kaerana hasi angkapan lagsung dari masyarakat sekitar yang nantinya juga akan dijual ke pasar-pasar kota Lumajang. Menghabskan siang hari disini, bercengkrama dengan para nelayan, berfoto di canal dan menyusuri sisi barat pantai. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Kami kembali kerumah Cak Bagong untuk istirahat karena tubuh sudah sangat lelah gara-gara begadang semalan. Sorenya jalan-jalan lagi menkmati pantai hingga senja tiba, lalu pulang kembali dirumah dan bermalam.

Esok paginya kami baru balik Ke Lumajang.

Andy Supertramp



Tips-Tips Perjalanan ke Watu Godek

– Kalau bisa, usahakan tba di Pantai Pada Pagi Hari, karena kita akan berkesempatan melihat view sunrise yang indah, selain itu kita aan punya lebih banyak waktu untuk menikmati alam pantai Watu Godhek.

-Janagan lupa mengoleskan lotion anti nyamuk (Autan/ Sari Puspa). Sebab, disekitaran pantai banyak terdapat nyamuk-nyamuk kecil yang gatalnya tak hilang-hilang meskipun digaruk.

– Jangan lupa berkunjung dan makan ikan bakar di Pantai TPI. (pasar pelelangan ikan)

– Jangn lupa juga berkunjung ke Desa Tempursari yang indah viewnya

– Periksa dulu kondisi re dan mesin kendaraaan anda, sebab jalan akses ke Pantai lumyan berat dan jalanan agak rusak.

– Periksan Bahan bakar anda sedari kecamatan Pasirian. POM sangat jarang

– Tetap berhati-hatilah kawan.

Advertisements

7 responses to “Pantai Watu Godek

  1. waaaah….,jadi terharu,,
    ada yang samapai ngeliput pantai watu godek dengan karangan yang indah bgt…saya sebagai warga lumajna ajdi terharu mas. pernah kesana, tapi tak pernah bisa menguraikan pemandanagannya seindah ini!!
    saluuut mas…

    salam kenal,

  2. Pingback: My blogs reviews in 2010 « Andy's note·

  3. thanks banget da berkunjung ke tempursari…di promosiin juga lagi ma mas andy,emang TPI dan Pemandian Umbulsari adalah tujuan selanjutnya setelah watu gedek n watu godek.rasanya ga lengkap ke tempursari kalo ga skalian mampir makan ikan bakarnya TPI trus diakhiri ma mandi bersihin debu yang nempel di kulit habis perjalanan jauh.fotonya ok juga tuh..pake cam bagus pastinya yah?

  4. wah tersanjung aku mas… aku warga tempursari (lahir di tempursari)… tp sekarang tugas di kalimantan…. makasih atas ulasannya.. mudah2an pemkab lumajang tergugah untuk expose dan memperbaiki infrastuktur disana….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s