One Night Camp In Sempu


Dua minggu lalu aku kesana, agenda camping perdana bareng anak-anak Karang Taruna Wisma Tengger. Tepatnya, tanggal 3 November 2009. Kami berangkat dari Surabaya Pukul 02.00 dengan peralatan seadanya dan perbekalan secukupnya, kami bersepeda motor-berboncengan menuju dermaga Sendang Biru. Yah, Sendang biru adalah titik penyebrangan menuju ke Pulau Sempu. Kami berangkat ber-enam; Saya, Handi, Ogin, Rio, Bebek, dan Dilla.

Perjalanan lancar jaya, kami berjalan sedikit sanatai karena perjalanan malam itu dingin sekali, dan banyak anggota yang mengantuk dalam perjalanan. Kita sampai di Kota malang pukul 06.30. Dari kota malang, kita belok kiri di Perempatan Arjosari dan mengambiol arah ke Tumpang. Sampai Tumpang Pukul 06.30. Kami jalan terus, ada perempatan belok kanan, dan setelah ada perempatan lagi, belok kanan lagi, ambil arah Sendang Biru. Diantara kami berenam, cuma Bebek yang pernah kesana sekali, itupun tak bisa dijadikan pegangan sebab, si Bebek juga agak lupa jalannya, sebab, dia tidur selama perjalanan saat itu. Kita Istirahat sejenak disebuah warung Kopi sederhana di Desa Wajak. Setelah itu, berhenti lagi di Pasar beli sayur-mayur, Tahu dan tempe untuk logistik dan tancappp gass……tanpa tau arahnya, kita tancap gas terus. Alhasil, ternyata kita tersesat lumayan jauh hingga kecamatan Gading Ampel (Perbatasan Malang-Lumajang). Sialannn…..jauh juga ternyata kita tersesatnya, untuk balik lagi saja butuh waktu sekitar 45 menit. Tapi tak masalah, tak ada yang percuma di Dunia ini, semua ada Hikmahnya; pemandangan yang kita lewati sepanjang jalur ini sangatlah Indah, dan lumayan untuk pelipur lara.

Sendang Biru

Desa Sendang Biru, ternyata terletak di Daerah Turen. Sepanjang trek, jalurnya sempit namun kondisi aspal lumayan mulus, sehingga nyaman untuk di-trek agak ngebut. Naik-turun bukit, sebab memang seperti inilah tekstur geografis pantai-pantai selatan di Pula Jawa, selalu berada di Balik Bukit. Jalanan makin sempit, dan penuh belokan-belokan tajam(Hati-hati saat samapi daerah sisni, Rawan Kecelakaan). Kami masuk daerah pekebunan PTPN, udara begitu sejuk menyapa disini, dan angin begitu sepoi-sepoi. Pukul 11 siang, kami tiba di persimpangan; kalau kanan ke “Pantai Bajul Mati” kalau Kiri ke ” Pantai Sendang Biru”…… 15 menit kemudian kita tiba di batas loket, membayar retribusi kurang lebih Rp.3000,-/orangnya, dan kami masuk.

Istirahat sejenak, dan menitipkan motor di Salah satu Rumah Penduduk, Namanya “Pak Di” , orangnya begitu ramah. Mempersilahkan kami duduk dan menyuguhi minum, sembari memberikan pengarahan tentang perijinan masuk ke Sempu…. kami membeli beberapa botol air mineral untuk persediaan minum disana, ganti pakaian, dan siap menyebrang

Kami ke perijinan dan mendaftarkan kelompok kami. Saya sempat kagum sejenak dengan para Polisi penjaga Hutan disana. Mereka begitu peduli akan lingkungan, dan kelestarian alam, dengan tak bosan-bosannnya memberikan pengarahan ini-itu pada setiap pengunjung yang datang,  memberi batasan-batasan, dan larangan ini-itu pada setiap regu yang ijin masuk. Lengkap dengan seruan mengisi surat pernyataan plus materai. Saya sangat salut pada mereka…. pada upaya mereka, memberi wejangan sejak dini pada para pengunjung, biaya retribusi-pun se-ikhlasnya, tak ada batasan nominal. Sekali Lagi saya SALUT!!

Setelah mengantongi surat ijin, kami-pun melobi prahu untuk menyebrang ke Sempu. Awalnya, saya kira penyebrangannya lumayan jauh, ternyata….tak jauh dipandang mata. Dan, Gejolak Ombak Di Pantai Sendang Biru layaknya besutan Selendang berkilau yang digyang-goyangkan oleh Yang Maha Kuasa. Biru…Indah…dan Berkilau. Ternyata Ongkos Penyebrangan Pulang-Pergi Rp.100.000,-  terserah, berapa orang, yang penting perahunya masih muat, sekali jalan 100 ribu.

Pulau Sempu

Cuma dibutuhkan waktu 15 menit untuk menyebrang, dan kita telah sampai di Pulau Sempu. Kita akan diturunkan disebuah bibir pantai yang penuh dengan tanaman Mangrove, jadi saat air sedang surut, maka kitaakan diturunkan agak ketengah, dan berjalan hingga bibir pantai. Kami istirahat sejenak, foto-foto. Lalu langsung menyusup di-rerimbunan jalan setapak Hutan Pula Sempu.

Sempu sebenranya adalah sebuah Pula Cagar alam dan tempat pembiakan pembiakkan karang dan koral di Segara Anakannya. Pulau Sempu beriklim pantai, meskipun rindang, tapi sangat kering cuacanya, dan tak ada sumber air. Sumber air satu-satunya menurut informasi adalah “Telaga Lele”….dalam perjalanan kali ini saja, saya belum sempat kesana, karena tak tau treknya.
Nah, saat mulai treking memasuki hutan Sempu inilah saya mulai syok, kebetulan pada saat itu, banyak juga pengunjung yang kembali. Dan saya lihat dari gerak-gerik, perlengkapan, dan tingkah pola mereka di hutan serta gaya mereka bertemu dengan yang lainnya, sama sekali tak ada cerminan profil Seorang Pecinta alam, yang terlihat malah kesan anak-anak Mall, kaum hedonis, yang gila foya-foya, dan hobi foto narsis. Saya sempat berpikir, apa yang mereka lakukan disini, alangkah lebih baiknya mereka itu tamsya di Jatim Park atau BNS saja.

Setelah berjalan 1 jam dalam trek landai yang lebat, kami akhirnya samapi Di Segara Anakan

Segara Anakan

Segara anakan adalah sebuah teluk yang terhalang karang, yang apabila laut Pasang, maka akan terisi air, dan apabila laut surut, maka akan kering. Pemandangan disini sangat indah, dengan Pasir Pantai berwarna putih lembut, tanaman-tanaman bakau, tebing-tebing Coral yang menjualang tinggi memutari kawasan itu, serta pemandangan laut yang jernih berwrna hijau kebiru-biruan. Sayang sekali, saat kami datang, disana sedang banyak orang, jadi sedikit ramai dan riuh. Mataku tak mau berhenti memandang, melihat berputar….akan kindahan Ciptaan Yang Kuasa Ini. Indahnya!!

Kami mencari tempat yang agak sepi dan rindang, mendirikan tenda dan berteduh….pada saat itu, pukul 2, matahari terasa begitu menyengat kulit ariku. Kami memasak, dan makan siang. Sebagian dari kami tertidur setelah makan, dan sebagian lagi tak bisa menahan gejolak birahi ingin menceburkan diri dalam jernihnya air laut Segara Anakan. Akupun ikut terjun, bermain air diantara karang-karang laut yang tiap harinya selalu terinjak-injak kaki manusia ini, memotretnya, lalu berenang  menuju “Karang Bolong”. Yah, karang Bolong adalah salah sati fenomena yang terkenal di Segara Anakan, Bolong akibat beratus-ratus tahun dihempas ombak Laut Selatan. Salah satu jalan masuknya air laut ke Segara Anakan ini. Temanku berhasil memanjatnya, dan berfoto disana. Karena bawa kamera, aku tak berani kesana, sebab tekstur disekitar Karang Bolong lumayan dalam. Aku tak mau ambil Resiko. Setelah puas bermain air, kami bermain sepak bola dipantai. Dan menjelang matahari tenggelam, kami memanjat diding karang disebelah timur dan duduk bersantai menunggu petang sambil lepas bersenda gurau.

Malamnya kami masak-masak, bikin obor, makan malam, istirahat, lalu tertidur dalam peraduan alam. Semapat aku dengar beberapa kali para pengunjung berteriak, terutama yang wanita, ketika angin kencang berhembus dan menggoyahkan tenda-tenda. beberapa temanku pergi memancing malam itu, namun, hahahahaa…percuma, tak dapat ikan satupun.


Paginya, aku dibangunkan oleh dilla. langit masih kelabu dalam abu-abu, dan kulihat jam, waktu masih menujukkan pukul 5. Dilla mengajak aku memanjat karang yang kemarin untuk berburu memotret sunrise. Namun, sayang sekali, sunrise kala itu tak mau unjuk gigi akibat tersaput mendung di ufuk timur. Lalu, kami sedikit menjelajah ke arah timur, menyebrangi karang-karang raksasa, dan duduk bersantai disana untuk beberapa saat sambil merenungi hidup. Setelah itu, datang Handi, dan mengajak kita memanjat karang yang tertinggi, disana dipancangkan bendera merah putih. Awalnya aku ragu dan takut, tapi melihat ke-antusiasan teman-temanku, aku ladeni-lah tantangan mereka….15 menit memanjat, akhirnya kita sampai di puncaknya, Sunggu Indah pemandangan disekitar, begitu luasnya laut selatan sampai tak habis dipandang…..di sisi barat, aku bisa liat Pantai “Pasir Panjang” yang putih pasirnya begitu menggoda.

Lalu aku, Handi dan dilla turun kembali, membangunkan yang lainnya, dan memasak sarapan. O.Ohhh…..kami kehabisan air, gara-gara kemarin teman-teman menggunakan beberapa botol persediaan air kami untuk bilas sehabis mandi di Laut. Sialan……
Akhirnya, kami-pun bereksperimen…..memasak mie dan Air dengan air laut. hahahaaa…disinilah letak kekonyolan kami, bukanya masalah malah teratasi, malah kami yang muntah-muntah, tak kuat menahan asinnya air laut di tenggorokan. Siall….,

Dari situ, kami putuskan balik saat itu juga ke Sendang Biru. Sebab, air sudah habis. Kita Lupakan semua rencana penjelajahan mencari “Telaga Lele” dan Pantai “Pasir Panjang”. Di lain kesempatan sajalah…

hehehehee
andylabina.


Advertisements

3 responses to “One Night Camp In Sempu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s