Nahkoda tanpa arah


Aku mendengarnya
Redup dalam sebuah palasara
Sebuah percik dari amarah
Dalam rimbunan fanah

Aku bahkan bisa melihatnya
Gemelayut dalam prahara
Larut dalam skema arah
Antara mana yang fanah

Berbisik, bergojek, berfantasi
Merabah tanah  dengan pasi
Menyumpah, memekik, menitik
Menyeduh ari hingga perih

Wahai  nahkoda tanpa arah
apalah rasa yang engkau tata
Wahai kau penyair dalam sepi
mengapa tersedan dalam peilipir

Benarkah sang cermin mentafsir wajahmu
Dalam dasar relung berdebu
Mengapa  sepi itu humamu
Dalm riuh kau pilih bisu

Bisu, bisu, bisu
bukan dalam palsu
namun coba mendungu
Dalam nyanyian suci Ibu

Inikah wajah Tuan
Begitu indah dengan peradaban
Tersenyum entah untuk yang kesekian
Semoga bisa bertemu di seberang

Mengembaralah dalam lautan
Kompas tuamu hanya tautan

Sekarang kau bebas;
Tak sekurangnya mereka yang buas.


Rumah Tya, 15 okt’ 09


(untuk seorang “Nahkoda tanpa arah” yang ingin bertemu Allah)




Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s