Mahameru


Mahameru….
Kata itu terdengar begitu agung samapi ke gendang telinga ketinga berulang kali disebut oleh batinku. Puncak tertinggi di tanah Jawa….
degup berdegup seluru nadiku, dan kembali diragukan nyaliku oleh gaung namanya. Sebuah puncak yang sungguh kaya akan mitos dan filosofis tanah jawa.

Perjalanan kami kali ini, sebenarnya adalah misi penasaran penasaran-ku akan perjalanan yang kurang memuaskan bulan lalu. (Yah, pada 15 Juli…aku sempat mengunjungi semeru, karena kurangnya persiapan, perjalanan hanya sampai Ranu Kumbolo saja). Hehehe, maklum, pendakian perdana.

Kami berangkat dari Surabaya pada 13 Agustus 2009, anggota Tim antara lain Saya(andy), fikar, ndox, stepi, aqil, rendy. Kami berangkat dari Surabaya pukul 02.00 dengan base-camp rumah fikar, menuju Tumpang naik motor. San kami sampai di Tumpang pukul 05.00. Perut lapar, kedinginan dan kantuk seakan menggelayuti sepanjang perjalanan. Segera kami cari warung, dan sarapan sekenyangnya, sekaligus membeli logistik tambahan di Pasar Tumpang. Tepat pukul 07.00 perjalanan kami lanjutkan ke Ranu Pani, karena Uang saku yang pas-pas’an…kami tempuh track Tumpang-Ranu Pani naik motor. Sebelumnya, kami daftar dulu di Pos perijinan Pendakian di Tumpang, Retribusi pada saat itu kira-kira Rp.5700,00-/orang. Kami sempat takut kalau pendakian Semeru ditutup, sebab 1 Minggu sebelum kami berangkat, ada rekan Mahasiswa UGM Jogja yang hilang dan meninggal di Puncak lantaran badai. Tapi, syukurlah….pendakian ternyata dibuka. Naluri adventure kami sungguh tertantang untuk bisa melewati track yang terkenal susah dilalui motor ini. Dengan Honda Grand’97, Suzuki Shogun’2003, dan Suzuki Shogun’2005. Kami sapa udara pagi di perjalanan  dengan riang gembira. Track memang benar-benar susah untuk sepeda motor kelas bebek, belokan-belokan tajam + jalur track yang sempit dan curang sungguh tak memberi ruang untuk motor kami bernafas. Nahasnya, tepat ditengah-tengah perjalanan, Sepeda Motorku (Honda Grand’97) mogok karena overhead. Hampir dua jam kami beristirahat sambil menunggu mesin dingin, dicoba lagi, motorku tak mau nyala juga, akupun sempat khawatir. Tapi, stelah diganti businya dengan busi cadangan milik Aqil. Akhirnya bisa jalan lagi. Pukul 10.20 kami tiba di Ranu Pani.

Ranu Pani

Ranu pani adalah desa terakhir di semeru sebelum track pendakian, bukit berbukit, udara sejuk, dan ladang penduduk adalah pemandangan sepanjang jalan. Dan tak lupa, sebuah danau(Ranu) berwarna kehijauan sebagai objeknya, Kita telah sampai di desa Ranu Pani. Angin yang bertiup kencang kadang juga ikut menerbangkan debu-debu vulkanis ke udara. Kita lalu parkirkan motor, makan bakso, mengisi air di sumber mata air desa, lalu meneyrahkan berkas perijinan di Pos.  Satu yang tak terlupakan dari desa Ranu Pani adalah, penduiduknya yang sangat ramah dan selalu menyapa siapa saja yang lewat, sungguh menyenangkan sekali desa ini bagiku.

Kabut sudah mengatup tebal, suhu udara 13 derajat, Pukul 11 kita mulai perjalanan ini deengan mengitari ladang-ladang penduduk dengan tujuan base-camp selanjutnya, Ranu Kumbolo. Track ke Ranu Kumbolo, sekitar 5-6 kilometer dengan track landai yang berputar-putar, untuk sampau ke Ranu-Kumbolo, kita akan melewati 4 selter peristirahatan. Setelah sekitar 2 jam berjalan, kami tiba di Pos satu, disana kami bertemu rombongan pendaki lain, satu rombongan naik, dan satu rombongan lagi turun, kami bercanda dan salaing berkenalan, ternyata sama-sama dari Surabaya. Mereka-lah yang akhirnya menjadi rekan-rekan pendakianku berikutnya (Penyet, Deni, Yusmar, dan Gendut).  Kami ketambahan pasukan, dan perjalanan makin ramai dan ceria. Pos dua, Watu Rejeng kami lewati. Sesampainya di Pos tiga tepat pukul  2.20, kami istirahat dan makan siang disana, mengisi tenaga dulu, untuk tanjakan berat setelah ini. Setelah pos 3, track berbelok ke kanan dan kami melewati tanjakan yang lumayan terjal dan berdebu, lalu memutari pinggungan-punggungan bukit dengan sisi kanannya berupa jurang dalam, 1 jam kemudian kami memasuki hutan lumut dengan vegetasi yang lumayan rapat. di daerah sekitar sisni, jika beruntung, kita sering menemui beberapa satwa seperti Lutung, dan berbagai jenis burung. Setelah lewat 15 menit, Ranu kumbolo sudah tampak dari atas seperti sebuah Bath Up raksasa…kami makin bersemangad, pukul 4.30 kami sampai di Ranu Kumbolo, mata ini serasa gembira disuguhi ooleh pemandangan yang Indah ini, tak henti-hentinya mulut kami memuji kepada-Nya atas segala hamparan indah ini.

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo adalah sebuah pemandangan indah di Semeru, dan biasa dijadikan tempat bermalam oleh para pendaki yang akan menuju ke Puncak atau sebaliknya. Danau yang luas dengan air yang begitu jernih, berikut bukit-bukit hijau yang penuh rumput sangat memanjakan mata kita yang melihatnya, rasanya tak bosan-bosannya untuk dipandang. Diseberang danau, terdapat sebuah pondok yang dapat kita pakai bila kosong. Pondok itu ada yang berupa bangunan paten dengan empat bilik dan satunya lagi, sebuah podokan dari kayu. Suhu udara disini sanagat dingin ketika malam, sekitar 5-9 derajat, bahkan, di-bulan-bulan tertentu suhunya bisa dibawah nol. Karena tempat ini berupa lembah dan ada danaunya; wajar saja bila sedingin itu. Disini kami mendirikan tenda dan bermalam. Kami bertemu dengan pendaki lainnya, 2 orang dari Sidoarjo(Felix dan Antok) mereka sungguh baik dan bersahaja, kami menghabiskan malam dengan mengobrol bersama mereka.

Paginya, pukul 5.30 pagi, aku paksakan keluar dari tenda untuk melihat uapan embun dari danau dan memotretnya bersama teman-teman, Gila….dingin bangettt!! sampai-sampai gemetar tangan ini memegang kamera.

Pukul 11 kami lanjutkan perjalan menuju kalimati, yang kira-kira dibutuhkan waktu 3 jam. Kami lewati Tanjakan Cinta, Oro-oro Ombo yang baru saja terbakar padang rumputnya, Cemoro Kandang, Jambangan dan sampailah kami di Kalimati.

Kalimati

Track di Kalimati sangat bervariasi, ada tanjakan, bukit-bukit, padang rumput luas (Oro-Oro Ombo), hutan Cemara (Cemoro Kandang), jalur lahar. Hingga akhirnya sampai di Kalimati tepat pukul 2 siang. Kami masak, istirahat dan yang lainnya mengambil air di Sumber Mani (Kalimati belok ke kanan, Kurang lenih 30 menit). Disini, tampak begitu jelas Mahameru yang agung terbatuk-batuk dihadapan kami, kami-pun merasakan perjalanan ke-puncak sudah dekat. Kami juga bertemu dengan rombongan lain dari Malang (Pak Budi dkk). Pukul 3 sore kami lanjutkan perjalanan ke base Camp selanjutnya, Arcopodo.

Arcopodo

Dari Kalimati ke Arcopodo cukup dekat, kira kira butuh waktu 1-2 jam. Kami dirikan tenda di pondokan kalimati, dan meninggalkan beberapa barang kami yang sekiranya tidak perlu disana. Track akan semakin berat dan terjal setelah ini. 5 menit berjalan mengikuti track, kami disuguhi suatu pemandangan yang sangar, sebuah sungai jalan lahar kering (kalimati) terhampar didepan kami, kami turuni track dan menyebranginya, bau-bau tanah vulkanis sungguh menyengat. Setelah itu, kami lalui hutan cemara yang lumayan lebat, kabut yang menyertai membuat suasana pendakian agak terkesan horror saat itu. Benar saja, track dari sini berubah drastis, tanjakan-tanjakan yang menguras tenaga berikut jurang yang dalam dan tanah yang yang rawan longsor menjadi suguhannya. Kami sangat berhati-hati melewati track ini.

Arcopodo

Pukul 05.30 kami sampai di Arcopodo, beberapqa rekan yang samapi duluan telah mendirikan tenda dan mencari kayu bakar. Oh iya, kami ketambahan rekan lagi dalam perjalanan ke puncak, yaitu Oceane (Cewek Bule dari Venice) berikut seorang porternya. Malam di Arcopodo, tak sedingin di Ranu Kumbolo, karena banyaknya pepohonan cemara. Kami habiskan malam itu dengan ngobrol panjang lebar + Curhat-curhat colongan antara satu dan yang lainnya. Kami menjadi merasa saling akrab dan senasib malam itu.Pukul 10 kami tidur dalam peraduan yang hening, karena satu tenda ditinggal di Kalimati, aku, penyet, antok, felix, deni, Yuzmar dan mas Porter terpaksa tidur diluar. Tak apalah, juga tak sedingin di Ranu Kumbolo. Dan, untuk pertama kalinya di malam itu, aku melihat bintang-bintang dilangit bagaikan gugusan yang begitu indah dan anggun dalam tatanannya, sungguh Ciptaan-Nya yang Indah.

Perjalanan ke Mahameru

Pukul 00.00 alarm HP berbunyi bersahut-sahutan, aku dibangunkan oleh antok dan bergantian saling membangunkan yang lainnya, kami lihat langit malam itu cerah, maka tak ada alasan lain untuk tidak melanjutkan perjalanan. Kami masak dahulu, makan untuk mengisi perut, membawa semua perlengkapan, dan tepat pukul 1 kami berangkat. Rendy, Fikar dan Mas Porter tinggal di Arcopodo, karena kondisi mereka yang kurang fit. Satu yang perlu diperhatikan saat akan memulai perjalanan ke Puncak adalah, cuaca, perhatikan dengan seksama, cerah atau ada kemungkinan badai….Jika cerah, lanjutkan, jika ada kemungkinan badai atau hujan,lebih baik urungkan saja. Karena sangat berbahaya….tak perlu khawatir, pasti masih ada kesempatan di lain waktu.

Kami lalui perjalanan kami dalam gelap, track sangat berbahaya karena tanahnya yang rawan longsor, kanan-kiri kita jurang blank, selain itu, ada track di beberapa titik di sekitar kelik yang putus akibat longsor, jadi kita mesti mencari track alternatifnya terlebih dahulu, dan terkadang harus melompati track yang longsor itu untuk bisa melanjutkan perjalanan. Pukul 2 kami tiba di kelik, kami tak bisa lihat apa-apa, cuma hamparan-hamparan petilasan pendaki yang gugur tertata tidak teratur didepan kami, kami lanjutkan perjalanan. Track makin ekstrim dan curam, cuaca yang begitu dingin makin melelahkan kami.

Pukul 3.30 kami tiba di Cemoro Tunggal
(Batas akhir vegetasi cemara di Mahameru)
Track selanjuutnya adalah tanjakan berpsir jalur vulkanis yang melelahkan. Berjalan satu track….melorot, jalan lagi, melorot lagi. Sungguh menguras tenaga, mana angin yang berhembus begitu dingin, batu-batuan masuk menyelip diantara sandalku, makin membuat mental down. Cuma satu harapan yang tersisa, yaitu meraih puncak Mahameru, Tanah tertinggi di Pulau Jawa. Itulah semangatku yang tersisa. Sementara keinginan untuk foto-foto sudah tak ada sama sekali, yang penting sampai puncak terlebih dahulu.

Pukul 4.40 kami melihat sunrise yang begitu indah; barang kali itu adalah sunrise trindah dalam hidupku, yang menyembul keluar dari ufuk timur, menyelinap keluar diantara Gunung Argopuro dan Gunung Raung. Sangat tak terlupakan.

Karena kehabisan tenaga, mental down, sepatu yang rusak dan berbagai macam alasan lainnya, satu persatu temanku turun. Pertama, Penyet dan fikar, lalu Yuzmar dan Ndox, stelah itu menuyusul Deny dan Oceane. Sementara stepi, Felix dan Antox sudah jauh meninggalkan kami didepan(Barang kali mereka sudah sampai puncak). Kini tinggal aku dan Aqil yang tersisa, Aaku Akui, kami hampir saja kelelahan dan kehilangan semangat karena melihat track yang tak sampai-sampai. Puji syukur ke-Hadirat Tuhan Yang Maha Esa sekali lagi saya panjatkan, Rombongan Pak Budi datang menyusul kami, memberi kami semangat dan snack untuk dicamil sejenak. Lalu menemani kami dalam perjalanan selanjutnya, Puncak bayangan sudah terlewati…..kami terus melangkah dalam debu pasir dan dinginnya udara. Tepat pukul 7 kami sampai di Tanah Tertinggi di Pula Jawa, Mahameru.

Mahameru. 15 Agustus 2009
Sebuah lapangan luas dari bentukan pasir vulkanis menghampar lua, dengan bendera merah putih tetap berkibar di sana.
Oh Mahameru, kau aduk-aduk perasaan ini, Bangga, syukur, Haru dan lelah terbalut menjadi satu disini. Bgitu pula dengan yang lainnya.
Di belakang kami, dapat kami lhat Jonggring Saloka, dengan letupannya setiap 5 menit sekali.
Kulihat sekitar, berjajar dalam garis cakrawala…..sebuah pemandangan indah yang sangat menkjubkan. Sapat kulihat pula dari sana, Puncak Raung-Argopuro disebelah Timur. Puncak Rjuno-Welirang, dan penanggungan di sisi Barat dan di Utara ada Puncak Anjasmoro- Kawi. Di selatannya, terhapar hijaunya persawahan dan kotak-kotak kota Lumajang. Sungguh Indah Yaa Allah !! Disini juga ada beberapa petilasan dari para pendaki yang gugur, anatara lain Soe Hok Gie & Idhan Lubis, yang tercatat meninggal dunia pada 16 Desember 1969.

Setelah puas Foto-foto, ngobrol dan nyamil….kita turun kembali.
Dan, inilah beberapa hasil jepretan kami dari Mahameru

 

dalam perjalanan turun dari puncak, langit sudah terang. Sebuah hamparan yang indah terhampar memanjakan mata dengan pandang tanpa batas, aku merasa diatas segalanya, bukit-bukit, padang rumput, petak-petak kota bahkan awan-awan masih dibawahku, akulah yang tertinggi saat ini, keluhku dalam hati. Dan, disinilah, di Mahameru ini, untuk Pertama kalinya aku merasakan Kehadiran Tuhan, Dia ada, dan Menyapaku dalam ketakutan, dalam kesepian dan, di Mahameru inilah aku untuk pertama kalinya berdoa dan memohon pada-Nya. Atas segala petunjuk dan Hidayah-Nya, kini Atheisme tak lagi kusandang. Dengan sesadar-sadarnya aku mengakui keharibaan-Nya atas alam semesta ini.

Saat cerah begini, pemandangan begitu indah, kami berhenti sejenak dan menelepon, karena di Cemoro Tunggal Sinyal Ponsel kami penuh, lalu kami turun kembali. Jalanan di sekitar kelik memang lumayan ekstrem, saat siang hari baru terasa kengeriannya, sebab jurang-jurang dalam ternyata mengangah di kanan-kiri track yang kami lalui semalam. Pukul 09 kami tiba di Arcopodo, dan rekan-rekan kami yang gagal ke Puncak, menyambut kami dengan suka cita, lalu kami makan dan bergegas turun.

Pukul 1 siang kami tiba di Kalimati, sudah tak seperti saat kami berangkat. Kini di Kalimati banyak orang. Maklum, mereka mengejar momment Upacara 17’an di Puncak. Kami periksa tenda kami di Pondokan. Alhamdulillah, semuanya utuh, tak kurang satupun. Sebab, sebelumnya kami sempat khawatir tenda dan tas Carrier kami yang ditinggal bakalan hilang. Karena sebelumnya pernah ada kasus seperti itu kata Penyet.

Karena nikmati perjalanan turun, dan kami sampau di Ranu Kumbolo sekitar pukul 4. Pemandangannnya sudah lain, Ramai sekali disini, disekitaran danau, tenda-tenda pendaki berjubel, berjejer-jejer layaknya rumah di perkampungan. Agak tak nyaman sih, karena suasana jadi semakin ramai, terkesana malah seperti tempat wisata. Kami bermalam disini, Paginya kami lanjutkan turun ke Ranu Pani. Sepanjang perjalanan turun ke Ranu Pani juga kurang nyaman, sebab, langkah kami sempat terhenti entah untuk beberapa kali karena saking banyaknya para pendaki yang naik, para porter yang membawa barang dan orang-orang yang membawa sepeda gunung ke Ranu Kumbolo. Akhirnya, kami tiba di ranu Pani pukul 11 siang.

Dan suasana di Ranu Pani-pun tak kalah ramainya, pos perijinan berjubel pendaki yang mengantri, para pedagang ramai disebu pembeli, Hard-Top berlalu lalang mengantar penumpang. Sungguh, musim 17’an seolah menjadi berkah tersendiri bagi para penduduk setempat.

Dengan hati yang berat, kami tinggalkan Ranu Pani dan juga Mahameru untuk kembali ke Surabaya. Untuk kembali ke Hiruk-pikuk kota yang serba ruwet itu. Pasti, suatu saat nanti, aku akan kembali lagi kesini.

Andy Labina

Advertisements

8 responses to “Mahameru

  1. sory ndik atas kelemahanq
    gara2 itu….
    bendera GFORST tercinta tidak jadi berkibar di puncak para Dewa…

    kapan2 kita berangkat lagi boi…
    oke??

    • heheheheee……
      santai ae ndox…nek jare cino, “gunung ikuloh gak pindah!!”
      pasti ada kesempatan.
      agustus mendatang yaahh…….sisakan jadwal mbolosmu, kita berangkat lagi ke mahameru….

      ok!

  2. Pingback: My blogs reviews in 2010 « Andy's note·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s