24 Desember ’08


Ini adalah hari yang biasa Pak…..
tepat satu hari sebelum natal.
apa yang akan aku tulis juga masih tetap seperti biasanya, seperti hari hari lainnya ketika aku menorehkan sedikit kesadaran yang aku kirimkan melalui impuls untuk menggerahkan otot-otot jari untuk menekan tuts-tuts dalam hitamnya keyboard.

sudah 3 hari ini, aku merasa aku punya ide, tapi aku malas menuangkannya…..entah kenapa. Apakah naluri dan ototku sudah tak sejalan lagi, atau, ini cuma alibi agar tampak sedikit manusiawi saja.

Ini seharusnya adalah liburan…..
tapi,bagiku ini bukanlah liburan, aku berada disini, disebuah rumah dengan dua lantai yang masih dalam tahap renovasi, dan aku disini…..diharuskan berlakon sebagai mandor yang harus mengawasi kerja para buruh-buruh paruh waktunya.

aku merindukan hari esok……..25 Desember, hari dimana perjalanan panjangku bersama tiga sahabat lainnya akan dimulai, menghitung dan menelusuri butir aspal hampir sepanjang setengah pulau jawa. Hahahahaha…..berbekal sepda motor tua, kita punya tekad yang sudah diruncingkan dalam bulat ke Wonosobo, tepatnya pegunungan Dieng. Tak ada misi tertentu….sungguh. Ini cuma sekedar tingkah pola empat mahasiswa yang sedang kurang kerjaan.

Tapi, kami semua…terutama aku, butuh itu semua Pak. aku sudah muak dengan suasana melankolik kota besar di timur pulau jawa ini. Suasana melankolik yang selalu saja membesar-besarkan suasana.

Juga dengan aroma hiruk pikuk nafas kampusku yang makin membirukan namanya. Hahahahaa, ada saja ini dan itu yang baru, yang sejatinya sangat kontras sekali dengan paradigmaku. Entah apakah cuma aku yang merasakannya, atau yang lainnya hanya bisa mengumpat dalam lirih.
Memang tak ada yang perlu di bingungkan, juga ditakutkan, aku sudah berucap ditengah-tengah warna-warni cahaya yang berpendar, aku akan mengambil sikap antonim tehadap semuanya. Karena semua itu, cuma bisa-bisanya orang kelembagaan semata.

aku akan coba merabah sendirian..bukan dengan sekutuku,namun sendirian dalam pemandangan gelap masa depanku sendiri disana. Aku cuma butuh satu lampu minyak saja, itupun sudah cukup buat aku untuk bisa membiawa semuanya mengekor pada sinar terang dan menyalakan api untuk membakar apa saja.

Bagus, Genderang perang sudah mulai aku tabuh , aku mulai dengan Ketua Prodiku, Orang yang berbicara panjang lebar tanpa tujuan seperti dia memang perlu dikritik. Karena aku rasa, dia cuma berbicara dalam gelombang longitudinal saja, yang sangat membingungkan dan menyuruh kita mengikuti arah anginnya. Sungguh konyol memang, seorang sarjana Pertanian…berlagak sok pintar didunia grafis. Ini bukan suatu penikaman, tapi suatu test mental untuknya. Kalau memang ia tidak terima dikritik, silahkan saja dia masuk ke keranjang sampah, karena Ia juga berani mengkritik lainnya, dan disini bukan cuma dia sendiri yang boleh berbicara, aku kamu dan mereka punya hak yang sama.

Ini bukan aksi pemberontakan, demonstrasi dan juga bukan suatu empati premanisme, karena aku merasa aku adalah mahasiswa. Dan bukan masanya lagi aku selalu berdiam diri melihat semuanya dan aku semakin sadar akan itu semua……sadar akan lebih besar lagi ancaman yang akan aku kenyam nantinya.

Tepat pukul sepuluh lewat Dua puluh enam menit dan beberapa detik…di tanggal 24 Desember 2008 ini, Isapan Jempolku telah mematik dengan sendirinya tentang satu lagi pertanyaan yang bukan butuh sekedar jawaban tentang Sikap Seorang Mahasiswa Semestinya.

(Untuk Bapak dosen yang mungkin merasa dirinya paling benar, tenang saja pak, memang dasarnya, kita tak ada niatan anarkis)

dari andylabina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s