Telapak Tangan Ayah-Ibuku


Ini masih jumat pagi menurutku…..
Jam diatas meja komputerku masih menunjukkan pukul 08.16 menit, dan itu adalah waktu deklarasi kalau mataku masih bisa terbagun pagi ini, masih dengan keadaaan yang antah berantah, dan mimpi apa yang mengantungi mataku tadi malam akupun tidak ingat, tetapi….seperti apa yang dilakukan para awamis-awamis lainnya, kulalui saja detik-demi detik yang berlalu dengan semangat pemuda dari jong Java!!
Mandi dan lain-lainnya adalah suatu kebiasaan rutin setiap harinya yang terasa hampir membosankan karena telah menjadi monotonitas tabiat wajib setiap pagi hampir selama dua puluh tahun ini aku tersadar…..
tidak usah banyak tarikm ulur waktu lagi, aku lebih memilih untuk segera berangkat ke kampus….karena ada jadwal pratktikum.

*
hampir tiap harinya aku berangkat ke kampus, aku selalu cium tangan kedua orang tuaku….yaitu, Ibuku yang saat ini berusia 43 tahun, 4 bulan 15 hari, dan juga tak lupa tangan ayahku…yang pada hari aku cium tangannya itu ia genap berusia 50 tahun 9 bulan kurang 3 hari. Semuanya biasanya berjalan begitu saja, tanpa disertai elora-elora dari siku-siku rasa yang ada. Tapi, untuk hari itu, dan terpaku pada detik itu juga….aku seakan menjadi seorang yang sanguinis.Merasa tak bisa menentukan sikap, apakah aku harus bersedih…tertawa…..berfasih atau bahkan terkelungkup merasakan tekstur itu, hampir setiap lekuk kasarnya bisa aku rasakan, juga keriput yang terus berusaha menutup umur dengan rekut-merutnya, dari kedua buah telapak tangan yang berbeda usia hampir tujuh tahun lebih….dari kedua anak manusia yang entah bagaimana caranya telah memabuat aku ada hingga saat ini.
aku merasakan itu pada pipiku saat mengendus dengan ciuman, dari kedua telapak tangan itu.
tak seperti hari-hari yang lalu,
ini berbeda….
sungghu berbeda, dan
aku benar-benar bisa merasakannya_
*
Telapak tangan Ayah-Ibuku sudah mulai digulung keriput,
keriput….yang mau tak mau juga tak bisa dihindari, yang bukannya tidak mungkin nantinya akan beriringan dengan hitungan mundur hari-hari tua mereka, yang akan bermuara pada dentang-denting sitar irama tutup usia mereka/
AKU……
masih tetap tak bisa apa-apa melihat salah satu prosses alam itu…..
selain cuma bisa menerawagkan diri terbenam dalam hangatnya lamunan ke alam masa kecilku dahulu……aku berusaha menginat sebisanya, masa-masa mereka masih membopongku erat kesana-kemari dengan kedua tangannya , saat mereka mengajakku jalan-jalan bersama adikku hanya untuk sekedar beli mainan kereta api.
Aku juga ingat sewaktu ayahku pulang dari Tugas di Timor leste, ia mebelikanku sebuah mainan truk yang terbuat dari kayu……semakin aku mengingatnya.
Juga masih aku ingat, saat mereka berdua bertengkar…..ya, biasalah, urusan rumah tangga, juga saat adikku iko sakit demam berdarah dulu, mereka dengan penghasilan yang seadanya masih berusaha…rela berkucuran keringat untuk menyelamatkan nywa adikku yang hampir saja tak tertolong itu.
titik-titik pedih pedih dan menyakitkan…..juga masih baku ingat, betapa kadang mereka juga kasar padaku, kurang mengerti aku, terlalu mengekangku,hingga aku kabur dari rumah saat masih kelas 2 SMA lalu. aku masih coba ingat semuanya!!
entah bagimana indahnya, juga pahitnya jaring-jaring ingatan ini aku coba kenyam kembali dalam suasan yang masih larut….itulah mereka, mereka masih kedua orang tuaku……./sampai saat ini atau sampai kapanpun juga, titik…tak ada jatuh tempo juga tak terima ukuran dimensi waktu!!
Kedua orang tuaku…….yang saat ini tengah berkeriput inichi demi inchi kulit arinya.
aku bukannya sedih….karena ini sudah hukum alam, cuma saja, sekelibat kain hitam penyesalan campur tiupan kerinduan juga bunyi-bunyi dengungan penyesalan sebab hingga saat ini, detik aku menulis tulisan ini……aku masih belum bisa memberikan apa-apa, bahkan secuil kebangganpun belum pernah……..,
*
tapi…di lain sudut pandang, orang tuaku_ dengan segondrong apa rambutku saat ini, seperti apa mauku saat ini….seberapa siang bangunku tiap harinya, masih saja selalu berharap tanpa henti pada putra sulungnya ini kelak……..,

inilah sedikit kesadaran dan non fiksi yang bisa aku tuliskan dengan keadaan sesadar-sadarnya tentang “Telapak Tangan Ayah-Ibuku”

and_

Advertisements

One response to “Telapak Tangan Ayah-Ibuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s