Pendakian Arjuno’09


Pendakian ini awalnya cuma rencana iseng aja. Sekedar tomboh kangen sama hawa dinginnya gunung. Peserta awal cuma berempat, Saya (Andy), Niko, Aqil, dan Susilo. Kami berempat, sama-sama tidak ada yang pernah kesana, tapi menurut informasi, track disana gampang. Soalnya, sudah sering dilalui orang, apalagi sekarang Hard-Top 4WD sudah bisa dinaikkan sampai ke batas Pondokan nuntuk keperluan angkutan belerang. Jadi kami tak perlu khawatir. Susilo dalah yang paling antusias terhadap pendakian ini, ke-gandrungannya terhadap wayang membuatnya pensaran akan seluk-beluk gunung Arjuno. Saat kami sedang ngobrol bareng, tiba-tiba Desi yang ada ditempat pengen gabung juga, katanya dia pernah mendaki kesana Tahun 2005. Ok…bergabunglah satu orang lagi, lumayan, setidak-tidaknya Desi pasti masih ingat trek disana, berikut jalan-jalannya. Ehh…tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba Penyet menghubungi saya, dia menanyakan apakah gak ada rencana pendakian lagi anak-anak?? “….serentak, langsung saja saya ajak gia bergabung. Akhirnya tim kami menjadi 6 orang.

Tretes

Kami start kumpul di Kampus, Jumat Malam Tanggal 2 Oktober 2009. Setelah kembali memeriksa barang, kami meluncur ke Tretes naik motor berboncengan. Sebab, jalur yang kami ambil, adalah jalur pendakian Pandaan. Tiba di Tretes pukul 10.30 malam, kami santai-santai dahulu sambil makan ronde di pasar Tretes. Pukul 11.30 kami menuju Pos Pendakian.

Sebetulnya, trek pendakian ke Arjuno pada saat itu ditutup, sebab baru saja terjadi Kebakaran hutan disepanjang trek. Dengan dalaih, pendakian dialihkan ke Gn.Welirang, maka kami diijinkan mendaki. Tetapi tetap, tujuan kami adalah Puncak Arjuno, Dan, kami siap akan segala resikonya.

Pos 1 – Ped Bocor

Pukul 00.10 Kami start mendaki, Track yang lumayan terjal langsung menyapa kami dalam suasana malam yang Terang Bulan. Jalanannya sudah di Makadam, layaknya jalan proyek. Penuh batu, membuat pijakan di kaki terasa tidak enak. Setelah berjalan 15 menit, kami sampai Di Pos 1-Ped Bocor.

Langsung kita lanjutkan tancap gas, karena tujuan base-camp kita malam ini adalah  Pos 2- Kop-Kopan. Track yang dilalui juga masih sama saja, jalan makadam berbatu yang tatanannya tak lagi rapat, jadi agak goyang-goyang kalau diinjak. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. Terus terang, ini adalah pengalaman Treking malam hariku yang pertama. Suasananya ternyata tak se-ngeri seperti yang dibayangkan. Keceriaan dan canda kami malah membuat perjalanan jadi menyenangkan malam itu.

Pos 2 – Kop Kopan

Tapi, sepanjang trek menuju ke-kop kopan. Kami sempat berhenti berulang kali, ternyata treknya lumayan terjal sehingga banyak menguras tenaga kami. Namun, setelah kurang lebih 3 jam berjalan, akhirnya kami tiba di Kop-Kopan. Aku kira tempat seperti apa, ternyata cuma sebuah lapangan kecil yang tandus dengan beberapa semak belukar rendah. Sangat jauh dari kesan Indah. Di Sisi kanannya, ada sebuah gubuk, yang kelihatannya pada musim-musim liburan menjelma menjadi warung. Dan, diseberangnya ada semacam Toilet sederhana dari sesek plus Sumber Airnya.

Pada saat kami tiba, cuma ada satu tenda yang sudah sampai terlebih dahulu. Kami segera memasak air untuk minum kopi. Disinilah awal mula bencana, kami baru menyadari kalau yang membawa beras cuma aku saja, yang lainnya tak ada yang bawa, Mie Instant yang dibawa-pun sangat minim. Susilo-juga tak kalah teledornya bawa kopi satu Topless penuh + Creamernya, tapi tak bawa gula, Niko juga lupa bawa tabung 1 tabung gasnya. Aduuuhh, payahh…..Logistik kita benar-benar minim. Hebatnya teman-temanku, dalam keadaan seperti itu, kami malah tertawa terbahak-ahak menertawakan kebodohan masing-masing. Apa boleh dikata,porsi makan selanjutnya harus sedikit dililit, dan yang mau minum kopi, harus betah menahan pahitnya seduhan kopi+creamer tanpa gula. Haahahaha….Sesudah makan kami tidur berjubel dalam tenda, Paginya bagun, bikin sarapan, foto-foto. Lalu kembali tancap Gas. Disaat pagi ternyata, pemandangan di Kop-kopan tak seburuk semalam, di sisi Timur, Tampak Gunung Penanggungan, Di sisi  selatannya, hamparan kota Tretes dan malang adalah pemandangan kami, dari sini sejauh mata memandang, kita juga bisa melihat batas laut Jawa.
Pukul 08 kita tancap gas ke Pondokan. Track yang dilalui juga masih jalan Makaddam, Desi dan penyet yang pernah kesini 5 tahun silam juga sempat kaget, ternyata gunung ini berubah begitu drastis dalam waktu yang singkat, Trek menanjak makin ekstrim dan berkelok-kelok menyusuri jalan batu, dan berulang kali pula kami berhenti melepas lelah sambil foto-foto. Kata penyet, “Tracknya benar-benar berbeda dengan 5 tahun silam, sangat disayangkan…tidak alami lagi.”

Pos 3 – Pondokan

Setelah berjalan lebih-kurang lima jam, akhirnya kami sampai di batas pengangkutan belerang, yang artinya kitasudah dekat dengan Pondokan, Tepat pukul 3 sore, kita sampai di Pondokan. pemandangan di selter ini-pun jauuh sekali dari kesan Indah, Awalnya aku kira sebuah perkampungan Penambang, dengan banyak sekali Pondok-pondok jerami berjubelan kumuh diantaranya. Huuuf…..perjalanan yang melelahkan.

Setelah ijin dengan salah seorang penambang yang ada, kami diijinkan menempati salah satu pondok yang kosong. Lumayan, biar sedikit hangat. Didalamnya kami dirikan tenda, istirahat sejenak dan memasak. Di Pondokan juga terdapat sumber air yang sudah ditampung dalam sebuah bak pelsteran yang lumayan besar, tempatnya adak turun kebawah, tetepi, airnya kurang enak disini, baunya tidak sedap. seperti bau belerang. mana, terkadang ada cacing-cacingnya.

Kami bermalam disini, karena besok perjalanan ke-puncak, malam ini kami harus istirahat untuk menyiapakan kondisi. Daripada berjubelan dalam tenda, aku dan penyet tidur diluar dengan ber-sleeping bag. Ternyata, tidur diluar malah tidak nyenyak, bukan lantaran dinginnya. Tetapi, gaungguan tikus-tikus yang wira-wiri disekitar kami. Malam terasa lama sekali, Pukul 10, Desi membangunkanku, saatnya makan malam. Kami makan sambil bercanda, lalu tidur lagi, kini semuanya tidur didalam tenda, daripada digigit tikus nanti.

Pukul 05 kami bangun, udara begitu dingin menusuk, mungkin sekitar 10 derajat celcius. Kami buat sarapan terlebih dahulu. Ternyata, Niko sedang tidak enak badan, dia kedinginan + kelelahan sedari kemarin. Dia memutuskan tidak ikut ke puncak, stay di Pondokan saja. Dan, Susilo memilih menamani Niko, takut kalau nanti ada apa-apanya.

Pukul 06.30, kami start menuju ke Puncak, tak lupa kami panjatkan Do’a dulu sebelumnya, memohon kemudahan dan keselamatan pada-Nya. Dan kami mulai perjalanan ke puncak Arjuna, Target kami, kalau kami bisa kembali sebelum pukul 12, maka akan kami lanjutkan dengan puncak Welirang.

Kami ambil arah kiri, ke Puncak arjuno, menapaki sisa sisa sabana yang baru saja terbakar habis. kadang-pun ada beberapa bagian yang masih berasap. 10 menit berjalan dengan trek landai, kita sampau di lembah Kidang. Sebuah bekas padang rumput yang telah habis tebakar, ada sumber air disini. Perjalanan kami lanjutkan, 10 menit kemudian kami sampai di Lembah Kotak. Istirahat sejenak, dan lanjut kembali. Trek setelah Lembah Kota begitu menguras tenaga, karena lumayan terjal, makin lama…makin bertambah terjal, tapi terknya sudah tidak berbatu lagi, jadi lumayan enak untuk memijakkan kaki. Bekas-bekas kebakaran membuat suasana hutan terasa gersang dan berasap, sangat menggangu pernapasan, dan kami menyadari, ternyata Lumayan jauh juga peuncak Arjuno.  Setelah kurang lebih berjalan 4 jam dalam trek menanjak, kami akhirnya tiba di Puncak bayangan, tepatnya seperti sebuah Lapangan lebar, dan ada 3 makam pendaki yang gugur di Arjuno. Disni, adalah tempat pertemuan persimpangan jalur pendakian dari Lawang(Kebun Teh), Purwosari, dan Mbatu(Desa Sumber Brantas), menyatu kembali meneuju puncak. Kami sempatkan beristirahat sejenak dan berdoa disana. Dan, Puncak Arjuno sudah tampak jelas di sisi kiri, di sisi kanannya, kami dapat melihat Puncak Gunung Welirang yang sedang berkabut.

Kami lanjutkan perjalanan, pemandangan disini begitu indah, kami melewati trek di punggungan bukit dengan sisi-kanan kiri jurang yang dalam, pemandangan kota malang, dan kebun teh, Lawang terhapar sejauh mata memangdang kearah kanan. Disini kami bertemu serobongan dari jakarta, mereka baru saja turun, dan mereka memberi kami sebotol air karena mereka lihat persediaan air kami sudah menipis. 15 menit kemudian, kami sampai di Puncak Arjuno.

Puncak Arjuno

Tumpukan acak batu-batu Gunung bertahta di Puncak Gunung Arjuno(3338 dpl). Sungguh skema ciptaan-Nya yang menakjubkan, saat itu pukul 11.30, dan langit masih cerah berawan. Kami berpelukan sambil berteriak girang disana. Makan Camilan, foto-foto, dan istirahat untuk sejenak, setelah sekitar 1 jam kami disana, lalu kami turun kembali. Menapaki jalan-jalan menurun yang sudah berkabut tebal. Pukul 2 kami bertemu kembali dengan rombongan dari jakarta yang tadi di lembah Kidang, ternyata mereka berkemah disini malam ini. Suguhan Lemon Tea hangat dari mereka sungguh tak terlupakan saat itu, setelah bertukar nomor telepon, kami kembali ke Pondokan. Ternyata mereka mengikuti, mereka menanyakan arah trek ke Puncak Welirang, Penyet yang memberitahu mereka. Kami berjanji, suatu saat nanti kalau ada kesempatan, pasti akan melakukan pendakian bersama entah kemana.

Susilo dan Niko masih di Pondokan, memasak logistik yang tersisa,hampir saja mereka balik duluan karena kita tak kunjung kembali sore itu. Setelah makan, kita packing dan turun gunung pukul 4.30, dengan membawa rasa lelah, takjub, persahabatan, serta pelajaran yang sungguh tak bisa dihargai dengan nilai rupiah. Inilah filosofis dan kenikmatan tersendiri dari naik gunung.


Kita sampai di Pos Perijinan  kembali pukul 20.30. Disana ternyata banyak pendaki yang akan naik, mereka rombongan dari Bandung, Niko dan Susilo bercanda riang dengan mereka. Setelah makan dan minum Kopi, kami langsung memacu motor kami balik ke Surabaya .

Sialnya, ternyata aku baru sadar KTP-ku masih tertinggal di Perijinan.
shiittttt…….

andylabina.

Advertisements

5 responses to “Pendakian Arjuno’09

  1. arjuno mungkin tempat tertinggi pertama dalam hdup q…tidak akan lupa oleh peradaban hidup…saat ini untuk ceria diantara kita…mungkin lusa atau besok untuk sobat atau anak cucu kita…arjuno…terima kasih atas pondokan yang telah membiarkan aq berbaring untuk singgah bersama para penambang lainnya…thanx for all…maap kalo dsana ada salah2…evaluasi dan kesadaran diri mulai menyelimuti kesadaran batin…ini langkah awal…yang mengawali langkah demi langkah perjalanan q…thanx to andi ndower..susi mistik…agil tengik…santok penyet…desi lemot…thanx all..our supported friend…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s